





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa dia mendengar seseorang berkata, "Tidak, demi Ka'bah!" Lantas Ibnu Umar berkata, "Janganlah engkau bersumpah atas nama selain Allah, karena aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Siapa saja yang bersumpah atas nama selain Allah, maka ia telah berbuat kekafiran atau kemusyrikan'."
HR. Abu Daud, Tirmizi, dan AhmadNabi ﷺ menyampaikan bahwa orang yang bersumpah dengan menggunakan nama selain Allah dan sifat-sifat-Nya, maka ia telah kafir kepada Allah atau melakukan kesyirikan. Karena sumpah itu mengandung pengagungan kepada yang digunakan bersumpah, sedangkan keagungan hanyalah milik Allah semata, sehingga seseorang tidak boleh bersumpah kecuali atas nama Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dan sifat-sifat-Nya. Sumpah seperti ini termasuk syirik kecil. Akan tetapi, jika orang yang bersumpah tadi mengagungkan nama tersebut dengan pengagungan yang sama sebagaimana nama Allah Ta'ala atau bahkan lebih, ketika itu ia menjadi syirik besar.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Salat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah salat Isya dan salat Subuh. Andaikata mereka mengetahui keutamaan yang terkandung dalam keduanya, pasti mereka menghadirinya meskipun dengan cara merangkak. Sungguh aku sangat ingin menyuruh seseorang mengumandangkan ikamah, kemudian aku menyuruh seseorang untuk mengimami salat orang-orang, kemudian aku berangkat bersama dengan beberapa orang yang membawa kayu bakar menuju orang-orang yang tidak menghadiri salat, lalu membakar rumah-rumah mereka dengan api."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan perihal orang-orang munafik dan kemalasan mereka untuk menghadiri salat, khususnya salat Isya dan Subuh; bahwa seandainya mereka mengetahui kadar pahala menghadirinya bersama jemaah kaum muslimin, mereka pasti datang menghadiri keduanya walaupun dengan cara merangkak seperti rangkakan anak kecil menggunakan tangan dan lutut. Sungguh Nabi ﷺ pernah bertekad untuk memberikan perintah agar salat dilaksanakan dan ikamah dikumandangkan, lalu beliau menunjuk seseorang menggantikan beliau untuk mengimami orang-orang, kemudian beliau beranjak bersama orang-orang yang membawa beberapa ikat kayu bakar menuju orang-orang yang tidak menghadiri salat jemaah lalu membakar rumah-rumah mereka dengan api. Tetapi, beliau tidak melakukannya karena di dalam rumah terdapat wanita, anak-anak yang masih belum terbebani dan kalangan lainnya yang memiliki uzur dan tidak bersalah.
Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh, termasuk sejelek-jelek manusia adalah orang yang masih hidup saat hari Kiamat tiba dan orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid."
HR. AhmadNabi ﷺ mengabarkan tentang sejelek-jelek manusia, yaitu orang-orang yang masih hidup saat Kiamat terjadi dan orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid dengan salat di sisinya atau menghadap padanya.
Maḥmūd bin Labīd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Hal yang paling aku khawatirkan pada kalian adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya, "Apa syirik kecil itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Yaitu ria. Allah ﷻ akan berfirman pada mereka di hari Kiamat ketika manusia diberikan balasan amal mereka, 'Carilah orang-orang yang kalian bersikap ria di hadapannya saat di dunia, lalu tunggulah, apakah kalian menemukan balasan dari mereka?'"
HR. AhmadNabi ﷺ mengabarkan bahwa hal yang paling beliau khawatirkan pada umatnya ialah syirik kecil, yaitu ria, yang bermakna: beramal karena manusia. Kemudian beliau menyebutkan hukuman untuk orang-orang yang berbuat ria di hari Kiamat, yaitu dikatakan pada mereka: Carilah orang-orang yang dulu menjadi tujuan kalian beramal, lalu tunggu, apakah mereka mampu memberi kalian pahala atas amal itu?!
Adiy bin Ḥātim -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwasanya dia mendengar Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membaca ayat berikut, "Mereka menjadikan para rahib (Yahudi), dan pendeta-pendeta (Naṣrani) mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan (juga) Almasih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Mahasuci Dia dari apa yang mereka persekutukan." Aku berkata kepadanya, "Namun kami tidak menyembah mereka." Beliau bersabda, "Bukankah mereka mengharamkan apa yang dihalalkankan oleh Allah lalu kalian ikut mengharamkannya? Dan mereka menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah lalu kalian ikut menghalalkannya?" Aku katakan, "Benar." Beliau bersabda, "Itulah (yang dimaksud) beribadah kepada mereka."
Diriwayatkan oleh TirmiżiKetika sahabat mulia ini mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membaca ayat yang berisi kabar mengenai orang-orang Yahudi dan Nasrani bahwa mereka menjadikan ulama dan ahli ibadah sebagai tuhan-tuhan mereka, yaitu mereka membuat syariat yang bertentangan dengan syariat Allah lalu mereka menaatinya, dia merasa ada masalah dalam makna ayat tersebut karena dia mengira bahwa ibadah hanya terbatas pada sujud dan sebagainya. Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjelaskan kepadanya bahwa di antara bentuk ibadah kepada orang-orang alim dan para rahib adalah menaati mereka dalam mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, yang berseberangan dengan hukum Allah -Ta'ālā- dan Rasul-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda kepada Mu'āż bin Jabal ketika beliau mengutusnya ke Yaman, "Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum ahli kitab. Jika engkau telah sampai, maka ajaklah mereka agar bersyahadat (bersaksi) bahwa tiada Tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka menaatimu dalam hal itu, beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka untuk melakukan salat lima waktu sehari semalam. Jika mereka menaatimu dalam hal itu, beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka membayar zakat, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka lalu dibagikan kepada orang-orang fakir mereka. Dan jika mereka menaatimu dalam hal itu, maka hindarilah harta-harta berharga mereka saat menarik zakat! Dan takutlah terhadap doa buruk (kutukan) orang-orang yang terzalimi, karena sesungguhnya tiada penghalang antara doa tersebut dan Allah."
Muttafaq 'alaihKetika Nabi ﷺ mengutus Mu'āż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhu- ke negeri Yaman untuk berdakwah dan mengajarkan agama Allah, beliau menjelaskan kepadanya bahwa dia akan menghadapi kaum Nasrani, supaya dia benar-benar siap menghadapi mereka dan memulai dakwahnya kepada mereka secara bertahap dari yang paling penting. Pertama kali agar dia mendakwahi mereka memperbaiki akidah, yaitu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang hak kecuali Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, karena dengan kesaksian tersebut mereka telah masuk Islam. Kemudian, jika sudah mematuhinya dalam hal itu, mereka diperintahkan untuk menegakkan salat; karena ia merupakan kewajiban yang paling besar setelah tauhid. Apabila mereka telah menegakkan salat, maka orang-orang yang kaya di antara mereka diperintahkan untuk membayar zakat harta kepada orang-orang miskin. Kemudian beliau mengingatkannya jangan sampai mengambil harta yang paling bagus, karena yang diwajibkan ialah yang pertengahan. Kemudian beliau berpesan agar dia menjauhi perbuatan zalim; supaya terhindar dari doa buruk orang yang terzalimi, karena doanya mustajab.
Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang nusyrah (praktik melepaskan sihir dengan sihir). Beliau menjawab, "Ia merupakan perbuatan setan."
Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang hukum mengobati orang yang terkena sihir dengan cara yang biasa dilakukan orang-orang jahiliah, seperti melepaskan sihir dengan sihir juga. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab bahwa itu perbuatan setan atau melalui perantaraannya, karena hal itu menggunakan berbagai macam sihir dan penggunaan media berupa bantuan setan. Itu merupakan perbuatan syirik dan haram. Adapun nusyrah (praktik melepaskan sihir) yang dibolehkan ialah melepaskan sihir dengan ruqyah atau dengan mencari media sihir dan melepaskannya dengan tangan disertai bacaan Al-Qur`ān atau dengan obat-obatan yang diperbolehkan.
Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda, "Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku seorang hamba, maka katakanlah: Abdullah (hamba Allah) dan rasul-Nya."
HR. BukhariNabi ﷺ melarang sikap berlebihan dan melampaui batas syariat dalam memuji dan menyifati beliau dengan sifat dan perbuatan-perbuatan yang khusus bagi Allah Ta'ala, seperti: beliau mengetahui perkara gaib, atau berdoa kepada beliau bersama doa kepada Allah, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani kepada Isa bin Maryam -'alaihissalām-. Kemudian beliau menjelaskan bahwa beliau adalah salah satu hamba Allah, dan beliau memerintahkan agar kita menyebutnya 'hamba Allah dan rasul-Nya'.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah! Siapakah orang yang paling beruntung mendapatkan syafaatmu kelak di hari kiamat?" Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh aku telah menduga, wahai Abu Hurairah, bahwa menurutku tidak akan ada yang mendahuluimu untuk bertanya kepadaku tentang hadis ini dikarenakan semangatmu kepada hadis. Orang yang paling beruntung dengan syafaatku kelak di hari kiamat ialah orang yang mengucapkan lā ilāha illallāh secara tulus dari dalam hatinya -atau jiwanya-."
HR. BukhariNabi ﷺ mengabarkan bahwa orang yang paling beruntung mendapatkan syafaat beliau kelak di hari kiamat ialah orang yang mengucapkan "lā ilāha illallāh" tulus dari dalam hatinya. Yakni: tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, serta ia bebas dari kesyirikan maupun ria."