





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya jampi-jampi, jimat, dan pelet (pengasih) adalah syirik."
HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan AhmadNabi ﷺ menjelaskan beberapa perkara yang masuk kategori syirik bila dikerjakan, di antaranya: Pertama: Jampi. Jampi adalah bacaan yang mengandung kesyirikan yang digunakan oleh masyarakat jahiliah untuk meminta kesembuhan. Kedua: Jimat berupa kulit kerang dan semisalnya yang digantungkan di leher anak kecil, binatang, dan lain sebagainya untuk menangkal penyakit 'ain. - Ketiga: Pelet yang digunakan untuk membuat seseorang mencintai pasangannya. Perkara-perkara ini termasuk kesyirikan karena ia dijadikan sebagai sebab, padahal bukan sebab yang disyariatkan yang dibuktikan dengan dalil dan bukan juga sebab indrawi yang dibuktikan dengan uji coba. Adapun sebab-sebab yang disyariatkan seperti membaca Al-Qur`an dan sebab-sebab indrawi seperti obat-obatan yang terbukti mujarab melalui uji coba, maka hukumnya boleh dengan tetap meyakininya sebagai sebab, sementara manfaat dan mudarat hanya ada di tangan Allah.
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Janganlah kalian mencaci orang-orang yang telah meninggal, karena sesungguhnya mereka telah mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan."
HR. BukhariNabi ﷺ menerangkan keharaman mencaci dan merusak kehormatan orang yang sudah meninggal karena hal itu termasuk akhlak buruk dan karena mereka telah mendapatkan balasan amal kebaikan ataupun keburukan yang mereka kerjakan. Selain itu, cacian ini tidak sampai ke mereka, bahkan hanya menyakiti orang yang masih hidup.
Jundub bin Abdullah Al-Qasriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang melaksanakan salat subuh, maka dia berada dalam jaminan (lindungan) Allah. Oleh karena itu, jangan sampai Allah menuntut kalian dengan jaminan-Nya (karena tidak melaksanakan salat Subuh). Sungguh, siapa yang Allah tuntut dengan jaminan-Nya, Allah pasti akan menemukannya, kemudian Allah menelungkupkan wajahnya ke dalam neraka Jahanam.”
HR. MuslimNabi ﷺ mengabarkan bahwa orang yang melaksanakan salat Subuh berada dalam penjagaan dan perlindungan Allah, Dia akan senantiasa membela dan menolongnya. Kemudian beliau ﷺ mengingatkan agar jangan sampai membatalkan perjanjian itu, baik dengan meninggalkan salat Subuh atau mengganggu dan menzalimi orang yang mengerjakannya, karena orang yang melakukan hal itu telah membatalkan jaminan tersebut dan berhak mendapatkan ancaman keras, yaitu akan dituntut oleh Allah lantaran telah melalaikan hak-Nya, sedangkan orang yang dituntut oleh-Nya pasti akan tertangkap, kemudian Dia menelungkupkannya ke dalam api neraka.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda, "Tidaklah sedekah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan pada seorang hamba dengan sebab memaafkan kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah mengangkat derajatnya."
HR. MuslimNabi ﷺ menerangkan bahwa sedekah itu tidak mengurangi harta, justru melindunginya dari berbagai keburukan, dan Allah akan memberi ganti bagi pemiliknya dengan kebaikan yang besar, sehingga yang terjadi ialah penambahan, bukan pengurangan. Beliau juga menerangkan bahwa tidaklah sikap memaafkan di saat mampu untuk membalas atau menghukum pelaku kezaliman melainkan akan menambah kekuatan dan keperkasaan. Juga menerangkan bahwa tidaklah seseorang bersikap tawaduk dan merendahkan diri karena Allah, bukan karena takut pada seseorang, melunak kepadanya, maupun mengharapkan manfaatnya, kecuali balasannya ialah keluhuran dan kemuliaan.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya, sedangkan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada perempuan yang menjadi tanggungannya."
HR. Abu Daud, Tirmizi, dan AhmadNabi ﷺ mengabarkan bahwa orang yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya; yaitu selalu bermuka ceria, mencurahkan kebaikan, bertutur kata baik dan tidak menyakiti. Sedangkan orang beriman yang paling baik adalah orang yang paling baik kepada perempuan-perempuan yang menjadi tanggungannya, seperti istrinya, anaknya, saudarinya dan kerabat-kerabat perempuannya karena mereka yang paling pantas mendapatkan akhlak baik.
Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Dunia itu kenikmatan, sedangkan sebaik-baik kenikmatan dunia adalah wanita salehah."
HR. MuslimNabi ﷺ mengabarkan bahwa dunia dengan semua isinya hanyalah kenikmatan yang dinikmati sesaat kemudian sirna, sedangkan sebaik-baik kenikmatan dunia ialah istri salehah, yaitu yang membahagiakan ketika dipandang, yang patuh ketika diperintahkan, dan yang menjaga dirinya dan harta suaminya ketika ditinggalkan.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah berfirman, 'Wahai anak Adam, berinfaklah, niscaya Aku akan berinfak kepadamu'."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ meriwayatkan bahwa Allah berfirman: Wahai anak Adam, berinfaklah dengan nafkah wajib dan sunah, niscaya Aku akan lapangkan nafkah bagimu, Aku akan berikan kepadamu penggantinya, dan Aku berkahi bagimu penggantinya itu.
'Uqbah bin 'Āmir Al-Juhaniy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Syarat yang paling berhak untuk kalian penuhi adalah syarat yang kalian gunakan untuk menghalalkan kemaluan (pernikahan)."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ menerangkan bahwa syarat yang paling utama untuk dipenuhi ialah yang menjadi sebab halalnya menikmati perempuan, yaitu syarat-syarat mubah yang diminta oleh istri ketika akad nikah.
Abu Az-Zubair meriwayatkan, Ibnu Az-Zubair biasa mengucapkan di penghujung setiap salat ketika usai salam, "Lā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lahu, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu wa huwa 'alā kulli syai`in qadīr, lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh, lā ilāha illallāh, wa lā na'budu illā iyyāhu, lahun-ni'matu wa lahul-faḍlu, wa lahuṡ-ṡanā`ul-hasan, lā ilāha illallāhu mukhliṣīna lahud-dīn wa lau karihal-kāfirūn (Tiada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya seluruh kerajaan, kepunyaan-Nya semua pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan kami tidak menyembah kecuali Dia. Bagi-Nya segala nikmat, milik-Nya seluruh karunia, dan kepunyaan-Nya pujian yang bagus. Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah dengan memurnikan agama untuk-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai)." Ia mengatakan, "Rasulullah ﷺ bertahlil dengan kalimat-kalimat ini di akhir setiap salat."
HR. MuslimRasulullah ﷺ biasa berzikir setelah salam di setiap salat fardu dengan zikir yang agung ini. Maknanya adalah: "Lā ilāha illallāh"; artinya: tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah. Wahdahu lā sharīka lahu (Dia semata, tidak ada sekutu bagi-Nya), yakni tidak ada sekutu bagi-Nya terkait uluhiah, rububiah serta nama dan sifat-sifat-Nya. Lahu al-mulku (Milik-Nya seluruh kerajaan), yakni milik-Nya kerajaan yang mutlak, universal, dan tanpa batas, Dia yang memiliki langit dan bumi berikut semua yang ada di antara keduanya. Wa lahu al-ḥamdu (Bagi-Nya seluruh pujian), yakni Dia yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan yang mutlak, yang terpuji dengan kesempurnaan, dengan penuh cinta dan pengagungan dalam segala keadaan, ketika lapang dan sulit. Wa huwa ‘alā kulli shay’in qadīr (Dia Mahakuasa atas segala sesuatu), yaitu kemahakuasaan-Nya sempurna dari segala sisi, tidak ada sesuatu pun yang membuat-Nya lemah dan tidak ada satu urusan pun yang mustahil bagi-Nya. Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh (Tiada upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah), yakni tidak ada kuasa untuk berpindah dari satu keadaan kepada keadaan lainnya, dari bermaksiat kepada Allah menuju ketaatan kepada-Nya, dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Dialah Yang Maha Penolong dan hanya kepada-Nya tempat berserah diri. Lā ilāha illallāh, wa-lā na‘budu illā iyāhu (Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan kami tidak menyembah kecuali Dia). Ini merupakan penegasan terhadap makna uluhiah dan penafian kesyirikan, bahwa tidak ada yang berhak mendapatkan ibadah selain Allah. Lahu an-ni‘matu wa lahu al-faḍlu (Milik-Nya seluruh nikmat, bagi-Nya seluruh karunia), yaitu Dialah yang menciptakan dan memiliki semua nikmat, lalu Dia pula yang memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Wa lahu at-ṡanā`u al-ḥasan (Kepunyaan-Nya seluruh pujian yang bagus), yaitu terkait zat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya dan nikmat-nikmat-Nya dalam segala keadaan. Lā ilāha illallāh mukhliṣīn lahu ad-dīn (Tiada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah dengan memurnikan agama untuk-Nya), yakni menauhidkan Allah tanpa ada sifat ria dan sumah dalam ketaatan kepada-Nya. Wa-law kariha al-kāfirūn (Meskipun orang-orang kafir tidak menyukai), yakni kami tetap kokoh menauhidkan Allah dan beribadah kepada-Nya walaupun orang-orang kafir tidak menyukai hal ini.