Hedayat “A fruitful harvest”
from the gardens of “ Verses and Hadiths ”
Inspiring Dawah cards that highlight the profound meanings of Quranic verses and Prophetic Hadiths. Presented in an accessible and engaging style to help Muslims gain a deeper understanding of their faith with ease.
About Hedayat
Hedayat is a platform that combines simplicity of design and ease of use
displaying the benefits derived from Verses and Hadiths in
attractive cards with unique designs.
Unique Designs
Cards with unique and attractive designs that express the content of the text
Reliable Materials
Scientifically reliable benefits reviewed by a group of scholars
Easy Browsing
You can browse the cards easily and display them effortlessly
Different Languages
Cards are available in more than 40 languages for the benefit of all
Hadith Cards
Dari Abdullah bin Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Ketika Jibril -'alaihi as-salām- duduk di sisi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, ia mendengar bunyi dari atasnya. Lantas Jibril mengangkat kepalanya lalu berkata, 'Ini adalah satu pintu langit yang telah dibuka hari ini, dan pintu itu belum pernah dibuka sebelumnya kecuali hari ini.' Lalu turunlah satu malaikat dari pintu itu. Jibril berkata, 'Ini adalah malaikat yang turun ke bumi, dia belum pernah turun kecuali hari ini.' Malaikat itu mengucapkan salam lalu berkata, 'Bergembiralah (wahai Muhammad) dengan dua cahaya yang telah dikaruniakan kepadamu, yang belum pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebelummu, (yaitu): Al-Fātiḥah dan penutup surat Al-Baqarah. Tidaklah engkau membaca satu huruf pun dari ayat-ayat itu (yang berisi permohonan) melainkan engkau akan dikarunai apa yang engkau mohon'."
Diriwayatkan oleh MuslimIbnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, "Ketika Jibril -'alaihi as-salām- duduk di sisi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, ia mendengar bunyi," yakni, suara keras seperti suara kayu bangunan ketika patah. "dari atasnya", yakni dari arah langit atau dari arah kepalanya. Ada yang mengatakan suara seperti bunyi pintu. "Lantas Jibril mengangkat kepalanya lalu berkata, 'Ini adalah satu pintu langit,' yakni, dunia. "Yang telah dibuka hari ini, dan pintu itu belum pernah dibuka sebelumnya kecuali hari ini." Lalu turunlah darinya," yakni, dari pintu itu, "satu malaikat. "Jibril berkata, 'Ini adalah malaikat yang turun ke bumi, dia belum pernah turun kecuali hari ini.' Pengkhususan dua cahaya ini dengan dua hal yang belum pernah terjadi selain pada keduanya menunjukkan keutamaan keduanya dan keistimewaannya dengan sesuatu yang tidak ada pada selain keduanya. "Malaikat itu mengucapkan salam," yakni, malaikat tersebut, "lalu berkata, 'Bergembiralah (wahai Muhammad) dengan dua cahaya,' dia menamakan keduanya dua cahaya karena masing-masing dari keduanya itu merupakan cahaya yang berjalan di hadapan pemiliknya, atau karena keduanya menunjukkan ke jalan yang lurus dengan merenungkannya dan menghayati maknanya. Cahaya pertama adalah surah Al-Fātiḥah, dan cahaya kedua adalah dua ayat terakhir surah Al-Baqarah. Sesungguhnya siapa saja dari umat ini yang membacanya dalam keadaan beriman, pasti Allah - Ta'āla- memberikan apa yang diminta di dalamnya, "dikaruniakan kepadamu," yakni, diberikan kepadamu keduanya, "yang belum pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebelummu."
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Kiamat tidak akan terjadi hingga matahari terbit dari tempat terbenamnya. Ketika matahari terbit dan orang-orang melihatnya, mereka semuanya beriman. Itulah hari ketika 'tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau (belum) berusaha berbuat kebajikan dengan imannya itu' (QS. Al-An'ām: 158). Sungguh kiamat akan terjadi padahal dua orang telah menggelar pakaiannya di antara mereka lalu mereka tidak jadi berjual beli dan belum melipatnya. Sungguh kiamat akan terjadi padahal seseorang telah beranjak membawa susu perahannya lalu dia tidak jadi meminumnya. Sungguh kiamat akan terjadi padahal seseorang telah memperbaiki telaganya dan dia belum sempat memasukkan air ke dalamnya. Sungguh kiamat akan terjadi padahal seseorang di antara kalian telah mengangkat makanan ke mulutnya lalu dia tidak jadi menyantapnya."
Muttafaq 'alaihRasulullah ﷺ mengabarkan bahwa di antara tanda besar kiamat ialah matahari terbit dari barat, bukan dari timur. Ketika orang-orang melihatnya, mereka semuanya beriman. Ketika itu, tidak lagi berguna bagi orang kafir keimanannya, tidak juga amal saleh dan tobatnya. Kemudian beliau ﷺ mengabarkan bahwa kiamat datang dengan sangat cepat, sampai-sampai kiamat itu terjadi di saat manusia sedang dalam kerutinan dan urusan kehidupan mereka. Kiamat terjadi di saat penjual dan pembeli telah menggelar pakaian di antara keduanya, lalu mereka tidak jadi bertransaksi dan belum melipatnya. Kiamat terjadi di saat seseorang telah mengambil susu dari unta perahannya, namun dia belum sempat meminumnya. Kiamat terjadi ketika seseorang telah memperbaiki dan melapisi telaganya dengan tanah, lalu dia belum memasukkan air ke dalamnya. Kiamat terjadi pada waktu seseorang telah mengangkat santapannya ke mulut untuk dimakan, namun dia tidak jadi menyantapnya.
Dari Zaid bin Ṡābit Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhu-, dia adalah salah seorang penulis wahyu, ia berkata, "Abu Bakar mengirim pesan kepadaku (untuk datang) setelah perang Yamāmah, dan ternyata Umar ada di sisinya. Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, 'Sesungguhnya Umar mendatangiku dan berkata, 'Perang Yamāmah telah menelan banyak korban. Aku khawatir peperangan di berbagai tempat akan menelan banyak korban dari kalangan Qari, sehingga akan menyebabkan sebagian besar Al-Qur`ān juga akan hilang, kecuali engkau segera mengumpulkannya. Dan aku berpendapat, sebaiknya engkau segera mengumpulkan Al-Qur`ān." Abu Bakar berkata, 'Aku pun bertanya kepada Umar, 'Bagaimana aku akan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-?' Umar menjawab, 'Perkara ini, demi Allah adalah ide yang baik.' Umar selalu membujukku hingga Allah melapangkan dadaku dan akhirnya aku sependapat dengan Umar. Zaid bin Ṡābit berkata, 'Dan Umar duduk di sisinya tidak berkomentar apapun.' Abu Bakar berkata, 'Sesungguhnya kamu adalah seorang pemuda yang cerdas, kami sama sekali tidak curiga sedikit pun padamu. Kamu yang telah menulis wahyu untuk Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Karena itu, telusurilah Al-Qur`ān dan kumpulkanlah.' Demi Allah, sekiranya dia memerintahkanku untuk memindahkan gunung, niscaya hal itu tidaklah lebih berat daripada mengumpulkan Al-Qur`ān yang dia perintahkan padaku. Zaid bertanya, 'Bagaimana kalian melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-?' Ia menjawab, 'Demi Allah, itu adalah kebaikan.' Abu Bakar terus membujukku, hingga Allah pun melapangkan dadaku, sebagaimana Allah telah melapangkan dada Abu Bakar dan Umar. Maka aku pun mulai menelusuri Al-Qur`ān, mengumpulkannya dari kulit-kulit, tulang-tulang, pelepah kurma, dan dari hafalan para Qari (penghafal Al-Qur`ān). Dan aku pun mendapatkan dua ayat dari surah At-Taubah ada di Abu Khuzaimah Al-Anṣāri, yang tidak aku dapatkan pada seorang pun selain darinya. Yakni ayat: 'Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, ia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu,' (At-Taubah: 128) hingga akhir kedua ayat tersebut. Lembaran-lembaran Al-Qur`ān itu pun tetap tersimpan pada Abu Bakar hingga Allah mewafatkannya. Kemudian beralih kepada Umar semasa hidupnya, lalu berpindah lagi ke tangan Ḥafṣah binti Umar."
Diriwayatkan oleh BukhariZaid bin Ṡābit Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhu- menceritakan bahwa Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq pada masa kekhilafahannya mengirim pesan kepadanya setelah pertempuran para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- melawan Musailimah Al-Każżāb di Yamāmah pada tahun kesebelas, yang disebabkan pengakuan dirinya sebagai nabi serta banyaknya orang arab yang murtad. Pada perang tersebut banyak sekali para sahabat yang terbunuh. Lalu ia pun pergi menghadap kepada Abu Bakar dan mendapati Umar bin Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- berada di sisinya. Abu Bakar berkata kepada Zaid, "Sungguh Umar telah datang kepadaku, lalu berkata, 'Sesungguhnya telah banyak korban dari kalangan para sahabat pada pertempuran memerangi Musailimah Al-Każżāb dan aku khawatir akan bertambah banyak korban dari kalangan para Qari dan penghafal Al-Qur`ān pada peperangan yang terjadi melawan kaum kafir, sehingga akan ikut hilang juga sebagian besar dari Al-Qur`ān. Dan aku berpendapat agar engkau segera mengumpulkan Al-Qur`ān'." Abu Bakar berkata, "Aku pun bertanya kepada Umar, 'Bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-'?" Lalu Umar berkata kepadaku, "Demi Allah, pengumpulan Al-Qur`ān itu lebih baik daripada membiarkannya (hilang)." Abu Bakar berkata, "Umar terus membujukku untuk mengumpulkan Al-Qur`ān sampai Allah melapangkan dadaku untuk melakukannya, sehingga aku pun berpendapat untuk mengumpulkannya." Zaid bin Ṡābit berkata, "Abu Bakar mengatakan hal tersebut dan Umar duduk berada di sampingnya tanpa berkomentar apapun." Kemudian Abu Bakar berkata kepada Zaid, "Sesungguhnya kamu adalah seorang pemuda yang cerdas, kami sama sekali tidak curiga sedikit pun padamu dengan kedustaan dan lupa. Dan sungguh, kamulah yang telah menulis wahyu untuk Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Karena itu, telusurilah Al-Qur`ān dan kumpulkanlah." Al-Qur`ān pada masa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sebenarnya telah ditulis, hanya saja tidak terkumpul pada satu tempat dan surah-surahnya belum tersusun. Zaid berkata, "Demi Allah, sekiranya Abu Bakar memerintahkanku untuk memindahkan gunung, niscaya hal itu tidaklah lebih berat daripada mengumpulkan Al-Qur`ān yang dia perintahkan padaku." Lalu Zaid berkata kepada Abu Bakar dan Umar, "Bagaimana kalian melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-?" Abu Bakar menjawab, "Demi Allah, itu adalah kebaikan." Zaid berkata, "Abu Bakar terus membujukku, hingga Allah pun melapangkan dadaku dan aku pun berpendapat untuk mengumpulkannya karena kemaslahatan besar yang ada dibaliknya." Maka Zaid mulai menelusuri Al-Qur`ān, mengumpulkannya dari kulit-kulit, Aktāf (bentuk plural dari katif, yaitu tulang-tulang yang lebar dari pundak hewan, kemudian dikeringkan dan ditulis di atasnya), pelepah kurma yang sudah dibersihkan daunnya, kemudian mereka menulis di bagiannya yang lebar, dan dari hafalan para penghafal Al-Qur`ān yang telah menghafalkannya pada masa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan sempurna, seperti Ubay bin Ka'ab dan Mu'āż bin Jabal, sehingga apa yang tertulis pada kulit-kulit, tulang-tulang dan lainnya menjadi penguat untuk hafalan yang sudah kuat, hingga Zaid mendapatkan dua ayat dari surah At-Taubah bersama Khuzaimah bin Ṡābit Al-Anṣāri, yang tidak dia dapatkan pada seorang pun selain darinya. Yakni ayat: "Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, ia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu," (At-Taubah: 128) hingga akhir kedua ayat tersebut. Suhuf Al-Qur`ān itu pun tetap tersimpan pada Abu Bakar hingga Allah mewafatkannya. Kemudian beralih kepada Umar sampai iapun wafat, lalu berpindah ke tangan Ḥafṣah binti Umar -raḍiyallāhu 'anhum ajma'īn-. Kalangan Syiah Rafiḍah menolak tindakan Abu Bakar dalam mengumpulkan Al-Qur`ān dan bahwa dirinya telah melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, padahal tidak ada perkara apapun yang patut diingkari atas apa yang telah dilakukan Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu-, karena itu termasuk bagian dari nasihat untuk Allah, Rasul, dan juga kitab-Nya. Bahkan sebenarnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah mengizinkan hal tersebut dengan sabda beliau dalam hadis Abi Sa'īd di dalam Sahih Muslim, "Janganlah kalian menulis sesuatu dariku selain Al-Qur`ān!" Maksud dan target akhirnya adalah mengumpulkan apa yang telah ditulis sebelum itu, sehingga penolakan Syiah Rafiḍah tidak tepat diarahkan kepada Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq.
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan: Sejumlah orang dari kalangan musyrikin telah banyak membunuh dan banyak berzina. Mereka lalu datang menemui Nabi Muhammad ﷺ seraya bertanya, "Sungguh, yang engkau sampaikan dan dakwahkan itu benar-benar bagus, sekiranya engkau mengabarkan kafarat untuk apa yang telah kami perbuat?" Maka turunlah ayat: "Orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina..." [QS. Al-Furqān: 68] Juga turun ayat: "Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah..." [QS. Az-Zumar: 53]
Muttafaq 'alaihSejumlah laki-laki dari kalangan musyrikin datang menemui Nabi ﷺ. Sebelumnya, mereka banyak membunuh dan berzina. Lalu mereka bertanya kepada Nabi: Islam yang engkau dakwahkan berikut ajaran-ajarannya adalah sesuatu yang bagus, tetapi keadaan kami serta kesyirikan dan dosa-dosa besar yang kami terjerumus di dalamnya, apakah ada penggugurnya? Maka turunlah dua ayat tersebut, yaitu Allah menerima tobat manusia sekalipun dosa mereka banyak dan besar. Kalau tidak seperti itu, niscaya mereka akan tetap lanjut di atas kekafiran dan kezaliman mereka, serta mereka tidak akan masuk ke dalam agama ini.
Dari Al-Barā` bin 'Āzib -raḍiyallāhu 'anhumā- mengatakan, "Seseorang tengah membaca surah Al-Kahfi sedang di dekatnya terdapat kuda yang diikat dengan dua tali. Lalu awan kecil menutupinya dan mendekat sehingga kudanya lari menjauhi awan ini. Pada pagi harinya, ia mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu menceritakan peristiwa tersebut pada beliau. Maka beliau bersabda, "Itu adalah ketenangan yang turun karena Al-Qur'ān."
Muttafaq 'alaihAl-Barā` bin 'Āzib -raḍiyallāhu 'anhumā- menuturkan kisah aneh yang terjadi di zaman Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di mana ada seseorang yang tengah membaca surat al-Kahfi dan di sampingnya terdapat seekor kuda yang terikat dengan tali. Lalu sesuatu seperti awan datang menaunginya, ia terus mendekat padanya sedikit demi sedikit hingga membuat kuda tersebut terperanjat dan lari lantaran takut dari apa yang dilihatnya. Di pagi harinya, orang tersebut mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu menceritakannya pada beliau. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjelaskan bahwa itu adalah ketenangan yang turun pada saat Alquran dibaca, sebagai karamah sahabat yang tengah membaca Al-Qur'ān ini dan kesaksian dari Allah bahwa firman-Nya adalah benar. Nama sahabat yang membaca Al-Qur'ān ini adalah Usaid bin Ḥuḍair -raḍiyallāhu 'anhu-.
Dari Al-Barā` bin 'Āzib -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Perindahlah Al-Qur`ān dengan suara kalian."
Diriwayatkan oleh Ibnu MājahMaksudnya adalah: perindahlah Al-Qur`ān dengan memperbagus suara kalian tatkala membacanya, karena perkataan yang baik akan bertambah bagus dan indah dengan suara yang indah. Hikmahnya adalah agar kita berusaha untuk mentadaburi Al-Qur`ān semaksimal mungkin dan memahami apa yang terkandung dalam ayat-ayat berupa perintah, larangan, janji, dan ancaman, karena secara alami jiwa ini condong kepada keindahaan suara, dan mungkin saja dengan indahnya suara ia bisa lebih fokus dan jauh dari hal-hal yang tidak penting, sehingga pada saat itu pikiran menjadi lebih konsentrasi. Jika pikiran telah konsentrasi maka akan tercapai kekhusyuan dan ketenangan. Yang dimaksud dengan memperindah suara -dalam hadis ini- ialah keindahan yang membawa kekhusyuan, bukan suara-suara seperti nada nyanyian dan lagu-lagu yang keluar dari batasan (kaidah) bacaan.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, "Bahwasanya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah mengutus seorang sahabat untuk memimpin pasukan sariyah (perang yang tidak diikuti Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-). Sahabat ini senantiasa mengimami salat pasukannya dan mengakhiri bacaannya dengan (surah) Qul Huwallāhu Aḥad. Ketika kembali ke Madinah mereka melaporkannya kepada Rasulullah. Lantas beliau bersabda, "Tanyakan kepadanya apa alasan dia melakukan itu?" Maka mereka menanyakan kepadanya, lalu ia menjawab, "Karena di dalamnya terdapat sifat Allah dan aku senang membacanya." Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Beritahukan kepadanya bahwa Allah menyintainya."
Muttafaq 'alaihNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengangkat salah seorang sahabat menjadi pemimpin ekspedisi untuk mengatur siasat perang dan memutuskan perkara di antara mereka agar tidak terjadi kekacauan dan kisruh. Beliau senantiasa memilih orang yang paling cakap agamanya, keilmuannya dan strategi perangnya. Oleh sebab itu, semua pemimpin pasukan perang pasti menjadi imam salat sekaligus menjadi mufti karena keutamaan agama dan kapasitas keilmuannya. Pemimpin yang ditunjuk itu selalu membaca surah "Qul Huwallāhu Aḥad" di rakaat kedua dalam salat berjemaah karena rasa cintanya kepada Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Dan siapapun yang menyintai sesuatu pasti selalu ingat dan menyebutnya. Ketika kaum Muslimin kembali dari perang, mereka menemui Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan melaporkan kebiasaan sang pemimpin. Lantas Rasulullah bersabda, "Tanyakan kepadanya apa alasannya melakukan itu, apakah kebetulan saja ataukah ada alasan khusus?" Sang pemimpin menjawab, "Aku membacanya karena surah tersebut mengandung sifat-sifat Allah, sehingga aku senang mengulang-ulanginya." Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Beritahukan kepadanya, sebagaimana ia mengulang-ulang membaca surah tersebut karena kecintaannya -sebab surah ini mencakup sifat-sifat Allah yang otomatis menunjukkan nama-nama Allah di dalamnya- maka Allah menyintainya." Alangkah besarnya keutamaan surah itu .
Dari Abu Sa'īd Rāfi' bin Al-Mu'alla -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepadaku, "Maukah engkau aku engkau surah yang paling agung di dalam Al-Qur`ān sebelum engkau keluar masjid?" Lalu beliau memegang tanganku. Ketika kami hendak keluar, aku berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau mengatakan, "Aku akan mengajarkanmu surat yang paling agung di dalam Al-Qur`ān?" Beliau menjawab, "Alḥamdulillāhi Rabbil 'Ālamīn (Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam) adalah As-Sab'u Al-Maṡānī (tujuh ayat yang diulang-ulang) dan Al-Qur`ān Al-Aẓīm (Al-Qur`ān yang agung) yang telah diberikan kepadaku."
Diriwayatkan oleh BukhariDari Abu Sa'īd Rāfi' bin Al-Mu'alla -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepadaku, "Maukah," diucapkan untuk menarik lawan bicara terhadap apa yang akan disampaikan kepadanya setelah itu. Sabdanya, "Maukah engkau aku ajarkan surah yang paling agung di dalam Al-Qur`ān sebelum engkau keluar masjid?" Sesungguhnya beliau mengatakan hal itu kepadanya tanpa lebih dahulu memberitahukannya agar lebih mendorongnya untuk mencurahkan pikirannya dalam menerima dan memperhatikannya secara total. Sabdanya, "Lalu beliau memegang tanganku." Yakni, setelah mengatakan demikian dan kami sudah berjalan. Sabdanya, "Ketika kami hendak keluar, aku berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau mengatakan, "Aku akan mengajarkanmu surat yang paling agung di dalam Al-Qur`ān?" Sabdanya, "Beliau menjawab, "Alḥamdulillāhi Rabbil 'Ālamīn (Segala puji bagi Allah tuhan semesta alam)," Yakni, surah Al-Fātiḥah. Surah Al-Fātiḥah menjadi surat paling agung karena menghimpun semua tujuan Al-Qur`ān. Karena itu, Al-Fātiḥah dinamakan Ummul Qur`ān (induk Al-Qur`ān). Selanjutnya beliau memberi isyarat keunggulan Al-Fātiḥah dari surah-surah lainnya sehingga menjadi surah paling agung, yaitu dengan sabdanya, "Ia adalah As-Sab'u Al-Maṡānī (tujuh ayat yang diulang-ulang)," Yakni, dinamakan demikian. Al-Maṡānī adalah bentuk jamak dari Muṡnātu yang berasal dari kata At-Taṡniyah; atau karena ia diulang-ulang dalam salat di setiap rakaat; atau karena surah ini diikuti oleh surah lainnya; atau dinamakan demikian karena mencakup dua bagian: pujian dan doa; atau karena terkumpul di dalamnya kefasihan dalam struktur dan balagah dalam makna; atau karena Al-Fātiḥah diulang-ulang sepanjang masa, ia diulang-ulang sehingga tidak terputus dan dipelajari sehingga tidak musnah; atau karena faedahnya yang terus baru dari waktu ke waktu sehingga tidak ada akhir baginya; atau juga Al-Maṡānī adalah bentuk jamak dari Maṡnāhu yang berasal dari kata Aṡ-ṡanā` (pujian), karena mencakup apa yang menjadi pujian kepada Allah -Ta'ālā-, seakan-akan surat ini memuji Allah dengan nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya yang baik; atau juga berasal dari kata Aṡ-ṡanāya, karena Allah mengecualikannya (mengkhususkannya) untuk umat ini dan lain sebagainya. Sabdanya, "dan Al-Qur`ān Al-Aẓīm (Al-Qur`ān yang agung)," yakni, ia juga dinamakan demikian. Sabdanya, "yang telah diberikan kepadaku." Al-Fātiḥah dinamakan Al-Qur`ān Al-Aẓīm karena menghimpun semua yang berkaitan dengan hal-hal yang ada di dunia dan akhirat, hukum-hukum, dan berbagai keyakinan.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah kalian menjadikan rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya setan itu lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya Surah Al-Baqarah."
Diriwayatkan oleh MuslimNabi ﷺ melarang mengosongkan rumah dari ibadah salat sehingga seperti kuburan yang tidak dikerjakan salat di sana. Kemudian beliau ﷺ menyebutkan bahwa setan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya Surah Al-Baqarah.
Dari Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- mengenai firman Allah -Ta'ālā-, "Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu," (QS. Al-Qiyāmah: 16) Ia berkata, "Dahulu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menanggung kepayahan dalam menerima Al-Qur`ān dan beliau menggerakkan kedua bibirnya (membacanya secara cepat)." Ibnu Abbas berkata kepadaku (Sa'id bin Jubair), "Aku menggerakkan kedua bibir untukmu sebagaimana Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menggerakkan keduanya. Lantas Sa'id berkata, "Aku menggerakkan kedua bibir sebagaimana Ibnu Abbas menggerakkannya." Dia pun menggerakkan kedua bibirnya. Lantas Allah -'Azzā wa Jallā- menurunkan firman-Nya, "Jangan engkau (Muhamad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur`ān) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya. (17) (QS. Al-Qiyāmah: 16-17). Ibnu Abbas berkata, "Dia mengumpulkannya di dadamu lalu engkau membacanya." "Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu." (QS. Al-Qiyāmah: 18). Ibnu Abbas berkata, "Perhatikan dan simak. Selanjutnya Kami yang akan menjadikanmu membacanya." Ibnu Abbas berkata, "Maka apabila Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- didatangi Jibril -'alaihis-salām- maka beliau memperhatikan dan mendengarkan seksama. Apabila Jibril sudah pergi maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membacanya sebagaimana Jibril membacakan padanya."
Muttafaq 'alaihIbnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- merasakan kesulitan yang besar saat turunnya wahyu. Beliau menggerakkan kedua bibirnya saat mendengar (wahyu) dari Jibril sebelum ia selesai penyampaian wahyu karena khawatir Jibril meninggalkannya sebelum beliau hafal. Ibnu Abbas menggambarkan kepada muridnya, Sa'id bin Jubair mengenai tata cara Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menggerakkan kedua bibirnya. Ini menunjukkan bahwa Ibnu Abbas menyaksikan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam kondisi seperti itu. Sa'id pun menggambarkan hal itu kepada murid-muridnya. Lantas Allah -'Azzā wa Jallā- menurunkan firman-Nya, "Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur`ān) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya." Yakni, janganlah engkau menggerakkan lidahmu untuk membaca Al-Qur`ān agar bisa cepat-cepat menghafalnya. Sebab, Kamilah yang akan mengumpulkannya kepadamu dan memasukkannya ke dalam dadamu. Selanjutnya Allah -Ta'ālā- berfirman, "Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu." Yakni, apabila Jibril sudah selesai membacakannya maka perhatikan dan simak. Selanjutnya Kami yang akan membuatmu bisa membacanya sebagaimana Jibril membacakannya. Ibnu Abbas berkata, "Setelah itu apabila Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- didatangi Jibril -'alaihis-salām-, beliau memperhatikan dan mendengarkan seksama. Jika Jibril sudah pergi, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun membacanya sebagaimana yang dibacakan oleh Jibril kepadanya."