





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Seorang arab badui bertanya kepada Nabi ﷺ tentang hari Kiamat. Dia berkata, "Kapan hari Kiamat akan terjadi?" Beliau ﷺ bersabda, "Apa yang telah engkau siapkan untuk hari Kiamat?" Orang itu menjawab, "Tidak ada. Hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya ﷺ." Beliau bersabda, "Engkau akan bersama orang yang engkau cintai." Anas berkata, "Belum pernah kami bahagia dengan sesuatu seperti bahagianya kami dengan sabda Nabi ﷺ, 'Engkau bersama orang yang engkau cintai.'" Anas melanjutkan, "Sungguh aku mencintai Nabi ﷺ, Abu Bakar dan Umar. Aku berharap akan bersama mereka dengan sebab kecintaanku pada mereka sekalipun aku belum beramal semisal amal mereka."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ ditanya oleh seorang laki-laki badui yang tinggal di padang pasir tentang waktu terjadinya hari Kiamat. Maka Nabi ﷺ balik bertanya: amal saleh apa yang telah engkau siapkan untuk itu? Si penanya menjawab: tidak ada amal besar yang aku persiapkan untuk itu, kecuali kecintaanku kepada Allah dan Rasulullah. Tidak ada yang ia sebutkan selain itu di antara amalan hati, badan ataupun harta karena seluruhnya adalah cabang dan turunan dari cinta. Juga, karena cinta yang tulus adalah pendorong untuk bersungguh-sungguh dalam amal saleh. Nabi ﷺ lalu bersabda: sungguh, engkau akan bersama orang yang engkau cintai di dalam surga. Sahabat-sahabat Nabi ﷺ sontak merasa sangat bahagia dengan kabar gembira itu. Kemudian Anas -raḍiyallāhu 'anhu- menyampaikan bahwa ia mencintai Nabi ﷺ, Abu Bakar dan Umar, dan berharap akan bersama mereka sekalipun amalnya tidak semisal dengan amal mereka.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Maukah kalian aku beritahukan ciri-ciri Dajal yang tidak pernah diberitahukan oleh seorang nabi terdahulu kepada umatnya? Sesungguhnya matanya buta sebelah dan ia datang dengan membawa replika surga dan neraka. Apa yang ia sebut sebagai surga pada hakikatnya adalah neraka. Sungguh, aku memperingatkan kalian tentangnya sebagaimana yang telah diperingatkan oleh Nabi Nuh kepada kaumnya."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan kepada sahabat-sahabatnya tentang Dajal dan ciri-cirinya yang belum pernah disampaikan oleh seorang nabi sebelumnya, di antaranya: 1- Matanya buta sebelah. 2- Allah Ta'ala memberikan padanya replika surga dan neraka menurut pandangan mata. Akan tetapi, surganya adalah neraka, dan nerakanya adalah surga. Siapa yang patuh kepadanya akan dimasukkannya ke dalam surga menurut yang dilihat manusia, tetapi hakikatnya adalah api yang membakar. Sebaliknya, orang yang membangkang padanya akan dimasukkannya ke dalam neraka menurut yang dilihat manusia, tetapi hakikatnya adalah surga yang nikmat. Kemudian Nabi ﷺ mengingatkan fitnah Dajal sebagimana yang telah diperingatkan oleh Nabi Nuh kepada kaumnya.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah kalian memperhatikan siapa yang dijadikan sebagai teman dekat."
HR. Abu Daud, Tirmizi, dan AhmadNabi ﷺ menerangkan bahwa seseorang menyerupai teman dan rekan dekatnya dalam keseharian dan kebiasaannya. Pertemanan memiliki pengaruh terhadap akhlak dan perilaku. Oleh sebab itu, beliau memberikan arahan agar pintar memilih teman karena ia akan membawa temannya pada keimanan dan kebaikan serta menjadi daya dukung bagi temannya.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Bersegeralah untuk beramal saleh sebelum datang berbagai fitnah seperti potongan-potongan malam yang gelap. Imbasnya, pada pagi hari seseorang masih beriman, namun di sore hari ia menjadi kafir. Atau, pada sore hari ia masih beriman, namun di pagi hari ia menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan secuil harta dunia."
HR. MuslimNabi ﷺ mendorong orang beriman agar menyegerakan dan memperbanyak amal saleh sebelum datangnya kesibukan lain dan kondisi tidak memungkinkan karena munculnya berbagai fitnah dan syubhat yang menghalangi hal itu. Fitnah-fitnah itu gelap gulita seperti potongan malam, di dalamnya kebenaran bercampur dengan kebatilan, sehingga manusia kesulitan untuk membedakan keduanya. Saking beratnya, seseorang akan mengalami keguncangan. Sampai-sampai di pagi hari ia masih beriman, namun di sore hari ia menjadi kafir. Atau, di sore hari ia masih beriman, namun di pagi hari ia menjadi kafir. Dia meninggalkan agamanya dengan harta dunia yang fana.
Zainab binti Jaḥsy -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ masuk menemuinya dalam kondisi sangat cemas sambil mengucapkan, "Lā ilāha illallāh (Tiada ilah yang berhak disembah selain Allah)! Celakalah orang-orang Arab karena adanya keburukan yang telah dekat. Hari ini telah dibuka sebesar ini dari tembok penghalang Yakjuj dan Makjuj." Beliau mengucapkan itu sambil melingkarkan ibu jari dengan jari setelahnya (telunjuk). Zainab binti Jaḥsy melanjutkan: Aku bertanya, "Wahai Rasulullah! Apakah kami akan binasa sementara di tengah kami ada orang-orang saleh?" Beliau menjawab, "Ya, apabila banyak keburukan."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ masuk menemui Zainab binti Jaḥsy -raḍiyallāhu 'anhā- dalam keadaan sangat takut dan cemas sambil mengucapkan: lā ilāha illallāh; untuk menyampaikan kemungkinan adanya perkara buruk yang akan terjadi dan tidak ada jalan keselamatan darinya kecuali dengan kembali kepada Allah Ta'ala. Kemudian beliau ﷺ bersabda, Celakalah bangsa Arab karena adanya keburukan yang telah dekat waktu terjadinya. Hari ini telah dibuka sebagian tembok penghalang Yakjuj dan Makjuj, yaitu tembok yang dibangun oleh Zulkarnain, seukuran ini. Beliau membuat lingkaran dengan ibu jari beliau dan jari setelahnya. Zainab -raḍiyallāhu 'anhā- bertanya: Bagaimana Allah akan menimpakan pada kami kebinasaan padahal di tengah-tengah kami terdapat orang-orang mukmin yang saleh? Nabi ﷺ bersabda: Apabila keburukan berupa kefasikan, kejahatan, kemaksiatan, zina, khamar dan lainnya telah menjamur, maka kebinasaan akan menimpa semua orang.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Cobaan akan senantiasa menimpa orang beriman laki-laki dan perempuan pada diri, anak, dan hartanya hingga dia berjumpa dengan Allah Ta'ala (meninggal) dalam keadaan tidak memiliki dosa."
HR. Tirmizi dan AhmadNabi ﷺ mengabarkan bahwa musibah dan ujian tidak akan berpisah dari hamba beriman laki-laki dan perempuan, pada dirinya berupa kesehatan dan fisiknya, pada anak-anaknya berupa sakit, kematian, kedurhakaan ataupun lainnya, dan pada hartanya berupa kemiskinan, usaha yang merugi, pencurian, kesulitan hidup dan kesempitan rezeki. Dengan itu, Allah menggugurkan semua dosa dan kesalahannya hingga ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan telah bersih dari semua dosa dan kesalahan yang dilakukannya.
Firman Allah -Ta'ālā-, "Maka janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui." Ibnu 'Abbās mengomentari ayat tersebut dengan mengatakan, "Al-Andād"(sekutu-sekutu, tandingan) yakni syirik. Syirik itu lebih samar dibanding semut hitam yang merayap di atas batu hitam dalam kegelapan malam." Yaitu engkau mengatakan, "Demi Allah dan demi hidupmu wahai fulan, serta demi hidupku." Dan dengan mengatakan, "Seandainya bukan karena anjing kecil ini niscaya kita telah kedatangan para pencuri. Dan seandainya bukan karena ada angsa di rumah niscaya kita telah kedatangan para pencuri." Juga perkataan seseorang kepada temannya, "Hal itu karena kehendak Allah dan kehendakmu." Dan ucapan seseorang, "Jika bukan karena Allah dan fulan, tidaklah hal itu terjadi pada fulan." Ini semua adalah kesyirikan.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ḤatimAllah -Ta’ālā- berfirman, “Maka janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui.” Allah melarang manusia untuk menjadikan bagi-Nya sekutu-sekutu dan tandingan-tandingan untuk memalingkan ibadah apapun kepada mereka, padahal mereka mengetahui bahwa Allah semata yang Maha Menciptakan dan Maha Memberi rezeki, dan bahwa sekutu-sekutu ini lemah lagi tidak berdaya, tidak bisa memberikan sesuatu apapun. Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhu- mendefinisikan kata "andād" dengan "syurakā`" (sekutu-sekutu), dan beliau menyebutkan contoh-contohnya, yaitu kesyirikan. Dan syirik itu lebih samar dari bekas atau jejak rayapan semut di atas batu hitam dalam kegelapan malam. Kemudian beliau menyebutkan contoh-contohnya, di antaranya: Bersumpah dengan nama selain Allah, dan yang lebih besar dari itu adalah menyamakan Allah dengan selain-Nya dengan mengatakan: Demi Allah dan demi hidupku, atau dengan melihat sebab saja tanpa memandang yang menjadikan sebab itu dan tidak mengembalikan perkara itu kepada Allah dengan mengatakan, "Kalau bukan karena anjing ini menjaga kita niscaya kita telah kedatangan para pencuri." Atau dengan mengatakan, "Kalau bukan karena angsa yang ada di rumah ini memperingatkan kita saat ada orang asing masuk niscaya pencuri sudah datang." Dan temasuk kesyirikan adalah ucapan seseorang kepada temannya, "Hal itu atas kehendak Allah dan kehendakmu." Dan perkataan seseorang, "Kalau bukan karena Allah dan fulan, tidaklah hal itu terjadi pada fulan." Kemudian beliau menegaskan bahwa semua itu termasuk syirik kecil. Dan jika orang yang mengucapkannya meyakini bahwa orang, angsa, atau anjing itu sendiri yang mempengaruhi terjadinya sesuatu tanpa Allah maka menjadi syirik akbar (syirik besar).
Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Janganlah kalian mengatakan, ‘Atas kehendak Allah dan kehendak polan’, tapi katakanlah, ‘Atas kehendak Allah kemudian kehendak polan.'"
HR. Abu Daud, Nasai dalam Al-Kubrā, dan AhmadNabi ﷺ melarang seorang muslim dalam percakapannya mengucapkan: Atas kehendak Allah dan kehendak polan, ataupun: atas kehendak Allah dan polan. Alasannya adalah karena kehendak dan kemauan Allah bersifat umum, tidak ada seorang pun yang menyertai-Nya di dalamnya. Sedangkan menggunakan kata "waw" (bermakna: dan) sebagai kata sambung mengindikasikan adanya kesertaan seseorang bersama Allah dan penyetaraan antara keduanya. Akan tetapi, hendaklah mengatakan: Atas kehendak Allah kemudian kehendak polan; yaitu menjadikan kehendak hamba mengikuti kehendak Allah dengan menggunakan "ṡumma" (bermakna: kemudian) sebagai ganti "waw" (bermakna: dan), karena ṡumma menunjukkan kehadiran setelahnya dan selang waktu.
Dari Abdullah bin Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Aku bersumpah dengan nama Allah padahal dusta lebih aku sukai daripada bersumpah dengan selain-Nya meskipun jujur."
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah - Diriwayatkan oleh AbdurrazzāqIbnu Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Sumpahku dengan nama Allah terhadap sesuatu padahal aku berdusta -andai ini terjadi- lebih aku sukai daripada sumpahku dengan selain Allah terhadap sesuatu meski aku jujur dalam hal itu. Dipilihnya bersumpah dengan nama Allah dalam keadaan dusta daripada bersumpah dengan selain-Nya dalam keadaan jujur karena bersumpah dengan nama Allah dalam kondisi seperti ini mengandung kebaikan tauhid dan juga keburukan dusta. Sedangkan bersumpah dengan selain Allah dalam keadaan benar mengandung kebaikan jujur dan keburukan syirik. Kebaikan tauhid lebih besar dari kebaikan jujur, dan keburukan dusta lebih ringan dari keburukan syirik.