





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Allah menciptakan makhluk, ketika Allah telah merampungkannya, maka berdirilah rahim lalu memegang pinggang Ar-Raḥmān (Allah Yang Maha Pengasih). Allah berfirman kepadanya, "Menyingkirlah." Rahim berkata, "Ini adalah tempat orang yang berlindung kepadamu dari pemutus kekerabatan." Allah berfirman, "Tidakkah engkau rida Aku menyambung orang yang menyambungmu dan memutus orang yang memutusmu?" Rahim menjawab, "Tentu saja wahai Rabbku." Allah berfirman, "Itu untukmu." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Bacalah jika kalian mau, "Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?" Dalam riwayat Bukhari (disebutkan) bahwa Allah berfirman, "Orang yang menyambungmu maka Aku akan menyambungnya, dan orang yang memutusmu, maka Aku akan memutusnya."
Muttafaq 'alaihSabda Nabi: "Allah menciptakan makhluk, ketika Allah telah merampungkannya", yakni, setelah Allah selesai menciptakan makhluk. Ini menunjukkan bahwa penciptaan itu terjadi pada waktu yang ditentukan, meskipun kekuasaan Allah tidak ada batasnya, dan tidak ada sesuatu pun yang membuatnya lalai dari sesuatu yang lain. Hanya saja hikmah-Nya mengharuskan perbuatan-Nya itu ada waktu tertentu. Ini menunjukkan bahwa perbuatan-perbuatan-Nya berkaitan dengan kehendak-Nya. Jika Dia hendak melakukan sesuatu, Dia pun melakukannya. Maka sabda Nabi, "ketika Allah telah merampungkannya", tidak berarti bahwa Allah telah selesai dari menciptakan segala sesuatu, tetapi makhluk-makhluk Allah -Ta'ālā- masih terus ada bersambung, hanya saja itu sudah diketahui oleh ilmu-Nya, takdir-Nya, dan penulisan-Nya. Kemudian makhluk-makhluk tersebut ada karena kehendak-Nya, sehingga tidak mungkin hal itu ada melainkan telah diketahui oleh ilmu-Nya, takdir-Nya, dan dituliskan-Nya, lalu Dia berkehendak maka hal itu ada. Sabda Nabi, "Maka berdirilah rahim lalu memegang pinggang Ar-Raḥmān (Allah Yang Maha Pengasih), dan Allah berfirman kepadanya, "Menyingkirlah!" Perbuatan yang disandarkan kepada rahim yaitu berdiri dan berkata, secara zahir hadis menunjukkan bahwa perbuatan benar adanya secara lahirnya, meskipun rahim itu adalah makna yang ada pada manusia. Hanya saja kekuasaan Allah tidak bisa diukur oleh nalar manusia. Secara global hadis ini termasuk hadis-hadis sifat di mana para ulama telah menetapkan agar hadis itu dipahami apa adanya, dan mereka menyanggah orang yang menafikan keharusannya. Makna lahir dari hadis ini tidak berarti bahwa Allah memiliki sarung dan selendang sejenis pakaian yang dikenakan oleh manusia yang dibuat dari kulit, rami/lenan, kapas dan sebagainya. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." Sabdanya, "Rahim berkata, "Ini adalah tempat orang yang berlindung kepada-Mu dari pemutus kekerabatan." Ini tempat paling agung, dan orang yang berlindung kepada Allah adalah orang yang memohon perlindungan kepada pelindung paling agung. Ini merupakan dalil pengagungan bersilaturahmi, dan besarnya (dosa) pemutus kekerabatan. "Al-Qaṭī'ah, artinya tidak menyambung." Al-Washlu" artinya berbuat baik kepada kerabat, memperlihatkan cinta kepadanya, dekat dengannya, membantunya, mencegah hal yang menyakitinya, dan berusaha keras untuk mendatangkan apa yang bermanfaat baginya di dunia dan akhirat. Sabdanya, Allah berfirman, "Tidakkah engkau rida Aku menyambung orang yang menyambungmu, dan memutus orang yang memutusmu?" Rahim menjawab, "Tentu saja, wahai Rabbku." Allah berfirman, "Itu untukmu." Orang yang menyambung kekerabatannya, niscaya Allah menyambungnya. Orang yang disambung kekerabatannya oleh Allah, berarti dia sampai kepada segala kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, dan pasti akhirnya adalah berdekatan dengan Rabbnya di surga Firdaus. Sebab, hubungan tidak berakhir kecuali sampai ke sana sehingga dia dapat melihat wajah Rabbnya Yang Mulia. Orang yang memutus kekerabatannya, niscaya Allah memutusnya. Orang yang diputus kekerabatannya oleh Allah maka dialah orang yang terputus. Dia bersama musuh Allah, yaitu setan yang terusir dan terkutuk.
Dari Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Jembatan (Aṣ-Ṣirāṭ) dipancangkan di tengah-tengah Jahanam. Di atasnya terdapat duri seperti duri tumbuhan As-Sa'dān. Selanjutnya manusia diperintahkan untuk melintasinya. Ada orang yang selamat dan terjaga, ada yang kulitnya terkelupas kemudian selamat, dan ada yang tertahan kemudian terbalik di dalam Jahanam." Setelah Allah 'Azza wa Jalla selesai menetapkan keputusan di antara hamba. Kaum Mukminin kehilangan orang-orang yang dulunya bersama mereka di dunia. Mereka salat seperti salatnya, berzakat seperti zakatnya, berpuasa seperti puasanya, menunaikan ibadah haji seperti hajinya, dan berperang (jihad) seperti perangnya. Mereka berkata, "Wahai Tuhanku, sekelompok hamba-hamba-Mu yang dulu bersama kami di dunia. Mereka salat sebagaimana salat kami, berzakat sebagaimana zakat kami, berpuasa sebagaimana puasa kami, menunaikan haji sebagaimana haji kami, berperang sebagaimana perang kami, tetapi kami tidak melihat mereka." Allah berfirman, "Pergilah kalian semua ke neraka. Siapa saja di antara kalian yang menemukan mereka, maka keluarkanlah." Abu Sa'īd Al-Khudri berkata, "Mereka menemukan kaum tersebut sudah dilahap api sesuai dengan kadar amalnya masing-masing. Ada yang dilahap neraka sampai kedua kakinya, ada yang sudah dilahap sampai separuh kedua betisnya, ada yang sudah dilahap sampai kedua lututnya, ada yang sudah dilahap sampai ke kedua teteknya, ada yang dilahap api sampai ke baju bagian bawahnya, dan ada juga yang dilahap neraka sampai ke lehernya tanpa menimpa wajah-wajahnya. Lantas kaum mukminin memohon agar mereka dikeluarkan dari neraka. Selanjutnya mereka dilemparkan ke dalam air kehidupan." Dikatakan, "Wahai Rasulullah, apakah air kehidupan itu?" Beliau bersabda, "Pemandian penghuni surga lalu mereka tumbuh seperti tumbuhnya tanaman." Saat lain beliau bersabda, "Di dalamnya tumbuh seperti tumbuhnya tanaman di buih air bah. Selanjutnya para nabi memberikan syafaat kepada setiap orang yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang benar selain Allah dengan tulus lalu mereka dikeluarkan dari neraka." Beliau bersabda, "Selanjutnya Allah menaruh belas kasihan dengan rahmat-Nya kepada orang yang ada di neraka. Allah tidak membiarkan seorang hamba pun yang di dalam hatinya ada iman seberat biji sawi, melainkan Dia mengeluarkannya dari neraka."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh AhmadPada hari kiamat kelak, Allah -'Azza wa Jalla- meletakan jembatan (Aṣ-Ṣirāṭ) di tengah-tengah Jahanam. Di atas jembatan itu terdapat duri yang keras. Selanjutnya manusia diperintahkan untuk melintasinya. Di antara mereka ada yang selamat dan terjaga serta tidak dijilat neraka. Ada yang kulitnya terkelupas lalu terjaga dan diselamatkan. Ada juga yang jatuh ke dalam Jahanam. Setelah Allah -'Azza wa Jalla- selesai menghisab hamba-hamba-Nya dan memasukkan penghuni surga ke surga dan penghuni neraka ke neraka, kaum mukminin penghuni surga tidak menemukan sekelompok manusia yang dulunya bersama mereka di dunia. Mereka salat, berzakat, berpuasa, menunaikan ibadah haji dan berjihad bersama mereka. Lantas mereka bertanya kepada Allah -'Azza wa Jalla-, "Sesungguhnya kami tidak melihat sekelompok orang bersama kami di surga, padahal mereka itu dulunya melaksanakan salat, berzakat, berpuasa, menunaikan ibadah haji dan berjihad bersama kami di dunia?" Allah berfirman kepada mereka, "Pergilah kalian semua ke neraka. Apabila kalian menemukan seorang saja dari mereka di neraka, maka keluarkanlah ia darinya!" Lantas mereka menemukan orang-orang tersebut sudah dilahap api neraka sesuai kadar amalnya masing-masing. Di antara mereka ada yang sudah dilahap api neraka sampai kedua kakinya, ada yang sudah dilahap sampai separuh kedua betisnya, ada yang sudah dilahap sampai kedua lututnya, ada yang sudah dilahap sampai perutnya, ada yang sudah dilahap sampai kedua teteknya, dan ada juga yang sudah dilahap sampai ke lehernya. Hanya saja api neraka tidak sampai ke wajahnya. Selanjutnya kaum mukminin meminta syafaat untuk mereka. Mereka pun dikeluarkan dari neraka dan dilemparkan ke dalam air kehidupan. Yaitu air yang dapat menghidupkan orang yang telah dicemplungkan ke dalam neraka. Mereka pun tumbuh seperti tumbuhnya tanaman di tempat aliran banjir. Setelah itu para nabi memberikan syafaat kepada setiap orang yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang benar selain Allah dengan ikhlas dari dalam hatinya. Mereka dikeluarkan dari neraka. Kemudian Allah menaruh belas kasihan dengan rahmat-Nya kepada orang yang ada di neraka. Dia tidak membiarkan di dalam neraka ada seorang pun yang di dalam hatinya terdapat iman seberat biji, melainkan Dia mengeluarkannya dari neraka.
Dari Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfu, “Tuhan kita akan menyingkapkan betis-Nya, sehingga bersujud kepada-Nya semua laki-laki dan wanita beriman. Lantas tertinggal mereka yang biasa sujud di dunia karena ria dan sum’ah (mencari popularitas). Dia ingin sujud, tetapi punggungnya menjadi satu ruas saja (tak dapat ditekuk)."
Muttafaq 'alaihAllah -Subḥānahu wa Ta'ālā- menyingkapkan betis-Nya yang mulia. Lantas seluruh laki-laki dan wanita yang beriman bersujud kepada-Nya. Adapun orang-orang munafik yang dulu bersujud di dunia agar dilihat manusia, maka mereka terhalang untuk sujud dan punggung-punggung mereka menjadi tulang punggung yang rata (tak beruas). Mereka tidak bisa lagi membungkuk dan sujud, karena mereka sebenarnya dulu tidak bersujud untuk Allah di dunia. Dulu mereka bersujud demi berbagai kepentingan duniawi. Betis di sini tidak boleh ditakwilkan dengan makna ketakutan atau bencana dan sebagainya, tetapi harus menetapkannya sebagai sifat bagi Allah -Ta'ālā- tanpa mempertanyakan bagaimana ataupun penyerupaan, juga tanpa ada penyimpangan dan pengosongan makna.
Abdullah bin 'Amr bin al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Nabi ﷺ ketika masuk masjid membaca, "A'ūżu billāhil-'aẓīm wa biwajhihil-karīm wa sulṭānihil-qadīm minasy-syaiṭānir-rajīm (Aku berlindung kepada Allah Yang Mahaagung dan dengan wajah-Nya yang mulia serta kekuasaan-Nya yang kidam (tak bermula) dari setan yang terkutuk)." Ada orang yang bertanya (kepada Abdullah bin 'Amr), "Apakah cukup begitu?" Aku (Abdullah) menjawab, "Ya." Rasulullah bersabda tentang doa ini, "Jika seseorang mengucapkan itu, setan berkata, 'Orang itu dijaga dariku sepanjang hari ini.'"
HR. Abu DaudNabi ﷺ ketika masuk masjid biasa membaca: A'ūżu billāhil-'aẓīm; artinya: Aku berlindung dan berdoa kepada Allah dan dengan sifat-sifat-Nya. Wa biwajhihil-karīm; artinya: dan dengan wajah-Nya yang mahabaik dan dermawan. Wa sulṭānihi; artinya: kekuatan dan kekuasaan-Nya atas siapa saja yang Dia kehendaki di antara makhluk-Nya. Al-qadīm; artinya: yang azali nan abadi. Minasysyaiṭānirrajīm; artinya: dari setan yang dijauhkan dan diusir dari rahmat Allah. Arti doa ini adalah: Ya Allah, jagalah aku dari bisikan, godaan, langkah, bujukan dan penyesatan setan; sungguh setan adalah penyebab kesesatan dan pengobar penyimpangan dan kemaksiatan. Lalu Abdullah bin 'Amr bin al-'Āṣ ditanya: Apakah itu saja? Yakni, apakah Nabi ﷺ hanya membaca itu saja? Ia menjawab: Ya. Apabila orang yang masuk masjid membaca doa ini, setan akan mengatakan: orang yang masuk ini telah melindungi diri dariku di semua waktu; siang dan malamnya.
Dari Al-Mugīrah bin Syu'bah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Sa'ad bin 'Ubādah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Seandainya aku melihat seorang lelaki bersama istriku, niscaya aku tebas dia dengan pedang tanpa ada ampun baginya." Ucapan tersebut sampai kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau pun bersabda, "Apakah kalian heran dengan kecemburuan Sa'ad. Demi Allah, sungguh, aku lebih cemburu darinya, dan Allah lebih cemburu dariku. Karena kecemburuan itulah maka Dia mengharamkan hal-hal keji, yang tampak dan tersembunyi. Tidak ada seorang pun yang lebih cemburu dari Allah. Tidak ada seorang pun yang lebih menyukai uzur (alasan) dari Allah. Karena itu, Allah mengutus para rasul sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan. Tidak ada seorang pun yang lebih menyukai pujian dari Allah. Karena itu, Allah menjanjikan surga."
Muttafaq 'alaihSa'ad bin Ubadah berkata, "Seandainya aku melihat seorang lelaki bersama istriku, niscaya aku tebas dia dengan ketajaman pedang bukan dengan lebarnya." Yakni, niscaya aku membunuhnya tanpa ampun. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah menetapkan hal itu dan mengabarkan bahwa diri beliau lebih cemburu dari Sa'ad dan Allah lebih cemburu darinya. Kecemburuan Allah -Ta'ālā- merupakan jenis sifat-Nya yang khusus. Sifat (cemburu) itu tidak serupa dengan kecemburuan makhluk, tapi itu adalah sifat yang selaras dengan kebesaran-Nya, seperti marah, rida dan berbagai sifat khusus-Nya yang tidak disertai makhluk di dalamnya. Arti Asy-Syakhṣu secara bahasa ialah sesuatu yang terlihat, tinggi, dan tampak. Sementara itu Allah -Ta'ālā- lebih tampak dari segala sesuatu, lebih agung dan lebih besar. Menetapkan kecemburuan bagi Allah tidak akan berbahaya berdasarkan pandangan Ahlussunnah yang terikat dengan apa yang dikatakan Allah dan Rasul-Nya. Selanjutnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Begitu besar kecemburuan Allah maka Dia mengharamkan hal-hal keji, yang tampak dan tersembunyi." Yakni, dampak kecemburuan Allah yaitu Dia melarang hamba-hamba-Nya mendekati hal-hal yang keji. Yaitu sesuatu yang besar dan keji bagi jiwa-jiwa yang suci dan akal-akal yang sehat, seperti zina. Yang tampak artinya mencakup apa yang dilakukan dengan terang-terangan dan apa yang dikerjakan oleh anggota badan meskipun secara sembunyi-sembunyi. Yang batin artinya mencakup apa yang rahasia dan tersembunyi dalam hati. Sabda beliau, "Tidak ada seorang pun yang lebih menyukai uzur dari Allah. Karena itu, Allah mengutus para Rasul sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan." Artinya Allah mengutus para Rasul untuk memaafkan dan mengingatkan makhluk-Nya sebelum menyiksa mereka dengan azab. Ini seperti firman Allah -Ta'ālā-, "Para rasul yang memberi kabar gembira dan memberi peringatan, supaya tidak ada lagi alasan bagi manusia untuk (menyalahkan) Allah sesudah datangnya para rasul itu." Sabda beliau, "Tidak ada seorang pun yang paling menyukai pujian dari Allah. Karena itu, Allah menjanjikan surga." Ini karena kesempurnaan-Nya yang mutlak. Allah -Ta'ālā- mencintai hamba-hamba-Nya yang menyanjung-Nya dan memuji-Nya atas karunia dan kemurahan hati-Nya. Karena itu, Allah bermurah hati kepada mereka dengan segala kenikmatan yang mereka nikmati dan Allah meridai mereka ketika memuji-Nya atas kenikmatan itu. Bagaimanapun mereka menyanjung dan memuji Allah, namun mereka tidak akan bisa sampai kepada sanjungan dan pujian yang layak untuk-Nya. Untuk itu, Dia memuji diri-Nya sendiri lalu menjanjikan surga agar hamba-hamba-Nya banyak memohon padaNya, menyanjungNya dan memujiNya serta berusaha semaksimal mungkin dalam hal ini, karena surga adalah puncak kenikmatan.
Dari Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Tidak ada seorang pun atau tidak ada sesuatu pun yang paling sabar terhadap gangguan yang didengarnya selain Allah. Sesungguhnya mereka menisbahkan anak kepada-Nya, namun Dia tetap memberi mereka keselamatan dan rezeki".
Muttafaq 'alaihSabda beliau, "Tidak ada seorang pun atau tidak ada sesuatu pun yang paling sabar," yakni, Allah -Ta'ālā- lebih sabar dari siapa pun. Di antara nama Allah yang indah ialah Aṣ-Ṣabūr (Maha Penyabar). Artinya Dia tidak tergesa-gesa dalam menimpakan hukuman kepada para pendosa. Kata ini lebih dekat dari makna Al-Ḥalīm (Maha Tabah). Al-Ḥalīm lebih besar peluangnya untuk memberikan selamat dari hukuman. Sabdanya, "terhadap gangguan yang didengarnya selain Allah." Lafal Al-Ażā (gangguan) dalam bahasa adalah sesuatu yang ringan dan dampaknya lemah dalam lingkup kejahatan dan keburukan. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- mengabarkan bahwa hamba tidak akan bisa membahayakan-Nya. Hal ini sebagaimana firman Allah -Ta'ālā-, "Janganlah membuatmu sedih terhadap orang-orang yang bersegera dalam kekafiran. Sesungguhnya mereka itu tidak akan membahayakan Allah dengan sesuatu pun." Allah berfirman dalam hadis qudsi, "Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan mampu mengambil bahaya dari-Ku lalu kalian membahayakan-Ku. Kalian tidak akan mampu mencabut manfaat dari-Ku lalu kalian memberi-Ku manfaat," Allah menjelaskan bahwa makhluk tidak akan bisa membahayakan-Nya, tetapi mereka menyakiti-Nya. Sabdanya, "Sesungguhnya mereka menisbahkan anak kepada-Nya," yakni, bahwa anak Adam menyakiti Allah -Ta'ālā- dan mencela-Nya dengan menyandarkan apa yang Allah Maha Luhur dan Maha Suci dari apa yang disandarkan kepada-Nya, seperti menisbahkan anak kepada-Nya, lawan, dan sekutu dalam ibadah yang seharusnya murni hanya untuk Allah Yang Esa. Sabdanya, "namun Dia tetap memberi mereka keselamatan dan rezeki." Yakni, Allah membalas keburukan mereka dengan kebaikan. Mereka berbuat buruk kepada-Nya dengan celaan dan cemoohan, dan klaim sesuatu di mana Allah Maha Luhur dan Maha Suci dari apa yang mereka lakukan, mendustakan para rasul-Nya, menentang perintah-Nya, dan melakukan perbuatan yang dilarang dari mereka. Dia tetap berbuat baik kepada mereka dengan (memberi) kesehatan tubuh mereka, menyembuhkan penyakit-penyakit mereka, melindungi mereka dari apa yang mengganggu di malam dan siang hari, dan memberikan rezeki kepada mereka dengan menundukkan apa yang ada di langit dan di bumi untuk mereka. Inilah puncak kesabaran, kemurahan hati dan kebaikan. Hanya Allah jua Yang Maha Tahu.
Dari Abu Sa'īd al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu-, kami bertanya, "Wahai Rasulullah! Apakah kita melihat Rabb kita pada hari kiamat?" Beliau bersabda, "Apakah kalian kesulitan ketika melihat matahari dan bulan jika langit bersih tidak berawan?" Kami menjawab, "Tidak." Beliau bersabda, "Sesungguhnya kalian tidak akan kesulitan untuk melihat Rabb kalian pada hari itu, sebagaimana kalian tidak kesulitan untuk melihat keduanya." Selanjutnya beliau bersabda, Seorang penyeru berseru, "Hendaknya setiap kaum pergi menuju apa yang dulu mereka sembah." Lantas penyembah salib bersama salib mereka, para penyembah berhala pergi bersama berhala-berhalanya, dan para penyembah tuhan-tuhan (selain Allah) pergi bersama para tuhan mereka, hingga tersisa orang yang menyembah Allah baik yang saleh ataupun yang bermaksiat, serta beberapa orang Ahli Kitab. Kemudian Jahanam didatangkan dan diperlihatkan seakan-akan fatamorgana. Dikatakan kepada orang-orang Yahudi, "Apa yang dulu kalian sembah?" Mereka menjawab, "Kami menyembah Uzair putra Allah." Dikatakan, "Kalian berdusta. Allah tidak memiliki istri dan putra. Apa yang kalian inginkan?" Mereka menjawab, "Kami ingin agar Engkau memberi minum kami." Dikatakan, "Minumlah", lalu mereka berguguran di Jahanam. Selanjutnya dikatakan kepada orang-orang Nasran, "Apa yang dulu kalian sembah?" Mereka menjawab, "Dulu kami menyembah Almasih putra Allah." Dikatakan kepada mereka, "Kalian berdusta. Allah tidak memiliki istri dan putra. Apa yang kalian inginkan?" Mereka menjawab, "Kami ingin agar Engkau memberi minum kami." Dikatakan kepada mereka, "Minumlah", lalu mereka berguguran di Jahanam, hingga tersisa orang-orang yang menyembah Allah baik yang saleh ataupun yang bermaksiat. Dikatakan kepada mereka: "Apa yang menghalangi kalian, padahal orang-orang sudah pergi?" Mereka berkata, "Kami telah berpisah dengan mereka (di dunia), padahal hari ini kita lebih membutuhkan kepadanya dan sesungguhnya kami mendengar penyeru berseru, "Hendaknya setiap kaum bergabung dengan apa yang mereka sembah. Sesungguhnya kami hanya menunggu Rabb kami." Lantas Allah Yang Maha Perkasa mendatangi mereka dalam bentuk yang berbeda dengan bentuk yang pernah mereka lihat pertama kali. Allah berfirman, "Aku Rabb kalian." Mereka berkata, "Engkau Rabb kami." Tidak ada yang berbicara kepada-Nya kecuali para nabi. Allah bertanya, "Apakah antara kalian dengan Dia ada tanda yang kalian kenal?" Mereka berkata, "Betis." Lantas Allah menyingkapkan betisnya. Tiba-tiba setiap orang yang beriman sujud kepada-Nya dan tersisa orang yang bersujud kepada Allah karena ria dan ingin popularitas, dan mereka ini akan bersujud tetapi punggungnya kaku bagaikan pelat yang rata. Kemudian dibentangkan jembatan lalu diletakkan di antara dua tepi Jahanam." Kami bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah jembatan itu?" Beliau bersabda, "Jalan yang licin dan membuat tergelincir. Di atasnya ada penyambar-penyambar dan besi-besi pengait, dan pohon berduri yang dibentangkan, yang memiliki duri yang bengkok, yang ada di Najd dan dinamakan as-Sa'dān. Orang mukmin (melintasi) jembatan itu laksana sekejap mata, laksana kilat, laksana angin, laksana kuda-kuda berlari kencang dan kuda tunggangan. Ada yang selamat sentosa, ada yang selamat dalam keadaan tercakar, dan ada yang dicakar di dalam Jahanam hingga orang yang terakhir dari mereka diseret. Kalian sangat memohon kepadaku dalam kebenaran di mana sudah jelas orang mukmin untuk Yang Maha Perkasa (Allah). Ketika mereka melihat bahwa mereka sudah selamat di antara saudara-saudaranya, mereka berkata: "Wahai Rabb kami, saudara-saudara kami. Mereka melaksanakan salat bersama kami, berpuasa bersama kami, dan beramal bersama kami." Allah -Ta'ālā- berfirman, "Pergilah! Siapa saja yang kalian temukan di dalam hatinya ada iman seberat dinar maka keluarkanlah dia!" dan Allah mengharamkan tubuh-tubuh mereka dari neraka. Lantas mereka mendatangi saudara-saudaranya dalam keadaan sebagian mereka sudah tenggelam di neraka sampai kedua mata kakinya, ada yang sampai kedua betisnya. Selanjutnya mereka mengeluarkan orang-orang yang mereka kenal lalu kembali." Allah berfirman, "Pergilah. Siapa saja yang kalian temukan di dalam hatinya iman seberat setengah dinar maka keluarkanlah dia!" Mereka pun mengeluarkan orang-orang yang mereka kenal lalu kembali lagi. Allah berfirman, "Pergilah. Siapa diantara kalian menemukan orang yang dalam hatinya ada iman seberat biji sawi maka keluarkanlah!" Mereka pun mengeluarkan orang-orang yang mereka kenal. Abu Sa'īd berkata, "Jika kalian tidak percaya, bacalah, "Sungguh, Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun seberat zarrah (biji kecil) dan jika ada kebajikan (sekecil zarrah), niscaya Allah akan melipatgandakannya." Para nabi, malaikat dan orang-orang mukmin memberi syafaat. Lantas Allah Yang Maha Perkasa berfirman, "Syafaat-Ku masih ada." Selanjutnya Dia menggenggam satu genggaman dari neraka lalu mengeluarkan beberapa kaum yang sudah terbakar lalu mereka dilemparkan ke dalam sungai di mulut-mulut surga yang bernama air kehidupan. Mereka tumbuh di kedua tepi sungai itu sebagaimana biji tumbuh di tanah bekas banjir yang kalian lihat di sisi batu dan di sisi pohon. Tumbuhan yang mengarah ke matahari menjadi hijau dan tanaman yang mengarah ke naungan (pohon) menjadi putih. Selanjutnya mereka keluar laksana mutiara lalu di leher mereka diletakkan stempel-stempel kemudian mereka masuk surga. Penghuni surga berkata, "Mereka adalah orang-orang yang dimerdekakan oleh Yang Maha Pengasih. Dia memasukkan mereka ke dalam surga tanpa amal yang mereka kerjakan dan tanpa kebaikan yang mereka persembahkan." Lantas dikatakan kepada mereka, "Bagi kalian sebagaimana yang kalian lihat dan yang semisal dengannya."
Muttafaq 'alaihBeberapa sahabat bertanya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Apakah kita melihat Rabb kita pada hari kiamat?" Nabi bersabda kepada mereka, "Ya, kalian akan melihat Rabb kalian pada hari kiamat sebagaimana kalian melihat matahari di tengah hari dan bulan di malam purnama tanpa berdesak-desakan dan tanpa berebut. Sesungguhnya permisalan terjadi hanya pada kejelasan, hilangnya keraguan, kesulitan, dan perselisihan. Ini merupakan permisalan penglihatan dengan penglihatan, bukan penyerupaan yang dilihat dengan yang dilihat. Ru`yah (Penglihatan) ini berbeda dengan ru'yah yang menjadi pahala bagi para wali Allah dan sebagai kehormatan bagi mereka di surga. Penglihatan di sini untuk membedakan antara orang yang menyembah Allah dengan orang yang menyembah selain-Nya. Kemudian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa seorang penyeru berseru pada hari kiamat, "Siapa yang menyembah sesuatu selain Allah, hendaknya ia mengikutinya." Dalam satu riwayat sahih disebutkan bahwa Allah -Subḥanāhu wa Ta'ālā-lah yang menyeru. Lantas orang yang menyembah berhala dikumpulkan dan dicampakkan ke dalam neraka Jahanam. Maka tidak tersisa kecuali orang yang menyembah Allah, baik yang salih ataupun yang bermaksiat, dan sebagian kecil dari sisa-sisa orang Yahudi dan nasrani. Adapun sebagian besar dan mayoritas mereka telah digiring bersama berhala-berhalanya ke dalam neraka. Lantas Jahanam didatangkan dan diperlihatkan kepada manusia di tempat berdiri (mahsyar) tersebut seakan-akan fatamorgana. Selanjutnya orang-orang Yahudi didatangkan lalu dikatakan kepada mereka, "Siapa yang dahulu kalian sembah?" Mereka menjawab, "Kami dahulu menyembah Uzair putra Allah." Dikatakan kepada mereka, "Kalian telah berdusta dalam ucapan kalian, "Uzair putra Allah," karena sesungguhnya Allah tidak menjadikan istri dan anak." Dikatakan kepada mereka, "Apa yang kalian inginkan?" Mereka menjawab, "Kami ingin minum." Sungguh, permintaan pertama mereka adalah air karena di tempat berdiri (mahsyar) tersebut rasa dahaga sangat dahsyat karena beruntunnya kesusahan dan bertubi-tubinya tekanan-tekanan yang menakutkan. Jahanam ditampakkan kepada mereka seakan-akan air, lalu dikatakan kepada mereka, "Pergilah kepada apa yang kalian lihat dan kalian sangka air lalu minumlah." Mereka pun pergi lalu mendapatkan Jahanam yang melahap sebagiannya terhadap sebagian yang lain karena nyalanya yang dahsyat dan benturan gelombang-gelombang nyalanya, sehingga mereka berguguran di dalamnya. Hal seperti itu juga dikatakan kepada orang-orang nasrani setelah mereka. Hingga ketika tidak tersisa selain orang yang menyembah Allah; baik yang salih ataupun yang bermaksiat. Lantas dikatakan kepada mereka, "Apa yang menghalangi kalian tetap berada di tempat berdiri ini, padahal manusia sudah pergi?" Mereka menjawab, "Kami telah memisahkan diri dari mereka di dunia, dan hari ini kami lebih butuh untuk berpisah dengan mereka, karena mereka itu durhaka kepada Allah dan menyalahi perintah-Nya. Selanjutnya kami memusuhi mereka karena hal itu, yakni marah kepada mereka semata-mata karena Allah dan lebih mengutamakan ketaatan kepada Rabb kami. Kami sedang menanti Rabb kami yang dahulu kami sembah di dunia. Tiba-tiba Allah mendatangi mereka dalam bentuk yang berbeda dengan bentuk yang pernah mereka lihat pertama kali. Ini merupakan penjelasan bahwa mereka sudah pernah melihat-Nya dalam bentuk yang mereka kenali sebelum Dia (Allah) mendatangi mereka di kali itu. Tidak sah melakukan penakwilan terhadap makna bentuk di sini, tetapi wajib beriman kepadanya tanpa tahrīf (penyimpangan makna), ta'ṭīl (meniadakannya), takyīf (menanyakan kaifiat), dan tamṡīl (mempermisalkan/menyamakan dengan makhluk). Ketika Allah -Ta'ālā- mendatangi mereka, Dia berfirman kepada mereka, "Aku Rabb kalian." Mereka berkata, "Engkau Rabb kami," karena senang dan gembira dengan itu. Pada saat itu tidak ada yang berbicara kepada Allah -Subḥanāhu wa Ta'ālā- selain para nabi. Lantas Allah bertanya kepada mereka, "Apakah antara kalian dengan-Nya ada tanda yang kalian kenal?" Mereka menjawab, "Betis." Allah -Subḥanāhu- menyingkap betis-Nya sehingga orang-orang mukmin mengenalinya lalu mereka bersujud kepada-Nya. Sedangkan orang-orang munafik yang beribadah karena ria kepada manusia, mereka tidak mampu bersujud dan punggung-punggung mereka berbalik menjadi tegak (tidak beruas). Mereka tidak bisa condong dan sujud karena dahulu semasa di dunia mereka itu sebenarnya sujud bukan karena Allah, tetapi mereka dahulu sujud karena tujuan-tujuan duniawi. Dalam hal ini wajib menetapkan betis sebagai sifat Allah -Ta'ālā-. Dengan demikian, hadis ini dan lainnya merupakan penafsiran terhadap firman Allah -Ta'ālā-, "(Ingatlah) pada hari ketika betis disingkapkan dan mereka diseru untuk bersujud, maka mereka tidak mampu." Penafsiran betis dalam ayat ini dengan (makna) kesulitan atau kesedihan adalah pendapat yang lemah. Dengan demikian, wajib menetapkan sifat betis bagi Allah -Ta'ālā- berdasarkan dalil dari sunah. Sedangkan ayat tersebut sebagai dalil terhadap sifat merupakan pendapat yang kuat dan paling sahih, tentunya tanpa takyīf (menanyakan bagaimana/kaifiat), tamṡīl (mempermisalkan/menyamakan dengan makhluk), tahrīf (penyimpangan makna), dan tanpa ta'ṭīl (menafikan maknanya). Kemudian jembatan didatangkan lalu diletakkan di tengah-tengah Jahanam. Jembatan ini tidak bisa membuat kaki-kaki kokoh di atasnya dan tidak tegak. Di atas jembatan ini ada penyambar-penyambar, yaitu besi bengkok yang tajam untuk memegang orang yang hendak disambarnya. Besi bengkok dan tajam ini menyerupai besi pengait. Di jembatan ini juga ada duri-duri yang tajam dan besar. Manusia melintasi jembatan ini sesuai kadar iman dan amal mereka. Siapa yang imannya sempurna dan amalnya baik serta ikhlas untuk Allah, maka dia melintas dari atas jembatan seperti sekejap mata. Siapa yang (imannya) di bawah itu maka melintasnya sesuai dengan iman dan amalnya. Sebagaimana hal ini sudah diuraikan dalam hadis, dan diumpamakan dengan kilat, angin dan seterusnya. Orang-orang yang melintasi jembatan ada empat golongan: Pertama, orang yang berhasil dan selamat dari penyiksaan. Mereka ini berbeda-beda dalam kecepatan penyeberangan di atas jembatan sebagaimana dijelaskan. Kedua, orang yang selamat dengan luka ringan. Al-Khadsyu adalah luka ringan. Artinya bahwa orang itu terkena jilatan Jahanam atau terkena luka ringan oleh besi-besi pengait dan besi-besi bengkok yang tajam di atas jembatan. Ketiga, yang ditumpuk di neraka dan dilemparkan ke dalamnya dengan kuat. Keempat, orang yang diseret di atas jembatan dengan sekali sambar, amal-amalnya tidak mampu membawanya (melintasi jembatan). Selanjutnya beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Tidak hanya kalian yang lebih gigih memohon kepada Allah Yang Maha Perkasa dalam menuntut al-haq pada hari itu setelah nyata bagi kalian kondisi orang-orang yang beriman." Ini merupakan kemurahan hati Allah dan rahmat-Nya di mana Dia memberikan izin kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dalam permohonan dan permintaan maafnya terhadap saudara-saudara mereka yang dicampakkan ke dalam neraka disebabkan kejahatan-kejahatan mereka yang dahulu mereka perlihatkan kepada Rabb mereka. Meskipun demikian, Allah memberikan ilham kepada orang-orang mukmin yang selamat dari siksa neraka dan ketakutan melintasi jembatan. Allah memberikan ilham kepada mereka untuk memohon kepada-Nya dan (memberi) syafaat pada mereka serta memberi izin dalam hal itu untuk mereka sebagai rahmat dari-Nya (Allah) -Tabāraka wa Ta'ālā- untuk mereka. Mereka berkata, "Wahai Rabb kami, mereka itu adalah saudara-saudara kami yang dahulu salat bersama kami, berpuasa bersama kami, dan beramal bersama kami." Ini Konotasinya adalah bahwa orang-orang yang tidak melaksanakan salat bersama kaum muslimin dan tidak berpuasa bersama mereka, maka mereka tidak akan memberi syafaat kepada mereka dan tidak akan memohon kepada Rabb mereka untuk keselamatan mereka. Ini menunjukkan bahwa orang-orang yang mendapatkan (ampunan) atas permohonan kaum mukminin kepada Rabbnya, mereka ialah orang-orang mukmin yang bertauhid berdasarkan ucapan mereka, "Saudara-saudara kami dahulu melaksanakan salat bersama kami dan puasa bersama kami." Hanya saja mereka melakukan beberapa dosa yang mengharuskan mereka masuk neraka. Ini mengandung bantahan terhadap dua kelompok yang sesat; Khawarij dan Muktazilah atas ucapan mereka, "Sesungguhnya orang yang masuk neraka tidak akan keluar darinya, dan sesungguhnya pelaku dosa besar berada kekal di neraka." Allah -Ta'ālā- berfirman kepada mereka, "Pergilah. Siapa saja yang kalian temukan dalam hatinya iman seukuran dinar, maka keluarkanlah mereka dari neraka!" Allah mengharamkan neraka memakan wajah-wajah mereka. Lantas mereka mendatangi mereka lalu menemukan sebagian mereka telah direnggut oleh neraka sampai mata kakinya dan sebagian lagi sampai ke pertengahan kedua betisnya. Mereka pun mengeluarkan orang-orang yang mereka kenal lalu kembali lagi. Allah berfirman kepada mereka, "Pergilah. Siapa yang kalian temukan iman di hatinya seukuran separuh dinar, maka keluarkanlah ia dari neraka!" Mereka pun mengeluarkan orang yang mereka kenali lalu kembali. Allah berfirman, "Pergilah. Siapa saja yang kalian temukan iman di dalam hatinya seukuran zarrah (biji kecil) maka keluarkanlah ia!" Mereka pun mengeluarkan orang yang mereka kenal. Saat itulah Abu Sa'īd al-Khudri berkata, "Jika kalian tidak mempercayaiku maka bacalah, "Sungguh, Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun sebesar zarrah (biji kecil), dan jika ada kebajikan (sebesar zarrah), niscaya Allah akan melipatgandakannya." Kutipan bukti ayat oleh Abu Sa'īd ini jelas bahwa seorang hamba apabila memiliki iman seberat zarrah, sesungguhnya Allah melipatgandakannya untuknya lalu menyelamatkannya disebabkan iman tersebut. Kemudian beliau bersabda, "Selanjutnya para nabi, malaikat dan orang-orang mukmin memberi syafaat." Ini jelas sekali bahwa ketiga golongan ini kelak akan memberi syafaat. Hanya saja harus diketahui bahwa syafaat dari seorang pemberi syafaat tidak akan terjadi kecuali setelah Allah memberinya izin dalam hal itu sebagaimana sudah dijelaskan dalam permohonan mereka kepada Rabbnya. Lantas Dia memberi izin untuk mereka lalu berfirman, "Pergilah. Siapa yang kalian temukan..." sampai akhirnya. Sabda beliau, "Yang Maha Perkasa berfirman, "Syafaat-Ku masih ada." Lantas Dia menggenggam satu genggaman dari neraka lalu mengeluarkan beberapa kaum yang sudah terbakar." Yang dimaksud syafaat Allah -Ta'ālā- adalah rahmat-Nya untuk orang-orang yang disiksa lalu mengeluarkan mereka dari neraka. Sabdanya, "Lantas Dia menggenggam satu genggaman" mengandung penetapan sifat penggenggaman bagi Allah -Ta'ālā-. Banyak sekali dalam Al-Qur`ān dan Sunnah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- nas yang menetapkan tangan dan genggaman. Hanya saja ahli takwil yang sesat dan menyimpang enggan menerima hal itu dan tidak beriman kepadanya. Mereka akan tahu bahwa kebenaran itu apa yang difirmankan Allah dan disabdakan Rasul-Nya, dan sesungguhnya mereka telah menempuh jalan yang sesat dalam bab ini. Allah -Ta'ālā- menggenggam satu genggaman dari neraka lalu mengeluarkan beberapa kaum yang sudah terbakar dan berubah menjadi arang. Sabdanya, "Lalu mereka dilemparkan ke dalam sungai di mulut-mulut surga yang dinamakan air kehidupan. Kemudian mereka tumbuh di kedua tepi sungai itu." Yakni, mereka dilemparkan ke dalam sungai di ujung-ujung surga yang dikenal dengan air kehidupan. Yaitu air yang dapat menghidupkan orang yang tenggelam di dalamnya. Saat itulah tumbuh daging-daging, penglihatan-penglihatan dan tulang-belulang mereka yang telah terbakar (api neraka) di tepi sungai tersebut. Sabdanya, "Sebagaimana biji tumbuh di tanah yang dibawa banjir. Kalian kadang melihatnya di sisi batu dan di sisi pohon. Tumbuhan yang mengarah ke matahari maka berwarna hijau. Sedangkan yang mengarah ke naungan maka menjadi putih." Yang dimaksud dengan hal itu adalah kecepatan keluarnya daging-daging. Sebab, tumbuhan yang dibawa banjir -sebagaimana disebutkan- keluar dengan cepat. Untuk itu, yang ada di sisi naungan menjadi putih, dan dari sisi matahari menjadi hijau. Hal ini karena kelemahannya dan ketipisannya. Hanya saja proses tumbuhnya mereka tidak harus seperti itu -sebagaimana dikatakan oleh sebagian mereka bahwa tumbuhan yang ada di sisi surga berwarna putih, dan yang ada di samping neraka berwarna hijau- Tetapi yang dimaksud adalah penyerupaan mereka dengan tumbuhan tersebut dalam kecepatan keluarnya dan ketipisannya." Karena itu, beliau bersabda, "Lantas mereka keluar laksana mutiara." Yakni, dalam beningnya kulit mereka dan ketampanannya. Sabdanya, "Lalu di leher-leher mereka diletakkan stempel-stempel." Di stempel-stempel itu tertulis, "Orang-orang yang dibebaskan Yang Maha Pengasih dari neraka." Hal ini sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain. Sabdanya, "Mereka masuk surga. Lantas penghuni surga berkata, "Mereka adalah orang-orang yang dibebaskan oleh Yang Maha Pengasih. Dia memasukkan mereka ke surga tanpa amal yang mereka kerjakan dan tanpa kebaikan yang mereka persembahkan." Maksudnya mereka itu tidak melakukan kebaikan di dunia, tetapi mereka hanya memiliki pokok iman, yaitu kesaksian bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan beriman kepada Rasul mereka." Sabdanya, "Lalu dikatakan kepada mereka, "Bagi kalian sebagaimana yang kalian lihat dan yang semisal dengannya." Tampak bahwa mereka itu masuk ke tempat-tempat yang kosong di surga. Makanya hal tersebut dikatakan kepada mereka.
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', Jahanam tidak henti-hentinya berkata, "Apakah ada tambahan?" Hingga Tuhan Pemilik kemuliaan meletakkan kaki-Nya. Jahanam berkata, "Cukup, cukup, demi kemuliaan-Mu!" Lalu neraka satu sama lain saling terlipat.
Muttafaq 'alaihAllah -Ta'ālā- mengabarkan bahwa Dia berfirman kepada Jahanam, "Apakah engkau sudah penuh?" Hal ini disebabkan karena Dia telah berjanji akan memenuhinya dengan jin dan manusia seluruhnya. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- memerintahkan untuk memasukkan orang yang menjadi penghuninya, dan Jahanam berkata, "Apakah ada tambahan?" Yakni, apakah ada sesuatu yang tersisa hendak Engkau tambahkan kepadaku, hingga Allah Tuhan Pemilik kemuliaan meletakkan kaki-Nya di dalamnya. Jahanam berkata, "Ini cukup untukku." Jahanam digenggam dan sebagiannya dihimpun dengan bagian yang lainnya. Tidak boleh menakwilkan sifat kaki kepada orang yang dilemparkan oleh Allah ke neraka dan tidak juga berbagai penakwilan lainnya. Tetapi wajib menetapkan bahwa kaki adalah sifat Allah -Ta'ālā- tanpa adanya perubahan dan pengosongan, juga tanpa ada pertanyaan mengenai bentuknya dan penyerupaan.
Abu Sa'īd al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- memanggil penghuni surga, 'Wahai penghuni surga!' Mereka menjawab, 'Kami menyambut panggilan-Mu, wahai Tuhan kami, demi keridaan-Mu.' Allah bertanya, 'Apakah kalian rida?' Mereka menjawab, 'Wahai Tuhan kami! Bagaimana mungkin kami tidak rida, padahal Engkau telah memberikan kepada kami apa yang tidak Engkau berikan kepada seorang pun di antara makhluk-Mu!' Allah berfirman, 'Aku akan berikan kepada kalian yang lebih utama dari itu?' Mereka bertanya, 'Wahai Tuhan kami! Apakah ada sesuatu yang lebih utama dari itu?' Allah berfirman, 'Aku turunkan keridaan-Ku pada kalian, maka Aku tidak akan murka kepada kalian setelahnya selama-lamanya.'"
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah Ta'ala memanggil penghuni surga saat mereka berada di dalamnya: Wahai penghuni surga! Mereka menjawab: Kami sambut panggilan-Mu, wahai Tuhan kami, demi keridaan-Mu. Allah bertanya kepada mereka: Apakah kalian telah rida? Mereka menjawab: Ya, kami telah rida. Bagaimana mungkin kami tidak akan rida, padahal Engkau telah berikan kepada kami sesuatu yang belum pernah Engkau berikan kepada seorang pun di antara makhluk-Mu. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman: Maukah kalian Aku berikan yang lebih utama dari itu? Mereka menjawab: Wahai Tuhan kami, adakah sesuatu yang lebih utama dari ini?! Allah berfirman: Aku akan turunkan kepada kalian keridaan-Ku yang abadi dan Aku tidak akan marah kepada kalian setelah itu selama-lamanya.