





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Seimbangkanlah posisi kalian dalam sujud, dan janganlah salah seorang dari kalian menghamparkan kedua lengannya di atas tanah (ketika sujud) sebagaimana (yang dilakukan) anjing."
Muttafaq 'alaihNabi -șallāhu 'alaihi wa sallam- menyuruh untuk menyeimbangkan sujud sehingga orang yang salat dalam keadaan baik saat sujud. Yaitu dengan cara meletakkan dua telapak tangannya di atas tanah dan mengangkat kedua lengannya serta menjauhkannya dari lambungnya. Sebab, keadaan ini adalah tanda semangat dan minat yang dituntut dalam salat. Keadaan yang baik ini juga memungkinkan semua organ sujud bisa mengambil bagiannya dalam ibadah. Orang yang salat dilarang untuk menghamparkan kedua lengannya (di lantai) saat sujud, karena itu merupakan tanda kemalasan dan kebosanan, serta menyerupai anjing. Ini merupakan penyerupaan yang tidak pantas.
Dari Maslamah Sa'īd bin Yazīd ia berkata, Aku bertanya kepada Anas bin Malik, "Apakah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- salat dengan memakai kedua sandal beliau?" Ia (Anas bin Malik) berkata, “Iya."
Diriwayatkan oleh BukhariDi antara tujuan syariat adalah menyelisihi ahli kitab dan menghilangkan segala sesuatu yang di dalamnya terdapat kesulitan dan beban terhadap seorang Muslim. Sa'īd bin Yazīd -salah seorang tabiin yang ṡiqah (terpercaya)- bertanya kepada Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- tentang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Apakah beliau salat dengan memakai kedua sandal beliau agar menjadi teladan baginya dalam perkara itu?" Atau seakan-akan ia tidak percaya tentang hal itu, karena sering kali terdapat kotoran dan gangguan? Maka Anas pun menjawabnya, "Iya," dahulu beliau salat dengan memakai kedua sandal beliau, dan hal itu termasuk sunah beliau yang suci. Hal ini tidak khusus berkaitan dengan tempat atau zaman tertentu.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila seekor anjing minum dari wadah salah seorang di antara kalian, hendaknya ia mencucinya tujuh kali." Dalam riwayat Muslim: "... yang pertama disertai dengan tanah."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ memerintahkan agar membasuh bejana sebanyak tujuh kali ketika anjing telah menjilatnya. Basuhan pertama disertai dengan tanah agar air datang setelahnya, sehingga diperoleh kebersihan sempurna dari najis dan bahayanya.
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ biasa ketika masuk kamar kecil membaca, "Allāhumma innī a'użu bika minal-khubuṡi wal-khabā`iṡ (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan perempuan)."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ biasa ketika akan masuk ke tempat buang hajat, baik buang air kecil maupun besar, beliau berlindung dan berdoa kepada Allah agar dilindungi dari keburukan setan laki-laki dan perempuan. "Al-Khubuṡ" dan "al-khabā`iṡ" juga ditafsirkan sebagai keburukan dan najis.
Sahl bin Ḥunaif -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang memohon mati syahid kepada Allah dengan tulus, Allah akan menyampaikannya ke tingkatan syuhada, walaupun ia meninggal di atas tempat tidurnya."
HR. MuslimNabi ﷺ mengabarkan bahwa orang yang berdoa meminta mati syahid dan terbunuh di jalan Allah dengan jujur dan tulus meniatkan hal itu kepada Allah ﷻ, Allah akan memberinya tingkatan syuhada dengan niat jujurnya itu, walaupun ia meninggal di atas tempat tidur tanpa berperang.
Dari Abdullah bin Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- ia berkata, "Manusia diperintahkan menjadikan akhir amalan hajinya adalah di Baitullah (tawaf wadak), hanya saja untuk wanita yang sedang haid diberi keringanan (untuk tidak melakukannya)."
Muttafaq 'alaihBaitullah yang mulia ini berhak diagungkan dan dimuliakan. Baitullah merupakan simbol ibadah kepada Allah, merendahkan diri dan tunduk di hadapan-Nya. Ia memiliki kemuliaan di dalam dada, dan pengagungan, cinta serta kasih sayang di dalam hati (seorang Mukmin). Karenanya, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan orang yang berhaji, sebelum pulang, agar masa terakhirnya di Baitullah (melakukan tawaf). Ini adalah tawaf terakhir, yakni tawaf wadak (perpisahan), kecuali wanita yang sedang haid. Mengingat ia bisa mengotori masjid bila masuk, maka tawaf ini gugur baginya tanpa membayar fidiah (tebusan). Nas ini terkait dengan haji, tidak mencakup umrah.
Ummul Mukminin Maimunah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Aku meletakkan air mandi untuk Nabi ﷺ lalu menutupi beliau dengan kain. Beliau menuangkan air pada kedua tangannya lalu membasuhnya. Kemudian beliau menuangkan air pada tangan kirinya menggunakan tangan kanannya lalu membasuh kemaluannya. Lantas beliau menggosokkan tangannya pada tanah dan mengusapnya kemudian membasuhnya. Lantas beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung, membasuh muka dan kedua lengannya. Kemudian beliau menuangkan air di kepalanya dan meratakannya pada badannya. Kemudian beliau berpindah tempat lalu membasuh kedua kakinya. Lantas aku memberikan beliau kain, tetapi beliau tidak mengambilnya. Beliau hanya beranjak sambil mengeringkannya dengan kedua tangannya."
Muttafaq 'alaihUmmul Mukminin Maimunah -raḍiyallāhu 'anhā- mengabarkan tata cara Nabi ﷺ mandi junub, yaitu ia meletakkan air untuk beliau agar digunakan mandi. Lalu ia menutupi diri beliau dengan sebuah tirai. Lantas Nabi ﷺ melakukan hal-hal berikut: Pertama: Menuangkan air pada kedua tangan lalu membasuhnya sebelum dimasukkan ke bejana. Kedua: Menuangkan air menggunakan tangan kanan pada tangan kiri lalu membasuh kemaluan untuk membersihkannya dari bekas junub yang menempel. Ketiga: Menggosokkan tangan pada tanah lantas mengusapnya kemudian membasuhnya untuk menghilangkan kotoran dari tangan. Keempat: Berkumur-kumur; yaitu memasukkan air ke mulut lalu menggerakkan dan memutarnya kemudian membuangnya, serta melakukan istinsyāq; yaitu memasukkan air ke hidung dengan tarikan napas kemudian mengeluarkannya untuk membersihkan hidung. Kelima: Membasuh muka dan kedua tangan sampai siku. Keenam: Menuangkan air ke kepala. Ketujuh: Menuang air ke seluruh tubuh. Kedelapan: Berpindah tempat lalu membasuh kedua kaki di tempat lain lantaran kaki beliau belum dibasuh sebelumnya. Kemudian Ummul Mukminin -raḍiyallāhu 'anhā- memberikan kain kepada beliau untuk mengeringkan badan, tetapi beliau tidak mengambilnya, melainkan beliau mengusap dan mengeringkan air dari badannya dengan menggunakan tangan.
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Apabila Rasulullah ﷺ mandi janabah, beliau mencuci kedua tangannya dan berwudu seperti wudu untuk salat lalu mandi. Kemudian beliau menyela-nyela rambutnya dengan tangan sampai beliau yakin telah membasahi kulit kepalanya. Beliau menyiramkan air di kepalanya sebanyak tiga kali kemudian membasuh semua tubuhnya." Aisyah juga berkata, "Aku pernah mandi bersama Rasulullah ﷺ dari satu wadah, kami menggayung air bersamaan."
HR. BukhariApabila Nabi ﷺ hendak mandi janabah, beliau mulai dengan membasuh kedua tangan. Lalu berwudu seperti wudu untuk salat dan menyiramkan air ke seluruh tubuhnya. Kemudian beliau menyela-nyela rambut kepalanya dengan kedua tangan, sampai beliau yakin air telah sampai ke pangkal rambut dan membasahi kulit kepala. Lalu beliau mengguyur kepalanya dengan air sebanyak tiga kali, kemudian membasuh bagian tubuh lainnya. Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Aku dan Rasulullah ﷺ pernah mandi bersama dari satu bejana, kami menggayung air bersamaan."
Dari Ali bin Al-Husain, bahwasanya dia melihat seorang lelaki mendatangi lubang yang ada di sisi kuburan Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu masuk ke dalamnya kemudian menyerunya. Lantas Ali bin Al-Husain melarangnya dan berkata, "Maukah aku ceritakan kepada kalian sebuah hadis yang pernah aku dengar dari bapakku dari kakekku dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat perayaan, dan janganlah jadikan rumah kalian sebagai kuburan-kuburan, dan bershalawatlah kalian kepadaku, karena salam kalian akan sampai padaku di mana saja kalian berada!"
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi SyaibahAli bin Al-Husain -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan kepada kita bahwa dia melihat seorang lelaki yang sedang berdoa kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- di sisi kuburan Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Ia melarang tindakan itu dengan mengemukakan dalil dari hadis Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang disebutkan di dalamnya larangan kebiasaan mendatangi kubur beliau untuk ziarah, dan larangan mengosongkan rumah-rumah dari ibadah dan zikir kepada Allah. Beliau menyerupakannya dengan kuburan-kuburan sambil memberitahukan bahwa ucapan salam seorang muslim akan sampai kepada beliau di mana saja orang muslim itu berada.