





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Aisyah -raḍiyallāhu ‘anhā- ia menuturkan bahwa pada zaman Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk memanggil manusia dengan ucapan: Aṣ-ṣalātu jāmi'ah (mari kita salat berjemaah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi pun maju, lalu bertakbir dan salat dengan empat kali rukuk dan empat kali sujud dalam dua rakaat.
Muttafaq 'alaihPernah terjadi gerhana matahari pada zaman Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu beliau mengutus seseorang untuk memanggil manusia di jalan-jalan dan pasar-pasar dengan panggilan (mari kita salat berjemaah) agar mereka salat dan berdoa kepada Allah -Ta'ālā- supaya mengampuni dan merahmati mereka serta melanggengkan bagi mereka nikmat-nikmat-Nya yang lahir maupun batin. Mereka lantas berkumpul di masjid beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan beliau pun maju ke tempat beliau biasa salat bersama mereka, lalu salat bersama mereka dengan salat yang tidak ada persamaannya dengan salat yang biasa mereka kerjakan, karena terdapat ayat kauniyah yang diluar kebiasaan. salat tersebut tanpa iqamat, lalu beliau bertakbir dan salat dua rakaat; dua rukuk dan dua sujud. Dua rukuk dan dua sujud maksudnya pada setiap rakaat terdapat dua rukuk dan dua sujud.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Di setiap malam, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pasti melakukan salat witir; dari awal malam, pertengahan malam dan akhir malam hingga witirnya selesai pada waktu sahur."
Muttafaq 'alaihUmmul Mukminin, Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- memberitahukan tentang waktu di mana Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melaksanakan salat witir di malam hari; bahwa beliau tidak terikat dengan waktu tertentu. Pokoknya di waktu malam pasti beliau salat witir. Adakalanya beliau salat witir di awal malam setelah salat Isya dan seterusnya; terkadang di pertengahan malam setelah sepertiga malam berlalu; terkadang pula di akhir malam ketika dua pertiga malam telah berlalu sampai malam berakhir.
'Amr bin Syu'aib meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah ﷺ bersabda, "Perintahkan anak-anak kalian untuk melaksanakan salat saat mereka berusia tujuh tahun. Pukullah mereka untuk melaksanakan salat ketika berusia sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur di antara mereka."
HR. Abu DaudNabi ﷺ menerangkan bahwa seorang ayah harus menyuruh anaknya, laki-laki dan perempuan, untuk mengerjakan salat ketika mereka berumur tujuh tahun serta mengajari mereka apa dibutuhkan untuk menegakkannya. Ketika mereka telah memasuki umur 10 tahun, tingkat perintahnya ditambah, yaitu dengan memberi hukuman pukulan ketika melalaikannya serta memisahkan tempat tidur (kasur) di antara mereka.
Abdurrahman bin Abu Lailā meriwayatkan, ia berkata, "Aku bertemu dengan Ka'ab bin 'Ujrah, dia berkata, "Maukah engkau kuberi sebuah hadiah?" "Nabi ﷺ keluar menemui kami. Kami bertanya, 'Wahai Rasulullah, kami sudah tahu bagaimana mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana kami berselawat?' Beliau bersabda, 'Ucapkanlah: Allāhumma ṣalli 'alā muḥammad, wa 'alā āli muḥammad, kamā ṣallaita 'alā āli ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd. Allāhumma bārik 'alā muḥammad, wa 'alā āli muḥammad, kamā bārakta 'alā āli ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd. (Ya Allah! berikanlah selawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberikan selawat kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia. Ya Allah! berikanlah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberikan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia)'."
Muttafaq 'alaihPara sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ tentang tata cara berselawat kepada beliau, setelah mereka mengetahui cara mengucapkan salam kepada beliau di saat tahiyat salat, yaitu: as-salāmu 'alaika ayyuhan-nabiyyu waraḥmatullāhi wabarakātuh ...?" Maka Nabi ﷺ mengabari mereka cara berselawat kepada beliau, penjelasan maknanya sebagai berikut: Allāhumma ṣalli 'alā muḥammad wa 'alā āli muḥammad; yakni: pujilah Muhammad dengan penyebutan yang indah di hadapan para malaikat tertinggi, juga pengikut beliau dalam agama, serta orang-orang beriman dari kerabat beliau. Kamā ṣallaita 'alā āli ibrāhīm; yakni: sebagaimana Engkau telah memberikannya pada keluarga Ibrahim -'alaihissalām-, yaitu Ibrahim, Ismail, Ishaq, dan keluarga mereka serta pengikut-pengikut mereka yang beriman, maka berilah karunia-Mu kepada Muhammad ﷺ juga. Innaka ḥamīdun majīd; artinya: Engkau yang terpuji pada zat, sifat, dan perbuatan-perbuatan-Mu; yang luas dalam keagungan, kekuasaan, dan pemberian-Mu. Allāhumma bārik 'alā muḥammad wa 'alā āli muḥammad kamā bārakta 'alā āli ibrāhīm; yakni: berilah ia kebaikan dan kemuliaan yang terbesar, serta tambahkanlah dan tetapkanlah.
'Ubādah bin Aṣ-Ṣāmit -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak sah salat seseorang yang tidak membaca surah Al-Fātiḥah."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ menjelaskan bahwa salat tidak akan sah kecuali dengan membaca surah Al-Fātiḥah. Al-Fātiḥah merupakan salah satu rukun salat di setiap rakaat.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang mandi di hari Jumat seperti mandi janabat, kemudian berangkat di awal waktu maka seolah-olah ia berkurban seekor unta. Siapa yang berangkat di waktu kedua seolah-olah ia berkurban seekor sapi. Siapa yang berangkat di waktu ketiga seolah-olah ia berkurban seekor kambing bertanduk. Siapa yang berangkat di waktu keempat seolah-olah ia berkurban seekor ayam. Siapa yang berangkat di waktu kelima seolah-olah ia berkurban sebutir telur. Lalu apabila imam telah keluar (naik mimbar), para malaikat turut hadir untuk mendengarkan khotbah."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan keutamaan berangkat pagi-pagi ke tempat salat Jumat. Hitungan berangkat untuk salat Jumat dimulai sejak terbit matahari hingga imam datang, yaitu lima jam. Lalu dibagi berdasarkan jarak antara terbit matahari hingga imam masuk lalu naik mimbar untuk berkhotbah menjadi lima bagian: Pertama: Siapa yang mandi secara sempurna seperti mandi janabat kemudian berangkat ke masjid tempat dilaksanakan salat Jumat di waktu pertama, maka seakan-akan ia bersedekah seekor unta. - Kedua: siapa yang mandi di waktu kedua maka seakan-akan ia bersedekah dengan seekor sapi. Ketiga: siapa yang berangkat di waktu ketiga maka seakan-akan ia bersedekah dengan seekor kibas jantan yang bertanduk. - Keempat: siapa yang berangkat di waktu keempat, maka seakan-akan ia bersedekah dengan seekor ayam. - Kelima: siapa yang berangkat di waktu kelima maka seakan-akan ia bersedekah dengan sebutir telur. Apabila imam telah keluar untuk berkhotbah, malaikat-malaikat yang duduk di pintu masjid untuk mencatat orang-orang yang masuk masjid secara berurutan berhenti mencatat lalu ikut duduk untuk mendengarkan zikir dan khotbah.
Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa di antara kalian yang mau melaksanakan salat Jumat, hendaknya ia mandi."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ menekankan pada orang yang hendak pergi melaksanakan salat Jumat bahwa ia dianjurkan untuk mandi seperti mandi janabat.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi –shallallahu `alahi wa sallam-, beliau bersabda, “Barangsiapa menghadiri jenazah hingga ia menyalatkannya maka ia mendapatkan (pahala) satu qīrāṭ, dan barangsiapa menghadirinya sampai jenazah di kubur maka ia mendapatkan (pahala) dua qīrāṭ." Beliau ditanya, "Apakah dua qīrāṭ itu?" Beliau menjawab, "Seperti dua gunung yang besar." Dalam riwayat Muslim disebutkan, "Paling kecil dari keduanya adalah seperti Uhud".
Muttafaq 'alaihAllah -Tabāraka wa Ta'ālā- Maha Lembut pada hamba-hamba-Nya, dan Dia menyiapkan sebab-sebab ampunan untuk mereka. Makanya, Allah menganjurkan untuk menyalatkan dan menghadiri jenazah, karena itu sebagai syafaat untuk mayit dan menjadi sebab mendapatkan rahmat. Allah memberi pahala satu qirāṭ bagi orang yang menyalatkannya dan satu qirāṭ lain bagi orang yang menghadirinya sampai dimakamkan. Ini jumlah pahala yang besar dan diketahui kadarnya di sisi Allah -Ta'ālā-. Karena para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- tidak memahami besar pahala ini, maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memudahkan mereka memahaminya dengan memberikan gambaran setiap qirāṭ seperti gunung yang besar. Demikian ini karena perbuatan tersebut termasuk menunaikan hak saudara sesama Muslim, mendoakannya, mengingatkan akhirat, dan menghibur duka hati keluarganya serta maslahat-maslahat lainnya.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang berwudu lalu menyempurnakan wudunya kemudian datang ke tempat salat Jumat, lantas menyimak (khotbah) dengan saksama dan diam, maka akan diampuni (dosanya) antara Jumat itu dengan Jumat setelahnya dan ditambah tiga hari. Siapa yang memegang (memainkan) kerikil, maka ia telah berbuat sia-sia."
HR. MuslimNabi ﷺ mengabarkan bahwa orang yang berwudu dan memperbagus wudunya dengan menyempurnakan rukun-rukunnya serta melaksanakan sunah-sunah dan adab-adabnya, kemudian datang ke tempat salat Jumat lalu diam mendengarkan khatib dengan seksama serta diam dari tindakan sia-sia, Allah akan mengampuni dosa-dosa kecilnya selama sepuluh hari, yaitu sejak salat Jumat itu ke salat Jumat berikutnya dengan tambahan tiga hari karena kebaikan itu dilipatgandakan sepuluh kali lipatnya. Kemudian beliau ﷺ memperingatkan tentang berpalingnya hati dari nasihat-nasihat yang disampaikan di dalam khotbah, demikian juga perbuatan sia-sia yang dilakukan oleh anggota tubuh seperti pegang-pegang kerikil dan berbagai macam perbuatan sia-sia, bahwa orang yang melakukan hal itu telah berbuat sia-sia, sedangkan orang yang berbuat sia-sia maka ia tidak akan mendapatkan pahala salat Jumat yang sempurna.