Hedayat Fruitful selections from the gardens of
﴾Verses and Hadiths ﴿
Inspiring Dawah cards that highlight the profound meanings of Quranic verses and Prophetic Hadiths. Presented in an accessible and engaging style to help Muslims gain a deeper understanding of their faith with ease.
About Hedayat
Hedayat is a platform that combines design simplicity and ease of use, displaying benefits derived from verses and hadiths in attractive cards with unique designs
Unique Designs
Cards with unique and attractive designs that express the content of the text
Easy Browsing
You can browse the cards easily and display them effortlessly
Different Languages
Cards are available in more than 40 languages for the benefit of all
Reliable Materials
Scientifically reliable benefits reviewed by a group of scholars
Hedayat Menu
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfu, "Sesungguhnya Allah -'Azza wa Jalla- menurunkan wahyu secara berturut-turut kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sebelum wafatnya hingga beliau tutup usia dengan wahyu yang sangat banyak."
Muttafaq 'alaih
Allah -'Azza wa Jalla- banyak menurunkan wahyu kepada Rasulullah-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sebelum wafatnya hingga syariat sempurna sampai Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- wafat pada saat banyak-banyaknya wahyu turun.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Orang yang membaca Al-Qur`ān dan ia mahir membacanya, maka ia bersama para malaikat yang mulia dan berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur`ān dengan terbata-bata dan merasa kesulitan dalam membacanya, maka baginya dua pahala."
Muttafaq 'alaih
Hadits Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Orang yang membaca Al-Qur`ān dan ia mahir membacanya, maka ia bersama para malaikat yang mulia dan berbakti." Orang yang mahir adalah orang yang membaca Al-Qur`ān dengan baik dan pandai. Yang dimaksud dengan mahir di sini adalah kualitas bacaan disertai bagusnya hafalan. "Bersama para malaikat yang mulia dan berbakti." Mereka adalah para malaikat. Hal ini sebagaimana firman Allah -Ta'ālā-, "Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan (di sisi Allah), yang ditinggikan (dan) disucikan, di tangan para utusan (malaikat), yang mulia lagi berbakti. (QS. Abasa: 13-16). Orang yang mahir bersama para malaikat, karena Allah -Ta'ālā- memudahkannya baginya sebagaimana dimudahkan kepada para malaikat yang mulia dan berbakti. Dia seperti para malaikat itu dalam bacaan Al-Qur`ān, dan bersama mereka dalam derajat di sisi Allah. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur`ān dengan terbata-bata dan merasa kesulitan dalam membacanya, maka baginya dua pahala." Pertama, untuk bacaan. Kedua, untuk kepayahan dan kesulitan.
Abu Umāmah Al-Bāhiliy -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Bacalah Al-Qur`ān, karena nanti pada hari Kiamat ia akan datang memberi syafaat kepada para pembacanya. Bacalah Az-Zahrāwain, yaitu surah Al-Baqarah dan Āli 'Imrān, karena keduanya akan datang pada hari Kiamat seperti dua awan, atau keduanya seperti dua naungan, atau keduanya seperti dua kelompok burung yang berbaris, demi membela pembacanya. Bacalah surah Al-Baqarah karena mengambilnya adalah keberkahan dan meninggalkannya adalah kerugian sementara para penyihir tidak bisa menaklukkannya."
Diriwayatkan oleh Muslim
Bacalah Al-Qur`ān dan terus-meneruslah membacanya karena kelak hari Kiamat ia akan memberi syafaat bagi para pembacanya; yang membacanya dan yang mengamalkannya. Khususnya surah Al-Baqarah dan Āli 'Imrān. Keduanya disebut Az-Zahrāwān, yaitu dua surah yang bercahaya, karena cahaya dan petunjuk yang ada pada keduanya serta besarnya pahalanya. Bila keduanya dibandingkan dengan yang lain di sisi Allah seperti perbandingan dua bulan dengan bintang-bintang yang lain. Pahala membaca keduanya akan datang pada hari Kiamat seperti rupa dua awan yang menaungi pembacanya dari panas hari Kiamat, atau pahala membaca keduanya akan datang dalam rupa dua gerombolan burung yang terbang berbaris sambil membentangkan sayapnya saling sambung menyambung untuk membela pembacanya dan menyelamatkan mereka dari neraka Jahim. Tidak mustahil bila yang datang adalah amalan itu sendiri; sebagaimana ditunjukkan oleh makna lahir hadis ini. Adapun mengatakan bahwa yang datang adalah kalam Allah, maka tidaklah demikian; karena kalam Allah adalah bagian dari sifat-Nya, sementara sifat tidak akan terpisah dari Zat-Nya. Sedangkan yang diletakkan pada timbangan amalan adalah perbuatan hamba: "Allahlah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu." (QS. Aṣ-Ṣāffāt: 96). Kemudian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menekankan untuk membaca Surah Al-Baqarah karena terus-menerus membaca dan menadaburi maknanya serta mengamalkan kandungannya akan mendatangkan keberkahan dan manfaat yang besar. Sedangkan melalaikan surah ini dengan tidak membaca, menadaburi, dan mengamalkannya, maka akan mendatangkan penyesalan pada hari Kiamat. Di antara bentuk besarnya keutamaan surah ini bahwa para penyihir tidak mampu mencelakai orang yang membacanya, menadaburinya, dan mengamalkannya. Ada yang berpendapat, yaitu para penyihir tidak mampu membacanya dan menadaburinya serta mengamalkannya, dan mereka tidak diberikan taufik kepada hal itu.
Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alahi wa sallam- bersabda, "Janganlah kalian memperdebatkan ayat-ayat Al-Qur`ān karena berdebat di dalamnya adalah kekufuran."
Diriwayatkan oleh Abu Daud aṭ-Ṭayālisi
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang memperdebatkan ayat-ayat Al-Qur`ān karena dapat mengantar pada kekufuran. Yang demikian itu karena seseorang kadang mendengar bacaan satu ayat atau kata yang tidak diketahuinya lalu dia terburu-buru menyalahkan orang yang membacanya dan menyatakan bahwa yang dibacanya itu bukan Al-Qur`ān, atau dia berdebat tentang makna suatu ayat yang tidak diketahuinya dan menyesatkannya. Perdebatan ini kadang dapat memalingkannya dari kebenaran sekalipun telah tampak baginya kebenaran tersebut. Oleh sebab itu, hal ini diharamkan dan disebut sebagai kekufuran karena dapat menyebabkan pelakunya jatuh dalam kekufuran. Bila seseorang dapat selamat dari ini semuanya maka hukumnya boleh atau mungkin terpuji; seperti orang yang bertanya untuk belajar atau untuk menampakkan kebenaran; sebagaimana Allah -Ta'ālā- berfirman, "Dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik." (QS. An-Naḥl: 125).
Dari Abu Umāmah -raḍiyallāhu 'anhu- dia berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Bacalah Al-Qur`ān, karena dia akan datang pada hari kiamat memberikan syafaat kepada para pembacanya."
Diriwayatkan oleh Muslim
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menganjurkan umatnya untuk membaca Al-Qur`ān. Karena jika datang hari kiamat Allah akan jadikan pahala membaca Al-Qur`ān berdiri dan berjalan memberikan syafaat kepada para pembacanya, orang yang sibuk dengannya, dan orang yang komitmen terhadap perintah dan larangannya.
Dari Abu Musa al-Asy'arī -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda padanya, "Sungguh engkau telah diberi satu seruling (suara indah) dari seruling-serulilng (suara indah) keluarga Dawud." Dalam salah satu riwayat Muslim, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda padanya, "Sekiranya engkau melihatku saat aku mendengarkan bacaanmu tadi malam."
Muttafaq 'alaih
Dari Abu Musa al-Asy'arī -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda padanya ketika beliau mendengarkan bacaannya yang indah dan bertartil, "Sungguh engkau telah diberi satu seruling (suara indah) dari seruling-seruling (suara-suara indah) keluarga Dawud." Sabda beliau, "laqad ūtīta" artinya sungguh engkau telah diberi, "satu seruling (suara indah) dari seruling-seruling (suara-suara indah) keluarga Dawud", maksudnya Nabi Dawud sendiri. Beliau memang memiliki suara yang sangat merdu, indah dan tinggi, sehingga Allah -Ta'ālā- berfirman, "Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud, dan Kami telah melunakkan besi untuknya." (QS. Saba` :10). Kata "ālu fulān" (keluarga seseorang) terkadang diungkapkan dengan maksud orang itu sendiri (bukan seluruh keluarganya), sebab tak seorangpun dari mereka (keluarga Dawud) yang diberi suara merdu seperti yang dianugerahkan pada Nabi Dawud.
Dari Ibnu Mas’ud- raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Tidak boleh hasad (iri hati) kecuali pada dua orang: Orang yang Allah anugerahkan baginya harta, lalu ia infakkan di jalan kebenaran, dan orang yang Allah karuniakan hikmah (ilmu yang berdasarkan Al-Qur`ān dan Sunnah), lalu ia memutuskan perkara/mengadili dengannya dan mengajarkannya.” Dan dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- beliau bersabda, “Tidak boleh hasad (iri hati) kecuali kepada dua orang; Orang yang Allah anugerahi hafalan Al-Qur`ān, lalu ia salat dengan membacanya malam dan siang, dan orang yang Allah karuniakan baginya harta, lalu ia menginfakkannya siang dan malam.”
Muttafaq 'alaih dengan dua riwayatnya
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di sini mengisyaratkan bahwa hasad (iri hati) itu bermacam-macam, di antaranya hasad yang tercela dan diharamkan secara syar’i, yaitu seseorang menginginkan hilangnya kenikmatan dari saudaranya. Ada pula hasad yang mubah/dibolehkan yaitu seseorang melihat nikmat duniawi pada diri orang lain lalu ia menginginkan kenikmatan serupa untuk dirinya. Dan ada pula hasad yang terpuji dan dianjurkan oleh syariat yaitu seseorang melihat nikmat agama pada orang lain lalu ia menginginkannya juga untuk dirinya. Itulah yang dimaksudkan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan sabda beliau, “Tidak boleh hasad (iri hati) kecuali pada dua orang” yakni hasad itu berbeda jenis dan hukumnya sesuai dengan perbedaan jenisnya. Hasad ini tidak terpuji serta dianjurkan secara syar’i kecuali pada dua perkara: Perkara pertama: Apabila ada orang yang kaya lagi bertakwa, Allah menganugerahkan kepadanya harta yang halal, lantas ia menginfakkannya di jalan Allah -Ta'ālā-, lalu ia berangan-angan agar dirinya seperti orang itu dan ia iri kepadanya dengan nikmat ini. Perkara kedua: Apabila ada orang yang berilmu, Allah menganugerahinya ilmu yang bermanfaat, ia mengamalkannya, mengajarkannya kepada orang lain dan ia berhukum dengannya di antara manusia, lalu ia berangan-angan agar dirinya menjadi seperti orang itu.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Wahyu benar-benar turun kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di pagi hari yang dingin, kemudian dahi beliau bercucuran keringat."
Diriwayatkan oleh Muslim
Dalam hadis ini, Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- memberitahukan bahwa wahyu pernah turun kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di pagi hari yang dingin, lalu keringat keluar bercucuran dari dahi beliau karena sangat kuatnya wahyu yang turun kepadanya.
Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Kematian didatangkan dalam rupa seekor domba jantan yang berbulu putih bercampur hitam. Lantas seorang penyeru memanggil, 'Wahai penduduk surga.' Mereka pun mendongak seraya melihat. Penyeru itu berkata, 'Apakah kalian mengetahui ini?' Mereka menjawab, 'Ya. Itu adalah kematian.' Mereka semua pernah melihatnya. Kemudian dia memanggil lagi, 'Wahai penduduk neraka.' Mereka pun mendongak seraya melihat. Dia berkata, 'Apakah kalian mengetahui ini?' Mereka menjawab, 'Ya. Itu adalah kematian.' Mereka semua pernah melihatnya. Lantas domba itu disembelih. Kemudian dia berkata, 'Wahai penduduk surga, kekekalan bagimu, tidak ada lagi kematian. Wahai penduduk neraka, kekekalan bagimu, tidak ada lagi kematian.'" Kemudian Nabi membaca, "Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus, sedang mereka dalam kelalaian." (QS. Maryam: 39). -Mereka itu dalam kelalaian, yaitu penduduk dunia- "dan mereka tidak beriman." (QS. Maryam: 39)".
Muttafaq 'alaih
Nabi ﷺ menjelaskan bahwa kelak di hari kiamat kematian akan didatangkan dalam rupa domba jantan yang berbulu putih bercampur hitam. Lantas ada yang memanggil: Wahai penduduk surga! Maka mereka menjulurkan leher dan mengangkat kepala seraya melihat. Penyeru itu berkata kepada mereka: Apakah kalian mengetahui ini? Mereka menjawab: Ya, itu adalah kematian. Semua mereka pernah melihatnya dan mengetahuinya. Kemudian penyeru itu kembali memanggil: Wahai penduduk neraka! Maka mereka menjulurkan leher dan mengangkat kepala seraya melihat. Penyeru itu berkata: Apakah kalian mengetahui ini? Mereka menjawab: Ya, itu adalah kematian. Semua mereka telah melihatnya. Lalu domba itu disembelih, kemudian penyeru berkata: Wahai penduduk surga, kekal selama-lamanya, tidak ada lagi kematian. Wahai penduduk neraka, kekal selama-lamanya, tidak ada lagi kematian. Yang demikian itu agar menjadi tambahan kenikmatan bagi orang-orang beriman serta tambahan siksaan orang-orang kafir. Kemudian Nabi ﷺ bersabda, "Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus, sedang mereka dalam kelalaian dan mereka tidak beriman." Pada hari kiamat akan dipisahkan antara penghuni surga dan neraka, masing-masing masuk ke tempatnya, dan kekal di dalamnya. Maka orang yang berbuat keburukan akan menyesal, sebab tidak berbuat baik, demikian juga orang yang lalai, sebab tidak menambah kebaikan.
Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwasanya beberapa orang sedang duduk di depan pintu rumah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu sebagian mereka berkata, "Bukankah Allah berfirman begini dan begini?" Sebagian yang lain berkata, "Bukankah Allah berfirman begini dan begini?" Percakapan mereka itu didengar oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lantas beliau keluar seakan-akan biji delima diperas di muka beliau. Beliau bersabda, "Apakah ini yang diperintahkan kepada kalian? Ataukah untuk tujuan ini kalian dibangkitkan?! Yaitu kalian membenturkan ayat-ayat Kitab Allah satu sama lain? Sesungguhnya umat-umat sebelum kalian tersesat dalam hal seperti ini. Kalian tidak memiliki kepentingan sedikit pun di sini. Lihatlah apa yang diperintahkan kepada kalian lalu amalkanlah, serta lihatlah yang dilarang dari kalian lalu tinggalkanlah."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah
Sekelompok sahabat sedang duduk di depan pintu rumah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu mereka berselisih terkait satu permasalahan. Di sebagian riwayat disebutkan bahwa mereka berselisih tentang takdir. Maka sebagian mereka memberikan argumen atas perkataannya dengan suatu ayat dari Kitab Allah, sementara sebagian yang lain berdalil dengan ayat lain yang juga dalam Kitab Allah. Kemudian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendengar hal itu lalu beliau keluar menemui mereka sambil marah dan wajah beliau merah padam seakan-akan biji delima diperas di wajah beliau. Beliau bersabda kepada mereka, "Perselisihan dan perdebatan seperti ini dalam Al-Qur`ān serta membenturkan sebagian Al-Qur`ān dengan sebagian yang lain; apakah itu tujuan kalian diciptakan? Ataukah itu yang Allah perintahkan kepada kalian?" Beliau bermaksud bahwa tidak ada sedikit pun dari kedua perkara ini yang menjadi tujuan debat mereka, sehingga tidak ada hajat kepadanya. Beliau juga mengabari mereka bahwa sebab tersesatnya umat-umat sebelum mereka adalah pada perkara seperti ini. Kemudian beliau mengarahkan mereka pada sesuatu yang akan mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi mereka; beliau bersabda, "Apa yang Allah perintahkan kepada kalian maka lakukanlah, dan apa yang Allah larang dari kalian maka tinggalkanlah. Inilah yang menjadi tujuan kalian diciptakan, dan inilah yang akan mendatangkan manfaat dan kebaikan bagi kalian."
Orang beriman bila mencintai suatu kaum dari kalangan orang-orang beriman maka ia akan bersama mereka, sekalipun amalnya kurang.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Niat yang benar akan menyempurnakan amal orang beriman, sekalipun dia tidak melakukannya.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Menghadapi ujian dengan sabar dan mengharap pahala menjadi sebab Allah mengangkat derajat dan menghapus dosa.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Amal perbuatan tergantung niatnya; seseorang akan dituliskan baginya pahala apa yang dia niatkan, sekalipun realitasnya berbeda dari yang dia niatkan.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Bila seseorang bersabar dan mengharap pahala di sisi Allah -Ta'ālā- maka Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Perkara-perkara yang tidak disukai adalah sebab meraih kemuliaan dan masuk surga.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Siapa yang berbuat kebaikan akan menemukan balasannya, walaupun sedikit. Maka tidak boleh seseorang menganggap kecil kebaikan sekecil apa pun juga.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Bila seseorang telah berniat melakukan amal saleh, kemudian dia terhalangi darinya, maka ditulis baginya pahala yang dia niatkan.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepada hamba termasuk sebab kelanggengan dan penambahannya.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Takwa adalah cahaya bagi orang beriman untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan, yang mudarat dan manfaat, dan antara sunnah dan bidah.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan PetunjuknyaHadith Cards
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfu, "Sesungguhnya Allah -'Azza wa Jalla- menurunkan wahyu secara berturut-turut kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sebelum wafatnya hingga beliau tutup usia dengan wahyu yang sangat banyak."
Muttafaq 'alaih
Allah -'Azza wa Jalla- banyak menurunkan wahyu kepada Rasulullah-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sebelum wafatnya hingga syariat sempurna sampai Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- wafat pada saat banyak-banyaknya wahyu turun.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Orang yang membaca Al-Qur`ān dan ia mahir membacanya, maka ia bersama para malaikat yang mulia dan berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur`ān dengan terbata-bata dan merasa kesulitan dalam membacanya, maka baginya dua pahala."
Muttafaq 'alaih
Hadits Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Orang yang membaca Al-Qur`ān dan ia mahir membacanya, maka ia bersama para malaikat yang mulia dan berbakti." Orang yang mahir adalah orang yang membaca Al-Qur`ān dengan baik dan pandai. Yang dimaksud dengan mahir di sini adalah kualitas bacaan disertai bagusnya hafalan. "Bersama para malaikat yang mulia dan berbakti." Mereka adalah para malaikat. Hal ini sebagaimana firman Allah -Ta'ālā-, "Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan (di sisi Allah), yang ditinggikan (dan) disucikan, di tangan para utusan (malaikat), yang mulia lagi berbakti. (QS. Abasa: 13-16). Orang yang mahir bersama para malaikat, karena Allah -Ta'ālā- memudahkannya baginya sebagaimana dimudahkan kepada para malaikat yang mulia dan berbakti. Dia seperti para malaikat itu dalam bacaan Al-Qur`ān, dan bersama mereka dalam derajat di sisi Allah. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur`ān dengan terbata-bata dan merasa kesulitan dalam membacanya, maka baginya dua pahala." Pertama, untuk bacaan. Kedua, untuk kepayahan dan kesulitan.
Abu Umāmah Al-Bāhiliy -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Bacalah Al-Qur`ān, karena nanti pada hari Kiamat ia akan datang memberi syafaat kepada para pembacanya. Bacalah Az-Zahrāwain, yaitu surah Al-Baqarah dan Āli 'Imrān, karena keduanya akan datang pada hari Kiamat seperti dua awan, atau keduanya seperti dua naungan, atau keduanya seperti dua kelompok burung yang berbaris, demi membela pembacanya. Bacalah surah Al-Baqarah karena mengambilnya adalah keberkahan dan meninggalkannya adalah kerugian sementara para penyihir tidak bisa menaklukkannya."
Diriwayatkan oleh Muslim
Bacalah Al-Qur`ān dan terus-meneruslah membacanya karena kelak hari Kiamat ia akan memberi syafaat bagi para pembacanya; yang membacanya dan yang mengamalkannya. Khususnya surah Al-Baqarah dan Āli 'Imrān. Keduanya disebut Az-Zahrāwān, yaitu dua surah yang bercahaya, karena cahaya dan petunjuk yang ada pada keduanya serta besarnya pahalanya. Bila keduanya dibandingkan dengan yang lain di sisi Allah seperti perbandingan dua bulan dengan bintang-bintang yang lain. Pahala membaca keduanya akan datang pada hari Kiamat seperti rupa dua awan yang menaungi pembacanya dari panas hari Kiamat, atau pahala membaca keduanya akan datang dalam rupa dua gerombolan burung yang terbang berbaris sambil membentangkan sayapnya saling sambung menyambung untuk membela pembacanya dan menyelamatkan mereka dari neraka Jahim. Tidak mustahil bila yang datang adalah amalan itu sendiri; sebagaimana ditunjukkan oleh makna lahir hadis ini. Adapun mengatakan bahwa yang datang adalah kalam Allah, maka tidaklah demikian; karena kalam Allah adalah bagian dari sifat-Nya, sementara sifat tidak akan terpisah dari Zat-Nya. Sedangkan yang diletakkan pada timbangan amalan adalah perbuatan hamba: "Allahlah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu." (QS. Aṣ-Ṣāffāt: 96). Kemudian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menekankan untuk membaca Surah Al-Baqarah karena terus-menerus membaca dan menadaburi maknanya serta mengamalkan kandungannya akan mendatangkan keberkahan dan manfaat yang besar. Sedangkan melalaikan surah ini dengan tidak membaca, menadaburi, dan mengamalkannya, maka akan mendatangkan penyesalan pada hari Kiamat. Di antara bentuk besarnya keutamaan surah ini bahwa para penyihir tidak mampu mencelakai orang yang membacanya, menadaburinya, dan mengamalkannya. Ada yang berpendapat, yaitu para penyihir tidak mampu membacanya dan menadaburinya serta mengamalkannya, dan mereka tidak diberikan taufik kepada hal itu.
Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alahi wa sallam- bersabda, "Janganlah kalian memperdebatkan ayat-ayat Al-Qur`ān karena berdebat di dalamnya adalah kekufuran."
Diriwayatkan oleh Abu Daud aṭ-Ṭayālisi
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang memperdebatkan ayat-ayat Al-Qur`ān karena dapat mengantar pada kekufuran. Yang demikian itu karena seseorang kadang mendengar bacaan satu ayat atau kata yang tidak diketahuinya lalu dia terburu-buru menyalahkan orang yang membacanya dan menyatakan bahwa yang dibacanya itu bukan Al-Qur`ān, atau dia berdebat tentang makna suatu ayat yang tidak diketahuinya dan menyesatkannya. Perdebatan ini kadang dapat memalingkannya dari kebenaran sekalipun telah tampak baginya kebenaran tersebut. Oleh sebab itu, hal ini diharamkan dan disebut sebagai kekufuran karena dapat menyebabkan pelakunya jatuh dalam kekufuran. Bila seseorang dapat selamat dari ini semuanya maka hukumnya boleh atau mungkin terpuji; seperti orang yang bertanya untuk belajar atau untuk menampakkan kebenaran; sebagaimana Allah -Ta'ālā- berfirman, "Dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik." (QS. An-Naḥl: 125).
Dari Abu Umāmah -raḍiyallāhu 'anhu- dia berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Bacalah Al-Qur`ān, karena dia akan datang pada hari kiamat memberikan syafaat kepada para pembacanya."
Diriwayatkan oleh Muslim
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menganjurkan umatnya untuk membaca Al-Qur`ān. Karena jika datang hari kiamat Allah akan jadikan pahala membaca Al-Qur`ān berdiri dan berjalan memberikan syafaat kepada para pembacanya, orang yang sibuk dengannya, dan orang yang komitmen terhadap perintah dan larangannya.
Dari Abu Musa al-Asy'arī -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda padanya, "Sungguh engkau telah diberi satu seruling (suara indah) dari seruling-serulilng (suara indah) keluarga Dawud." Dalam salah satu riwayat Muslim, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda padanya, "Sekiranya engkau melihatku saat aku mendengarkan bacaanmu tadi malam."
Muttafaq 'alaih
Dari Abu Musa al-Asy'arī -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda padanya ketika beliau mendengarkan bacaannya yang indah dan bertartil, "Sungguh engkau telah diberi satu seruling (suara indah) dari seruling-seruling (suara-suara indah) keluarga Dawud." Sabda beliau, "laqad ūtīta" artinya sungguh engkau telah diberi, "satu seruling (suara indah) dari seruling-seruling (suara-suara indah) keluarga Dawud", maksudnya Nabi Dawud sendiri. Beliau memang memiliki suara yang sangat merdu, indah dan tinggi, sehingga Allah -Ta'ālā- berfirman, "Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud, dan Kami telah melunakkan besi untuknya." (QS. Saba` :10). Kata "ālu fulān" (keluarga seseorang) terkadang diungkapkan dengan maksud orang itu sendiri (bukan seluruh keluarganya), sebab tak seorangpun dari mereka (keluarga Dawud) yang diberi suara merdu seperti yang dianugerahkan pada Nabi Dawud.
Dari Ibnu Mas’ud- raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Tidak boleh hasad (iri hati) kecuali pada dua orang: Orang yang Allah anugerahkan baginya harta, lalu ia infakkan di jalan kebenaran, dan orang yang Allah karuniakan hikmah (ilmu yang berdasarkan Al-Qur`ān dan Sunnah), lalu ia memutuskan perkara/mengadili dengannya dan mengajarkannya.” Dan dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- beliau bersabda, “Tidak boleh hasad (iri hati) kecuali kepada dua orang; Orang yang Allah anugerahi hafalan Al-Qur`ān, lalu ia salat dengan membacanya malam dan siang, dan orang yang Allah karuniakan baginya harta, lalu ia menginfakkannya siang dan malam.”
Muttafaq 'alaih dengan dua riwayatnya
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di sini mengisyaratkan bahwa hasad (iri hati) itu bermacam-macam, di antaranya hasad yang tercela dan diharamkan secara syar’i, yaitu seseorang menginginkan hilangnya kenikmatan dari saudaranya. Ada pula hasad yang mubah/dibolehkan yaitu seseorang melihat nikmat duniawi pada diri orang lain lalu ia menginginkan kenikmatan serupa untuk dirinya. Dan ada pula hasad yang terpuji dan dianjurkan oleh syariat yaitu seseorang melihat nikmat agama pada orang lain lalu ia menginginkannya juga untuk dirinya. Itulah yang dimaksudkan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan sabda beliau, “Tidak boleh hasad (iri hati) kecuali pada dua orang” yakni hasad itu berbeda jenis dan hukumnya sesuai dengan perbedaan jenisnya. Hasad ini tidak terpuji serta dianjurkan secara syar’i kecuali pada dua perkara: Perkara pertama: Apabila ada orang yang kaya lagi bertakwa, Allah menganugerahkan kepadanya harta yang halal, lantas ia menginfakkannya di jalan Allah -Ta'ālā-, lalu ia berangan-angan agar dirinya seperti orang itu dan ia iri kepadanya dengan nikmat ini. Perkara kedua: Apabila ada orang yang berilmu, Allah menganugerahinya ilmu yang bermanfaat, ia mengamalkannya, mengajarkannya kepada orang lain dan ia berhukum dengannya di antara manusia, lalu ia berangan-angan agar dirinya menjadi seperti orang itu.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Wahyu benar-benar turun kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di pagi hari yang dingin, kemudian dahi beliau bercucuran keringat."
Diriwayatkan oleh Muslim
Dalam hadis ini, Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- memberitahukan bahwa wahyu pernah turun kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di pagi hari yang dingin, lalu keringat keluar bercucuran dari dahi beliau karena sangat kuatnya wahyu yang turun kepadanya.
Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Kematian didatangkan dalam rupa seekor domba jantan yang berbulu putih bercampur hitam. Lantas seorang penyeru memanggil, 'Wahai penduduk surga.' Mereka pun mendongak seraya melihat. Penyeru itu berkata, 'Apakah kalian mengetahui ini?' Mereka menjawab, 'Ya. Itu adalah kematian.' Mereka semua pernah melihatnya. Kemudian dia memanggil lagi, 'Wahai penduduk neraka.' Mereka pun mendongak seraya melihat. Dia berkata, 'Apakah kalian mengetahui ini?' Mereka menjawab, 'Ya. Itu adalah kematian.' Mereka semua pernah melihatnya. Lantas domba itu disembelih. Kemudian dia berkata, 'Wahai penduduk surga, kekekalan bagimu, tidak ada lagi kematian. Wahai penduduk neraka, kekekalan bagimu, tidak ada lagi kematian.'" Kemudian Nabi membaca, "Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus, sedang mereka dalam kelalaian." (QS. Maryam: 39). -Mereka itu dalam kelalaian, yaitu penduduk dunia- "dan mereka tidak beriman." (QS. Maryam: 39)".
Muttafaq 'alaih
Nabi ﷺ menjelaskan bahwa kelak di hari kiamat kematian akan didatangkan dalam rupa domba jantan yang berbulu putih bercampur hitam. Lantas ada yang memanggil: Wahai penduduk surga! Maka mereka menjulurkan leher dan mengangkat kepala seraya melihat. Penyeru itu berkata kepada mereka: Apakah kalian mengetahui ini? Mereka menjawab: Ya, itu adalah kematian. Semua mereka pernah melihatnya dan mengetahuinya. Kemudian penyeru itu kembali memanggil: Wahai penduduk neraka! Maka mereka menjulurkan leher dan mengangkat kepala seraya melihat. Penyeru itu berkata: Apakah kalian mengetahui ini? Mereka menjawab: Ya, itu adalah kematian. Semua mereka telah melihatnya. Lalu domba itu disembelih, kemudian penyeru berkata: Wahai penduduk surga, kekal selama-lamanya, tidak ada lagi kematian. Wahai penduduk neraka, kekal selama-lamanya, tidak ada lagi kematian. Yang demikian itu agar menjadi tambahan kenikmatan bagi orang-orang beriman serta tambahan siksaan orang-orang kafir. Kemudian Nabi ﷺ bersabda, "Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus, sedang mereka dalam kelalaian dan mereka tidak beriman." Pada hari kiamat akan dipisahkan antara penghuni surga dan neraka, masing-masing masuk ke tempatnya, dan kekal di dalamnya. Maka orang yang berbuat keburukan akan menyesal, sebab tidak berbuat baik, demikian juga orang yang lalai, sebab tidak menambah kebaikan.
Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwasanya beberapa orang sedang duduk di depan pintu rumah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu sebagian mereka berkata, "Bukankah Allah berfirman begini dan begini?" Sebagian yang lain berkata, "Bukankah Allah berfirman begini dan begini?" Percakapan mereka itu didengar oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lantas beliau keluar seakan-akan biji delima diperas di muka beliau. Beliau bersabda, "Apakah ini yang diperintahkan kepada kalian? Ataukah untuk tujuan ini kalian dibangkitkan?! Yaitu kalian membenturkan ayat-ayat Kitab Allah satu sama lain? Sesungguhnya umat-umat sebelum kalian tersesat dalam hal seperti ini. Kalian tidak memiliki kepentingan sedikit pun di sini. Lihatlah apa yang diperintahkan kepada kalian lalu amalkanlah, serta lihatlah yang dilarang dari kalian lalu tinggalkanlah."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah
Sekelompok sahabat sedang duduk di depan pintu rumah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu mereka berselisih terkait satu permasalahan. Di sebagian riwayat disebutkan bahwa mereka berselisih tentang takdir. Maka sebagian mereka memberikan argumen atas perkataannya dengan suatu ayat dari Kitab Allah, sementara sebagian yang lain berdalil dengan ayat lain yang juga dalam Kitab Allah. Kemudian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendengar hal itu lalu beliau keluar menemui mereka sambil marah dan wajah beliau merah padam seakan-akan biji delima diperas di wajah beliau. Beliau bersabda kepada mereka, "Perselisihan dan perdebatan seperti ini dalam Al-Qur`ān serta membenturkan sebagian Al-Qur`ān dengan sebagian yang lain; apakah itu tujuan kalian diciptakan? Ataukah itu yang Allah perintahkan kepada kalian?" Beliau bermaksud bahwa tidak ada sedikit pun dari kedua perkara ini yang menjadi tujuan debat mereka, sehingga tidak ada hajat kepadanya. Beliau juga mengabari mereka bahwa sebab tersesatnya umat-umat sebelum mereka adalah pada perkara seperti ini. Kemudian beliau mengarahkan mereka pada sesuatu yang akan mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi mereka; beliau bersabda, "Apa yang Allah perintahkan kepada kalian maka lakukanlah, dan apa yang Allah larang dari kalian maka tinggalkanlah. Inilah yang menjadi tujuan kalian diciptakan, dan inilah yang akan mendatangkan manfaat dan kebaikan bagi kalian."
benefits Cards
Orang beriman bila mencintai suatu kaum dari kalangan orang-orang beriman maka ia akan bersama mereka, sekalipun amalnya kurang.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Niat yang benar akan menyempurnakan amal orang beriman, sekalipun dia tidak melakukannya.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Menghadapi ujian dengan sabar dan mengharap pahala menjadi sebab Allah mengangkat derajat dan menghapus dosa.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Amal perbuatan tergantung niatnya; seseorang akan dituliskan baginya pahala apa yang dia niatkan, sekalipun realitasnya berbeda dari yang dia niatkan.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Bila seseorang bersabar dan mengharap pahala di sisi Allah -Ta'ālā- maka Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Perkara-perkara yang tidak disukai adalah sebab meraih kemuliaan dan masuk surga.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Siapa yang berbuat kebaikan akan menemukan balasannya, walaupun sedikit. Maka tidak boleh seseorang menganggap kecil kebaikan sekecil apa pun juga.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Bila seseorang telah berniat melakukan amal saleh, kemudian dia terhalangi darinya, maka ditulis baginya pahala yang dia niatkan.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepada hamba termasuk sebab kelanggengan dan penambahannya.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya