Hedayat Fruitful selections from the gardens of
﴾Verses and Hadiths ﴿
Inspiring Dawah cards that highlight the profound meanings of Quranic verses and Prophetic Hadiths. Presented in an accessible and engaging style to help Muslims gain a deeper understanding of their faith with ease.
About Hedayat
Hedayat is a platform that combines design simplicity and ease of use, displaying benefits derived from verses and hadiths in attractive cards with unique designs
Unique Designs
Cards with unique and attractive designs that express the content of the text
Easy Browsing
You can browse the cards easily and display them effortlessly
Different Languages
Cards are available in more than 40 languages for the benefit of all
Reliable Materials
Scientifically reliable benefits reviewed by a group of scholars
Hedayat Menu
Dari Al-Barā` bin 'Āzib -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Perindahlah Al-Qur`ān dengan suara kalian."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah
Maksudnya adalah: perindahlah Al-Qur`ān dengan memperbagus suara kalian tatkala membacanya, karena perkataan yang baik akan bertambah bagus dan indah dengan suara yang indah. Hikmahnya adalah agar kita berusaha untuk mentadaburi Al-Qur`ān semaksimal mungkin dan memahami apa yang terkandung dalam ayat-ayat berupa perintah, larangan, janji, dan ancaman, karena secara alami jiwa ini condong kepada keindahaan suara, dan mungkin saja dengan indahnya suara ia bisa lebih fokus dan jauh dari hal-hal yang tidak penting, sehingga pada saat itu pikiran menjadi lebih konsentrasi. Jika pikiran telah konsentrasi maka akan tercapai kekhusyuan dan ketenangan. Yang dimaksud dengan memperindah suara -dalam hadis ini- ialah keindahan yang membawa kekhusyuan, bukan suara-suara seperti nada nyanyian dan lagu-lagu yang keluar dari batasan (kaidah) bacaan.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Dahulu ahli kitab membaca Taurat dengan Bahasa Ibrani dan menjelaskannya dengan bahasa Arab kepada pemeluk Islam, maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Jangan kalian mempercayai Ahli Kitab dan jangan pula mendustakan mereka, tetapi katakanlah, 'Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami.' [QS. Al-Baqarah: 136]"
Diriwayatkan oleh Bukhari
Nabi ﷺ mengingatkan umatnya agar tidak teperdaya dengan apa yang diriwayatkan oleh Ahli Kitab dari kitab-kitab mereka. Dahulu orang-orang Yahudi di masa Nabi ﷺ membaca Taurat yang berbahasa Ibrani, yaitu bahasa orang Yahudi, dan mereka menjelaskannya dengan Bahasa Arab, maka beliau ﷺ bersabda: Janganlah kalian membenarkan Ahli Kitab dan jangan pula mendustakannya. Ini pada perkara yang tidak dapat diketahui mana yang benar dan mana yang dusta. Yang demikian itu karena Allah Ta'ala memerintahkan kita untuk mengimani Al-Qur`an yang diturunkan kepada kita serta Al-Kitab yang diturunkan kepada mereka, hanya saja kita tidak memiliki jalan untuk membedakan antara berita yang sahih dan tidak sahih yang mereka riwayatkan dari kitab-kitab tersebut, jika di dalam syariat kita tidak ada keterangan mengenai mana yang benar dan mana yang dusta. Oleh karena itu, kita tidak perlu berkomentar; kita tidak membenarkan mereka, agar tidak ikut serta dalam sesuatu yang mereka selewengkan; dan kita juga tidak mendustakan mereka, karena bisa jadi itu benar, sehingga kita telah mengingkari sesuatu yang diperintahkan untuk mengimaninya. Nabi ﷺ memerintahkan kita agar mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta kepada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan kami hanya berserah diri kepada-Nya." [QS. Al-Baqarah: 136].
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan: Sejumlah orang dari kalangan musyrikin telah banyak membunuh dan banyak berzina. Mereka lalu datang menemui Nabi Muhammad ﷺ seraya bertanya, "Sungguh, yang engkau sampaikan dan dakwahkan itu benar-benar bagus, sekiranya engkau mengabarkan kafarat untuk apa yang telah kami perbuat?" Maka turunlah ayat: "Orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina..." [QS. Al-Furqān: 68] Juga turun ayat: "Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah..." [QS. Az-Zumar: 53]
Muttafaq 'alaih
Sejumlah laki-laki dari kalangan musyrikin datang menemui Nabi ﷺ. Sebelumnya, mereka banyak membunuh dan berzina. Lalu mereka bertanya kepada Nabi: Islam yang engkau dakwahkan berikut ajaran-ajarannya adalah sesuatu yang bagus, tetapi keadaan kami serta kesyirikan dan dosa-dosa besar yang kami terjerumus di dalamnya, apakah ada penggugurnya? Maka turunlah dua ayat tersebut, yaitu Allah menerima tobat manusia sekalipun dosa mereka banyak dan besar. Kalau tidak seperti itu, niscaya mereka akan tetap lanjut di atas kekafiran dan kezaliman mereka, serta mereka tidak akan masuk ke dalam agama ini.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Wahyu benar-benar turun kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di pagi hari yang dingin, kemudian dahi beliau bercucuran keringat."
Diriwayatkan oleh Muslim
Dalam hadis ini, Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- memberitahukan bahwa wahyu pernah turun kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di pagi hari yang dingin, lalu keringat keluar bercucuran dari dahi beliau karena sangat kuatnya wahyu yang turun kepadanya.
Dari Umar bin Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku mendengar Hisyām bin Hakīm membaca surah Al-Furqān pada masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, maka aku mendengarkan bacaannya dengan berbagai macam bentuk bacaan yang belum pernah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membacakannya kepadaku. Aku pun hampir menyergapnya di dalam salat, namun aku berusaha menunggunya hingga salam. Setelah salam aku menariknya dengan selendang yang dipakainya atau dengan selendangku sambil berkata, 'Siapakah yang telah membacakan surah ini (dengan bacaan seperti itu) kepadamu?' Hisyām menjawab, 'Rasullullah lah yang telah membacakannya kepadaku.' Aku (Umar) berkata, 'Engkau telah berbohong! Demi Allah, sungguh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah membacakan surah yang engaku baca tersebut kepadaku. Maka akupun membawanya bertolak menghadap kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu aku berkata, 'Ya Rasulullah, sungguh aku telah mendengarnya membaca surah Al-Furqān dengan dialek yang belum pernah engkau bacakan kepadaku, dan engkau telah membacakan surah tersebut kepadaku (dengan dialek yang berbeda).' Lalu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Lepaskan dia wahai Umar! Bacalah wahai Hisyām!' Maka Hisyām membacakan bacaan dalam surah Al-Furqān sebagaimana yang telah aku dengar tadi. Kemudian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Seperti itulah Alquran diturunkan.' Lalu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Bacalah wahai Umar!' Maka aku pun membacanya, lalu beliau bersabda, 'Seperti itulah Alquran diturunkan.' Kemudian beliau bersabda, 'Sesungguhnya Alquran ini diturunkan atas tujuh huruf (dialek), maka bacalah apa yang mudah darinya'."
Muttafaq 'alaih
Umar bin Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- menceritakan bahwa dirinya pernah mendengar Hisyām bin Hakīm -raḍiyallāhu 'anhumā- membaca surah Al-Furqān pada masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan bacaan yang berbeda dengan bacaannya pada banyak lafal. Umar telah membacakan surah tersebut (dengan bacaannya) kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dan ia mengira bahwa hal itu adalah sebuah kekeliruan dari Hisyām, sehingga hampir saja dia lompat dan manarik kepalanya ketika salat. Akan tetapi dia mencoba untuk tetap bersabar hingga dia salam, lalu menggenggam selendangnya dan melingkarkannya pada lehernya, seraya berkata, "Siapakah yang telah membacakan surah ini (dengan bacaan seperti itu) kepadamu?" Hisyām menjawab, "Rasullullah lah yang telah membacakannya kepadaku." Umar berkata, "Engkau telah berbohong! Demi Allah, sungguh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah membacakan surah tersebut kepadaku tidak seperti yang engkau baca." Kemudian Umar pergi menarik Hisyām menghadap kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dan Umar adalah orang yang paling tegas dalam urusan (agama) Allah -Ta`āla-. Kemudian Umar berkata, "Wahai Rasulullah, sungguh aku telah mendengar Hisyām membaca surah Al-Furqān dengan lafal bacaan yang belum pernah aku dengar engkau membacanya, dan engkau telah membacakan kepadaku (bacaan) surah Al-Furqān tersebut." Lalu Rasulullah menyuruh Umar untuk melepaskannya, dan menyuruh Hisyām untuk membacakan surah Al-Furqān. Ketika Hisyām telah membacakannya, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Seperti itulah Alquran diturunkan." Maksudnya adalah bahwa surah tersebut diturunkan dari sisi Allah sesuai dengan apa yang telah dibacakan oleh Hisyām, dan dia tidak keliru sebagaimana yang disangkakan oleh Umar -raḍiyallāhu 'anhu-. Lalu beliau menyuruh Umar untuk membacakannya, kemudian dia pun membacakannya. Lalu beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Seperti itulah Alquran diturunkan." Maksudnya adalah bahwa Allah telah menurunkan surah tersebut seperti apa yang telah dibacakan oleh Umar sebagaimana halnya juga seperti yang telah dibacakan oleh Hisyām. Lalu beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Alquran ini diturunkan atas tujuh huruf (dialek), maka bacalah apa yang mudah darinya." Umar dan Hisyām keduanya benar dalam hal bacaan surah tersebut. Sebab, Alquran diturunkan lebih dari satu huruf (dialek), namun diturunkan atas tujuh huruf (dialek), dan apa yang ada pada bacaan Hisyām bukanlah sebagai tambahan ayat-ayat pada bacaan Umar, akan tetapi hanya terdapat perbedaan pada huruf-hurufnya saja. Oleh karena itu, beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepada mereka berdua setelah mendengar bacaan keduanya, "Demikianlah Alquran telah diturunkan." Dan hal itu dijelaskan kembali oleh sabdanya, "Sesungguhnya Alquran ini diturunkan atas tujuh huruf, maka bacalah apa yang mudah darinya." Maksudnya adalah janganlah kalian membebani diri atas satu huruf saja, karena sesungguhnya Allah -Ta`āla- telah meringankan dalam hal bacaan Alquran dengan tujuh huruf (dialek) sebagai bentuk kasih sayang dan keutamaan dari-Nya, maka bagi Allah-lah pujian dan sanjungan. Para ulama berbeda pendapat tentang penjelasan ketujuh huruf tersebut. Namun, yang dimaksud dengannya -yang tampak jelas, wallahu a`lam- adalah dialek-dialek dari sekian dialek Bahasa Arab. Alquran turun dengan dialek-dialek tersebut pada awalnya adalah sebagai bentuk keringanan, karena kaum Arab adalah kaum yang terpisah-pisah dan berbeda-beda. Setiap kaum memiliki dialek tersendiri, dialek suatu kabilah tidak sama dengan dialek kabilah lainnya. Akan tetapi setelah Islam menyatukan mereka semua, satu sama lain telah saling terhubung, permusuhan dan kebencian di antara mereka telah sirna karena datangnya Islam, serta setiap dari mereka telah mengenali bahasa atau dialek lainnya, maka Uṡman bin Affān -raḍiyallāhu 'anhu- menyatukan seluruh umat Islam di atas satu huruf (dialek) dari ke tujuh huruf tersebut serta menghilangkan yang lainnya, hingga tidak terjadi perselisihan.
Dari Ibnu Syihāb bahwa Anas bin Mālik telah menceritakan kepadanya, bahwasanya Ḥużaifah bin Al-Yamān datang kepada Uṡmān setelah sebelumnya ia memerangi Ahlus Syam yakni pada saat penaklukan Armenia dan Azerbaijan bersama penduduk Irak. Ternyata perselisihan mereka dalam qiraah mengejutkan Ḥużaifah. Maka Ḥużaifah pun berkata kepada Uṡmān, "Wahai Amirulmukminin! Rangkullah umat ini sebelum mereka berselisih tentang Al-Qur`ān sebagaimana perselisihan yang telah terjadi pada kaum Yahudi dan Nasrani." Maka Uṡmān mengirim surat kepada Ḥafṣah yang berisikan, "Tolong, kirimkanlah lembaran-lembaran Al-Qur`ān kepada kami, agar kami dapat segera menyalinnya dalam bentuk muhaf-mushaf, lalu kami akan segera mengembalikannya pada Anda." Maka Ḥafṣah pun mengirimkannya kepada Uṡmān. Lalu Uṡmān memerintahkan Zaid bin Ṡābit, Abdullah bin Zubair, Sa'īd bin Al-'Āṣ, dan Abdurrahman bin Al-Ḥāriṡ bin Hisyām, sehingga mereka pun menyalinnya dalam bentuk mushaf-mushaf. Uṡmān berkata kepada tiga orang Quraisy dari mereka, "Jika kalian berselisih dengan Zaid bin Ṡābit terkait Al-Qur`ān, maka tulislah dengan bahasa Quraisy, sebab Al-Qur`ān turun dengan bahasa mereka." Kemudian mereka mengindahkan perintah itu hingga penyalinan selesai dan Uṡmān pun mengembalikan lembaran-lembaran Al-Qur`ān ke Ḥafṣah. Setelah itu, Uṡmān mengirimkan sejumlah mushaf yang telah disalin ke berbagai penjuru negeri, dan memerintahkan untuk membakar setiap lembaran atau mushaf Al-Qur`ān selain mushaf tersebut.
Diriwayatkan oleh Bukhari
Ḥużaifah bin al-Yamān -raḍiyallāhu 'anhumā- datang kepada Uṡmān -raḍiyallāhu 'anhu-. Saat itu Uṡmān sedang mempersiapkan penduduk Syam dan Iraq untuk memerangi serta menaklukkan Armenia dan Azerbaijan. Ḥużaifah sebelumnya telah mendengar perbedaan bacaan Al-Qur`ān di antara orang-orang. Sebagian mereka membaca dengan qiraah Ubay dan sebagian lainnya membaca dengan qiraah Ibnu Mas'ūd, hingga hampir saja terjadi fitnah dan perselisihan di antara mereka. Hal ini mengagetkan Ḥużaifah, sehingga dia mendatangi Uṡmān seraya berkata, "Wahai Amirul Mukminin! Kendalikanlah olehmu umat ini sebelum terjadi perselisihan di antara mereka sebagaimana berselisihnya orang-orang Yahudi dan Nasrani dalam Taurat dan Injil hingga akhirnya mereka menyimpangkan, menambah, dan menguranginya. Al-Qur`ān pada saat itu telah tekumpul dalam lembaran-lembaran namun belum terkumpul dalam sebuah mushaf. Kemudian Uṡmān mengirim surat kepada Ḥafṣah ummul mukminin -raḍiyallāhu 'anhā- dan memintanya untuk mengirimkan lembaran-lembaran yang telah dituliskan Al-Qur`ān kepadanya untuk kemudian disalin ke dalam beberapa mushaf lalu mengirimkannya kembali kepadanya. Lembaran-lembaran yang diminta dari Ḥafṣah adalah lembaran-lembaran yang sebelumnya diperintahkan oleh Abu Bakar dan Umar untuk ditulisi dengan kumpulan Al-Qur`ān. Adapun pada saat itu, Uṡman mengumpulkan Al-Qur`ān ke dalam mushaf. Perbedaan antara mushaf dan suhuf (lembaran-lembaran Al-Qur`ān) adalah bahwa suhuf itu berupa lembaran-lembaran tulisan Al-Qur`ān yang belum tertata, yaitu lembaran-lembaran yang berisi tulisan Al-Qur`ān yang dikumpulkan pada masa Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu-. Ia berisi surah-surah Al-Qur`ān yang masih terpisah (belum tersusun), setiap surah telah tersusun beserta ayat-ayatnya secara terpisah, hanya saja sebagian ayat dengan ayat lainnya masih belum tersusun. Kemudian setelah disalin dan disusun sebagian ayat dengan ayat lainnya, barulah ia menjadi sebuah mushaf. Al-Qur`ān belum menjadi sebuah mushaf kecuali pada masa Uṡmān. Ḥafṣah pun mengirimkan suhuf kepada Uṡmān, lalu Uṡman memerintahkan Zaid bin Ṡābit, Abdullah bin Zubair, Sa`id bin Al-'Āṣ, dan Abdurrahman bin al-Hāriṡ bin Hisyām -raḍiyallāhu 'anhum- untuk menyalinnya, dan merekapun menyalinnya ke dalam beberapa muṣhaf. Zaid bin Ṡābit adalah seorang sahabat dari kalangan Ansar, sedangkan yang lainnya berasal dari kalangan Quraisy. Uṡman berkata kepada ketiga orang yang berasal dari kalangan Quraisy, "Jika kalian berbeda pendapat dengan Zaid bin Ṡābit terkait dengan Al-Qur`ān, maka tulislah oleh kalian dengan lisan Quraisy, karena sesungguhnya Al-Qur`ān diturunkan dengan lisan Quraisy." Merekapun mengerjakannya, hingga selesai penyalinannya ke dalam beberapa mushaf, Uṡmān pun mengembalikan suhuf tersebut kepada Ḥafṣah dan mengirimkan satu mushaf dari mushaf-mushaf yang telah disalin ke setiap penjuru, serta memerintahkan untuk membakar setiap lembaran atau mushaf Al-Qur`ān selain mushaf tersebut.
Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Kematian didatangkan dalam rupa seekor domba jantan yang berbulu putih bercampur hitam. Lantas seorang penyeru memanggil, 'Wahai penduduk surga.' Mereka pun mendongak seraya melihat. Penyeru itu berkata, 'Apakah kalian mengetahui ini?' Mereka menjawab, 'Ya. Itu adalah kematian.' Mereka semua pernah melihatnya. Kemudian dia memanggil lagi, 'Wahai penduduk neraka.' Mereka pun mendongak seraya melihat. Dia berkata, 'Apakah kalian mengetahui ini?' Mereka menjawab, 'Ya. Itu adalah kematian.' Mereka semua pernah melihatnya. Lantas domba itu disembelih. Kemudian dia berkata, 'Wahai penduduk surga, kekekalan bagimu, tidak ada lagi kematian. Wahai penduduk neraka, kekekalan bagimu, tidak ada lagi kematian.'" Kemudian Nabi membaca, "Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus, sedang mereka dalam kelalaian." (QS. Maryam: 39). -Mereka itu dalam kelalaian, yaitu penduduk dunia- "dan mereka tidak beriman." (QS. Maryam: 39)".
Muttafaq 'alaih
Nabi ﷺ menjelaskan bahwa kelak di hari kiamat kematian akan didatangkan dalam rupa domba jantan yang berbulu putih bercampur hitam. Lantas ada yang memanggil: Wahai penduduk surga! Maka mereka menjulurkan leher dan mengangkat kepala seraya melihat. Penyeru itu berkata kepada mereka: Apakah kalian mengetahui ini? Mereka menjawab: Ya, itu adalah kematian. Semua mereka pernah melihatnya dan mengetahuinya. Kemudian penyeru itu kembali memanggil: Wahai penduduk neraka! Maka mereka menjulurkan leher dan mengangkat kepala seraya melihat. Penyeru itu berkata: Apakah kalian mengetahui ini? Mereka menjawab: Ya, itu adalah kematian. Semua mereka telah melihatnya. Lalu domba itu disembelih, kemudian penyeru berkata: Wahai penduduk surga, kekal selama-lamanya, tidak ada lagi kematian. Wahai penduduk neraka, kekal selama-lamanya, tidak ada lagi kematian. Yang demikian itu agar menjadi tambahan kenikmatan bagi orang-orang beriman serta tambahan siksaan orang-orang kafir. Kemudian Nabi ﷺ bersabda, "Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus, sedang mereka dalam kelalaian dan mereka tidak beriman." Pada hari kiamat akan dipisahkan antara penghuni surga dan neraka, masing-masing masuk ke tempatnya, dan kekal di dalamnya. Maka orang yang berbuat keburukan akan menyesal, sebab tidak berbuat baik, demikian juga orang yang lalai, sebab tidak menambah kebaikan.
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, ia berkata, "Rasulullah ﷺ membaca ayat ini, 'Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur`an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muḥkamāt, itulah pokok-pokok kitab (Al-Qur`an) dan yang lain mutasyābihāt. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyābihāt untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, "Kami beriman kepadanya (Al-Qur`an), semuanya dari sisi Tuhan kami." Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal'." [QS. Āli 'Imrān: 7] Aisyah berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila engkau melihat orang-orang yang mengikuti yang mutasyābihāt, mereka itulah orang-orang yang Allah sebutkan, maka waspadalah terhadap mereka".
Muttafaq 'alaih
Rasulullah ﷺ membaca ayat ini (yang artinya): "Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur`an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muḥkamāt, itulah pokok-pokok kitab (Al-Qur`an) dan yang lain mutasyābihāt. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyābihāt untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, "Kami beriman kepadanya (Al-Qur`an), semuanya dari sisi Tuhan kami." Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal." Di dalam ayat ini, Allah Subḥānah mengabarkan bahwa Dialah yang menurunkan Al-Qur`an kepada Nabi-Nya, sebagiannya ada ayat-ayat yang memiliki petunjuk jelas serta hukum yang terang benderang, tidak ada kerancuan di dalamnya. Ini merupakan pokok dan induk Al-Qur`an serta menjadi referensi ketika terjadi perbedaan. Sebagian lainnya, ayat-ayat yang mengandung lebih dari satu makna, sehingga maknanya samar bagi sebagian orang, atau mereka mengira ada kontradiksi antara ayat itu dan ayat yang lain. Kemudian Allah menjelaskan interaksi orang terhadap ayat-ayat itu: Orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyimpangan dari kebenaran, mereka meninggalkan ayat yang muḥkam dan mengambil yang mutasyābih, tujuannya menyulut syubhat dan menyesatkan manusia, dan dengan itu mereka berupaya menakwilnya menurut yang sesuai dengan hawa nafsu mereka. Adapun orang-orang yang keilmuannya lebih mendalam, mereka mengetahui ayat yang mutasyābih dan mengembalikannya kepada yang muḥkam; mereka mengimani bahwa ia datang dari Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, sehingga ia tidak mungkin rancu ataupun kontradiktif. Akan tetapi tidak ada yang mengambil pelajaran dengan hal itu kecuali orang-orang yang berakal lurus. Kemudian Nabi ﷺ bersabda kepada ibunda kaum mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, apabila dia melihat orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyābihāt, maka mereka itulah yang disebutkan oleh Allah di dalam firman-Nya, "Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan ...", maka waspadalah terhadap mereka dan jangan mendengarkan mereka.
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, "Apabila Nabi ﷺ pergi ke tempat tidurnya di setiap malam, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya, kemudian beliau meniup keduanya seraya membaca surah Qul huwallāhu aḥad, Qul a'ūżu bi rabbil-falaq, dan Qul a'ūżu bi rabbin-nās. Lalu beliau mengusap bagian tubuhnya yang terjangkau, dimulai dari kepala dan wajahnya, lalu semua bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan hal tersebut sebanyak tiga kali."
Diriwayatkan oleh Bukhari
Di antara petunjuk Nabi ﷺ ketika berada di kasurnya untuk tidur adalah beliau menggabungkan kedua telapak tangan dan mengangkatnya -seperti orang yang berdoa- seraya meniupnya dengan tiupan lembut disertai sedikit ludah dan membaca tiga surah: Qul huwallāhu aḥad, Qul a'ūżu bi rabbil-falaq, dan Qul a'ūżu bi rabbin-nās. Kemudian dengan kedua telapak tangannya, beliau mengusap bagian tubuh yang bisa dijangkau, dimulai dari kepala dan wajah serta tubuh bagian depan. Beliau mengulanginya sebanyak tiga kali.
Dari 'Uqbah bin 'Āmir -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidakkah engkau mengetahui ayat-ayat yang telah diturunkan malam ini yang belum pernah ada sama sekali sebelumnya? Yaitu, Qul A'ūżu Birabbil Falaq dan Qul A'ūżu Birabbinnās."
Diriwayatkan oleh Muslim
Dari 'Uqbah bin 'Āmir -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidakkah engkau mengetahui," Yakni, tidakkah engkau tahu. Perkataan ini merupakan seruan khusus kepada perawi. Sedangkan maksudnya umum untuk semua. Itu adalah kata seru. Beliau mengisyaratkan penyebab ketakjuban dengan sabdanya, "yang belum pernah ada sebelumnya" yakni, dalam bab ini. Yaitu permohonan perlindungan. Sabdanya, "sama sekali," sebagai penegas peniadaan. Sabdanya, "Qul A'ūżu Birabbil Falaq dan Qul A'ūżu Birabbinnās." Yakni, tidak ada ayat-ayat dalam satu surah yang seluruhnya merupakan perlindungan bagi orang yang membacanya dari berbagai kejahatan, yang menyerupai dua surat ini. Siapa saja orang berlindung memakai kedua surat ini dengan iman dan kesungguhan, niscaya Allah -Azza wa Jalla- melindunginya. Ringkasnya, hendaknya manusia meminta perlindungan dengan (membaca) dua surah ini.
Tobat kepada Allah -Ta'ālā- adalah sebab untuk berhenti melakukan perbuatan haram serta adanya rida dengan rezeki yang Allah bagikan kepada hamba.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Perbedaan pahala kebaikan didasarkan pada kadar keikhlasan dan mutāba'ah; semakin ikhlas seorang hamba kepada Allah dan berupaya lebih meneladani Rasul -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- maka ibadahnya akan semakin sempurna dan pahalanya semakin banyak.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Hari yang terbaik dan paling afdal bagi hamba secara keseluruhan adalah hari ketika Allah menerima dan mengabulkan tobatnya.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Siapa yang bersabar serta mengharap pahala ketika musibah, maka Allah -'Azza wa Jalla- akan memberinya ganti yang lebih baik daripada apa yang menimpanya pada diri dan keluarganya.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Sabar termasuk akhlak mulia dan perbuatan terpuji yang tidak akan kuasa melakukannya kecuali orang-orang yang jantan.
Riyadh Al-Salheen with explanation and benefits
Siapa yang tulus kepada Allah -Ta'ālā- di dalam ketaatan, akan dimudahkan oleh Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- untuk menambah berbagai ibadah.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Bila keberkahan hadir pada sesuatu maka yang sedikit menjadi banyak, dan bila hilang maka yang banyak menjadi sedikit.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Perbedaan manusia dalam amal perbuatan sesuai perbedaan niat mereka; sebagian orang niatnya mencapai puncak keikhlasan dan mutāba'ah (sesuai Sunnah) dalam perbuatan-perbuatan baik dan amal saleh, dan sebagian yang lain niatnya di bawah itu.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Syahwat yang diharamkan adalah salah satu pintu masuk neraka, yaitu memperturutkan hawa nafsu pada sesuatu yang menyelisihi agama.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Bila seseorang telah berniat melakukan amal saleh, kemudian dia terhalangi darinya, maka ditulis baginya pahala yang dia niatkan.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan PetunjuknyaHadith Cards
Dari Al-Barā` bin 'Āzib -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Perindahlah Al-Qur`ān dengan suara kalian."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah
Maksudnya adalah: perindahlah Al-Qur`ān dengan memperbagus suara kalian tatkala membacanya, karena perkataan yang baik akan bertambah bagus dan indah dengan suara yang indah. Hikmahnya adalah agar kita berusaha untuk mentadaburi Al-Qur`ān semaksimal mungkin dan memahami apa yang terkandung dalam ayat-ayat berupa perintah, larangan, janji, dan ancaman, karena secara alami jiwa ini condong kepada keindahaan suara, dan mungkin saja dengan indahnya suara ia bisa lebih fokus dan jauh dari hal-hal yang tidak penting, sehingga pada saat itu pikiran menjadi lebih konsentrasi. Jika pikiran telah konsentrasi maka akan tercapai kekhusyuan dan ketenangan. Yang dimaksud dengan memperindah suara -dalam hadis ini- ialah keindahan yang membawa kekhusyuan, bukan suara-suara seperti nada nyanyian dan lagu-lagu yang keluar dari batasan (kaidah) bacaan.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Dahulu ahli kitab membaca Taurat dengan Bahasa Ibrani dan menjelaskannya dengan bahasa Arab kepada pemeluk Islam, maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Jangan kalian mempercayai Ahli Kitab dan jangan pula mendustakan mereka, tetapi katakanlah, 'Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami.' [QS. Al-Baqarah: 136]"
Diriwayatkan oleh Bukhari
Nabi ﷺ mengingatkan umatnya agar tidak teperdaya dengan apa yang diriwayatkan oleh Ahli Kitab dari kitab-kitab mereka. Dahulu orang-orang Yahudi di masa Nabi ﷺ membaca Taurat yang berbahasa Ibrani, yaitu bahasa orang Yahudi, dan mereka menjelaskannya dengan Bahasa Arab, maka beliau ﷺ bersabda: Janganlah kalian membenarkan Ahli Kitab dan jangan pula mendustakannya. Ini pada perkara yang tidak dapat diketahui mana yang benar dan mana yang dusta. Yang demikian itu karena Allah Ta'ala memerintahkan kita untuk mengimani Al-Qur`an yang diturunkan kepada kita serta Al-Kitab yang diturunkan kepada mereka, hanya saja kita tidak memiliki jalan untuk membedakan antara berita yang sahih dan tidak sahih yang mereka riwayatkan dari kitab-kitab tersebut, jika di dalam syariat kita tidak ada keterangan mengenai mana yang benar dan mana yang dusta. Oleh karena itu, kita tidak perlu berkomentar; kita tidak membenarkan mereka, agar tidak ikut serta dalam sesuatu yang mereka selewengkan; dan kita juga tidak mendustakan mereka, karena bisa jadi itu benar, sehingga kita telah mengingkari sesuatu yang diperintahkan untuk mengimaninya. Nabi ﷺ memerintahkan kita agar mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta kepada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan kami hanya berserah diri kepada-Nya." [QS. Al-Baqarah: 136].
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan: Sejumlah orang dari kalangan musyrikin telah banyak membunuh dan banyak berzina. Mereka lalu datang menemui Nabi Muhammad ﷺ seraya bertanya, "Sungguh, yang engkau sampaikan dan dakwahkan itu benar-benar bagus, sekiranya engkau mengabarkan kafarat untuk apa yang telah kami perbuat?" Maka turunlah ayat: "Orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina..." [QS. Al-Furqān: 68] Juga turun ayat: "Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah..." [QS. Az-Zumar: 53]
Muttafaq 'alaih
Sejumlah laki-laki dari kalangan musyrikin datang menemui Nabi ﷺ. Sebelumnya, mereka banyak membunuh dan berzina. Lalu mereka bertanya kepada Nabi: Islam yang engkau dakwahkan berikut ajaran-ajarannya adalah sesuatu yang bagus, tetapi keadaan kami serta kesyirikan dan dosa-dosa besar yang kami terjerumus di dalamnya, apakah ada penggugurnya? Maka turunlah dua ayat tersebut, yaitu Allah menerima tobat manusia sekalipun dosa mereka banyak dan besar. Kalau tidak seperti itu, niscaya mereka akan tetap lanjut di atas kekafiran dan kezaliman mereka, serta mereka tidak akan masuk ke dalam agama ini.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Wahyu benar-benar turun kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di pagi hari yang dingin, kemudian dahi beliau bercucuran keringat."
Diriwayatkan oleh Muslim
Dalam hadis ini, Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- memberitahukan bahwa wahyu pernah turun kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di pagi hari yang dingin, lalu keringat keluar bercucuran dari dahi beliau karena sangat kuatnya wahyu yang turun kepadanya.
Dari Umar bin Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku mendengar Hisyām bin Hakīm membaca surah Al-Furqān pada masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, maka aku mendengarkan bacaannya dengan berbagai macam bentuk bacaan yang belum pernah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membacakannya kepadaku. Aku pun hampir menyergapnya di dalam salat, namun aku berusaha menunggunya hingga salam. Setelah salam aku menariknya dengan selendang yang dipakainya atau dengan selendangku sambil berkata, 'Siapakah yang telah membacakan surah ini (dengan bacaan seperti itu) kepadamu?' Hisyām menjawab, 'Rasullullah lah yang telah membacakannya kepadaku.' Aku (Umar) berkata, 'Engkau telah berbohong! Demi Allah, sungguh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah membacakan surah yang engaku baca tersebut kepadaku. Maka akupun membawanya bertolak menghadap kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu aku berkata, 'Ya Rasulullah, sungguh aku telah mendengarnya membaca surah Al-Furqān dengan dialek yang belum pernah engkau bacakan kepadaku, dan engkau telah membacakan surah tersebut kepadaku (dengan dialek yang berbeda).' Lalu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Lepaskan dia wahai Umar! Bacalah wahai Hisyām!' Maka Hisyām membacakan bacaan dalam surah Al-Furqān sebagaimana yang telah aku dengar tadi. Kemudian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Seperti itulah Alquran diturunkan.' Lalu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Bacalah wahai Umar!' Maka aku pun membacanya, lalu beliau bersabda, 'Seperti itulah Alquran diturunkan.' Kemudian beliau bersabda, 'Sesungguhnya Alquran ini diturunkan atas tujuh huruf (dialek), maka bacalah apa yang mudah darinya'."
Muttafaq 'alaih
Umar bin Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- menceritakan bahwa dirinya pernah mendengar Hisyām bin Hakīm -raḍiyallāhu 'anhumā- membaca surah Al-Furqān pada masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan bacaan yang berbeda dengan bacaannya pada banyak lafal. Umar telah membacakan surah tersebut (dengan bacaannya) kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dan ia mengira bahwa hal itu adalah sebuah kekeliruan dari Hisyām, sehingga hampir saja dia lompat dan manarik kepalanya ketika salat. Akan tetapi dia mencoba untuk tetap bersabar hingga dia salam, lalu menggenggam selendangnya dan melingkarkannya pada lehernya, seraya berkata, "Siapakah yang telah membacakan surah ini (dengan bacaan seperti itu) kepadamu?" Hisyām menjawab, "Rasullullah lah yang telah membacakannya kepadaku." Umar berkata, "Engkau telah berbohong! Demi Allah, sungguh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah membacakan surah tersebut kepadaku tidak seperti yang engkau baca." Kemudian Umar pergi menarik Hisyām menghadap kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dan Umar adalah orang yang paling tegas dalam urusan (agama) Allah -Ta`āla-. Kemudian Umar berkata, "Wahai Rasulullah, sungguh aku telah mendengar Hisyām membaca surah Al-Furqān dengan lafal bacaan yang belum pernah aku dengar engkau membacanya, dan engkau telah membacakan kepadaku (bacaan) surah Al-Furqān tersebut." Lalu Rasulullah menyuruh Umar untuk melepaskannya, dan menyuruh Hisyām untuk membacakan surah Al-Furqān. Ketika Hisyām telah membacakannya, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Seperti itulah Alquran diturunkan." Maksudnya adalah bahwa surah tersebut diturunkan dari sisi Allah sesuai dengan apa yang telah dibacakan oleh Hisyām, dan dia tidak keliru sebagaimana yang disangkakan oleh Umar -raḍiyallāhu 'anhu-. Lalu beliau menyuruh Umar untuk membacakannya, kemudian dia pun membacakannya. Lalu beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Seperti itulah Alquran diturunkan." Maksudnya adalah bahwa Allah telah menurunkan surah tersebut seperti apa yang telah dibacakan oleh Umar sebagaimana halnya juga seperti yang telah dibacakan oleh Hisyām. Lalu beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Alquran ini diturunkan atas tujuh huruf (dialek), maka bacalah apa yang mudah darinya." Umar dan Hisyām keduanya benar dalam hal bacaan surah tersebut. Sebab, Alquran diturunkan lebih dari satu huruf (dialek), namun diturunkan atas tujuh huruf (dialek), dan apa yang ada pada bacaan Hisyām bukanlah sebagai tambahan ayat-ayat pada bacaan Umar, akan tetapi hanya terdapat perbedaan pada huruf-hurufnya saja. Oleh karena itu, beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepada mereka berdua setelah mendengar bacaan keduanya, "Demikianlah Alquran telah diturunkan." Dan hal itu dijelaskan kembali oleh sabdanya, "Sesungguhnya Alquran ini diturunkan atas tujuh huruf, maka bacalah apa yang mudah darinya." Maksudnya adalah janganlah kalian membebani diri atas satu huruf saja, karena sesungguhnya Allah -Ta`āla- telah meringankan dalam hal bacaan Alquran dengan tujuh huruf (dialek) sebagai bentuk kasih sayang dan keutamaan dari-Nya, maka bagi Allah-lah pujian dan sanjungan. Para ulama berbeda pendapat tentang penjelasan ketujuh huruf tersebut. Namun, yang dimaksud dengannya -yang tampak jelas, wallahu a`lam- adalah dialek-dialek dari sekian dialek Bahasa Arab. Alquran turun dengan dialek-dialek tersebut pada awalnya adalah sebagai bentuk keringanan, karena kaum Arab adalah kaum yang terpisah-pisah dan berbeda-beda. Setiap kaum memiliki dialek tersendiri, dialek suatu kabilah tidak sama dengan dialek kabilah lainnya. Akan tetapi setelah Islam menyatukan mereka semua, satu sama lain telah saling terhubung, permusuhan dan kebencian di antara mereka telah sirna karena datangnya Islam, serta setiap dari mereka telah mengenali bahasa atau dialek lainnya, maka Uṡman bin Affān -raḍiyallāhu 'anhu- menyatukan seluruh umat Islam di atas satu huruf (dialek) dari ke tujuh huruf tersebut serta menghilangkan yang lainnya, hingga tidak terjadi perselisihan.
Dari Ibnu Syihāb bahwa Anas bin Mālik telah menceritakan kepadanya, bahwasanya Ḥużaifah bin Al-Yamān datang kepada Uṡmān setelah sebelumnya ia memerangi Ahlus Syam yakni pada saat penaklukan Armenia dan Azerbaijan bersama penduduk Irak. Ternyata perselisihan mereka dalam qiraah mengejutkan Ḥużaifah. Maka Ḥużaifah pun berkata kepada Uṡmān, "Wahai Amirulmukminin! Rangkullah umat ini sebelum mereka berselisih tentang Al-Qur`ān sebagaimana perselisihan yang telah terjadi pada kaum Yahudi dan Nasrani." Maka Uṡmān mengirim surat kepada Ḥafṣah yang berisikan, "Tolong, kirimkanlah lembaran-lembaran Al-Qur`ān kepada kami, agar kami dapat segera menyalinnya dalam bentuk muhaf-mushaf, lalu kami akan segera mengembalikannya pada Anda." Maka Ḥafṣah pun mengirimkannya kepada Uṡmān. Lalu Uṡmān memerintahkan Zaid bin Ṡābit, Abdullah bin Zubair, Sa'īd bin Al-'Āṣ, dan Abdurrahman bin Al-Ḥāriṡ bin Hisyām, sehingga mereka pun menyalinnya dalam bentuk mushaf-mushaf. Uṡmān berkata kepada tiga orang Quraisy dari mereka, "Jika kalian berselisih dengan Zaid bin Ṡābit terkait Al-Qur`ān, maka tulislah dengan bahasa Quraisy, sebab Al-Qur`ān turun dengan bahasa mereka." Kemudian mereka mengindahkan perintah itu hingga penyalinan selesai dan Uṡmān pun mengembalikan lembaran-lembaran Al-Qur`ān ke Ḥafṣah. Setelah itu, Uṡmān mengirimkan sejumlah mushaf yang telah disalin ke berbagai penjuru negeri, dan memerintahkan untuk membakar setiap lembaran atau mushaf Al-Qur`ān selain mushaf tersebut.
Diriwayatkan oleh Bukhari
Ḥużaifah bin al-Yamān -raḍiyallāhu 'anhumā- datang kepada Uṡmān -raḍiyallāhu 'anhu-. Saat itu Uṡmān sedang mempersiapkan penduduk Syam dan Iraq untuk memerangi serta menaklukkan Armenia dan Azerbaijan. Ḥużaifah sebelumnya telah mendengar perbedaan bacaan Al-Qur`ān di antara orang-orang. Sebagian mereka membaca dengan qiraah Ubay dan sebagian lainnya membaca dengan qiraah Ibnu Mas'ūd, hingga hampir saja terjadi fitnah dan perselisihan di antara mereka. Hal ini mengagetkan Ḥużaifah, sehingga dia mendatangi Uṡmān seraya berkata, "Wahai Amirul Mukminin! Kendalikanlah olehmu umat ini sebelum terjadi perselisihan di antara mereka sebagaimana berselisihnya orang-orang Yahudi dan Nasrani dalam Taurat dan Injil hingga akhirnya mereka menyimpangkan, menambah, dan menguranginya. Al-Qur`ān pada saat itu telah tekumpul dalam lembaran-lembaran namun belum terkumpul dalam sebuah mushaf. Kemudian Uṡmān mengirim surat kepada Ḥafṣah ummul mukminin -raḍiyallāhu 'anhā- dan memintanya untuk mengirimkan lembaran-lembaran yang telah dituliskan Al-Qur`ān kepadanya untuk kemudian disalin ke dalam beberapa mushaf lalu mengirimkannya kembali kepadanya. Lembaran-lembaran yang diminta dari Ḥafṣah adalah lembaran-lembaran yang sebelumnya diperintahkan oleh Abu Bakar dan Umar untuk ditulisi dengan kumpulan Al-Qur`ān. Adapun pada saat itu, Uṡman mengumpulkan Al-Qur`ān ke dalam mushaf. Perbedaan antara mushaf dan suhuf (lembaran-lembaran Al-Qur`ān) adalah bahwa suhuf itu berupa lembaran-lembaran tulisan Al-Qur`ān yang belum tertata, yaitu lembaran-lembaran yang berisi tulisan Al-Qur`ān yang dikumpulkan pada masa Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu-. Ia berisi surah-surah Al-Qur`ān yang masih terpisah (belum tersusun), setiap surah telah tersusun beserta ayat-ayatnya secara terpisah, hanya saja sebagian ayat dengan ayat lainnya masih belum tersusun. Kemudian setelah disalin dan disusun sebagian ayat dengan ayat lainnya, barulah ia menjadi sebuah mushaf. Al-Qur`ān belum menjadi sebuah mushaf kecuali pada masa Uṡmān. Ḥafṣah pun mengirimkan suhuf kepada Uṡmān, lalu Uṡman memerintahkan Zaid bin Ṡābit, Abdullah bin Zubair, Sa`id bin Al-'Āṣ, dan Abdurrahman bin al-Hāriṡ bin Hisyām -raḍiyallāhu 'anhum- untuk menyalinnya, dan merekapun menyalinnya ke dalam beberapa muṣhaf. Zaid bin Ṡābit adalah seorang sahabat dari kalangan Ansar, sedangkan yang lainnya berasal dari kalangan Quraisy. Uṡman berkata kepada ketiga orang yang berasal dari kalangan Quraisy, "Jika kalian berbeda pendapat dengan Zaid bin Ṡābit terkait dengan Al-Qur`ān, maka tulislah oleh kalian dengan lisan Quraisy, karena sesungguhnya Al-Qur`ān diturunkan dengan lisan Quraisy." Merekapun mengerjakannya, hingga selesai penyalinannya ke dalam beberapa mushaf, Uṡmān pun mengembalikan suhuf tersebut kepada Ḥafṣah dan mengirimkan satu mushaf dari mushaf-mushaf yang telah disalin ke setiap penjuru, serta memerintahkan untuk membakar setiap lembaran atau mushaf Al-Qur`ān selain mushaf tersebut.
Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Kematian didatangkan dalam rupa seekor domba jantan yang berbulu putih bercampur hitam. Lantas seorang penyeru memanggil, 'Wahai penduduk surga.' Mereka pun mendongak seraya melihat. Penyeru itu berkata, 'Apakah kalian mengetahui ini?' Mereka menjawab, 'Ya. Itu adalah kematian.' Mereka semua pernah melihatnya. Kemudian dia memanggil lagi, 'Wahai penduduk neraka.' Mereka pun mendongak seraya melihat. Dia berkata, 'Apakah kalian mengetahui ini?' Mereka menjawab, 'Ya. Itu adalah kematian.' Mereka semua pernah melihatnya. Lantas domba itu disembelih. Kemudian dia berkata, 'Wahai penduduk surga, kekekalan bagimu, tidak ada lagi kematian. Wahai penduduk neraka, kekekalan bagimu, tidak ada lagi kematian.'" Kemudian Nabi membaca, "Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus, sedang mereka dalam kelalaian." (QS. Maryam: 39). -Mereka itu dalam kelalaian, yaitu penduduk dunia- "dan mereka tidak beriman." (QS. Maryam: 39)".
Muttafaq 'alaih
Nabi ﷺ menjelaskan bahwa kelak di hari kiamat kematian akan didatangkan dalam rupa domba jantan yang berbulu putih bercampur hitam. Lantas ada yang memanggil: Wahai penduduk surga! Maka mereka menjulurkan leher dan mengangkat kepala seraya melihat. Penyeru itu berkata kepada mereka: Apakah kalian mengetahui ini? Mereka menjawab: Ya, itu adalah kematian. Semua mereka pernah melihatnya dan mengetahuinya. Kemudian penyeru itu kembali memanggil: Wahai penduduk neraka! Maka mereka menjulurkan leher dan mengangkat kepala seraya melihat. Penyeru itu berkata: Apakah kalian mengetahui ini? Mereka menjawab: Ya, itu adalah kematian. Semua mereka telah melihatnya. Lalu domba itu disembelih, kemudian penyeru berkata: Wahai penduduk surga, kekal selama-lamanya, tidak ada lagi kematian. Wahai penduduk neraka, kekal selama-lamanya, tidak ada lagi kematian. Yang demikian itu agar menjadi tambahan kenikmatan bagi orang-orang beriman serta tambahan siksaan orang-orang kafir. Kemudian Nabi ﷺ bersabda, "Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus, sedang mereka dalam kelalaian dan mereka tidak beriman." Pada hari kiamat akan dipisahkan antara penghuni surga dan neraka, masing-masing masuk ke tempatnya, dan kekal di dalamnya. Maka orang yang berbuat keburukan akan menyesal, sebab tidak berbuat baik, demikian juga orang yang lalai, sebab tidak menambah kebaikan.
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, ia berkata, "Rasulullah ﷺ membaca ayat ini, 'Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur`an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muḥkamāt, itulah pokok-pokok kitab (Al-Qur`an) dan yang lain mutasyābihāt. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyābihāt untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, "Kami beriman kepadanya (Al-Qur`an), semuanya dari sisi Tuhan kami." Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal'." [QS. Āli 'Imrān: 7] Aisyah berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila engkau melihat orang-orang yang mengikuti yang mutasyābihāt, mereka itulah orang-orang yang Allah sebutkan, maka waspadalah terhadap mereka".
Muttafaq 'alaih
Rasulullah ﷺ membaca ayat ini (yang artinya): "Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur`an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muḥkamāt, itulah pokok-pokok kitab (Al-Qur`an) dan yang lain mutasyābihāt. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyābihāt untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, "Kami beriman kepadanya (Al-Qur`an), semuanya dari sisi Tuhan kami." Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal." Di dalam ayat ini, Allah Subḥānah mengabarkan bahwa Dialah yang menurunkan Al-Qur`an kepada Nabi-Nya, sebagiannya ada ayat-ayat yang memiliki petunjuk jelas serta hukum yang terang benderang, tidak ada kerancuan di dalamnya. Ini merupakan pokok dan induk Al-Qur`an serta menjadi referensi ketika terjadi perbedaan. Sebagian lainnya, ayat-ayat yang mengandung lebih dari satu makna, sehingga maknanya samar bagi sebagian orang, atau mereka mengira ada kontradiksi antara ayat itu dan ayat yang lain. Kemudian Allah menjelaskan interaksi orang terhadap ayat-ayat itu: Orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyimpangan dari kebenaran, mereka meninggalkan ayat yang muḥkam dan mengambil yang mutasyābih, tujuannya menyulut syubhat dan menyesatkan manusia, dan dengan itu mereka berupaya menakwilnya menurut yang sesuai dengan hawa nafsu mereka. Adapun orang-orang yang keilmuannya lebih mendalam, mereka mengetahui ayat yang mutasyābih dan mengembalikannya kepada yang muḥkam; mereka mengimani bahwa ia datang dari Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, sehingga ia tidak mungkin rancu ataupun kontradiktif. Akan tetapi tidak ada yang mengambil pelajaran dengan hal itu kecuali orang-orang yang berakal lurus. Kemudian Nabi ﷺ bersabda kepada ibunda kaum mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, apabila dia melihat orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyābihāt, maka mereka itulah yang disebutkan oleh Allah di dalam firman-Nya, "Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan ...", maka waspadalah terhadap mereka dan jangan mendengarkan mereka.
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, "Apabila Nabi ﷺ pergi ke tempat tidurnya di setiap malam, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya, kemudian beliau meniup keduanya seraya membaca surah Qul huwallāhu aḥad, Qul a'ūżu bi rabbil-falaq, dan Qul a'ūżu bi rabbin-nās. Lalu beliau mengusap bagian tubuhnya yang terjangkau, dimulai dari kepala dan wajahnya, lalu semua bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan hal tersebut sebanyak tiga kali."
Diriwayatkan oleh Bukhari
Di antara petunjuk Nabi ﷺ ketika berada di kasurnya untuk tidur adalah beliau menggabungkan kedua telapak tangan dan mengangkatnya -seperti orang yang berdoa- seraya meniupnya dengan tiupan lembut disertai sedikit ludah dan membaca tiga surah: Qul huwallāhu aḥad, Qul a'ūżu bi rabbil-falaq, dan Qul a'ūżu bi rabbin-nās. Kemudian dengan kedua telapak tangannya, beliau mengusap bagian tubuh yang bisa dijangkau, dimulai dari kepala dan wajah serta tubuh bagian depan. Beliau mengulanginya sebanyak tiga kali.
Dari 'Uqbah bin 'Āmir -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidakkah engkau mengetahui ayat-ayat yang telah diturunkan malam ini yang belum pernah ada sama sekali sebelumnya? Yaitu, Qul A'ūżu Birabbil Falaq dan Qul A'ūżu Birabbinnās."
Diriwayatkan oleh Muslim
Dari 'Uqbah bin 'Āmir -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidakkah engkau mengetahui," Yakni, tidakkah engkau tahu. Perkataan ini merupakan seruan khusus kepada perawi. Sedangkan maksudnya umum untuk semua. Itu adalah kata seru. Beliau mengisyaratkan penyebab ketakjuban dengan sabdanya, "yang belum pernah ada sebelumnya" yakni, dalam bab ini. Yaitu permohonan perlindungan. Sabdanya, "sama sekali," sebagai penegas peniadaan. Sabdanya, "Qul A'ūżu Birabbil Falaq dan Qul A'ūżu Birabbinnās." Yakni, tidak ada ayat-ayat dalam satu surah yang seluruhnya merupakan perlindungan bagi orang yang membacanya dari berbagai kejahatan, yang menyerupai dua surat ini. Siapa saja orang berlindung memakai kedua surat ini dengan iman dan kesungguhan, niscaya Allah -Azza wa Jalla- melindunginya. Ringkasnya, hendaknya manusia meminta perlindungan dengan (membaca) dua surah ini.
benefits Cards
Tobat kepada Allah -Ta'ālā- adalah sebab untuk berhenti melakukan perbuatan haram serta adanya rida dengan rezeki yang Allah bagikan kepada hamba.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Perbedaan pahala kebaikan didasarkan pada kadar keikhlasan dan mutāba'ah; semakin ikhlas seorang hamba kepada Allah dan berupaya lebih meneladani Rasul -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- maka ibadahnya akan semakin sempurna dan pahalanya semakin banyak.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Hari yang terbaik dan paling afdal bagi hamba secara keseluruhan adalah hari ketika Allah menerima dan mengabulkan tobatnya.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Siapa yang bersabar serta mengharap pahala ketika musibah, maka Allah -'Azza wa Jalla- akan memberinya ganti yang lebih baik daripada apa yang menimpanya pada diri dan keluarganya.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Sabar termasuk akhlak mulia dan perbuatan terpuji yang tidak akan kuasa melakukannya kecuali orang-orang yang jantan.
Riyadh Al-Salheen with explanation and benefits
Siapa yang tulus kepada Allah -Ta'ālā- di dalam ketaatan, akan dimudahkan oleh Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- untuk menambah berbagai ibadah.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Bila keberkahan hadir pada sesuatu maka yang sedikit menjadi banyak, dan bila hilang maka yang banyak menjadi sedikit.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Perbedaan manusia dalam amal perbuatan sesuai perbedaan niat mereka; sebagian orang niatnya mencapai puncak keikhlasan dan mutāba'ah (sesuai Sunnah) dalam perbuatan-perbuatan baik dan amal saleh, dan sebagian yang lain niatnya di bawah itu.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Syahwat yang diharamkan adalah salah satu pintu masuk neraka, yaitu memperturutkan hawa nafsu pada sesuatu yang menyelisihi agama.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya