





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Abu Ḥumaid atau Abu Usaid meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila salah seorang di antara kalian akan masuk masjid, hendaklah ia membaca, 'Allāhumma-ftaḥ lī abwāba raḥmatik (Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu).' Sedangkan saat akan keluar masjid, hendaklah ia membaca, 'Allāhumma innī as`aluka min faḍlik (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu sebagian karunia-Mu).'"
HR. MuslimNabi ﷺ mengarahkan umatnya agar membaca doa yang dibaca ketika masuk masjid: Allāhumma-ftaḥ lī abwāba raḥmatik (Ya Allah! Bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu). Maknanya: memohon kepada Allah Ta'ala agar dimudahkan sebab-sebab rahmat-Nya. Sedangkan saat hendak keluar masjid, agar membaca: Allāhumma innī as`aluka min faḍlik (Ya Allah! Aku memohon kepada-Mu sebagian karunia-Mu). Maknanya: memohon kepada Allah sebagian karunia dan tambahan kebaikan berupa rezeki yang halal.
Sālim bin Abul-Ja'd meriwayatkan, Seorang laki-laki mengatakan, "Andainya aku sudah salat lalu aku tenang beristirahat." Lantas para sahabat seakan-akan mengkritisinya terkait ucapan itu, maka dia mengisahkan: Aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Wahai Bilal, kumandangkanlah ikamah salat; berikan kita ketenangan dengan salat."
HR. Abu DaudSeorang sahabat berkata, "Andaikan aku sudah salat lalu aku tenang beristirahat." Sepertinya orang-orang di sekitarnya mengkritisinya terkait ucapan itu, maka dia mengatakan, "Aku telah mendengar Nabi ﷺ bersabda, 'Wahai Bilal, kumandangkan azan salat lalu kumandangkan ikamah agar kita mendapatkan ketenangan dengannya.'" Hal itu karena di dalam salat terkandung munajat kepada Allah Ta'ala dan ketenangan bagi jiwa dan hati.
Abu Ḥāzim bin Dīnār meriwayatkan, Beberapa orang datang kepada Sahl bin Sa'ad as-Sā'idiy sementara mereka baru saja berdebat tentang mimbar Rasulullah ﷺ terbuat dari kayu apa. Mereka lalu bertanya padanya tentang hal itu. Sahl bin Sa'ad as-Sā'idiy berkata, "Demi Allah! Aku tahu ia terbuat dari kayu apa. Aku melihatnya di hari pertama ia ditaruh dan hari pertama Rasulullah ﷺ duduk di atasnya. Rasulullah ﷺ mengirim utusan untuk menemui Polanah -seorang wanita Ansar yang disebutkan namanya oleh Sahl- untuk menyampaikan, 'Suruhlah budakmu si tukang kayu untuk membuatkan untukku tempat duduk ketika aku berkhotbah.' Wanita itu pun segera menyuruh budaknya. Lantas ia membuatnya dari batang pohon tamariska di al-Gābah (wilayah di barat laut Madinah), kemudian menyerahkannya. Lalu wanita itu mengantarnya kepada Rasulullah ﷺ. Lalu beliau memerintahkan agar ditempatkan di posisinya ini. Kemudian aku melihat Rasulullah ﷺ salat di atasnya; bertakbir di atasnya, lalu rukuk dan tetap di atasnya, setelah itu turun mundur lalu sujud di atas tanah, kemudian beliau kembali lagi. Setelah selesai, beliau menghadap kepada para sahabat seraya bersabda, 'Wahai sekalian manusia! Aku melakukan ini supaya kalian dapat mengikuti dan mempelajari salatku.'"
Muttafaq 'alaihSejumlah orang datang menemui salah satu sahabat untuk menanyakan mimbar yang dipakai Rasulullah ﷺ; ia terbuat dari kayu apa? Sebelumnya, mereka berdebat dan bantah-bantahan tentang hal itu. Maka ia menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ mengirim utusan kepada seorang wanita Ansar yang memiliki seorang budak tukang kayu; beliau menyampaikan: Suruh budakmu agar membuatkanku sebuah mimbar sebagai tempat dudukku ketika berbicara kepada para sahabat. Hal itu disambut oleh wanita tersebut dan dia memerintahkan budaknya agar membuatkan sebuah mimbar untuk Nabi ﷺ dari pohon tamariska. Ketika telah selesai, wanita itu mengirimnya kepada Nabi ﷺ. Kemudian beliau memerintahkan agar ia ditempatkan pada posisinya saat ini di Masjid Nabawi. Kemudian Nabi ﷺ salat di atasnya; bertakbir di atasnya, lalu rukuk dan tetap di atasnya lalu turun dengan berjalan mundur tanpa menolehkan muka ke arah belakang, lalu beliau bersujud di atas tanah kemudian kembali lagi. Setelah selesai dari salat itu, beliau menghadap kepada para sahabat seraya bersabda: Wahai sekalian sahabat, aku sengaja melakukan hal itu agar kalian dapat mengikuti dan mempelajari cara salatku.
Ḥiṭṭān bin Abdullah Ar-Raqqāsyiy meriwayatkan, Aku pernah mengerjakan salat bersama Abu Mūsā Al-Asy'ariy. Ketika duduk tasyahud, salah seorang yang sedang salat berkata, "Salat itu ditetapkan bersama kebajikan dan zakat." Ketika Abu Mūsā telah selesai dari salat tersebut, ia berbalik dan mengatakan, "Siapa di antara kalian yang mengucapkan kalimat begini dan begini?" Semua yang hadir terdiam. Abu Mūsā kembali bertanya, "Siapa di antara kalian yang mengucapkan kalimat begini dan begini?" Akan tetapi, semua yang hadir tetap terdiam. Dia berkata, "Mungkin engkau yang mengucapkannya, wahai Ḥiṭṭān?" Ḥiṭṭān menjawab, "Aku tidak pernah mengucapkannya. Sungguh, aku takut bila engkau memarahiku dengan mengucapkan hal itu." Lantas seorang yang hadir berkata, "Aku yang mengucapkannya. Akan tetapi, aku tidak meniatkan kecuali kebaikan." Abu Mūsā berkata, "Tidakkah kalian tahu apa yang harus kalian baca dalam salat kalian?! Sungguh, Rasulullah ﷺ pernah berpidato kepada kami lalu menjelaskan syariat kita dan mengajarkan salat kita. Beliau bersabda, 'Apabila kalian akan salat, luruskanlah saf kalian, kemudian salah seorang di antara kalian menjadi imam. Apabila ia bertakbir, maka bertakbirlah. Apabila ia membaca: gairil-magḍūbi 'alaihim walaḍḍallīn [QS. Al-Fātiḥah: 7], maka ucapkanlah: āmīn, niscaya Allah mengabulkan kalian. Apabila imam bertakbir dan rukuk, maka bertakbir dan rukuklah karena imam itu rukuk sebelum kalian dan bangkit sebelum kalian.' Beliau melanjutkan, 'Sungguh, hal itu setara dengan ini. Apabila imam mengatakan: sami'allāhu liman ḥamidah, maka ucapkanlah: Allāhumma rabbanā lakal-ḥamdu, niscaya Allah mendengar kalian karena Allah Ta'ala telah berfirman melalui lisan Nabi-Nya ﷺ, 'Allah mendengar orang yang memuji-Nya'. Apabila imam bertakbir dan sujud, maka bertakbir dan sujudlah karena imam itu sujud sebelum kalian dan bangkit sebelum kalian.' Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, 'Sungguh hal itu setara dengan ini. Ketika duduk tasyahud, hendaklah yang pertama kalian ucapkan: at-taḥiyyātuṭ-ṭayyibāt, aṣ-ṣalawātu lillāh, as-salāmu 'alaika ayyuhan-nabiyyu waraḥmatullāhi wabarakātuh, as-salāmu 'alainā wa 'alā 'ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn, asyhadu allā ilāha illallāh wa asyhadu anna muḥammadan 'abduhu warasūluh.'"
HR. MuslimSuatu ketika, Abu Mūsā al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu- sedang mengerjakan sebuah salat. Ketika duduk tasyahud, salah seorang yang ikut salat di belakangnya berkata, "Salat di dalam Al-Qur`an disebutkan bersamaan dengan kebajikan dan zakat." Ketika Abu Mūsā -raḍiyallāhu 'anhu- selesai dari salat tersebut, ia menghadap kepada para makmum lalu bertanya, "Siapakah yang mengucapkan kalimat 'salat di dalam Al-Qur`an disebutkan bersamaan dengan kebajikan dan zakat?!'" Orang-orang yang hadir terdiam, tidak ada seorang pun yang berbicara. Kemudian dia mengulang kembali pertanyaan itu kepada mereka. Ketika tidak ada yang menjawab, Abu Mūsā -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Mungkin engkau, wahai Ḥiṭṭān, yang mengucapkannya!" Ia melakukan ini karena kedekatannya dengan Ḥiṭṭān sehingga tidak akan menyinggungnya ketika ia menuduhnya, sekaligus untuk mendorong pelaku sebenarnya mau mengaku. Maka Ḥiṭṭān menyangkal hal itu dan mengatakan, "Aku takut engkau akan memarahiku karena mengiraku yang mengucapkannya." Di sini, salah seorang yang hadir mengatakan, "Aku yang mengucapkannya dan aku tidak meniatkannya kecuali kebaikan." Lalu Abu Mūsā mengajarinya, "Tidakkah kalian tahu apa yang harus kalian baca di dalam salat kalian?!" Ini adalah bentuk pengingkaran. Kemudian Abu Mūsā menyampaikan bahwa suatu saat Nabi ﷺ pernah berpidato di hadapan mereka dan menerangkan kepada mereka tentang syariat dan salat mereka; beliau ﷺ bersabda, Apabila kalian akan salat, tegakkan dan luruskanlah saf kalian. Kemudian salah satu menjadi imam. Apabila imam melakukan takbiratul ihram, maka bertakbirlah seperti itu. Apabila ia membaca surah Al-Fātiḥah dan sampai pada: "gairil-magḍūbi 'alaihim walaḍḍallīn" [QS. Al-Fātiḥah: 7], maka ucapkanlah: "āmīn". Apabila kalian melakukan itu, Allah akan mengabulkan doa kalian. Apabila ia bertakbir dan rukuk, maka bertakbir dan rukuklah, karena imam itu rukuk sebelum kalian dan bangkit sebelum kalian, maka jangan didahului. Sesaat ketika imam mendahului kalian karena lebih awal rukuk, akan tergantikan untuk kalian dengan kalian mengakhirkan rukuk setelah ia bangkit sesaat, sehingga sesaat yang itu setara dengan sesaat ini. Apabila imam mengucapkan: sami'allāhu liman ḥamidah, ucapkanlah: allāhumma rabbanā lakal-ḥamdu. Apabila orang yang salat mengucapkan itu, sungguh Allah ﷻ akan mendengar doa dan ucapan mereka; karena Allah Ta'ala telah berfirman melalui lisan Nabi-Nya: Allah mendengar orang yang memuji-Nya. Kemudian apabila imam bertakbir dan sujud, maka makmum hendaknya bertakbir dan sujud. Imam itu sujud sebelum mereka dan bangun sebelum mereka, sehingga sesaat yang itu setara dengan sesaat ini, dan panjang sujud makmum sama dengan panjang sujud imam. Ketika duduk tasyahud, hendaklah bacaan pertama orang yang salat: at-taḥiyyātuṭ-ṭayyibāt, aṣ-ṣalawātu lillāh; yaitu kerajaan, kekekalan dan keagungan, seluruhnya menjadi hak milik Allah Ta'ala. Demikian pula seluruh salat lima waktu hanya berhak ditujukan kepada Allah. Kemudian: as-salāmu 'alaika ayyuhan-nabiyyu waraḥmatullāhi wabarakātuh, as-salāmu 'alainā wa 'alā 'ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn; yaitu memohon kepada Allah keselamatan dari segala aib, cacat, kekurangan dan kerusakan, kita khususkan doa keselamatan untuk Nabi kita Muhammad ﷺ, kemudian mendoakan keselamatan untuk diri kita, kemudian mendoakan keselamatan untuk hamba-hamba Allah yang saleh yang menegakkan kewajiban mereka berupa hak Allah dan hak hamba-Nya, kemudian membaca syahadat: asyhadu allā ilāha illallāh wa asyhadu anna muḥammadan 'abduhu warasūluh.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- mencontohkan, Dia bertakbir di setiap salat fardu dan salat lainnya pada bulan Ramadan dan lainnya. Ia bertakbir ketika berdiri, kemudian bertakbir ketika rukuk, kemudian mengucapkan "sami'allāhu liman ḥamidah" lalu membaca "rabbanā walakal-ḥamdu" sebelum sujud, kemudian mengucapkan "allāhu akbar" ketika turun sujud, kemudian bertakbir ketika mengangkat kepala dari sujud, kemudian bertakbir ketika bangun dari duduk setelah dua rakaat. Ia melakukan itu di setiap rakaat hingga salatnya selesai, kemudian setelah salam ia berkata, "Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya! Sungguh, aku yang paling mirip dengan salat Rasulullah ﷺ. Seperti inilah salat beliau hingga meninggal dunia."
Muttafaq 'alaihAbu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- mencontohkan sebagian dari tata cara salat Nabi ﷺ. Ia memperagakan ketika akan menegakkan salat. Dia bertakbir ketika berdiri melakukan takbiratul ihram. Kemudian bertakbir ketika berpindah menuju rukuk, ketika sujud, ketika mengangkat kepala dari sujud, ketika sujud yang kedua, ketika mengangkat kepala dari sujud yang kedua, ketika bangkit setelah dua rakaat pertama setelah duduk tasyahud pertama pada salat yang berjumlah tiga rakaat atau empat rakaat. Kemudian ia melakukan hal itu di semua salatnya hingga selesai. Ketika bangkit dari rukuk ia membaca: sami'allāhu liman ḥamidah. Kemudian ketika tegak berdiri, ia membaca: rabbanā lakal-ḥamdu. Kemudian setelah salam, Abu Hurairah berkata, "Demi Tuhan yang jiwaku di tangan-Nya. Sungguh aku yang paling dekat dengan cara salat Rasulullah ﷺ dari kalian, seperti inilah tata cara salat beliau hingga meninggal dunia."
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Pencuri yang paling buruk adalah yang mencuri salatnya." Abu Hurairah bertanya, "Bagaimana ia mencuri salatnya?" Beliau bersabda, "Yaitu ia tidak menyempurnakan rukuk maupun sujudnya."
HR. Ibnu HibbanNabi ﷺ menerangkan bahwa orang yang paling besar dan paling buruk dalam mencuri ialah yang mencuri sebagian salatnya, karena orang yang mengambil harta orang lain seringkali akan ia manfaatkan di dunia. Berbeda dengan pencuri ini, ia mencuri haknya sendiri berupa pahala dan ganjaran akhirat. Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana ia mencuri sebagian salatnya?" Beliau menerangkan, "Dia tidak menyempurnakan rukuk maupun sujudnya, yaitu ia terburu-buru di dalam rukuk dan sujud sehingga tidak melaksanakan keduanya secara sempurna."
Ibnu Abi Aufā -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Rasulullah ﷺ biasa ketika bangun dari rukuk membaca: sami'allāhu liman ḥamidah, allāhumma rabbanā lakal-ḥamdu, mil`as-samāwāti wal-arḍi wa mil`a mā syi`ta min syai`in ba'du (Allah Maha Mendengar orang yang memuji-Nya. Ya Allah, Tuhan kami, hanya milik-Mu seluruh pujian sepenuh langit, sepenuh bumi, dan sepenuh apa pun yang Engkau kehendaki setelahnya)."
HR. MuslimNabi ﷺ biasa ketika bangun dari rukuk dalam salat membaca: Sami'allāhu liman ḥamidah; yakni siapa yang memuji Allah Ta'ala, niscaya Allah Ta'ala mengabulkan permintaannya, menerima pujiannya, dan memberinya pahala. Kemudian beliau memuji Allah dengan mengatakan: Sllāhumma rabbanā lakal-ḥamdu, mil`as-samāwāti wal-arḍi wa mil`a mā syi`ta min syai`in ba'du; yakni pujian yang memenuhi langit dan bumi serta antara keduanya, dan memenuhi segala sesuatu yang dikehendaki Allah.
Warrād, sekretaris Al-Mugīrah bin Syu'bah, meriwayatkan, Al-Mugīrah bin Syu'bah mendiktekan kepadaku isi surat yang akan dikirim kepada Mu'āwiyah: Nabi ﷺ biasa membaca di akhir setiap salat fardu: Lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu, wa huwa 'alā kulli syai`in qadīr. Allāhumma lā māni'a limā a'ṭaita, wa lā mu'ṭiya limā mana'ta, wa lā yanfa'u żal-jaddi minkal-jaddu (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Semua kerajaan milik-Nya dan semua pujian hanya bagi-Nya. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah! Tidak ada yang mampu menghalangi apa yang Engkau beri dan tidak ada yang dapat memberi siapa yang Engkau halangi. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya untuk menghindar dari siksa-Mu).
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ biasa membaca setelah setiap salat fardu: Lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu, wa huwa 'alā kulli syai`in qadīr. Allāhumma lā māni'a limā a'ṭaita, wa lā mu'ṭiya limā mana'ta, wa lā yanfa'u żal-jaddi minkal-jaddu. Ia bermakna: Aku mengikrarkan dan menyatakan kalimat tauhid "lā ilāha illallāh". Ibadah yang benar, aku menetapkannya bagi Allah dan menafikannya dari selain-Nya. Tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah. Aku mengakui bahwa kerajaan hakiki yang sempurna adalah milik Allah dan semua pujian penduduk langit dan bumi adalah hak milik Allah Ta'ala karena Dia yang kuasa atas segala sesuatu dan semua yang ditetapkan oleh Allah berupa pemberian atau penahanan, tidak ada yang dapat menolaknya. Di sisi-Nya, kekayaan orang yang kaya tidak akan berguna baginya karena yang berguna baginya ialah amal saleh.
Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ biasa membaca di antara dua sujud: rabbi-gfir lī, rabbi-gfir lī (Tuhanku, ampunilah aku. Tuhanku, ampunilah aku).
HR. Abu Daud, Nasai, Ibnu Majah, dan AhmadNabi ﷺ ketika duduk di antara dua sujud biasa membaca, "rabbi-gfir lī, rabbi-gfir lī" dan mengulang-ulangnya. Makna "rabbi-gfir lī" ialah permohonan hamba kepada Tuhannya agar mengampuni dosa-dosanya dan menutupi kesalahan-kesalahannya.