





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda, "Ya Allah! Rahmatilah orang-orang yang mencukur (menggundul rambutnya). Mereka berkata, "Dan yang memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?" Beliau mengucapkan, "Ya Allah! Rahmatilah orang-orang yang mencukur." Mereka berkata lagi, "Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?" Beliau mengucapkan, "Ya Allah! Rahmatilah orang-orang yang mencukur." Mereka berkata lagi, "Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?" Beliau mengucapkan, "Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya."
Muttafaq 'alaihMencukur dan memendekkan rambut (kepala) termasuk bagian dari manasik haji dan umrah. Mencukur rambut lebih baik dari sekedar memendekkannya, karena lebih kuat dalam hal penghambaan dan perendahan diri di hadapan Allah dengan menghilangkan total rambut kepala dalam ketaatan kepada Allah -Ta'ālā-. Oleh sebab itu, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tiga kali mendoakan rahmat untuk orang-orang yang mencukur rambut. Orang-orang yang hadir mengingatkan beliau untuk juga mendoakan orang-orang yang memendekkan rambut, namun beliau enggan. Baru di doa ketiga atau keempat, beliau menyertakan orang-orang yang memendekkan rambut dalam doa. Hal ini menunjukkan bahwa mencukur rambut bagi laki-laki lebih afdal. Ini berlaku bila tidak berada dalam umrah haji Tamattu' dan waktu terlalu mepet (dengan pelaksanaan haji), di mana rambut nantinya belum tumbuh untuk dicukur dalam haji. Maka bagi orang yang seperti ini memendekkan rambut lebih afdal, karena ia akan mencukurnya setelah itu (dalam haji).
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallahu 'anhumā-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah menjamak salat Magrib dan Isya. Setiap salat di dahului dengan iqamah. Beliau tidak salat sunah di antara keduanya dan tidak juga di akhir salatnya."
Muttafaq 'alaihKetika matahari tenggelam pada hari Arafah, maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- langsung meninggalkannya menuju Muzdalifah. Di Muzdalifah beliau salat jamak takhir antara Magrib dan Isya dengan mengumandangkan iqamah untuk setiap salat. Beliau tidak salat sunah di antara keduanya demi mengimplementasikan hakikat jamak dan juga tidak (salat sunah) setelahnya, agar beliau bisa istirahat untuk mempersiapkan diri melaksanakan manasik haji selanjutnya.
Busr bin Sa'īd meriwayatkan bahwa Zaid bin Khālid al-Juhaniy -raḍiyallāhu 'anhu- mengutusnya bertemu Abu Juhaim -raḍiyallāhu 'anhu- untuk bertanya tentang apa yang pernah ia dengar dari Rasulullah ﷺ terkait orang yang berjalan di hadapan orang yang sedang salat? Lalu Abu Juhaim berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Seandainya orang yang lewat di depan orang salat itu mengetahui dosa yang dilakukannya, sungguh berdiri selama empat puluh lebih baik baginya daripada lewat di depannya." Abu an-Naḍar berkata, "Aku tidak tahu ia mengatakan: empat puluh hari atau bulan atau tahun?"
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengingatkan agar tidak lewat di depan orang yang sedang mengerjakan salat fardu ataupun sunah. Seandainya orang yang melakukan hal itu dengan sengaja tahu dosa yang akan didapatkannya, maka ia akan memilih menunggu selama empat puluh, dan itu lebih baik baginya daripada lewat di depannya. Abu an-Naḍar, perawi hadis ini, mengatakan, "Aku tidak tahu, apakah beliau menyebutkan empat puluh hari, bulan, atau tahun."
Dari Ummu 'Aṭiyyah Nusaibah Al-Anṣāriyah -raḍiyallāhu 'anhā- ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintah kami membawa keluar gadis-gadis remaja dan wanita-wanita yang dipingit di dua hari raya, dan beliau memerintah wanita-wanita yang sedang haid menjauhi tempat salat kaum Muslimin." Dalam redaksi lain, "Kami diperintah keluar di hari raya, hingga kami mengeluarkan anak gadis dari pingitannya, bahkan sampai wanita-wanita yang sedang haid juga keluar. Mereka bertakbir bersama takbir mereka (kaum Muslimin) dan berdoa dengan doa mereka. Mereka mengharapkan berkah dan kesucian hari tersebut."
Muttafaq 'alaihHari Idul Fitri dan Idul Adha termasuk hari-hari yang diutamakan, di dalamnya syiar Islam terlihat dengan jelas dan persaudaraan kaum Muslimin nampak nyata dengan berkumpul dan berbaris rapat. Semua penduduk negeri membaur dalam satu tanah lapang untuk menunjukkan persatuan, kekompakan dan kesepakatan mereka membela Islam, meninggikan kalimat Allah, berzikir kepada Allah dan menampakkan syiar-syiar-Nya. Oleh sebab itu, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan untuk mengeluarkan semua wanita, hingga para gadis yang dipingit di rumah-rumah dan wanita-wanita yang sedang haid dengan syarat para wanita haid ini berada jauh dari orang-orang yang salat. Agar mereka menyaksikan kebaikan dan doa kaum Muslimin. Sehingga mereka mendapatkan kebaikan dari moment itu dan memperoleh berkah, rahmat dan rida Allah, juga supaya rahmat dan penerimaan doa lebih dekat kepada mereka. Salat dua hari raya hukumnya fardu kifayah.
Dari Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila mendirikan salat, beliau mengucapkan, "Aku hadapkan wajahku kepada Zat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku diperintahkan kepada hal itu dan aku termasuk orang-orang muslim. Ya Allah! Engkau adalah Raja. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau dan Maha Terpuji. Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku telah menzalimi diriku sendiri dan akui dosa-dosaku. Karena itu ampunilah dosa-dosaku semuanya. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni segala dosa melainkan Engkau. Tunjukilah aku akhlak yang paling baik. Tidak ada yang dapat menunjukkannya melainkan hanya Engkau. Jauhkanlah akhlak yang buruk dariku, karena sesungguhnya tidak ada yang sanggup menjauhkannya melainkan hanya Engkau. Akan aku patuhi segala perintah-Mu, dan akan aku tolong agama-Mu. Segala kebaikan berada di tangan-Mu. Sedangkan keburukan tidak datang dari Mu. Orang yang tidak tersesat hanyalah orang yang Engkau beri petunjuk. Aku berpegang teguh dengan-Mu dan kepada-Mu. Tidak ada keberhasilan dan jalan keluar kecuali dari-Mu. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi. Kumohon ampunan dari-Mu dan aku bertobat kepada-Mu”. Apabila beliau rukuk, beliau mengucapkan, "Ya Allah! Aku rukuk untuk-Mu, beriman kepada-Mu dan aku menyerahkan diri kepada-Mu. Pendengaranku, pandanganku, otakku, tulangku dan sarafku tunduk untuk-Mu." Apabila beliau mengangkat kepala, beliau mengucapkan, "Ya Allah Rabb kami! Segala puji milik-Mu sepenuh langit, sepenuh bumi, sepenuh antara keduanya, dan sepenuh sesuatu yang Engkau kehendaki." Apabila bersujud, beliau mengucapkan, "Ya Allah! Aku bersujud untuk-Mu, beriman kepada-Mu, menyerahkan diri kepada-Mu. Wajahku bersujud kepada Zat yang telah menciptakannya, membentuknya, membelah pendengarannya dan penglihatannya. Mahasuci Allah sebaik-baik pencipta." Selanjutnya ucapan terakhir yang dikatakannya antara tasyahud dan salam ialah, "Ya Allah! Ampunilah (dosa) yang telah aku lakukan dan yang akan datang, apa yang aku sembunyikan dan yang terang-terangan, apa yang aku hamburkan dan apa yang lebih Engkau ketahui dariku. Engkaulah Yang Mendahulukan dan Engkaulah Yang Mengakhirkan. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau."
Diriwayatkan oleh MuslimDahulu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila mendirikan salat, beliau mengucapkan, "Aku hadapkan wajahku kepada Zat yang menciptakan langit dan bumi," yakni, aku menghadapkan diriku dengan ibadah. Artinya aku mengikhlaskan ibadahku hanya untuk Allah yang telah menciptakan sesuatu tanpa ada contoh pola sebelumnya dan aku berpaling dari selain-Nya. Sesungguhnya Zat yang telah menciptakan makhluk-makhluk seperti ini yang ada dalam puncak inovasi dan kesempurnaan, tentunya layak semua wajah mengarah kepada-Nya dan semua hati bersandar kepada-Nya di segala keadaan. Tidak boleh berpaling kepada selain-Nya dan tidak berharap kecuali kelanggengan ridha dan kebaikan-Nya. "dengan lurus dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik." Yakni, condong dari setiap agama yang batil ke agama yang benar, agama Islam dengan tetap tegar di atasnya. Menurut orang Arab, ini biasanya terjadi pada orang yang berpegang kepada agama Ibrahim -'alaihissalām-. Lantas beliau bersabda, "Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku diperintahkan kepada hal itu dan aku termasuk orang-orang muslim." Yakni, salatku, ibadahku dan kedekatanku, semua itu murni untuk mencari keridhaan Allah. Aku tidak menyekutukan-Nya di dalam itu semua dengan siapa pun. Ya Allah, Engkau adalah Raja. Demikian juga hidupku dan matiku hanya milik Allah. Dialah Yang menciptakan keduanya dan menetapkan takdirnya. Tidak ada seorang pun yang mengatur, Tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah Mahasuci dalam Zat-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuataan-Nya?" Tuhanku telah memerintahkanku dengan tauhid dan keikhlasan ini dan aku termasuk orang-orang muslim yang tunduk dan patuh kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Lalu beliau mengucapkan, "Ya Allah, Engkau Raja. Tidak ada Ilah yang haq selain Engkau. Engkau Tuhanku dan aku hamba-Mu. Aku telah menzalimi diriku dan mengakui dosaku. Karena itu, ampunilah dosaku seluruhnya. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau." Yakni, ya Allah, Engkaulah Raja, tidak ada Raja selain-Mu. Dan tidak ada kerajaan yang sebenarnya melainkan milik-Mu. Sedangkan Engkau Tunggal, Esa dengan sifat uluhiyah sehingga tidak ada yang dapat disembah kecuali Engkau. Engkau Tuhanku dan aku hamba-Mu. Aku telah melakukan kezaliman dan kelalaian, melakukan maksiat dan dosa dan ku akui dosa-dosa itu, maka ampunilah daku karena tidak ada yang mampu mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau, karena Engkaulah Zat yang Maha Pengampun lagi Penyayang. Kemudian beliau lanjutkan; Tunjukkanlah aku kepada akhlak yang paling baik. Tidak ada yang memberikan petunjuk kepada akhlak yang paling baik kecuali Engkau. Jauhkanlah dariku akhlak yang buruk. Tidak ada yang bisa menjauhkan akhlak buruk dariku kecuali Engkau. Aku mendengar seruan-Mu dan aku sambut gembira. Segala kebaikan berada di tangan-Mu. Sedangkan keburukan tidak datang dari-Mu. Orang yang tidak tersesat hanyalah orang yang Engkau beri petunjuk. Aku berpegang teguh dengan-Mu dan kepada-Mu. Tidak ada keberhasilan dan jalan keluar kecuali dari Mu. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi. Kumohon ampunan dariMu dan aku bertaubat kepada-Mu." Apabila beliau rukuk, beliau mengucapkan, "Ya Allah, aku rukuk untuk-Mu, beriman kepada-Mu, dan aku menyerahkan diri kepada-Mu. Pendengaranku, pandanganku, otakku, tulangku dan sarafku tunduk pada-Mu." Apabila beliau mengangkat kepala, beliau mengucapkan, "Ya Allah Tuhan kami, segala puji milik-Mu sepenuh langit, sepenuh bumi, sepenuh antara keduanya dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki." Apabila bersujud, beliau mengucapkan, "Ya Allah, aku bersujud untuk-Mu, beriman kepada-Mu, menyerahkan diri kepada-Mu. Wajahku bersujud kepada Zat yang telah menciptakannya, membentuknya, membelah pendengarannya dan penglihatannya. Mahasuci Allah sebaik-baik pencipta." Selanjutnya ucapan terakhir yang dikatakannya antara tasyahhud dan salam ialah, "Ya Allah, ampunilah (dosa) yang telah aku lakukan dan yang akan datang, apa yang aku sembunyikan dan yang terang-terangan, apa yang aku hamburkan dan apa yang lebih Engkau ketahui dariku. Engkaulah Yang Mendahulukan dan Engkaulah Yang Mengakhirkan. Tidak ada Ilah yang benar selain Engkau." Yakni, ya Allah, ampunilah aku atas dosa-dosa yang telah aku lakukan dan yang akan aku lakukan." Seakan-akan beliau bersabda, "Ya Allah, ampunilah dosaku yang dulu dan yang sekarang." "apa yang aku sembunyikan dan yang terang-terangan" yakni ampunilah dosa yang aku tampakkan maupun yang ku sembunyikan, dosa yang terbetik di hatiku atau tergerak di lisanku. "apa yang aku hamburkan" yaitu ampunilah aku saat melampaui batas dalam dosa dan maksiat. "dan apa yang lebih Engkau ketahui dariku" yakni ampunilah dosa yang tak aku ketahui. "Engkaulah Yang Mendahulukan dan Engkaulah Yang Mengakhirkan" artinya Engkau kedepankan siapa yang Engkau kehendaki dengan ketaatannya pada-Mu dan Engkau akhirkan siapa yang Engkau kehendaki sesuai dengan hikmah-Mu. Engkau mulyakan hamba yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa saja yang Engkau kehendaki. "Tiada Ilah yang haq selain Engkau" artinya tiada sembahan yang patut disembah selain Engkau.
Dari Auf bin Malik Al-Asyja'i -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Suatu malam aku melaksanakan salat malam bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau berdiri lalu membaca surah Al-Baqarah. Setiap kali melewati ayat tentang rahmat, beliau berhenti lalu memohon. Setiap kali melewati ayat tentang azab, beliau berhenti lalu memohon perlindungan." Auf bin Malik Al-Asyja'i berkata, "Lantas beliau ruku' lama seperti berdirinya. Dalam rukuknya beliau mengucapkan, "Mahasuci Allah Pemilik keperkasaan, kekuasaan, kebesaran dan keagungan." Lantas beliau bersujud lama seperti ukuran berdirinya. Dalam sujudnya beliau mengucapkan sebagaimana dalam rukuknya. Setelah itu beliau berdiri lalu membaca Āli 'Imrān kemudian membaca surah demi surah."
Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadAuf bin Malik Al-Asyja'i -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa dirinya melaksanakan salat malam bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berdiri lalu membaca surah Al-Baqarah. Setiap kali melewati ayat yang menyebutkan rahmat dan surga, beliau pun memohon rahmat dan surga kepada Allah. Setiap kali melewati ayat yang menyebutkan azab, beliau memohon perlindungan kepada Allah dari azab-Nya. Selanjutnya beliau rukuk panjang sesuai dengan ukuran berdirinya. Dalam rukuknya, beliau mengucapkan, "Mahasuci Allah Pemilik Keperkasaan, kekuasaan, kebesaran, dan keagungan." Yakni, aku menyucikan Allah Pemilik keperkasaan dan kekuatan, Pemilik kekuasaan lahir dan batin, Pemilik kebesaran dan Pemilik keagungan, lalu beliau bersujud seperti ukuran lama berdirinya. Lantas dalam sujudnya beliau mengucapkan (doa) sebagaimana dalam rukuk. Setelah itu berdiri lalu membaca Āli 'Imrān, lalu membaca surah demi surah.
Dari Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā-, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila melaksanakan salat tahajud di malam hari, beliau membukanya dengan ucapan, “Ya Allah! Segala puji bagi Engkau. Engkau pemelihara langit dan bumi serta makhluk yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau memiliki kerajaan langit, bumi dan siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau adalah cahaya bagi langit, bumi dan siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau Raja langit dan bumi dan Raja bagi siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkaulah Al Haq. Janji-Mu pasti benar, firman-Mu pasti benar, pertemuan dengan-Mu pasti benar, firman-Mu pasti benar, surga itu benar adanya, neraka itu benar adanya, para nabi itu membawa kebenaran, dan Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- itu membawa kebenaran, hari kiamat itu benar adanya. Ya Allah! Kepada-Mu lah aku berserah diri. Kepada-Mu lah aku beriman. Kepada-Mu lah aku bertawakal. Kepada-Mu aku mengajukan perkara. Dan kepada-Mu aku berhukum. Karena itu, ampunilah aku dari dosa yang telah lalu dan yang akan datang, apa yang aku lakukan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, dan apa yang Engkau lebih tahu dariku. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau.”
Muttafaq 'alaihApabila Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berdiri untuk melaksanakan salat, maka setelah mengucapkan takbiratul ihram, beliau mengucapkan doa, "Ya Allah, Tuhan kami, segala puji milik-Mu," yakni, segala pujian wajib dan menjadi hak Allah Ta'ala. Dia terpuji dalam sifat-sifat-Nya, nama-nama-Nya, nikmat-Nya, kemurahan hati-Nya, penciptaan-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, perintah-Nya dan ketetapan-Nya. Dialah yang terpuji di awal dan di akhir, lahir dan batin. Selanjutnya beliau mengucapkan, "Engkaulah yang menegakkan langit dan bumi." Yakni, Engkaulah yang menegakkannya dari ketiadaan, mengurus keduanya dengan hal-hal yang dapat memperindah dan menegakkannya. Engkaulah Pencipta dan Pemberi rezeki, Pemilik dan Pengatur, Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan. Selanjutnya beliau mengucapkan, "Segala puji hanya milik-Mu. Engkaulah Tuhan langit dan bumi dan makhluk yang ada di dalamnya." Yakni, Engkau Pemilik keduanya dan makhluk yang ada di dalamnya, yang mengatur keduanya dengan kehendak-Mu. Engkau yang mengadakan keduanya dari ketiadaan. Dengan demikian, kerajaan adalah milik-Mu dan tidak ada keterlibatan atau pengaturan seorang pun bersama-Mu. Engkau Maha Suci dan Engkau Maha Luhur. Lalu mengucapkan, "Segala puji hanya milik-Mu. Engkaulah cahaya langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalam keduanya." Di antara sifat Allah ialah cahaya dan Dia tersembunyi dari makhluk-Nya dengan cahaya. Dia Penerang langit dan bumi, Pemberi petunjuk penghuni langit dan bumi, dan tidak boleh menafikan atau menakwilkan sifat cahaya dari Allah Ta'ala. Lalu mengucapkan, "Engkaulah Al-Haq." Al-Haq adalah salah satu nama Allah dan salah satu sifat-Nya. Dia adalah Al-Haq dalam Zat dan sifat-Nya. Dia adalah wajib ada dengan segala sifat dan ciri. Keberadaan-Nya merupakan keharusan Zat-Nya. Tidak ada wujud sesuatu melainkan Dia yang mengadakannya. Lalu mengucapkan, "Firman-Mu adalah benar," apa yang Engkau firmankan adalah benar, hak, dan adil tanpa tercampuri kebatilan dari depan-Nya, dari belakang-Nya, baik dalam kabar-Nya, hukum-Nya, dan syariat-Nya. Tidak juga pada janji dan ancaman-Nya. Lalu mengucapkan, "janji-Mu adalah benar," yakni, Engkau tidak pernah ingkar janji. Apa yang Engkau janjikan pasti akan terjadi sesuai dengan yang telah Engkau janjikan. Tidak ada pergantian dan perubahan di dalamnya. Lalu mengucapkan, "dan pertemuan-Mu adalah benar." Yakni, setiap hamba pasti berjumpa dengan-Nya, lalu mereka diberi balasan atas amal-amalnya. Perjumpaan ini tercakup di dalamnya melihat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Lalu mengucapkan, "Surga itu benar, neraka itu benar," yakni, keduanya sudah ditetapkan dan ada sebagaimana engkau telah diberitahu mengenai hal itu bahwa keduanya sudah disiapkan bagi para penghuninya. Keduanya adalah perkampungan abadi dan kepadanya tempat kembali semua hamba. Lalu mengucapkan, "dan kiamat itu benar." Yakni, terjadinya kiamat adalah sesuatu yang benar tanpa ada keraguan di dalamnya. Ia ditetapkan dan pasti terjadi. Kiamat adalah akhir dunia dan permulaan akhirat. Sabdanya, "Ya Allah, aku menyerahkan diri kepada-Mu," artinya aku tunduk kepada hukum-Mu, menyerahkan diri, dan rela. Sabdanya, "beriman kepada-Mu," yakni, aku membenarkan-Mu dan apa yang Engkau turunkan, dan aku melakukan sebagaimana keharusannya. "bertawakal kepada-Mu," yakni, aku bersandar kepada-Mu dan menyerahkan segala urusanku kepada-Mu. "mengajukan perkara kepada-Mu," yakni, dengan berbagai bukti yang diberikan kepadaku, aku berhujjah kepada pembangkang dan mengalahkannya. "dan mengajukan gugatan kepada-Mu." Yakni, setiap orang yang menolak untuk menerima kebenaran atau mengingkarinya, maka aku mengajukan gugatan kepada-Mu dan aku menjadikan-Mu sebagai penentu keputusan antara aku dengannya, guna menghindari keputusan thaghut berupa undang-undang konvensional atau dukun atau lainnya yang biasanya dijadikan rujukan oleh manusia, berupa hukum-hukum yang batil secara syariat. Sabdanya, "Karena itu, ampunilah aku dari dosa yang telah lalu dan yang akan datang, apa yang aku lakukan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, dan apa yang Engkau lebih tahu dariku." Yakni, ampunilah aku dari dosa yang telah aku kerjakan dan yang akan aku kerjakan, dosa yang tampak pada seseorang dari makhluk-Mu dan apa yang tersembunyi dari mereka dan yang tidak diketahui oleh selain-Mu. Selanjutnya beliau menutup doanya dengan ucapan, "Tidak ada tuhan yang benar selain Engkau." Aku tidak menghadap kecuali kepada-Mu, karena setiap yang dipertuhankan selain-Mu adalah batil dan dakwahnya adalah sesat dan binasa. Inilah tauhid yang dibawa oleh para utusan Allah dan diwajibkan oleh Allah Ta'ala kepada para hamba-Nya.
Dari Abu Sa'd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa seorang lelaki datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu berkata, "Saudaraku mengeluhkan perutnya." Beliau bersabda, "Beri dia minum madu!" Orang itu datang lagi. Beliau bersabda, "Beri dia minum madu!" Orang itu datang untuk ketiga kalinya. Beliau pun bersabda, "Beri dia minum madu!" Orang itu datang lagi dan berkata, "Aku sudah melakukannya." Beliau bersabda, "Allah Maha Benar. Sedangkan perut saudaramu berdusta. Berilah dia minum madu!" Orang itu pun memberinya minum madu lalu sembuh."
Muttafaq 'alaihSeorang lelaki datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu memberitahu beliau bahwa saudaranya menderita sakit di perutnya. Penyakit tersebut ialah diare sebagaimana dijelaskan dalam hadis lainnya. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyuruh lelaki itu agar saudaranya diberi minum madu. Ia pun memberinya minum, tetapi tidak sembuh. Dia pun datang lagi kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu memberitahukan kabarnya. Beliau pun kembali menyuruhnya agar saudaranya diberi minum madu. Ia pun memberinya minum, tetapi belum sembuh juga. Selanjutnya ia datang kembali kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu menyampaikan beritanya. Untuk ketiga kalinya, beliau menyuruh orang itu agar saudaranya diberi minum madu. Ia pun memberinya madu, tetapi tidak kunjung sembuh. Ia pun datang kembali kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan menyampaikan beritanya. Orang itu datang lagi dan berkata, "Aku sudah melakukannya." Beliau bersabda, "Allah Maha Benar. Sedangkan perut saudaramu berdusta. Berilah dia minum madu!" Ini mengandung dua kemungkinan; Pertama, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan hal gaib yang telah diperlihatkan oleh Allah kepadanya dan diberitahukan-Nya dengan wahyu bahwa kesembuhan orang itu dengan madu. Karena itu, beliau berulang-kali menyuruh agar dia diberi minum madu sehingga janji (kesembuhan) itu terbukti. Kedua, ini merupakan isyarat kepada firman Allah -Ta'ālā-, "Di dalamnya ada obat (kesembuhan) bagi manusia." Beliau sudah tahu bahwa jenis penyakit seperti ini dapat sembuh oleh madu. Ketika beliau menyuruh lelaki itu untuk keempat kalinya agar memberi minum madu, lelaki itu pun pergi lalu saudaranya diberi minum madu hingga dengan izin Allah -Ta'ālā- dapat sembuh. Ini tidak mesti semua penyakit bisa sembuh dengan madu kapan saja, dan dengan jenis madu apa saja. Akan tetapi "Untuk setiap penyakit ada obatnya. Jika obat pas dengan penyakitnya maka akan sembuh dengan izin Allah" sebagaimana disabdakan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. (HR. Muslim 4/1729, nomor 2204)
Dari Abu Salamah bin Abdirrahman bin Auf, ia berkata, "Aku pernah bertanya kepada Aisyah, Ummul Mukminin -raḍiyallāhu 'anhā-, apa doa yang dibaca oleh Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam mengawali salat malamnya?" Aisyah menjawab, "Apabila beliau menegakkan salat malam, beliau membuka salatnya dengan doa, "Ya Allah! Tuhan Jibril, Mikail, dan Israfil. Pencipta langit dan bumi, Zat Yang mengetahui perkara gaib dan tampak. Engkaulah yang menetapkan keputusan apa yang diperselisihkan di antara hamba-hamba-Mu. Tunjukkanlah aku kepada kebenaran yang diperselisihkan (manusia) dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus."
Diriwayatkan oleh MuslimAbu Salamah bin Abdirrahman bin Auf bertanya kepada Aisyah, Ummul Mukminin mengenai doa yang biasa diucapkan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika memulai salat malam?" Aisyah menjawab, "Apabila Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menegakkan salat malam, beliau mengucapkan doa berikut, "Ya Allah, Tuhan Jibril, Mikail, dan Israfil." Pengkhususan ketiga malaikat tersebut dengan penyandaran pada lafal jalālah, padahal Allah -Ta'ālā- Tuhan segala sesuatu, adalah untuk memuliakan mereka dan mengutamakannya dari malaikat yang lainnya. Seakan-akan beliau mendahulukan Jibril, karena dia penjaga kitab-kitab langit. Semua urusan-urusan agama kembali kepadanya. Beliau mengakhirkan Israfil karena dia adalah malaikat yang meniup sangkakala dan dengan itu terjadilah kiamat. Sedangkan yang ditengahnya adalah Mikail karena dia penjaga hujan, tumbuhan dan sebagainya yang berkaitan dengan rezeki yang menjadi bekal di dunia. "Pencipta langit dan bumi," yakni, pencipta dan desainer keduanya. "Yang mengetahui perkara gaib dan yang tampak." Yakni, mengetahui apa yang tidak terlihat oleh hamba-hamba dan apa yang mereka saksikan. "Engkaulah yang menetapkan keputusan apa yang diperselisihkan di antara hamba-hamba-Mu." Yakni, Engkau menetapkan keputusan di antara hamba-hamba mengenai urusan agama yang mereka perselisihkan di hari-hari dunia. "Tunjukanlah aku kepada kebenaran yang diperselisihkan (manusia) dengan izin-Mu." Yakni, tunjukanlah aku kepada yang hak dan kebenaran dalam perselisihan yang terjadi pada manusia mengenai berbagai urusan agama dan dunia dengan taufik -Mu dan kemudahan-Mu. "Sesungguhnya Engkau menunjukkan siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus." Yakni, sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa saja yang Kau kehendaki ke jalan yang hak dan benar.