





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah seorang laki-laki mukmin membenci wanita mukminah! Jika ia tidak menyukai satu perangai wanita itu, tentunya ia menyukai perangainya yang lain."
HR. MuslimNabi ﷺ melarang suami membenci istrinya dengan kebencian yang menyebabkan adanya sikap menzaliminya, meninggalkannya, dan berpaling darinya. Sebab manusia difitrahkan memiliki kekurangan; jika ia membenci satu perangai buruknya, tentunya ia akan mendapatkan padanya perangai lain yang baik. Ia akan senang dengan perangai baik yang disetujuinya dan bersabar atas perangai buruk yang tidak disenanginya. Hal ini akan menjadikannya bersabar dan tidak membencinya dengan kebencian yang dapat menyebabkan perceraian.
Abu Ayyūb Al-Anṣāriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Jika kalian ke tempat buang hajat, janganlah kalian menghadap kiblat maupun membelakanginya, tetapi menghadaplah ke arah timur atau barat." Abu Ayyūb berkata, "Ketika kami datang ke Syam, kami menemukan WC dibangun menghadap ke Ka'bah sehingga kami berpaling ke arah lain dan memohon ampun kepada Allah Ta'ala."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ melarang orang yang ingin buang hajat, baik kencing maupun buang air besar, untuk menghadap kiblat atau ke arah Ka'bah, dan tidak pula membelakanginya dengan menjadikannya di belakang punggung. Akan tetapi, ia harus menghadap ke arah timur atau barat jika arah kiblatnya sama seperti arah kiblat penduduk Madinah (yaitu arah selatan). Kemudian Abu Ayyūb -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa ketika mereka datang ke Syam, mereka menemukan banyak WC yang diperuntukkan untuk buang hajat ternyata dibangun menghadap Ka'bah sehingga mereka memalingkan badan mereka dari arah kiblat. Tetapi kendati demikian, mereka tetap memohon ampun kepada Allah.
Abu Qatādah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Jangan sekali-kali salah seorang di antara kalian memegang kemaluannya dengan tangan kanan ketika buang air kecil, jangan membersihkan bekas kotoran (istinja) dengan tangan kanan, dan jangan pula bernapas dalam bejana."
Muttafaq 'alaihDalam hadis ini, Nabi ﷺ menerangkan beberapa adab, yaitu beliau melarang laki-laki memegang kemaluannya dengan tangan kanan ketika buang air kecil dan tidak membersihkan najis dari kubul atau dubur dengan tangan kanan, karena tangan kanan diperuntukkan untuk perkara-perkara mulia. Beliau juga melarang seseorang bernapas dalam bejana yang digunakan minum.
Dari Abdullah bin 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Telah bersaksi di sisiku orang-orang yang diridai -dan Umar adalah orang yang paling aku ridai- bahwa Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang salat setelah Subuh sampai terbit matahari, dan setelah Asar sampai terbenam matahari." Dari Abu Sa'īd -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwasannya beliau bersabda, "Tidak ada salat setelah Subuh hingga matahari meninggi, dan tidak ada salat setelah Aṣar hingga matahari terbenam."
Muttafaq 'alaih dengan dua riwayatnyaDalam kedua hadis tersebut, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang salat setelah salat Subuh sampai terbit matahari dan meninggi dari garis ufuk dalam pandangan mata seukuran panjang tombak yang ditancapkan di ufuk. Ini seukuran beberapa menit. Para ulama berbeda-beda dalam menetapkan ukurannya dari 5 sampai 15 menit. Beliau juga melarang salat setelah salat Asar sampai terbenam matahari. Yakni beberapa menit sebelum azan Magrib. Sebab, salat di kedua waktu ini merupakan tindakan menyerupai orang-orang musyrik yang menyembah matahari ketika terbit dan ketika terbenam. Padahal beliau melarang kita menyerupai mereka dalam ibadahnya. Sebab, orang yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Tidakkah salah seorang kalian takut bila dia mengangkat kepalanya sebelum imam, Allah mengubah kepalanya menjadi kepala keledai atau Allah menjadikan rupanya seperti rupa keledai?!"
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ menerangkan ancaman keras terhadap orang yang mengangkat kepala sebelum imam mengangkat kepalanya, yaitu Allah akan menjadikan kepalanya seperti kepala keledai atau menjadikan rupanya seperti rupa keledai.
Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua pundak ketika mengawali salat dan ketika bertakbir untuk rukuk. Ketika mengangkat kepala dari rukuk, beliau juga mengangkat kedua tangannya seperti itu dan mengucapkan, "Sami'allāhu liman ḥamidah, rabbanā wa lakal-ḥamdu (Allah mendengar orang yang memuji-Nya, wahai Tuhan kami, bagimu segala pujian)." Namun, beliau tidak melakukan hal itu ketika sujud.
Muttafaq 'alaihPada tiga tempat dalam salat, Nabi ﷺ biasa mengangkat kedua tangannya sejajar dengan pundak, yaitu pertemuan bahu dan lengan. Pertama: ketika memulai salat saat takbiratul ihram. Kedua: ketika takbir untuk rukuk. Ketiga: ketika mengangkat kepala dari rukuk dan mengucapkan: "sami'allāhu liman ḥamidah rabbanā walakal-ḥamdu". Beliau tidak mengangkat tangan ketika turun sujud maupun bangkit dari sujud.
Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Rasulullah ﷺ mengajariku doa tasyahud, sedangkan telapak tanganku ada di antara dua telapak tangan beliau, sebagaimana beliau mengajariku surah dalam Al-Qur`an: At-taḥiyyātu lillāh, waṣ-ṣalawātu waṭ-ṭayyibāt. As-salāmu 'alaika ayyuhan-nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh. As-salāmu 'alainā wa 'alā 'ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn. Asyhadu an lā ilāha illallāh wa asyhadu anna muḥammadan 'abduhu wa rasūluh (Segala ucapan selamat, salat dan kebaikan hanya milik Allah. Semoga keselamatan terlimpah kepadamu, wahai Nabi, dan rahmat Allah serta berkah-Nya. Semoga keselamatan terlimpah pada kami dan hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya)." Dalam redaksi Bukhari dan Muslim lainnya: "Sesungguhnya Allah Yang Maha Pemberi keselamatan. Ketika salah seorang kalian duduk dalam salat, ucapkanlah, 'At-taḥiyyātu lillāh, waṣ-ṣalawātu waṭ-ṭayyibāt. As-salāmu 'alaika ayyuhan-Nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh. As-salāmu 'alainā wa 'alā 'ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn.' Ketika ia membacanya, doa itu mencakup semua hamba Allah yang saleh di langit maupun di bumi. Selanjutnya membaca: 'Asyhadu allā ilāha illallāh wa asyhadu anna muḥammadan 'abduhu wa rasūluh.' Kemudian ia memilih permintaan sesukanya."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengajari Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- doa tasyahud yang dibaca dalam salat dengan cara meletakkan tangannya di antara kedua tangan beliau untuk memusatkan perhatian Ibnu Mas'ūd, sebagaimana beliau mengajarinya surah Al-Qur`an. Hal ini menunjukkan perhatian Nabi ﷺ pada doa tasyahud ini dari sisi lafaz dan makna. Beliau membacakan doanya: At-taḥiyyātu lillāhi (Segala ucapan selamat hanya milik Allah), yaitu semua ucapan ataupun perbuatan yang menunjukkan pengagungan, seluruhnya adalah hak Allah ﷻ. Aṣ-ṣalawātu (salat), yaitu salat yang dikenal, baik yang fardu maupun sunah, adalah milik Allah Ta'ala. Aṭ-ṭayyibātu (kebaikan), yaitu ucapan, perbuatan dan sifat-sifat yang baik nan menunjukkan kesempurnaan, seluruhnya adalah hak Allah Ta'ala. As-salāmu ‘alayka ayyuhā an-nabīyu wa-raḥmatullāhi wa-barakātuh (Semoga keselamatan terlimpah kepadamu, wahai Nabi, dan rahmat Allah serta keberkahan-Nya). Ini adalah doa keselamatan untuk beliau dari semua penyakit dan keburukan, serta penambahan dan keberlimpahan segala kebaikan untuknya. As-salāmu ‘alaynā wa ‘alā ‘ibādi-llāhiṣ-ṣāliḥīn (Semoga keselamatan terlimpah pada kami dan hamba-hamba Allah yang saleh). Ini adalah doa keselamatan bagi orang yang salat dan semua hamba yang saleh di langit dan bumi. Asyhadu an lā ilāha illā Allāh Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Allah), yakni aku berikrar dengan ikrar yang bulat bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah. Wa anna Muḥammadan ‘abduhu wa-rasūluhu, (dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan rasul-Nya), yakni aku mengikrarkan kehambaan dan kerasulan yang terakhir untuk beliau. Kemudian Nabi ﷺ menganjurkan orang yang mengerjakan salat agar memilih doa yang disukainya.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ biasa berdoa dengan membaca, "Allāhumma innī a'ūżu bika min 'ażābil-qabri, wa min 'ażābin-nār, wa min fitnatil-maḥyā wal-mamāt, wa min fitnatil-masīḥ ad-dajjāl (Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, azab neraka, fitnah ketika hidup dan mati, dan dari fitnah Almasih Dajal)." Dalam lafaz Muslim lainnya, "Apabila salah seorang kalian telah selesai dari doa tasyahud akhir, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari empat perkara: azab neraka Jahanam, azan kubur, fitnah ketika hidup dan mati, dan dari keburukan Almasih Dajal."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ berlindung kepada Allah dari empat perkara setelah doa tasyahud akhir sebelum salam dalam salat dan beliau memerintahkan kita agar berlindung kepada Allah dari 4 hal, yaitu: - Pertama: siksa kubur. - Kedua: siksa neraka yang terjadi di hari Kiamat. - Ketiga: fitnah ketika hidup berupa syahwat dunia yang diharamkan serta syubhat-syubhatnya yang menyesatkan, dan dari fitnah ketika kematian, yaitu saat sekarat, supaya tidak tergelincir dari Islam atau Sunnah, ataupun fitnah kubur seperti pertanyaan dua malaikat. - Keempat: fitnah Almasih Dajal yang akan keluar di akhir zaman. Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan Dajal tersebut. Nabi menyebutnya secara khusus karena besarnya fitnah dan penyesatannya.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ berdiam diri sejenak setelah bertakbir ketika salat sebelum membaca Al-Fātiḥah. Lantas aku bertanya, "Wahai Rasulullah, bapak dan ibuku sebagai tebusanmu! Kabari aku tentang diammu antara ucapan takbir dan bacaan Al-Fātiḥah, apa yang engkau baca?" Beliau menjawab, "Aku membaca: Allāhumma bā'id bainī wa baina khaṭāyāya kamā bā'adta bainal-masyriqi wal-magrib. Allāhumma naqqinī min khaṭāyāya kamā yunaqqaṡ-ṡaubul-abyaḍu minad-danas. Allāhumma-gsilnī min khaṭāyāya biṡ-ṡalji wal-mā`i wal-barad (Ya Allah, jauhkanlah antara aku dengan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana kain putih yang dibersihkan dari noda. Ya Allah, basuhlah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan salju, air, dan es)."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ biasa berdiam sejenak setelah bertakbir memulai salat sebelum membaca Al-Fātiḥah. Di dalamnya, beliau membuka salatnya dengan sebagian doa. Di antara doa-doa tersebut ialah bacaan beliau: "Allāhumma bā'id bainī wa baina khaṭāyāya kamā bā'adta bainal-masyriqi wal-magribi. Allāhumma naqqinī min khaṭāyāya kamā yunaqqaṡ-ṡaubul-abyaḍu minad-danas. Allāhumma-gsilnī min khaṭāyāya bil-mā`i waṡ-ṡalji wal-barad." (Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana kain putih yang dibersihkan dari noda. Ya Allah, basuhlah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan salju, air, dan es). Beliau berdoa kepada Allah ﷻ agar menjauhkan antara diri beliau dan berbagai dosa sehingga tidak terjatuh ke dalamnya dengan bentuk penjauhan yang mustahil untuk saling menyatu, sebagaimana tidak menyatunya antara timur dan barat. Kalaupun ia terjatuh di dalamnya, maka semoga Allah membersihkannya serta menghilangkannya sebagaimana noda dibersihkan dari pakaian putih dan semoga Allah membasuhnya dari kesalahan-kesalahannya serta meredakan panas dan gejolaknya dengan pembersih-pembersih yang dingin, yaitu air, salju, dan es.