





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Ali -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku seorang yang sering keluar mazi, tetapi aku malu untuk bertanya kepada Nabi ﷺ karena kedudukan putrinya di sisiku (sebagai istriku). Sebab itu, aku menyuruh Al-Miqdād bin Al-Aswad. Kemudian ia bertanya kepada beliau mengenai hal itu. Beliau bersabda, "Hendaklah ia membasuh zakarnya dan berwudu." Dalam riwayat Bukhari, beliau bersabda, "Berwudulah dan basuhlah zakarmu."
Muttafaq 'alaihAli bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa ia sering keluar mazi, yaitu air putih bening dan lengket yang keluar dari kemaluan ketika bersyahwat atau sebelum jimak. Ia tidak tahu bagaimana harus berbuat ketika itu keluar. Di samping itu, ia juga malu untuk bertanya kepada Nabi ﷺ karena ia suami Fatimah, putri Nabi ﷺ. Sebab itu, ia meminta Al-Miqdād bin Al-Aswad agar bertanya kepada Nabi ﷺ tentang hal ini. Maka beliau ﷺ memberinya jawaban agar ia membasuh kemaluannya lalu berwudu.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Apabila kalian memakai pakaian dan apabila kalian berwudu, maka mulailah dengan (organ tubuh) bagian kanan kalian!"
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadHadis Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- ini menegaskan perkara disunahkannya memulai dari (organ tubuh) bagian kanan dalam hal-hal yang mulia. Dia meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, "Apabila kalian memakai pakaian," yakni, apabila kalian hendak memakai pakaian. Dan "Apabila kalian berwudu," yakni, apabila kalian hendak mengerjakan wudu. "Maka mulailah dengan (organ) bagian kanan kalian," bentuk jamak dari kata "Aiman (kanan)", yaitu lawan kata "al-Aisar (kiri)". Dengan demikian hendaklah memasukkan sisi sebelah kanan seperti (ketika memakai) baju sebelum sisi sebelah kiri, dan mendahulukan tangan dan kaki kanan dalam berwudu. Orang yang tidak sehat pun harus memulai dari organ tubuh bagian kanan dalam semua perbuatan wudu. Kemudian perlu diketahui bahwa ada beberapa anggota wudu yang tidak disunahkan memulai dari sebelah kanan, yaitu kedua telinga, kedua telapak tangan, dan kedua pipi. Justru keduanya harus dibasuh sekaligus. Hanya saja jika berhalangan untuk melakukannya, seperti pada orang yang buntung dan sebagainya, maka hendaknya memulai dari organ tubuh sebelah kanan.
Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, "Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah?" Beliau bersabda, "Salat pada waktunya." Dia bertanya, "Kemudian amal apa?" Beliau menjawab, "Kemudian berbakti kepada kedua orang tua." Dia bertanya lagi, "Kemudian amal apa?" Beliau menjawab, "Berjihad di jalan Allah." Ibnu Mas'ūd berkata, "Beliau menyampaikan itu kepadaku. Seandainya aku meminta tambahan, niscaya beliau akan tambahkan."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ ditanya, "Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah?" Beliau bersabda: Salat fardu pada waktunya sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah. Kemudian berbakti pada kedua orang tua dengan cara berbuat baik kepada mereka, menunaikan hak mereka dan tidak durhaka pada keduanya. Kemudian berjihad di jalan Allah untuk meninggikan kalimat Allah ﷻ, membela agama Islam dan pemeluknya, dan menampakkan syiar-syiarnya dengan jiwa dan harta. Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata: Beliau mengabariku amalan-amalan itu; sekiranya aku mengatakan lagi "kemudian apa?", niscaya beliau akan menambahkannya padaku.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Tidaklah manusia memasuki waktu pagi, melainkan ada dua malaikat yang turun (ke bumi). Salah satu dari kedua malaikat itu berdoa, ‘Ya Allah! Berikanlah ganti (yang baik) kepada orang yang bersedekah.' Sedang malaikat yang satunya lagi mengatakan, ‘Ya Allah! Timpakanlah kehancuran pada orang yang menahan hartanya (kikir).'"
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan bahwa tidak ada satu hari pun yang terbit matahari padanya kecuali ada dua malaikat yang turun untuk berseru. Salah satunya berdoa: Ya Allah! Berikanlah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya pada ketaatan, pada orang-orang tanggungannya, tamu dan pada amalan-amalan sunah dengan pengganti yang lebih baik dari apa yang ia keluarkan serta berikan keberkahan untuknya. Sedang yang lain berdoa: Ya Allah! Berikanlah kehancuran pada orang yang tidak mengeluarkan hartanya untuk semua itu serta lenyapkanlah harta yang tidak diberikannya kepada orang yang berhak mendapatkannya.
Dari Ḥuṣain bin Abdirrahman, ia berkata, "Aku berada bersama Sa'īd bin Jubair lalu ia bertanya, 'Siapakah di antara kalian yang melihat planet jatuh tadi malam?' Aku jawab, 'Aku.' Lalu aku katakan, 'Adapun aku sedang tidak melaksanakan salat karena aku disengat.' Ia bertanya, 'Lantas apa yang kau lakukan?' Aku Jawab, 'Aku meruqyahnya.' Ia bertanya lagi, 'Apa yang mendorongmu melakukan itu?' Aku Jawab, 'Hadis yang diceritakan asy-Sya'bi kepada kami.' Ia bertanya, 'Apa yang dia ceritakan kepada kalian?' Aku jawab, 'Kami mendapatkan kabar dari Buraidah bin Al-Ḥuṣaib bahwasannya dia berkata, 'Tidak ada ruqyah kecuali dari penyakit 'Ain (karena pandangan mata hasad) atau demam.' Ia berkata, 'Sungguh telah berbuat baik orang yang berhenti sampai di dalil yang ia dengarkan. Akan tetapi Ibnu 'Abbās bercerita kepada kami dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda, 'Telah diperlihatkan kepadaku umat-umat. Aku melihat seorang Nabi yang memiliki beberapa orang pengikut. Ada juga seorang Nabi yang memiliki satu dan dua orang pengikut saja. Bahkan ada seorang Nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali. Tiba-tiba satu kelompok besar orang diperlihatkan kepadaku hingga aku menduga bahwa mereka itu umatku. Lantas dikatakan kepadaku, 'Ini Mūsa bersama kaumnya.' Aku memandang, ternyata ada sekelompok besar manusia. Lantas dikatakan kepadaku, 'Ini umatmu dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang masuk Surga tanpa hisab dan azab.' Selanjutnya beliau bangkit dan masuk ke rumahnya sehingga orang-orang pun berbicara panjang lebar mengenainya. Sebagian mereka berkata, 'Mungkin saja mereka itu orang-orang yang selalu menyertai Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.' Sebagian lagi berkata, 'Barangkali mereka itu orang-orang yang dilahirkan dalam Islam lalu mereka tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun.' Mereka menyebutkan berbagai hal. Tiba-tiba Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menemui mereka lalu mengabarkannya. Beliau bersabda, "Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah, tidak berobat dengan cara kay (sundutan besi panas), tidak pesimis dan mereka bertawakal kepada Allah.' Tiba-tiba 'Ukāsyah bin Miḥṣan berkata, 'Mohonlah kepada Allah agar menjadikanku bagian dari mereka.' Beliau bersabda, Engkau termasuk dari golongan mereka.' Lantas seorang lelaki lain berkata, 'Mohonlah kepada Allah agar menjadikanku bagian dari mereka.' Beliau bersabda, 'Ukāsyah telah mendahuluimu'."
Muttafaq 'alaihḤuṣain bin Abdirrahman -raḥimahullāh- mengabarkan kepada kami tentang dialog yang berlangsung antara dirinya dengan Sa'īd bin Jubair -raḥimahullāh- mengenai ruqyah. Hal ini terjadi karena Ḥuṣain disengat kalajengking dan meruqyahnya dengan ruqyah syar'iyyah. Saat Sa'īd bertanya kepadanya mengenai dalilnya, ia memberitahunya dengan hadis asy-Sya'bi yang membolehkan ruqyah dari penyakit 'Ain (karena pandangan mata hasad) dan racun. Sa'īd pun memujinya mengenai hal itu. Akan tetapi dia meriwayatkan hadis lain untuknya yang menganggap bagus meninggalkan ruqyah. Yaitu hadis Ibnu 'Abbās yang mengandung empat sifat. Siapa yang memiliki sifat itu maka dia berhak masuk Surga tanpa hisab dan azab. Sifat itu adalah tidak meminta ruqyah, tidak berobat dengan cara kay (sundutan besi panas), tidak pesimis, dan benar dalam bersandar kepada Allah -Ta'ālā-. Saat 'Ukāsyah meminta kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- agar mendoakan dirinya menjadi bagian dari mereka, beliau pun memberitahunya bahwa ia bersama mereka. Ketika seorang lelaki lain berdiri untuk tujuan yang sama, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun bersikap ramah kepadanya dalam melarang demi menutup bab ini dan memutuskan kelanjutan permintaan.
Sahal bin Sa'ad -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda di saat perang Khaibar, "Sungguh, aku akan berikan bendera ini besok kepada seseorang yang melalui tangannya Allah memberi kemenangan; orang itu mencintai Allah dan rasul-Nya serta ia dicintai oleh Allah dan rasul-Nya." Sahal menuturkan: Di malam harinya orang-orang larut membicarakan siapakah di antara mereka yang akan diserahi bendera tersebut. Memasuki pagi hari, mereka datang menemui Rasulullah ﷺ, semua berharap diserahi bendera. Rasulullah ﷺ lalu bersabda, "Mana Ali bin Abi Ṭālib?" Dikatakan, "Dia sedang sakit mata, wahai Rasulullah!" Rasulullah ﷺ bersabda, "Kirimlah utusan kepadanya." Lantas Ali dihadirkan, lalu Rasulullah ﷺ meludahi matanya dan mendoakannya. Seketika, Ali pun sembuh hingga seperti tidak pernah sakit sebelumnya. Lalu Rasulullah ﷺ memberikan bendera kepadanya. Ali berkata, "Wahai Rasulullah! Apakah aku memerangi mereka sampai mereka menjadi seperti kita?" Rasulullah ﷺ bersabda, "Berangkatlah dengan tenang hingga engkau berada di medan mereka. Kemudian ajaklah mereka masuk Islam dan beritahukan kepada mereka tentang hak Allah yang diwajibkan pada mereka di dalamnya. Demi Allah! Sungguh bila Allah memberi petunjuk pada satu orang melalui usahamu, itu lebih baik bagimu dari pada memiliki unta-unta merah."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabari para sahabat tentang kemenangan kaum muslimin atas orang-orang Yahudi Khaibar di keesokan harinya. Kemenangan itu akan diraih melalui tangan seseorang yang akan beliau berikan panji perang, yaitu bendera yang dijadikan simbol oleh pasukan. Di antara ciri-ciri orang tersebut adalah ia mencintai Allah dan Rasulullah serta dicintai pula oleh Allah dan Rasulullah. Pada malam tersebut, para sahabat larut membahas siapa orang yang akan diberikan panji itu karena mereka semua menginginkan kemuliaan yang besar itu. Keesokan harinya, mereka segera mendatangi Nabi ﷺ; semua mereka berharap sebagai orang yang akan mendapatkan kemuliaan itu. Lantas Nabi ﷺ menanyakan tentang Ali bin Abu Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu-. Dikatakan: Dia sedang sakit, ada keluhan di kedua matanya. Maka Nabi ﷺ mengirim utusan kepadanya. Lantas mereka pun menghadirkannya. Lalu beliau meludah pada mata Ali dengan air liur beliau yang mulia dan mendoakannya. Seketika Ali sembuh dari sakitnya, seakan-akan ia tidak pernah sakit sebelumnya. Lalu beliau memberinya panji perang dan memerintahkannya untuk berangkat dengan tenang sampai mendekati benteng musuh, lalu mengajak mereka masuk Islam. Jika mereka menyambutnya, maka dia lanjutkan dengan menerangkan kepada mereka kewajiban-kewajiban yang diwajibkan pada mereka. Kemudian Nabi ﷺ menerangkan kepada Ali tentang keutamaan berdakwah kepada Allah; bahwa jika seorang dai menjadi perantara petunjuk satu orang, hal itu lebih baik baginya dari memiliki unta-unta merah yang merupakan harta paling berharga bagi bangsa Arab, lalu ia menahannya ataupun menyedekahkannya.
Zaid bin Khālid -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang mempersiapkan bekal untuk orang yang berperang di jalan Allah, sungguh ia telah ikut berperang. Siapa yang mengurus keluarga orang yang berperang di jalan Allah dengan suatu kebaikan, sungguh ia telah ikut berperang."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan bahwa orang yang menyiapkan bekal perjalanan bagi orang yang berperang di jalan Allah serta menyediakan kebutuhan wajib yang ia perlukan seperti senjata, kendaraan, makanan, nafkah, dan lainnya, maka dia sama dengan orang yang berperang dan mendapatkan pahala sama seperti pahala orang-orang yang berperang. Demikian juga orang yang menangani urusan orang yang sedang berperang dengan suatu kebaikan serta menggantikannya dalam mengurus keluarganya selama dia pergi, maka ia dihukumi sama dengan orang yang berperang.
Yaḥyā bin 'Umārah Al-Māzini meriwayatkan, ia berkata, "Aku pernah menyaksikan 'Amr bin Abu Hasan bertanya kepada Abdullah bin Zaid mengenai wudu Nabi ﷺ? Lantas Abdullah bin Zaid meminta satu wadah air. Dia memperagakan praktik wudu Nabi ﷺ kepada mereka. Ia menuangkan air dari wadah itu ke kedua tangannya lalu membasuh kedua tangannya tiga kali. Setelah itu ia memasukkan tangannya ke wadah lalu berkumur-kumur, memasukkan air ke hidung dan membuangnya tiga kali dengan tiga kali cidukan. Kemudian ia memasukkan tangannya lalu membasuh wajahnya tiga kali. Selanjutnya ia memasukkan tangannya ke wadah lalu membasuh keduanya hingga siku. Lantas ia memasukkan tangannya ke wadah lalu mengusap kepala. Dia mengusap bagian kepalanya dari bagian depan lalu ke belakang satu kali, lalu membasuh kedua kakinya hingga dua mata kaki."
Muttafaq 'alaihAbdullah bin Zaid -raḍiyallāhu 'anhu- menerangkan tata cara wudu Nabi ﷺ langsung dengan cara praktik. Dia meminta bejana kecil berisi air, lalu pertama-tama membasuh dua telapak tangan, dengan memiringkan wadah tersebut dan menuangkan air seraya membasuh keduanya tiga kali. Kemudian dia memasukkan tangannya di wadah, lalu mengambil tiga kali cidukan seraya berkumur-kumur, memasukkan ke dalam hidung dan mengeluarkannya di setiap cidukan. Kemudian dia mengambil air dari bejana seraya membasuh wajah tiga kali. Selanjutnya dia mengambil air lagi, lalu membasuh kedua tangan sampai siku, masing-masing dua kali. Kemudian dia memasukkan tangannya lagi di wadah lalu mengusap kepala dengan dua tangannya, dimulai dari depan kepala sampai tengkuknya bagian atas leher, lalu menariknya kembali ke tempat pertama mulai. Kemudian membasuh kedua kaki beserta dua mata kaki.
Dari Ibnu Syammāsah Al-Mahri menuturkan, kami hadir di sisi 'Amru bin 'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhu- saat ia menghadapi kematian. Ia menangis lama dan memalingkan wajahnya ke tembok. Putranya berkata, "Wahai ayahku, bukankah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah memberi kabar gembira kepada anda berupa demikian? Bukankah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah memberi kabar gembira kepada anda berupa demikian?" Ia pun menoleh lalu berkata, "Sesungguhnya hal terbaik yang kita siapkan adalah syahadat tidak ada Ilah yang benar selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Aku telah melewati tiga fase: (pertama) sungguh aku melihat diriku di mana tak ada seorang pun yang lebih membenci Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dibanding aku dan dulu tak ada yang lebih aku sukai dibanding aku memiliki kesempatan untuk membunuh beliau. Seandainya aku mati dalam keadaan itu pasti aku termasuk penghuni neraka. (Kedua) Ketika Allah menumbuhkan Islam dalam hatiku, aku mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Aku berkata, "Ulurkan tangan kanan anda agar aku bisa berbaiat pada anda." Beliau mengulurkan tangan kanan, namun aku menahan tanganku. Beliau bertanya, "Kenapa engkau wahai 'Amru?" Aku menjawab, "Aku ingin mengajukan syarat." Beliau bertanya, "Engkau minta syarat apa?" Aku berkata, "Aku diampuni." Beliau bersabda, "Tidakkah engkau tahu bahwa Islam menggugurkan dosa yang terjadi sebelumnya, hijrah menggugurkan dosa yang terjadi sebelumnya, dan haji menggugurkan dosa yang terjadi sebelumnya?" Saat itu tak ada seorang pun yang lebih aku cintai dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan tidak ada pula yang lebih terhormat di mataku dari beliau. Aku tak mampu menatap beliau karena kewibawaan beliau. Andai aku diminta menggambarkan beliau aku tak mampu, karena aku tidak pernah menatap lekat beliau. Seandainya aku mati dalam kondisi itu sungguh aku bisa berharap termasuk penghuni surga. (Ketiga) Kemudian kami mengurusi berbagai hal yang aku tidak tahu kondisiku dalam berbagai urusan itu. Bila aku mati jangan sampai aku diiringi orang yang meratap dan api. Bila kalian menguburku tuangkanlah tanah padaku dengan sebenar-benarnya. Kemudian berdirilah di sekitar kuburku kurang lebih selama unta disembelih dan dagingnya dibagikan, agar aku merasa nyaman dengan keberadaan kalian, dan melihat jawaban apa yang aku berikan pada utusan-utusan Rabbku.
Diriwayatkan oleh MuslimHadis 'Amru bin 'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhu- mengandung tema kabar gembira dan ucapan selamat atas kebaikan menyajikan sebuah kisah. Ringkasan kisah penting ini sebagai berikut: bahwa sebagian sahabat 'Amru datang saat menjelang kematiannya. Ia menangis keras dan memalingkan wajahnya ke arah tembok -raḍiyallāhu 'anhu-. Ia dalam kondisi menjelang kematian dan akan meninggalkan dunia. Maka putranya berkata, "Mengapa anda menangis, padahal Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah memberi kabar gembira pada anda berupa surga?" Ia menjawab, "Wahai putraku! Aku telah melewati tiga fase kehidupan." Kemudian ia menyebutkan tiga fase ini; (pertama) bahwa ia membenci Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan kebencian yang dahsyat, tak ada seorang pun di dunia ini yang ia benci sebesar kebenciannya pada beliau, dan ia dulu amat ingin memiliki kesempatan untuk bisa membunuh beliau. Ini bentuk kekufuran yang paling parah. Sampai Allah menanamkan Islam dalam hatinya, lalu ia mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, seraya berkata, "Wahai Rasullah! Ulurkan tangan anda agar aku bisa membaiat anda atas Islam." Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah sosok yang paling baik akhlaknya, maka beliau mengulurkan tangan. Akan tetapi 'Amru bin 'Āṣ justru menahan tangannya, bukan karena sombong, akan tetapi untuk memastikan apa yang akan diungkapkannya. Beliau bertanya, "Kenapa engkau?" Ia menjawab, "Wahai Rasulullah! Aku mengajukan syarat -untuk masuk Islam-." Beliau bertanya, "Syarat apa yang engkau ajukan?" Ia menjawab, "Aku mensyaratkan Allah mengampuni kekufuranku dan dosa-dosa yang telah lalu." Inilah keinginan terbesar 'Amru, semoga Allah meridainya. Ia mensyaratkan Allah mengampuninya, karena ia mengira Allah tidak akan mengampuni kesalahannya yang telah lalu. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidakkah engkau tahu bahwa Islam menggugurkan dosa yang terjadi sebelumnya, hijrah menggugurkan dosa yang terjadi sebelumnya, dan haji menggugurkan dosa yang terjadi sebelumnya?" Tiga perkara. Islam menggugurkan dosa yang terjadi sebelumnya berdasarkan nas Al-Qur`ān Al-'Azīz. Allah -'Azza wa Jalla berfirman, “Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, "Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi, sesungguhnya akan berlaku (pada mereka) sunah (Allah terhadap) orang-orang dahulu". Sedangkan hijrah, apabila seseorang meninggalkan negeri tempatnya hidup yang merupakan negeri kufur, maka hijrah ini menghapus dosa yang terjadi sebelumnya. Dan haji menghancurkan dosa yang terjadi sebelumnya berdasarkan sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, “Haji yang mabrur tidak mempunyai balasan selain surga.” Lantas 'Amru bin 'Āṣ berbaiat dan mencintai Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan sangat hingga beliau menjadi manusia yang paling ia cintai. Dan hingga ia tidak mampu memandang lekat beliau karena memuliakan beliau -'alaihi aṣ-ṣalātu wa as-salām-. Maha suci Allah yang membolak-balikkan hati. Kemarin ia sangat membenci beliau hingga berangan-angan bisa membunuh beliau, namun sekarang ia tak kuasa melihat langsung beliau karena memuliakan beliau. Pun ia tidak mampu menggambarkan beliau karena tidak mengetahui beliau secara detail, mengingat ia tidak menatap beliau dengan baik karena kewibawaan beliau. 'Amru -raḍiyallāhu 'anhu- mengatakan bahwa seandainya ia mati dalam kondisi pertama pasti ia menjadi penghuni neraka. Lalu ia berkata, “Seandainya aku mati dalam kondisi itu -yakni kondisi kedua- sungguh aku berharap menjadi penghuni surga.” Perhatikan ungkapan kehati-hatian ini. Secara tegas, ia mengungkapkan seandainya mati dalam kondisi pertama ia termasuk penghuni neraka. Sedang dalam kondisi kedua, lantaran sangat takutnya, ia mengatakan, “Seandainya aku mati dalam keadaan ini sungguh aku berharap menjadi penghuni surga”, dan tidak mengatakan, “pasti aku menjadi penghuni surga.” Karena kesaksian masuk surga adalah perkara yang sulit. Kemudian, selain itu, 'Amru -raḍiyallāhu 'anhu- telah menduduki sejumlah jabatan. Ia pernah menjadi penguasa dan panglima. Pun peristiwa yang terjadi dalam kisah perang Mu'āwiyah melawan lainnya. 'Amru bin 'Āṣ ini terkenal sebagai orang Arab yang jenius dan cerdas. Ia mengatakan, “Aku kawatir peristiwa yang terjadi padaku setelah kondisi yang paling baik tersebut telah menggugurkan amalku.” Kemudian, Amru -raḍiyallāhu 'anhu- berwasiat apabila ia meninggal jangan sampai diikuti orang yang meratap. An-Nā`iḥah adalah wanita yang meratapi mayat dan menangisinya dengan tangisan yang menyerupai tekuran burung merpati. 'Amru -raḍiyallāhu 'anhu- memerintahkan apabila mereka selesai memakamkannya, agar mereka tetap berada di simping kuburnya kurang lebih selama seekor unta disembelih dan dagingnya dibagikan. Agar ia merasa nyaman dan bisa menjawab pertanyaan utusan-utusan Rabbnya, yakni para malaikat yang mendatangi mayat ketika telah dikubur. Apabila orang yang meninggal telah dimakamkan, dua malaikat mendatanginya, mendudukkannya di dalam kubur dan menanyainya tiga pertanyaan. Keduanya bertanya, siapa Rabbmu? Apa agamamu? Siapa Nabimu? 'Amru bin 'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhu- memerintah keluarganya tetap berada di dekat kuburnya selama seekor unta disembelih dan dibagikan dagingnya agar ia merasa nyaman dengan keberadaan mereka. Ini menunjukkan mayat itu merasakan kehadiran keluarganya. Telah diriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa orang yang meninggal itu mendengar suara gesekan sandal orang-orang apabila mereka bubaran selepas menguburkannya. Suara ketukan sandal yang pelan ini didengar mayat apabila mereka selesai memakamkannya. Diriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam hadis hasan bahwa apabila beliau selesai mengubur mayat, beliau berdiri dan mengatakan, “Mintakan ampunan untuk saudaramu dan mohonkan untuknya keteguhan, karena sekarang ia ditanya.” Maka apabila mayat telah dikubur, dianjurkan seseorang berada di samping kuburnya dan berdoa, “Ya Allah! Teguhkan ia. Ya Allah! Teguhkan ia. Ya Allah! Teguhkan ia. Ya Allah! Teguhkan ia. Ya Allah! Ampunilah ia. Ya Allah! Ampunilah ia. Ya Allah! Ampunilah ia.” Demikianlah, apabila Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengucapkan salam beliau mengucapkannya tiga kali, dan apabila berdoa beliau mengucapkannya tiga kali. Kesimpulannya, putra 'Amru bin 'Āṣ berkata kepadanya, “Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah memberi kabar gembira pada anda berupa surga.” Ini termasuk memberi kabar gembira berupa kebaikan dan pemberian ucapan selamat.