





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Aku datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang sedang bersiwak dengan siwak yang basah. Sementara itu ujung siwak ada di lidahnya dan beliau mengatakan, "a', a'," dan kayu siwak itu di dalam mulutnya. Seakan-akan beliau hendak muntah."
Muttafaq 'alaihAbu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- menuturkan bahwa dirinya datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- saat beliau bersiwak dengan siwak yang basah karena (fungsi) membersihkannya lebih sempurna, sehingga tidak akan remuk di mulut lalu menyebabkan sakit. Beliau meletakan kayu siwak di lidahnya dan berlebih-lebihan dalam bersiwak sehingga seakan-akan beliau hendak muntah.
'Ammār bin Yāsir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Rasulullah ﷺ pernah mengutusku untuk suatu keperluan, lalu aku mengalami junub dan tidak menemukan air. Aku pun berguling-guling di tanah layaknya seekor hewan yang berguling-guling. Setelah itu aku datang menemui Nabi ﷺ lalu menceritakan hal tersebut. Beliau bersabda, 'Sesungguhnya engkau cukup melakukan seperti ini dengan kedua tanganmu.' Kemudian beliau menepukkan kedua tangan ke tanah satu kali tepukan, lalu mengusapkan tangan kiri ke tangan kanan serta bagian luar kedua telapak tangannya dan wajahnya."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengutus 'Ammār bin Yāsir -raḍiyallāhu 'anhu- pada sebuah perjalanan untuk suatu keperluan beliau, lalu ia mengalami junub sebab jimak atau keluar mani sebab syahwat dan tidak menemukan air untuk digunakan mandi. Ia tidak mengetahui bahwa tayamum berlaku juga pada janabah, ia hanya mengetahui hukum itu hanya berlaku pada hadas kecil. Lantas ia berijtihad dan mengira sebagaimana tanah yang ada di permukaan bumi diusapkan pada sebagian anggota wudu untuk hadas kecil, maka tayamum untuk janabah ialah dengan meratakan tanah pada badan, dikiaskan dengan air, sehingga ia berguling-guling di tanah agar rata ke seluruh badan, lalu salat. Ketika menemui Nabi ﷺ, ia menceritakan hal itu pada beliau untuk mengetahui apakah yang dilakukannya itu benar atau tidak? Maka Nabi ﷺ menerangkan kepadanya tata cara bersuci dari hadas kecil seperti kencing dan hadas besar seperti junub ialah dengan menepukkan kedua tangan ke tanah sekali tepukan lalu mengusapkan tangan kiri pada tangan kanan serta punggung dua telapak tangan dan wajahnya.
Dari Ṭāriq bin Syihāb Al-Bujali Al-Aḥmasi -raḍiyallāhu 'anhu- "Bahwasanya ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- padahal dia sudah meletakkan kakinya pada pelana, "Jihad apakah yang paling utama?" Beliau menjawab, "Mengucapkan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim."
Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh AhmadSeorang laki-laki bertanya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- padahal dia sudah bersiap-siap untuk melakukan safar. "Jihad apa yang paling banyak pahalanya?" Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberitahunya tentang jihad yang paling utama, yaitu menyuruh yang maruf kepada penguasa yang zalim atau melarangnya dari kemungkaran. Jihad tidak hanya terbatas berperang melawan orang-orang kafir, tetapi jihad itu memiliki beberapa tingkatan. Yang disebutkan di sini adalah jihad yang banyak pahalanya, karena hal itu sangat berpotensi untuk terjadinya pembunuhan atau penahanan disebabkan kezaliman penguasa dan sedikitnya orang yang berani melakukannya.
Jarīr bin Abdullah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Aku berbaiat kepada Rasulullah ﷺ untuk mengucapkan syahadat lā ilāha illallāh-wa anna muḥammadar rasūlullāh, menegakkan salat, membayar zakat, mendengar dan taat kepada pemimpin, dan nasihat untuk setiap muslim."
Muttafaq 'alaihJarīr bin Abdullah -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa ia telah berkomitmen dan mengikat janji kepada Nabi ﷺ dalam hal tauhid dan menunaikan salat fardu lima waktu sehari semalam lengkap dengan syarat-syarat, rukun, wajib dan sunahnya. Juga membayar zakat yang wajib, yaitu ibadah harta yang diwajibkan, diambil dari orang-orang kaya dan diberikan kepada orang-orang yang berhak seperti orang fakir dan lainnya. Demikian juga taat kepada para pemimpin dan nasihat untuk setiap muslim, yaitu dengan gigih memberinya manfaat dan mengirim kebaikan kepadanya serta tidak menimpakan keburukan kepadanya entah itu dengan ucapan maupun perbuatan.
Mu'āż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ mengambil tangannya lalu bersabda, "Wahai Mu'āż, demi Allah, sungguh aku mencintaimu." Beliau melanjutkan, "Aku wasiatkan kepadamu, wahai Mu'āż! Jangan sekali-kali engkau tinggalkan di akhir setiap salat untuk membaca: 'Allāhumma a'innī 'alā żikrika wa syukrika wa ḥusni 'ibādatika (Ya Allah, bantulah aku untuk berzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta beribadah kepada-Mu dengan benar).'"
HR. Abu Daud, Nasai, dan AhmadNabi ﷺ mengambil tangan Mu'āż -raḍiyallāhu 'anhu- dan berkata: Demi Allah! Sungguh, aku mencintaimu. Aku wasiatkan kepadamu, wahai Mu'āż, jangan sekali-kali meninggalkan di akhir setiap salat untuk membaca: Allāhumma a'innī 'alā żikrika (Ya Allah, bantulah aku untuk berzikir kepada-Mu), yakni pada setiap perkataan dan perbuatan yang dapat mendekatkan pada ketaatan. ... wa syukrika (bersyukur kepada-Mu), yakni ketika memperoleh nikmat serta hilangnya keburukan. ... wa ḥusni 'ibādatika (serta beribadah kepada-Mu dengan benar), yakni dengan ikhlas kepada Allah dan mengikuti Nabi ﷺ.
Dari Abu Hurairah, Abdullah bin 'Amru, dan Aisyah -radhiyallahu 'anhum- dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwasannya beliau bersabda, "Celakalah (Neraka Wail) bagi tumit-tumit (yang tidak terkena air wudu)."
Diriwayatkan oleh Muslim - Muttafaq 'alaih dengan dua riwayatnyaNabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memperingatkan tentang tindakan meremehkan melalaikan urusan wudu, dan beliau memerintahkan untuk memperhatikan kesempurnaan wudu. Mengingat air wudu biasanya tidak sampai ke bagian belakang kaki sehingga menjadi kekurangan dalam bersuci dan salat, maka beliau mengabarkan bahwa azab menimpa bagian belakang kaki itu dan juga pemiliknya yang menyepelekan masalah bersuci sesuai syariat.
Dari Abdullah bin 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- terlambat salat Isya. Lantas Umar keluar lalu berkata, "Salat, wahai Rasulullah. Para perempuan dan anak-anak sudah tidur." Beliau pun keluar dalam keadaan kepala meneteskan air (bekas wudu) seraya bersabda, "Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku pasti memerintahkan mereka melaksanakan salat (Isya) pada waktu seperti ini."
Muttafaq 'alaihNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah terlambat melaksanakan salat Isya hingga malam berlalu dan para perempuan serta anak-anak telah tidur karena mereka tidak memiliki daya dan kemampuan untuk menunggu lama. Lantas Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- mendatangi beliau dan berkata, "Mari salat. Sungguh, para wanita dan anak-anak sudah tidur." Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- keluar dari rumahnya menuju masjid dalam keadaan kepalanya meneteskan air setelah mandi. Beliau bersabda untuk menjelaskan bahwa salat Isya itu paling utama dilaksanakan di waktu akhir seandainya bukan karena kesulitan yang dialami oleh orang-orang yang menunggu salat, "Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku pasti memerintahkan mereka melaksanakan salat (Isya) pada waktu terakhir seperti ini."
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah -'Azza wa Jalla- berfirman, 'Semua amal anak Adam ialah miliknya selain puasa. Sesungguhnya puasa itu milik-Ku dan Aku sendirilah yang akan memberikan ganjarannya.' Puasa adalah perisai. Sebab itu, bila salah seorang dari kalian sedang berpuasa, janganlah ia berbicara kotor dan jangan berteriak-teriak (memancing keributan). Jika seseorang mencacinya atau memusuhinya, hendaknya ia mengatakan, 'Aku sedang puasa.' Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah dibandingkan aroma kasturi. Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan yang ia rasakan: apabila ia berbuka puasa, ia bahagia dengan berbukanya, dan apabila ia bertemu Tuhannya, ia bahagia dengan puasanya."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah Ta'ala berfirman dalam hadis qudsi: Semua amal manusia dilipatgandakan. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku karena tidak terjadi riya di dalamnya. Aku yang akan membalasnya sehingga Aku sendiri yang mengetahui kadar pahalanya serta pelipatan kebaikannya. Kemudian Allah berfirman, "Puasa adalah perisai", yaitu tameng, pelindung, dan benteng kokoh dari api neraka karena puasa adalah menahan syahwat dan menghalangi untuk terjerumus dalam dosa, sedangkan api neraka dikelilingi dengan syahwat. Apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa, janganlah ia berbicara kotor; baik tentang jimak dan pengantar-pengantarnya maupun perkataan keji lainnya. Janganlah berteriak-teriak; untuk melakukan pertengkaran dan teriakan. Jika seseorang mencacinya atau memusuhinya, yaitu di bulan Ramadan, hendaklah ia mengatakan: Aku sedang puasa; agar orang tersebut berhenti. Jika ia tetap menyerang secara betulan, ia menepisnya dengan cara yang paling ringan secara bertahap, seperti orang yang menyerang. Kemudian Rasulullah ﷺ bersumpah dengan Tuhan yang memegang jiwanya bahwa perubahan aroma mulut orang yang berpuasa yang disebabkan oleh puasa itu lebih harum aromanya di sisi Allah kelak di hari Kiamat daripada aroma minyak kesturi yang kalian miliki, serta lebih besar pahalanya dari minyak wangi yang dianjurkan pada salat Jumat dan majelis ilmu. Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan yang dirasakannya, yaitu: 1- Apabila berbuka puasa, ia bahagia dengan berbukanya lantaran rasa lapar dan hausnya hilang karena ia dibolehkan berbuka sekaligus gembira karena kesempurnaan puasanya, penyelesaian ibadahnya, keringanan dari Tuhannya, dan adanya inayah atas masa depan puasanya. 2- Apabila bertemu Tuhannya, ia bahagia dengan puasanya lantaran adanya pahala dan ganjarannya.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa melakukan salat malam dengan posisi Aisyah berbaring di hadapan beliau. Ketika tersisa witir, beliau membangunkannya lalu Aisyah melakukan witir." Dalam riwayat lain disebutkan, "Ketika tersisa witir, beliau bersabda, "Bangunlah, lalu lakukanlah witir wahai Aisyah!"
Muttafaq 'alaihMakna hadis: "Bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa melakukan salat malam dengan posisi Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berbaring di hadapan beliau." Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah, ia (menyebutkan) bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa melakukan salat malam dan aku berbaring di antara beliau dengan kiblat, seperti berbaringnya jenazah." Setelah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- selesai melaksanakan tahajjud dan sebelum melaksanakan salat witir, beliau membangunkan Aisyah untuk witir. Dalam riwayat Muslim disebutkan, "Ketika tersisa witir, beliau bersabda, "Bangunlah, lalu lakukanlah witir wahai Aisyah!" Dalam riwayat Abu Daud disebutkan, "Hingga ketika beliau hendak melaksanakan witir, beliau membangunkan Aisyah lalu ia pun melaksanakan witir." Artinya, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membiarkan Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- di awal malam dan tidak membangunkannya hingga ketika selesai dari salatnya dan hanya tersisa witir, beliau membangunkan Aisyah agar dapat melaksanakan witirnya setelah bangun tidur supaya kemalasan tidak mengalahkannya, jika ia lamban melakukannya lalu witir akan luput darinya.