





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, "Suatu malam, aku pernah kehilangan Nabi ﷺ dari tempat tidur. Aku pun mencari beliau, dan ternyata tanganku menyentuh telapak kaki beliau dalam keadaan tegak ketika beliau sedang bersujud di tempat salatnya. Beliau membaca: Allāhumma innī a'ūżu bi riḍāka min sakhaṭika, wa bi mu'āfātika min 'uqūbatika, wa a'ūżu bika minka, lā uḥṣī ṡanā`an 'alaika anta kamā aṡnaita 'alā nafsika (Ya Allah! Aku berlindung dengan keridaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan pengampunan-Mu dari hukuman-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari siksaan-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjungkan kepada diri-Mu sendiri)."
HR. MuslimAisyah -raḍiyallāhu 'anhā- menuturkan: Aku tidur di samping Nabi ﷺ, tetapi aku tidak menemukan beliau di sampingku di malam hari. Tanganku kemudian meraba tempat salat beliau di kamar, ternyata beliau sedang sujud dan kedua telapak kakinya tegak. Ternyata beliau membaca: A'ūżu (aku berlindung) dan bertawasul .. bi riḍāka min sakhaṭika (dengan keridaan-Mu dari kemurkaan-Mu) terhadapku atau terhadap umatku .. wa (dan) aku berlindung.. bi mu'āfātika (dengan pengampunan-Mu), yaitu ampunan-Mu yang banyak .. min 'uqūbatika (dari hukuman-Mu). Wa `a'ūżu bika minka (Aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu), yaitu berlindung dengan sifat-sifat keindahan-Mu dari sifat-sifat keagungan-Mu, karena tidak ada yang dapat melindungi dari siksa-Mu kecuali Engkau. Tidak ada tempat aman dan tempat menyelamatkan diri dari Allah kecuali kepada-Nya. Lā uḥṣī ṡanā`an 'alaika (Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu), yaitu aku tidak kuasa dan tidak dapat menghitung jumlahnya sebab ketidakmampuanku untuk menghitung karunia dan kebaikan-Mu sebagaimana patutnya hak-Mu, walaupun aku bersungguh-sungguh melakukannya. Anta kamā aṡnaita 'alā nafsika (Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjungkan kepada diri-Mu sendiri), yaitu dengan pujian yang pantas bagi-Mu, tidak ada yang mampu menunaikan pujian kepada-Mu dengan sebenar-benarnya.
Dari Jabir -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah ditanya, "Salat apa yang paling utama?" Beliau menjawab, "Salat yang berdirinya lama."
Diriwayatkan oleh MuslimPara sahabat -raḍiyallāhu 'anhum pernah bertanya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Salat yang bagaimanakah yang paling utama?" Pertanyaan ini menunjukkan semangat mereka untuk meraih banyak pahala. Maksudnya: salat yang bagaimanakah modelnya paling afdal? Berdiri, ruku' atau sujudnya? Beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa salat yang berdirinya lama.
Syuraiḥ bin Hāni` meriwayatkan, Aku pernah bertanya kepada Aisyah, "Apa yang pertama kali dilakukan oleh Nabi ﷺ ketika masuk rumahnya?" Aisyah menjawab, "Bersiwak."
HR. MuslimDi antara petunjuk Nabi ﷺ ketika masuk rumahnya di waktu kapan pun, malam maupun siang, adalah beliau mengawalinya dengan siwak.
Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Disebutkan di hadapan Nabi ﷺ tentang seseorang yang tidur semalaman sampai pagi. Beliau bersabda, "Orang itu telah dikencingi setan di kedua telinganya -atau beliau bersabda: di telinganya."
Muttafaq 'alaihDisebutkan kepada Nabi ﷺ tentang seseorang yang tidur hingga pagi. Matahari telah terbit sementara ia belum mengerjakan salat fardu. Maka beliau ﷺ bersabda, "Itu adalah orang yang dikencingi telinganya oleh setan."
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-bersabda, "Ada sepuluh hal yang termasuk fitrah: memotong kumis, membiarkan jenggot, bersiwak, menghirup air ke hidung, memotong kuku, mencuci ruas-ruas jari, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan dan bercebok." Periwayat hadis berkata, "Aku lupa yang kesepuluh, kecuali ia berkumur-kumur." Waki'- salah seorang periwayat hadis ini- berkata, "Intiqāṣul Mā` artinya Istinja."
Diriwayatkan oleh MuslimAisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mengabarkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- beberapa hal yang termasuk sunnah fitrah. Al-Fiṭrah ialah asal penciptaan di mana Allah menciptakan hamba-hamba-Nya dengan itu dan menjadikan mereka tercipta demikian serta hal itu termasuk kebaikan. Maksudnya adalah fitrah yang sehat, karena fitrah yang menyimpang tidak dianggap. Hal ini berdasarkan sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi." Pertama, "Memotong kumis," atau mencukur hingga tampak bibir karena dalam hal itu terkandung kebersihan dan menjaganya dari kotoran hidung. Sebab, bulu kumis jika menjuntai di atas bibir maka ia akan menempel langsung dengan makanan dan minuman yang dikonsumsi disertai banyaknya bulu itu membuat tampilannya jadi jelek. Meskipun bagi orang yang tidak mempedulikannya, hal itu dianggap baik. Hendaknya seorang muslim mengurus kumisnya dengan mencukurnya atau memotongnya serta tidak membiarkannya lebih dari empatpuluh hari. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, "Kami diberi batasan waktu dalam memotong kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan agar tidak kami biarkan lebih dari empatpuluh malam." "membiarkan jenggot," jenggot adalah rambut yang tumbuh di atas dagu dan dua tulang dagu. Yang dimaksud dengan membiarkan jenggot adalah membiarkannya menjadi banyak tanpa dipotong dan dipendekkan, sedikit atau pun banyak. Sebab, kata Al-I'fā` diambil dari kata banyak atau melimpah. Biarkanlah jenggot itu maka akan menjadi banyak. Seperti firman Allah -Ta'ālā-, "Bertambah banyak." Banyak sekali hadis dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan beragam redaksi yang memerintahkan untuk membiarkan jenggot. Ada yang dengan redaksi, "Waffirū," Dengan redaksi, "Arikhkhū," dengan redaksi, "U'fū." Semuanya menunjukkan perintah untuk membiarkan, memperbanyaknya dan tidak mengganggunya. Berdasarkan hal ini, apapun kondisinya, seorang Muslim tidak boleh memotong jenggot. Jika ia melakukannya, berarti ia telah menyalahi jalan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, mendurhakai perintahnya dan terperosok ke dalam bagian menyerupai orang-orang musyrik (tasyabbuh). "bersiwak," maksudnya bahwa siwak termasuk perangai fitrah yang dianjurkan oleh syariat. Ia dapat membersihkan mulut dan mendatangkan keridaan Tuhan. Untuk itu, siwak disyariatkan di setiap waktu, dan ditekankan lagi setiap wudu, salat, bangun tidur, ada perubahan bau mulut, ketika gigi menguning dan sebagainya. "Menghirup air ke hidung," yakni, menghirup air ke hidung termasuk fitrah karena ia dapat membersihkan dan menghilangkan kotoran yang ada di hidung yang bisa menyebabkan gangguan dan bahaya. Menghirup air dengan hidung bisa dilakukan saat wudu atau di luar wudu. Setiap kali engkau perlu untuk membersihkan hidung, maka hiruplah air dengan hidung dan bersihkanlah hidungmu. Hal ini tergantung individu manusia. Ada orang yang tidak membutuhkan hal ini kecuali dalam wudu. Ada juga yang sering membutuhkannya. Termasuk hal itu juga, yaitu sunnah fitrah, berkumur-kumur. Ia termasuk sunnah fitrah. Mulut dan hidung sering dimasuki berbagai kotoran, karena itu termasuk fitrah memperhatikan keduanya. "memotong kuku," yakni, termasuk perangai fitrah ialah memotong kuku. Maksudnya kuku kedua tangan dan kedua kaki. Janganlah engkau membiarkan lebih dari empat puluh hari, berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, "Kita diberi batas waktu dalam mencukur kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan agar kita tidak membiarkannya lebih dari empat puluh malam." Dalam riwayat Abu Daud disebutkan, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberi batasan waktu untuk kita dalam mencukur bulu kemaluan, memotong kuku," "mencuci ruas-ruas jari," yakni, mencuci ruas jari-jari bagian luar dan dalam karena ia merupakan tempat menumpuknya kotoran. Juga karena jari-jari itu berkerut dan menyusut sehingga terkadang tidak tercapai oleh air. Jika dipelihara dengan cara dipijit-pijit dan dialirkan air di atasnya oleh tangan yang kedua maka air akan sampai kepadanya. Termasuk fitrah adalah memperhatikannya. Termasuk ke dalam ruas-ruas ini adalah setiap tempat di tubuh yang berkumpul di dalamnya kotoran dengan keringat atau lainnya, seperti lobang telinga dan bagian dalam paha dan sebagainya yang biasanya tertutup. "dan mencabut bulu ketiak," yakni, di antara sunnah fitrah ialah mencabut bulu ketiak dengan cara menariknya dari akarnya. Sebab ketiak merupakan tempat yang banyak keringatnya dan di dalamnya berkumpul kotoran-kotoran serta bau menjadi berubah, dan tidak boleh dibiarkan lebih dari empat puluh hari sebagaimana sudah dijelaskan dalam hadis Anas -raḍiyallāhu 'anhu- sebelumnya. Lebih utama adalah mencabutnya jika kuat, karena dengan mencabut dapat menghilangkannya secara keseluruhan dan melemahkan akarnya sehingga tidak akan tumbuh lagi. Inilah hal yang dituntut oleh syariat. Jika sulit untuk mencabutnya, maka tidak ada masalah dengan mencukurnya atau menggunakan krim penghilang. Sebab, tujuannya adalah menghilangkan bulu dan membersihkan tempat, dan itu tercapai dengan krim. "mencukur bulu kemaluan," yakni, di antara perangai fitrah ialah menghilangkan bulu kemaluan. Yang dimaksud dengan bulu kemaluan adalah bulu/rambut kasar yang tumbuh disekitar kemaluan laki-laki dan perempuan. Termasuk fitrah ialah menghilangkan rambut itu, baik dengan dicukur, dicabut, dipotong atau dengan menggunakan bahan kosmetik modern, sebab maksudnya adalah membersihkan, dan dengan bahan kosmetik itu bisa tercapai tujuannya. Yang penting tidak membiarkannya lebih dari empat puluh hari sebagaimana menurut hadis Anas -raḍiyallāhu 'anhu-. "dan bercebok." Yakni, termasuk fitrah ialah bercebok dengan air dan ditafsirkan dengan istinjak. Makna ini diperkuat oleh hadis Abu Daud dan Ibnu Majah dari Ammār bin Yasir -raḍiyallāhu 'anhu- dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa termasuk fitrah ialah berkumur-kumur, menghirup air dengan hidung, dan Al-Intidhah (menyiramkan air)" Al-Istinjā` adalah menghilangkan sesuatu yang keluar dari dua saluran pembuangan dengan sesuatu yang jelas, seperti air, batu, kain, sapu tangan dan sebagainya yang memiliki kekhasan dapat menghilangkan. Ini wajib dilakukan ketika hendak salat, karena merupakan salah satu syarat sahnya salat. Periwayat hadis berkata, "Aku lupa yang kesepuluh, kecuali ia berkumur-kumur." Ini adalah keraguan perawi. Kesimpulannya, semua hal ini dapat menyempurnakan bagian luar manusia, menyucikannya dan membersihkannya serta mencegah berbagai bahaya dan hal menjijikkan.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Setan membuat tiga ikatan di ujung belakang kepala salah seorang kalian ketika tidur. Setiap ikatan ia tepuk (dengan mengatakan), 'Bagimu malam yang panjang, maka tidurlah!' Jika orang tersebut bangun lalu berzikir kepada Allah Ta'ala, terlepaslah satu ikatan. Lalu jika dia berwudu, terlepaslah satu ikatan yang lain. Kemudian jika dia mengerjakan salat, terlepaslah seluruh ikatan itu. Sebab itu, dia memasuki waktu pagi dengan semangat dan jiwa yang baik. Tetapi jika tidak demikian, pasti dia memasuki waktu pagi dengan jiwa yang jelek dan malas."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan keadaan setan dan permusuhannya dengan orang yang ingin bangun untuk salat malam atau salat Subuh. Ketika seorang mukmin hendak tidur, setan membuat tiga ikatan di ujung belakang kepalanya. Apabila ia bangun lalu berzikir kepada Allah Ta'ala dan tidak mengikuti bisikan setan, satu ikatan akan terlepas. Apabila ia berwudu, satu ikatan lain akan terlepas. Apabila ia bangun lalu mengerjakan salat, maka ikatan yang ketiga akan terlepas sehingga ia memasuki pagi hari dengan penuh semangat dan jiwa yang baik disebabkan kebahagiaannya atas taufik Allah kepadanya untuk melakukan ketaatan serta gembira dengan pahala dan ampunan yang dijanjikan Allah, di samping ikatan hambatan setan kepadanya yang terlepas. Jika tidak, maka ia akan memasuki pagi hari dengan jiwa yang buruk, hati sedih, dan penuh kemalasan untuk melakukan perbuatan baik, karena ia terbelenggu oleh ikatan setan dan dijauhkan dari kedekatan kepada Ar-Raḥmān.
Ma'dān bin Abu Ṭalḥah Al-Ya'mariy meriwayatkan, Aku pernah bertemu Ṡaubān, mantan budak Rasulullah ﷺ. Aku berkata padanya, "Kabarkan kepadaku tentang amalan yang dapat aku kerjakan, dengannya Allah memasukkanku ke surga!" Atau ia berkata, "Kabarkan kepadaku tentang amalan yang paling Allah cintai!" Tetapi, ia hanya diam. Kemudian aku bertanya lagi, tetapi ia diam. Kemudian aku bertanya lagi yang ketiga kali, ia lalu menjawab, "Aku pernah menanyakan hal itu kepada Rasulullah ﷺ, lantas beliau bersabda, 'Hendaknya engkau banyak bersujud kepada Allah. Sungguh, tidaklah engkau bersujud satu kali kepada Allah, melainkan dengannya Allah akan mengangkatmu satu derajat serta menggugurkan darimu satu dosa'." Kemudian aku bertemu Abu Ad-Dardā` dan bertanya padanya tentang hal ini juga, maka ia memberiku jawaban seperti yang dikatakan Ṡaubān kepadaku.
HR. MuslimNabi ﷺ ditanya tentang amalan yang menjadi sebab masuk surga atau amalan yang paling dicintai oleh Allah. Beliau ﷺ berkata kepada penanya, "Engkau harus banyak bersujud dalam salat; tidaklah engkau bersujud satu kali sujud kepada Allah kecuali dengannya Allah mengangkatmu satu derajat dan mengampuni darimu satu kesalahan."
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, "Rasulullah ﷺ sangat giat beribadah di sepuluh malam terakhir Ramadan lebih daripada waktu lainnya."
HR. MuslimApabila sepuluh malam terakhir Ramadan tiba, Nabi ﷺ bersungguh-sungguh melakukan ibadah dan ketaatan serta sangat giat melakukan berbagai macam kebaikan yang lebih daripada kesungguhan beliau di waktu lainnya. Hal itu disebabkan oleh keagungan dan keutamaan malam-malam tersebut sekaligus dalam rangka berburu lailatulkadar.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- ia berkata, "Kami biasa menyiapkan untuk Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- siwaknya dan air untuk bersuci. Lantas Allah membangunkannya sesuai kehendak-Nya di sebagian malam lalu beliau bersiwak, wudu dan salat."
Diriwayatkan oleh MuslimAisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mengabarkan bahwa dirinya biasa menyiapkan untuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- siwaknya dan air yang digunakan untuk berwudu di malam hari. Kemudian Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- membangunkannya dari tidurnya kapan pun di malam hari. Apabila sudah bangun, beliau segera menyikat giginya dengan siwak untuk menghilangkan bau mulut yang biasanya disebabkan oleh tidur. Setelah itu beliau berwudu sebagaimana wudu untuk salat lalu melaksanakan salat malam.