





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhuma- bahwa Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Bersegeralah kalian memasuki subuh dengan witir!"
Diriwayatkan oleh MuslimMakna hadis: Disunnahkan mengakhirkan salat witir sampai ujung malam. Hanya saja, hendaknya orang yang menangguhkan witirnya sampai akhir malam itu waspada dan bersegera menunaikannya sebelum terbit fajar. Sebab, akhir waktu salat malam adalah terbitnya fajar. Jika fajar telah terbit sebelum melaksanakan salat witir, maka telah luput darinya keutamaan.
Dari Abu Mas'ūd Al-Badri -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Ada seorang lelaki dari orang-orang sebelum kalian dihisab. Ternyata tidak ditemukan sedikit pun kebaikan padanya. Hanya saja ia bergaul baik dengan manusia dan ia adalah orang yang berkecukupan. Ia memerintahkan kepada para pegawainya agar memaafkan orang-orang yang kesulitan membayar utangnya. Allah -'Azza wa Jalla- berfirman, "Kami lebih berhak untuk berbuat begitu daripada dia, maka maafkanlah dia!"
Diriwayatkan oleh Muslim"Ada seorang lelaki dihisab" yakni, Allah -Ta'ālā- menghisab amal-amal yang sudah dikerjakannya. "dari orang-orang sebelum kalian." dari umat-umat terdahulu. "Ternyata tidak ditemukan sedikit pun kebaikan padanya." Yakni, amal-amal saleh yang mendekatkan dirinya kepada Allah -Ta'ālā-. "Hanya saja ia bergaul dengan manusia, dan ia adalah orang yang berkecukupan." Yakni, berinteraksi dengan mereka dalam jual-beli dan memberikan utang, dan ia adalah orang kaya. "Dia memerintahkan kepada para pegawainya agar memaafkan orang-orang yang kesulitan membayar utangnya." Yakni, dia memerintahkan kepada para pelayannya saat mengumpulkan hutang dari orang lain agar berlapang dada kepada orang-orang yang kesulitan, yaitu orang fakir yang berutang serta tidak mampu membayarnya, hendaknya mereka menangguhkannya sampai berkecukupan atau menggugurkan hutangnya. "Allah -'Azza wa Jalla- berfirman, "Kami lebih berhak berbuat begitu daripada dia, maafkanlah dia!" Yakni, Allah memaafkannya sebagai balasan atas kebaikannya kepada manusia, berlemah-lembut kepada mereka dan memudahkan urusan mereka.
Dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Bani Salamah ingin pindah ke dekat masjid, lantas hal itu sampai kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau bersabda kepada mereka, "Sesungguhnya aku mendengar berita bahwa kalian ingin pindah ke dekat masjid?" Mereka berkata, "Benar, wahai Rasulullah, kami menginginkan itu." Beliau bersabda, "Bani Salamah, tetaplah di tempat tinggal kalian, langkah-langkah kalian dicatat! Tetaplah di tempat tinggal kalian, langkah-langkah kalian dicatat!". Dalam riwayat lain, "Sesungguhnya setiap langkah itu bernilai satu derajat."
Bukhari meriwayatkannya seperti ini - Diriwayatkan oleh MuslimMakna hadis: Sesungguhnya Bani Salamah ingin pindah dari tempat tinggal mereka yang jauh dari masjid ke tempat yang dekat dengan masjid. Ternyata Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak suka Madinah menjadi terbuka (bagi musuh). Sebagaimana dalam riwayat Bukhari. Beliau berkeinginan agar Madinah dimakmurkan supaya wibawa kaum muslimin menjadi besar di pandangan orang-orang munafikin dan musyrikin ketika Madinah diperluas. Selanjutnya beliau bertanya kepada mereka, "Sesungguhnya aku mendengar berita bahwa kalian ingin pindah ke dekat masjid?" Mereka menjawab, "Benar, wahai Rasulullah, kami menginginkan itu." Beliau bersabda, "Tetaplah di tempat tinggal kalian, langkah-langkah kalian dicatat." Beliau mengucapkannya dua kali dan menjelaskan kepada mereka bahwa setiap langkah mereka bernilai satu kebaikan atau derajat. Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara mauqūf sampai ke dia, "Sesungguhnya yang paling besar pahalanya di antara kalian adalah orang yang paling jauh rumahnya." Abu Hurairah ditanya, "Kenapa begitu wahai Abu Hurairah?" Ia menjawab, "Karena banyaknya langkah." HR. Malik dalam Al-Muwaṭṭa`. Semakin jauh rumah seseorang dari masjid maka hal itu menjadi tambahan keutamaan dalam derajat dan gugurnya kesalahan-kesalahan. Keutamaan ini dapat terwujud jika seseorang berwudu di rumahnya dan menyempurnakan wudunya, lalu berjalan tanpa menunggang kendaraan, baik sedikit langkah-langkahnya atau banyak, maka setiap langkahnya ditulis untuknya dua hal: Langkah itu mengangkat derajatnya dan menggugurkan dosa-dosanya. Dari seorang sahabat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meriwayatkan secara marfū', "Jika seorang di antara kalian berwudu lalu memperbagus wudunya kemudian pergi salat, tidaklah ia mengangkat kaki kanannya melainkan Allah mencatat untuknya satu kebaikan, dan tidaklah ia meletakkan kaki kirinya melainkan Allah -'Azza wa Jalla- menggugurkan satu kesalahan darinya. Karena itu, hendaknya seseorang dari kalian mendekat atau menjauh." HR. Abu Dawud. Dari Ibnu Abbas bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tuhanku -'Azza wa Jalla- mendatangiku pada malam hari dalam wujud paling baik - aku kira hal ini saat tidur - lalu berfirman, "Wahai Muhammad, tahukah kamu apa yang diperselisihkan oleh Al-Mala'ul A'la?" Nabi menjawab, "Ya, mereka berselisih dalam hal-hal yang menghapus dosa dan derajat." Allah bertanya, "Apakah hal-hal yang menghapus dosa dan derajat?" Nabi bersabda, "Tinggal di masjid setelah salat, berjalan kaki menuju salat berjama'ah, menyempurnakan wudu pada bagian-bagian yang tidak disukai." HR. Ahmad. Ini menunjukkan bahwa meraih derajat hanya dapat terwujud dengan beberapa hal: 1. Berangkat ke masjid dalam keadaan suci. 2. Mengharapkan pahala, berdasarkan hadis, "Sesungguhnya setiap amal itu tergantung niat dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya." Muttafaq 'alaihi. 3. Keluar dari rumahnya hanya untuk tujuan ke masjid. 4. Berjalan kaki dan tidak berkendaraan kecuali karena uzur.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Allah merahmati seorang lelaki yang bangun pada malam hari, lalu ia salat dan membangunkan istrinya. Jika istrinya menolak, ia memercikkan air di wajahnya. Allah merahmati seorang perempuan yang bangun pada malam hari, lalu ia salat dan membangunkan suaminya. Jika suaminya menolak ia memercikkan air di wajahnya."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa barangsiapa bangun pada malam hari lalu melaksanakan salat dan membangunkan istrinya untuk salat. Jika istrinya menolak bangun karena tidur berat dan malas, lalu ia memercikkan air ke wajahnya dengan percikan ringan, maka sesungguhnya lelaki itu berhak mendapatkan rahmat Allah -Ta'ālā-. Demikian juga sebaliknya, jika istri melakukan hal itu kepada suaminya.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, “Salah seorang sahabat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melewati jalan di lereng gunung yang memiliki mata air tawar yang membuatnya takjub. Lalu ia berkata, “Andai aku beruzlah (menyendiri) meninggalkan manusia lalu tinggal di tempat ini. Namun aku takkan melakukannya hingga aku meminta izin kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.” Maka ia pun menyampaikan hal itu kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu beliau bersabda, “Jangan engkau lakukan! Karena keberadaan seorang dari kalian di jalan Allah itu lebih utama daripada salatnya di rumahnya selama 70 tahun. Tidakkah kalian mau Allah mengampuni kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga? Berperanglah di jalan Allah! Siapa yang berperang di jalan Allah walau selama perahan susu unta, maka ia berhak mendapatkan surga.”
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh AhmadMakna hadis: Seorang sahabat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah melewati jalan di lereng gunung yang memiliki mata air tawar, hingga mata air itu membuatnya takjub dan ia ingin menyendiri meninggalkan manusia untuk tinggal di tempat itu guna beribadah kepada Allah dan meminum dari mata air tersebut. Hanya saja sahabat itu -raḍiyallāhu 'anhu- mengatakan, “Aku takkan melakukannya sampai aku meminta izin kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.” Maka ia pun menyampaikan hal itu kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu beliau bersabda, “Jangan engkau lakukan!” Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarangnya melakukan hal itu, karena perang telah wajib untuknya saat itu, sehingga tindakannya menyendiri untuk beribadah adalah satu dosa karena menyebabkan dia meninggalkan kewajiban tersebut. Lalu beliau bersabda, “…karena keberadaan seorang dari kalian di jalan Allah itu lebih utama daripada salatnya di rumahnya selama 70 tahun.” Karena berjihad di jalan Allah itu lebih utama daripada fokus melakukan salat selama 70 tahun; karena manfaat jihad itu memiliki dampak luas daripada salat yang manfaatnya hanya terbatas pada pelakunya. “Tidakkah kalian mau, Allah mengampuni kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga?” Maksudnya: jika kalian mau diampuni dosa-dosa kalian oleh Allah dan dimasukkan ke dalam surga, maka kalian harus berperang di jalan Allah -Ta'ālā- dengan penuh kesabaran dan mengharapkan balasan Allah. Lalu beliau menjelaskan keutamaannya dengan sabda beliau, “Siapa yang berperang di jalan Allah walau selama perahan susu unta, maka ia berhak mendapatkan surga.” Maksudnya: siapa yang berperang di jalan Allah -Ta'ālā- untuk menegakkan kalimat-Nya, maka ia berhak mendapatkan surga, meskipun keikutsertaannya dalam perang hanya sebentar.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Apabila salah seorang di antara kalian bangun pada waktu malam (salat malam), kemudian lisannya berat membaca Al-Qur`ān, dan ia tidak sadar atas apa yang ia katakan, hendaklah ia berbaring (tidur)."
Diriwayatkan oleh MuslimMakna hadis: Bila seorang hamba sedang melaksanakan salat malam kemudian ia susah membaca Al-Qur`ān karena diserang kantuk sehingga tidak sadar atas apa yang diucapkan, hendaknya ia berbaring (merebah tidur) sampai hilang kantuk darinya agar tidak merubah kalamullah dan menggantinya; karena bisa saja ia melakukan sesuatu yang terlarang, seperti membalikkan maknanya, merubah kata-katanya dan mungkin saja ia mendoakan keburukan atas dirinya. Dalam sahih Bukhari dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Jika salah seorang dari kalian mengantuk dalam salat, hendaknya ia tidur sampai menyadari apa yang dibaca."
Sahl -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda, "Sesungguhnya di surga ada satu pintu bernama ar-Rayyān. Pada hari Kiamat kelak, orang-orang yang berpuasa akan masuk dari pintu itu. Tidak ada seorang pun yang masuk selain mereka. Dikatakan, 'Di manakah orang-orang yang berpuasa?' Lantas mereka berdiri, tidak ada seorang pun selain mereka yang masuk dari pintu itu. Jika mereka telah masuk, pintu itu pun ditutup, sehingga tidak ada seorang pun yang masuk dari pintu itu setelahnya."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan bahwa di antara pintu-pintu surga ada yang diberi nama ar-Rayyān. Pada hari kiamat kelak, orang-orang yang berpuasa masuk dari pintu itu dan tidak ada seorang pun selain mereka yang memasukinya. Lantas diumumkan: Di manakah orang-orang yang berpuasa? Maka mereka bangun dan masuk. Tidak ada seorang pun selain mereka yang masuk dari pintu itu. Jika mereka sudah masuk, pintu itu pun ditutup tanpa ada seorang pun yang bisa masuk dari sana setelahnya.
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa berbuka (tidak berpuasa sunah) dalam satu bulan hingga kami mengira bahwa beliau tidak berpuasa sedikitpun selama bulan itu. Dan beliau juga pernah berpuasa (sunah) terus hingga kami mengira bahwa beliau tidak pernah berbuka sama sekali dalam bulan itu. Dan tidaklah engkau ingin melihat beliau pada suatu malam dalam keadaan salat, melainkan engkau melihatnya. Sebaliknya, tidaklah engkau ingin melihat beliau dalam keadaan tidur, melainkan engkau melihatnya juga."
Diriwayatkan oleh BukhariMakna hadis: Anas -raḍiyallāhu 'anhu-memberitahukan keadaan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam berpuasa dan salat malamnya. Ia mengabarkan bahwa beliau senantiasa berbuka (tidak berpuasa sunah) selama satu bulan hingga seseorang menduga bahwa beliau tidak berpuasa sedikit pun dalam bulan itu karena seringnya berbuka. Dan beliau juga biasa berpuasa sunah (hampir sebulan), hingga disangka bahwa beliau tidak pernah berbuka puasa sedikit pun di bulan itu karena banyaknya puasa yang beliau lakukan di bulan itu. Demikian juga Nabi -'alaihi aṣṣalātu wa as-salām tidak terikat waktu tertentu dalam melaksanakan salat malam, tetapi kadang salat di awal malam, kadang juga di tengah malam, dan kadang juga di akhir malam, di mana engkau tidak ingin melihat beliau sedang salat di waktu malam melainkan engkau melihatnya (tidak salat). Sebaliknya, (jika engkau tidak ingin melihat) beliau sedang tidur melainkan engkau melihatnya (tidak tidur). Amal beliau adalah pertengahan antara berlebih-lebihan dan lalai.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah hingga air susu kembali ke teteknya, dan tidak akan berkumpul debu di jalan Allah dengan asap Jahanam."
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh AhmadRasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah. Sebab, biasanya takut itu menuntun orang melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan, hingga susu kembali ke teteknya. Ini merupakan komentar terhadap sesuatu yang mustahil, dan tidak akan berkumpul pada seseorang debu di jalan Allah dengan asap neraka jahanam, seolah-olah keduanya adalah sesuatu yang berlawanan dan tidak pernah berkumpul seperti kondisi dunia dan akhirat.