





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda, "Tolonglah saudaramu ketika dia berbuat zalim atau dizalimi." Lantas seorang laki-laki bertanya, "Wahai Rasulullah, aku akan menolongnya jika ia dizalimi. Namun, bagaimana pendapat Anda jika ia adalah pelaku kezaliman, bagaimanakah caraku menolongnya?" Beliau menjawab, "Hendaklah engkau menghalanginya -atau: mencegahnya- dari kezaliman itu. Demikianlah cara menolongnya."
HR. BukhariNabi Muhammad ﷺ memerintahkan seorang muslim agar menolong saudaranya sesama muslim, baik ketika dia berbuat zalim ataupun menjadi orang yang terzalimi. Hal tersebut membuat seorang laki-laki bertanya, "Wahai Rasulullah, aku dapat menolongnya jika ia dizalimi dengan cara menghilangkan kezaliman itu darinya. Lalu, bagaimana caraku menolongnya jika ia berbuat zalim?" Beliau bersabda, "Larang dia, ambil tangannya, dan cegah dia dari kezaliman itu." Itulah wujud menolongnya terhadap setan dan jiwanya yang suka mengajak kepada hal yang buruk.
Dari Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Jangan kalian memakai sutra. Sesungguhnya orang yang memakainya di dunia maka dia tidak akan memakainya di akhirat." Dalam riwayat lain, "Orang yang mengenakan sutra adalah orang yang tidak mendapatkan bagiannya." Dalam riwayat Bukhari disebutkan, "Orang yang tidak mendapat bagiannya di akhirat."
Muttafaq 'alaih dengan dua riwayatnyaNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa sutra itu hanya dipakai oleh laki-laki yang tidak mendapatkan bagian dan jatah di akhirat. Ini adalah ancaman keras, karena sutra itu pakaian wanita dan pakaian penghuni surga. Pakaian itu tidak dipakai di dunia ini kecuali oleh orang yang sombong, takabur, dan congkak. Karena itulah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang mengenakannya. Larangan di sini khusus untuk sutra alami. Akan tetapi, seyogianya orang tidak memakai sutra, meskipun sutra buatan karena mengandung sifat feminin (kemayu) meskipun tidak haram. Komisi Tetap Fatwa membolehkan pemakaian sutra buatan tersebut.
Dari Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', Seusai perang khaibar, sejumlah sahabat pulang dari peperangan dan mereka mengatakan si Fulan syahid, si Fulan syahid, hingga mereka melewati seseorang lalu mereka berkata, Fulan mati syahid. Lalu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, ”Tidak, aku melihatnya masuk neraka karena pakaian atau mantel yang diambilnya.”
Diriwayatkan oleh MuslimUmar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Saat usai perang Khaibar ada sekelompok sahabat datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu mengatakan, "Fulan mati syahid. Fulan mati syahid hingga mereka melewati seseorang lalu berkata, "Fulan mati syahid." Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidak, sesungguhnya aku melihatnya berada di neraka akibat mantel yang disembunyikannya dengan maksud khusus untuk dirinya sehingga ia disiksa karenanya di dalam neraka Jahannam." Dengan demikian, hilanglah darinya predikat terhormat, yaitu mati syahid di jalan Allah 'Azza wa Jalla.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Ada seorang lelaki datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu bertanya, "Wahai Rasulullah! Sedekah apakah yang paling besar pahalanya? Beliau menjawab, "Kamu bersedekah pada saat kamu sehat, saat kamu kikir, saat kamu takut menjadi fakir, dan saat kamu berangan-angan menjadi kaya. Janganlah engkau menunda-nunda sedekah, hingga apabila nyawamu telah sampai di tenggorokan, kamu baru berkata, 'Untuk si fulan sekian dan untuk fulan sekian', padahal harta itu telah (berpindah) menjadi hak si fulan (ahli waris)".
Muttafaq 'alaihSeorang lelaki datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk bertanya mengenai sedekah paling utama. Beliau bersabda kepada orang itu, "Kamu bersedekah pada saat badanmu sehat, jiwamu kikir, saat takut menjadi fakir jika usiamu panjang dan saat berangan-angan kaya. Janganlah engkau mengakhirkan sedekah hingga ketika kematian datang kepadamu dan engkau tahu bahwa engkau akan meninggalkan dunia, engkau katakan bahwa untuk si fulan sekian dari harta yang didapat sebagai sedekah atau wasiat. Untuk si fulan harta sekian sebagai sedekah atau wasiat. Padahal harta itu sudah menjadi milik orang lain yang mewarisimu.
Ali bin Abu Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ memegang sutra dengan tangan kirinya dan emas dengan tangan kanannya, lalu mengangkat keduanya seraya bersabda, "Sungguh kedua bahan ini diharamkan bagi laki-laki dari kalangan umatku dan dihalalkan bagi wanitanya."
HR. Abu Daud, Nasai, dan Ibnu MajahNabi ﷺ mengambil sehelai pakaian yang terbuat dari sutra atau selembar sutra dengan tangan kirinya dan mengambil perhiasan emas atau semisalnya dengan tangan kanannya kemudian beliau bersabda: Sutra dan emas haram dipakai oleh laki-laki, adapun bagi wanita maka hukumnya halal.
Dari Abu Mas'ūd Al-Badri -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Ada seorang sahabat mengundang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- makan yang dibuatnya untuk beliau yang cukup untuk lima orang. Lalu ada seseorang yang ikut dengan mereka. Ketika sampai di pintu, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Orang ini ikut dengan kami, jika engkau menghendaki, engkau bisa mengizinkannya (masuk). Jika engkau tak berkenan, ia bisa kembali pulang." Ia berkata, "Tentu aku mengizinkannya, wahai Rasulullah."
Muttafaq 'alaihSeseorang mengundang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk makan. Jumlah mereka lima orang, lalu ada seseorang yang mengikuti mereka sehingga jumlahnya menjadi enam. Saat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tiba di rumah orang yang mengundang, beliau meminta izin untuk orang keenam. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Orang ini ikut dengan kami, jika engkau menghendaki, engkau bisa mengizinkannya (masuk). Jika engkau tak berkenan, ia bisa kembali pulang." Orang yang mengundang itu mengizinkan lelaki tersebut bergabung sebagai penghormatan kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan orang-orang yang bersamanya.
Dari Ka'ab bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku pernah melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- makan dengan tiga jarinya. Apabila sudah selesai, beliau menjilatinya."
Diriwayatkan oleh MuslimNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- makan dengan menggunakan tiga jari, yaitu jari tengah, telunjuk dan jempol. Ini menunjukkan sifat tidak rakus ketika makan. Apabila beliau telah selesai makan, beliau menjilati jari-jarinya. Jadi dianjurkan untuk makan dengan tiga jari, kecuali jika makanan itu tidak mungkin diambil dengan tiga jari, maka makan dengan cara yang memungkinkan.
Dari Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, “Kami pernah melakukan safar bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, di antara kami ada yang berpuasa dan ada juga yang tidak berpuasa”. Kemudian di hari yang sangat terik itu kami berhenti di suatu tempat dan orang yang bisa berteduh hanyalah orang yang mempunyai pakaian, bahkan di antara kami ada yang berlindung dari sinar matahari hanya dengan tangannya saja. Maka orang-orang yang berpuasa pun berjatuhan, dan sebaliknya orang-orang yang tidak berpuasa bangkit, kemudian mendirikan tenda dan memberi minum hewan tunggangan mereka. Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun bersabdaو "Hari ini mereka yang berbuka telah menuai pahala."
Muttafaq 'alaihPara sahabat pernah bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam sebuah safar. Di antara mereka ada yang tidak melaksanakan puasa dan ada juga yang berpuasa. Dan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membenarkan setiap dari mereka berdasarkan kondisinya. Kemudian pada suatu hari yang sangat terik, mereka berhenti di suatu tempat untuk beristirahat dari lelahnya perjalanan dan teriknya suasana yang sangat panas. Ketika mereka berhenti di waktu yang sangat panas di tengah hari tersebut, orang-orang yang berpuasa berjatuhan karena panas dan kehausan sehingga mereka tidak dapat bekerja. Adapun orang-orang yang tidak berpuasa mereka bangkit lalu mendirikan kemah-kemah, memberi minum unta dan membantu saudara-saudara mereka yang berpuasa. Tatkala Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melihat pekerjaan mereka dan apa yang mereka lakukan untuk membantu pasukan, beliaupun memotivasi mereka serta menjelaskan keutamaan mereka dan bersabda, “Hari ini mereka yang berbuka telah menuai pahala."
Dari Abdullah bin Zaid bin 'Āshim berkata ketika Allah mengaruniakan rampasan perang (fai) kepada Rasul-Nya pada perang Hunain, beliau membagikannya kepada kaum muslimin dan para muallaf, dan beliau tidak memberikan kepada kaum Ansar sedikitpun, maka merekapun merasa kecewa karena tidak mendapatkan apa diberikan kepada orang lain. Kemudian Rasulullah berkhutbah di hadapan mereka dengan berkata, "Wahai kaum Ansar! Bukankah aku dapati dahulu kalian dalam kesesatan kemudian Allah berikan kalian petunjuk denganku? Dahulu kalian berpecah belah kemudian Allah persatukan kalian denganku? Dahulu kalian kekurangan kemudian Allah cukupkan kalian dengan kedatanganku?" Setiap Rasulullah mengatakan sesuatu merekapun menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih baik." Beliau berkata, "Apa yang menghalangi kalian tidak menjawab pertanyaan Rasullullah?" Mereka berkata, "Allah dan Rasul-Nya lebih baik." Beliau bersabda, "Seandainya kalian mau, kalian akan mengatakan, Engkau telah datang kepada kami dengan begini dan begitu. Tidakkah kalian rida jika manusia pulang membawa kambing dan unta sedang kalian pulang bersama Rasulullah menuju tempat tinggal kalian, seandainya bukan karena hijrah maka sungguh aku adalah orang Ansar, seandainya orang-orang berjalan melewati suatu lembah dan bukit maka sungguh aku akan melewati lembah dan bukit kaum Ansar. Kaum Ansar laksana orang-orang yang memakaikan (mengenakan) dan selain mereka bagaikan selimutnya. Sesungguhnya kalian akan mendapati sesudahku orang-orang yang egois, maka bersabarlah sampai kalian bertemu denganku di telaga".
Muttafaq 'alaihKetika Allah mengaruniakan kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- harta rampasan perang yang banyak pada perang Ḥunain dan setelah beliau selesai mengepung kota Ṭāif, beliau kembali mendatangi harta rampasan perang tersebut. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberikannya kepada orang-orang yang baru masuk Islam untuk melembutkan hati mereka, akan tetapi sebagian orang Ansar tidak setuju dengan tindakan ini. Adapun orang-orang pilihan dari mereka, mereka tahu bahwa apa yang Rasulullah lakukan adalah benar. Ketika sampai ke telinga beliau apa yang mereka katakan; yang mana sebagian mereka mengatakan, "Rasulullah memberikan rampasan perang kepada kaum yang mana pedang-pedang bertetesan darah mereka dan tidak memberikan kepada kita", maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- segera mengumpulkan mereka di suatu kubah dan mereka pun berkumpul, kemudian Rasulullah mengatakan, "Perkataan apa yang sampai kepadaku dari kalian...dst. Maka Rasulullah pun menegur mereka dan mengakui jasa- jasa besar mereka (kaum Ansar) dalam menolong Rasulullah dan agama Islam yang ia bawa. Hati merekapun menjadi tenanglah dan mereka pun tahu besarnya nikmat yang Allah berikan untuk mereka yaitu bersahabat dengan Rasulullah, dan mereka pun pulang bersama Rasulullah ke kampung mereka, ditambah lagi dengan apa yang Allah siapkan untuk mereka di akhirat; yaitu balasan atas apa yang telah mereka kerjakan dan mereka korbankan. Oleh sebab itu, Rasulullah menyuruh mereka untuk bersabar menghadapi sifat keegoisan yang akan mereka hadapi sepeninggal beliau.