





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Ubay bin Ka'ab, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Ketika Adam meninggal dunia, para malaikat memandikannya dengan air dalam bilangan ganjil dan mereka membuat liang lahat untuknya. Mereka berkata, "Ini sunah Adam pada anaknya."
Diriwayatkan oleh Hakim - Diriwayatkan oleh ṬabarāniKetika Adam -'alaihis-salām- meninggal dunia, para malaikat memandikannya dengan bilangan ganjil; satu, tiga atau lima kali, mereka juga membuat celah di sisi lubang kubur, dan menguburkannya di dalamnya, serta berkata, "Ini sunah Adam pada anaknya." Yakni, anak Adam diperlakukan sebagaimana perlakuan kepada bapak mereka, yaitu di mandikan dan dikuburkan sesuai dengan tata cara tersebut. Hanya anaknya yang mendapatkan petunjuklah yang berpegang teguh kepada hal itu.
Dari Abu Sa'id Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa suatu malam ketika Usaid bin Ḥuḍair sedang membaca (Al-Qur`ān) di tempat penyimpanan kurma, tiba-tiba kudanya meronta-ronta. Ia membaca lagi lalu kuda itu meronta-ronta lagi. Ia membaca lagi lalu kuda itu meronta-ronta lagi. Usaid berkata, "Aku khawatir kalau-kalau kudaku menginjak Yahya. Lantas aku berdiri ke arah kuda itu, ternyata di atas kepalaku ada sesuatu seperti awan yang di dalamnya ada seperti lampu-lampu. Awan itu naik membumbung ke udara sampai aku tak bisa melihatnya." Usaid berkata, "Maka di pagi harinya, aku menemui Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan berkata, "Wahai Rasulullah, tadi malam ketika aku sedang membaca Alquran di tempat penyimpanan kurma, tiba-tiba kudaku meronta-ronta!" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Bacalah terus wahai Ibnu Ḥuḍair!" Usaid bin Ḥuḍair melanjutkan, "Aku pun membaca." Kuda itu meronta-ronta lagi." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Bacalah terus wahai Ibnu Ḥuḍair!" Usaid berkata; "Lalu aku kembali membacanya, dan kudaku kembali seperti itu." Kemudian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Bacalah terus wahai Ibnu Ḥuḍair!" Usaid berkata, "Lalu aku berpindah tempat karena Yahya dekat dengannya, dan aku khawatir ia terinjak olehnya. Kemudian aku melihat di atas kepalaku ada segumpal awan yang di dalamnya seperti lampu-lampu terang naik membumbung ke udara sampai aku tak bisa melihatnya." Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun bersabda, "Itu adalah malaikat yang mendengarkan bacaanmu, kalau kamu terus membacanya maka tentu orang lain dapat melihat malaikat tersebut tanpa terhalang sedikit pun."
Muttafaq 'alaihSuatu malam Usaid bin Ḥuḍair -raḍiyallāhu 'anhu- sedang membaca Al-Qur`ān di tempat penyimpanan kurma, sedangkan kudanya terikat di sampingnya, dan Yahya, putranya sedang tidur di sisinya. Ketika Usaid membaca, kuda bergerak dan meronta-ronta. Ketika dia diam, kuda pun tenang. Lantas Usaid membaca satu kali lagi, kuda itu pun bergerak dan meronta-ronta. Demikianlah terjadi tiga kali. Usaid khawatir kuda itu akan menginjak Yahya, putranya. Ia pun menghentikan bacaan dan berdiri menuju kudanya untuk melihat sebab gerakannya. Selanjutnya dia melihat di atasnya ada seperti satu awan yang di dalamnya terdapat hal-hal yang menyerupai pelita. Awan itu lalu naik ke langit hingga Usaid tidak bisa lagi melihatnya. Pada pagi harinya, Usaid pergi kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu menceritakan apa yang terjadi. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepadanya untuk menghilangkan ketakutannya, menjelaskan kepadanya mengenai ketinggian derajatnya, dan menegaskan kepadanya hal yang menambah ketenangannya, "Bacalah, wahai Ibnu Ḥuḍair." Beliau mengucapkannya tiga kali untuk penegasan. Yakni, ulangilah dan bacalah selalu Alquran yang menyebabkan terjadinya kondisi ajaib ini. Hal ini sebagai pemberitahuan bahwa dia tidak perlu meninggalkan bacaan Alquran jika hal itu terjadi kepadanya di masa mendatang, akan tetapi ia hendaknya terus-menerus membacanya karena besarnya keutamaannya. Selanjutnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menerangkan bahwa para malaikat itu menyimak bacaan Alqurannya, dan seandainya dia membacanya sampai pagi, niscaya orang-orang akan melihat para malaikat tersebut tanpa ada tabir penghalang.
Dari Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda dalam perang Badar, "Inilah Jibril sedang memegang kepala kudanya dengan membawa alat perang."
Diriwayatkan oleh BukhariTopik hadis ini ialah keikutsertaan para malaikat dalam perang Badar di bawah pimpinan Jibril -'alaihis-salām-. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa dirinya melihat Jibril -'alaihis-salām- dalam perang Badr sedang mengendarai kudanya sambil membawa senjata perang untuk berperang bersama kaum Mukminin dan menjadi penolong bagi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- serta pendukung para sahabatnya.
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku seolah-olah melihat debu-debu beterbangan di lorong-lorong jalan Bani Ganam." Yaitu rombongan Jibril -ṣalawātullāhi 'alaihi- ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berjalan menuju Bani Quraiẓah."
Diriwayatkan oleh BukhariAnas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa dia melihat debu-debu beterbangan di jalan Bani Ganam -yaitu salah satu marga dari kabilah Khazraj- karena jejak pasukan malaikat dan pemimpin mereka, Jibril -'alaihis-salām- saat mereka berjalan bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk memerangi Bani Quraiẓah. Tentunya melihat jejak ini tidak mengharuskan melihat malaikat, mungkin saja Anas melihat mereka dan mungkin juga tidak melihatnya. Tidak ada keraguan jika Anas mengetahui jejak tersebut sebagai jejak rombongan Jibril dari keterangan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.
Dari Buraidah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berangkat menuju salah satu peperangan. Ketika kembali, seorang budak wanita berkulit hitam mendatangi beliau sambil berkata; "Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku bernazar bila Allah mengembalikan baginda dalam keadaan baik, aku akan menabuh rebana dan bernyanyi didekat baginda." Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Jika kamu telah bernazar demikian, silahkan lakukan namun jika tidak, maka jangan kamu lakukan." Budak wanita itu pun menabuh rebana. Kemudian Abu Bakar masuk dan budak itu masih menabuh rebana, Ali masuk, dia pun masih menabuh rebana, kemudian Usman masuk dan dia tetap menabuh rebananya, dan ketika Umar masuk, budak itu menyembunyikan rebananya di bawah pantatnya dan duduk di atasnya." Lalu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya setan benar-benar takut darimu wahai Umar, karena ketika aku sedang duduk dia (budak wanita) menabuh rebananya, lalu Abu Bakar masuk dan ia masih menabuh, lalu Ali masuk dan ia masih menabuh, lalu Usman masuk dan ia masih menabuh, namun tatkala kamu yang masuk, wahai Umar, ia segera membuang rebananya."
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh AhmadDari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Seorang lelaki dari Bani Zuraiq bernama Labīd bin Al-A'ṣam menyihir Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sehingga Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkhayal bahwa beliau melakukan sesuatu, padahal beliau tidak melakukannya. Hingga ketika suatu hari atau suatu malam, beliau sedang berada di sisiku, namun beliau berdoa dan terus berdoa. Selanjutnya beliau bersabda, "Wahai Aisyah, Apakah engkau tahu bahwa Allah memberitahuku mengenai apa yang aku minta petunjuknya. Ada dua orang (malaikat) mendatangiku lalu salah satunya duduk di sisi kepalaku, dan yang lainnya duduk di sisi kakiku. Lantas salah seorang dari mereka berkata kepada sahabatnya, "Apa penyakit orang ini?" Orang itu menjawab, "Sihir." Orang pertama bertanya lagi, "Siapa yang telah menyihirnya?" Orang yang kedua menjawab, "Labīd bin Al-A'ṣam." Orang yang pertama bertanya lagi, "Dengan apa?" Orang kedua menjawab, "Dengan sisir dan rambut yang disisir, dan mayang kurma jantan yang sudah kering." Orang itu bertanya, "Di mana itu?" Orang kedua menjawab, "Di sumur Żarwān." Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersama beberapa sahabatnya mendatangi sumur itu. Beliau lalu kembali dan bersabda, "Wahai Aisyah, tampaknya air sumur itu seperti tumbukan daun pacar atau seakan-akan ujung (mayang) kurmanya seperti kepala-kepala setan." Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mengeluarkannya?" Beliau menjawab, "Allah telah menyembuhkanku sehingga aku tidak suka mengungkit keburukan pada manusia." Lantas beliau memerintahkan agar sumur itu ditimbun."
Muttafaq 'alaihUmmul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bercerita bahwa seorang lelaki Yahudi dari Bani Zuraiq bernama Labīd bin Al-A'ṣam menyihir Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hingga Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengkhayal bahwa beliau melakukan sesuatu, padahal beliau tidak melakukannya. Suatu hari ketika beliau berada di sisi Aisyah, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak menaruh perhatian kepadanya, tapi beliau berdoa dan mengulang-ulanginya hingga Allah memperlihatkan kepadanya hakikat urusan yang dihadapinya. Selanjutnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberitahu Aisyah bahwa Allah telah mengabulkan doanya, dan sesungguhnya dua malaikat datang kepadanya lalu salah satunya duduk di sisi kepala beliau, dan yang lainnya di sisi kakinya. Salah satunya berkata kepada yang lain, "Apa penyakit orang ini?" Yakni, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Malaikat kedua menjawab, "Sihir." Yakni, kena sihir. Malaikat pertama bertanya lagi, "Siapa yang telah menyihirnya?" Yakni, siapa yang telah berani menyihir beliau? Malaikat kedua menjawab, "Labīd bin Al-A'ṣam." Malaikat pertama bertanya lagi, "Dengan apa?" Yakni, apa benda-benda yang digunakan untuk sihir itu?" Malaikat kedua menjawab, "Dengan sisir dan rambut yang disisir, serta mayang kurma jantan yang kering." Yakni, dia menyihirnya dengan sisir, beberapa helai rambut yang rontok ketika disisir, dan kulit yang di atasnya ada mayang kurma jantan." Malaikat pertama bertanya, "Di manakah dia?" Malaikat kedua menjawab, "Di sumur Żarwān." Yaitu sebuah sumur di Madinah. Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersama beberapa orang sahabatnya mendatangi sumur itu lalu mengeluarkan sihir. Setelah itu beliau kembali kepada Aisyah lalu mengabarkan bahwa air sumur berwarna merah seakan-akan daun inai ditumbuk di dalamnya. Yakni, air sumur itu berubah karena keburukannya atau ketika bercampur dengan sesuatu yang dilemparkan ke dalamnya. Sedangkan ujung-ujung kurmanya menyerupai kepala-kepala setan dalam kejelekan dan tampilannya yang buruk. Aisyah berkata, "Aku bertanya, wahai Rasulullah, kenapa engkau tidak mengeluarkannya?" Yakni, tidakkah engkau mengeluarkan sihir itu dan menceritakannya kepada manusia, lalu mereka tahu apa yang terjadi? Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Allah telah menyembuhkanku sehingga aku tidak suka untuk mengobarkan keburukan pada manusia." Yakni, Allah telah menyembuhkanku dari sihir, dan aku tidak suka jika aku menceritakannya kepada manusia, aku akan membukakan kepada mereka pintu keburukan, sehingga orang-orang munafik akan teringat dengan sihir, lalu mereka mempelajarinya, kemudian mereka akan menyakiti orang-orang mukmin. Ini termasuk cara meninggalkan kemaslahatan karena takut akan adanya kerusakan. Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan agar sumur itu ditimbun. Sebagian orang mengingkari kisah sihir yang menimpa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ini dengan klaim bahwa hal itu menodai kemaksuman Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- karena ada kemungkinan beliau berkhayal bahwa beliau melihat Jibril, padahal beliau tidak melihatnya, atau beliau mendapatkan wahyu, padahal beliau tidak mendapatkan wahyu. Semua ini tentunya ditolak, karena telah ada dalil yang menunjukkan sifat terjaganya beliau -'alaihiṣ-ṣalātu was-salām- dalam hal menyampaikan wahyu yang datang dari Allah, dan mengenai keterjagaannya dalam penyampaian risalah. Adapun bahaya sihir yang menimpa beliau maka bukan kekurangan yang berkaitan dengan penyampaian risalah, justru itu termasuk hal biasa yang bisa saja menimpanya seperti halnya penyakit dan bencana lainnya. Lagi pula jenis sihir yang menimpa beliau tersebut telah dijelaskan dalam riwayat-riwayat lainnya, yaitu bahwa beliau berkhayal menggauli keluarganya, padahal beliau tidak melakukannya.
Dari Abu Qatādah, Ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkhotbah di hadapan kami, beliau bersabda, "Sesungguhnya kalian akan menempuh perjalanan pada sore dan malam hari. Besok, jika Allah menghendaki kalian akan menemukan mata air." Satu persatu para sahabat berangkat. Abu Qatādah berkata, Ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berjalan terus hingga tengah malam dan aku berada di samping beliau, beliau mengantuk sehingga badannya agak miring dari tunggangannya. Lalu aku menopang beliau tanpa membuatnya terbangun sehingga lurus kembali di atas hewan tunggangannya. Kemudian beliau meneruskan perjalanan hingga ketika tengah malam berlalu, tubuh beliau miring lagi dari hewan tunggangannya. Aku menopangnya hingga lurus kembali tanpa membuatnya terbangun. Beliau terus berjalan hingga menjelang Subuh. Tubuhnya miring lagi, lebih miring dari sebelumnya dan hampir jatuh. Lalu aku topang kembali, tetapi beliau mengangkat kepalanya dan terbangun seraya bertanya, 'Siapa ini?' Aku menjawab, 'Abu Qatadah.' Beliau bertanya, 'Sejak kapan engkau berjalan (dekat) denganku seperti ini?' Aku menjawab, 'Sejak tadi malam.' Beliau bersabda, 'Semoga Allah menjagamu karena engkau telah menjaga nabi-Nya.' Kemudian beliau bertanya, 'Apakah engkau melihatku tidak terlihat oleh orang lain? Apakah engkau melihat penunggang yang lain (selain kita)? Aku menjawab, 'Ini ada seorang penunggang. Dan ini juga seorang penunggang lagi.' Hingga kami tujuh orang berkumpul di dekat beliau. Kemudian beliau membelok dari jalan seraya meletakkan kepalanya (ingin tidur) dan berpesan, 'Bangunkanlah aku untuk salat.' Ternyata orang yang bangun lebih awal adalah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika matahari sudah menerpa punggung beliau. Kami bangun dengan kaget (karena kesiangan). ‘Kendarailah hewan tunggangan,' kata Beliau, maka kami naik dan meneruskan perjalanan hingga ketika matahari sudah naik beliau turun. Kemudian beliau meminta tempat air yang ada padaku, di dalamnya ada sedikit air. Ia berkata: Lalu Beliau berwudu secukupnya. Ia berkata: masih ada sisa air sedikit. Lalu Rasulullah kepada berkada kepada Abu Qatādah, 'Simpan tempat air itu. Nanti tempat air ini akan menjadi sebuah cerita (karena cukup untuk wudu mereka).' Kemudian Bilal mengumandangkan azan. Beliau melaksanakan salat sunah dua rakaat, setelah itu salat Subuh sebagaimana yang biasa beliau lakukan (ketika tepat waktu). Kami dan Rasulullah kembali menunggang. Kemudian kami saling berbisik, 'Apa kafarat yang harus kita lakukan atas kelalaian kita dalam salat?' Nabi bersabda, 'Bukankah aku adalah panutan kalian, sesungguhnya tidur itu bukanlah suatu kelalaian. Kelalaian adalah orang yang (sengaja) tidak mengerjakan salat sampai datang waktu salat berikutnya telah habis. Barangsiapa yang berbuat demikian, bersegeralah melaksanakan salat saat ia ingat. Apabila keesokan harinya ia baru ingat, maka ia harus salat pada waktunya.' Kemudian beliau bertanya, 'Tahukah kalian apa yang dilakukan para sahabat lainnya? Abu Qatādah berkata, kemudian beliau bersabda, 'Para sahabat lain kehilangan Nabi mereka. Abu Bakar dan Umar berkata, 'Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berada di belakang kalian, tidak mungkin beliau meninggalkan kalian. Sebagian yang lain berkata, 'Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berada di depan kalian.' Jika mereka mematuhi Abu Bakar dan Umar, mereka akan mendapat petunjuk. Akhirnya kami dapat menyusul sahabat lainnya ketika hari sudah sangat siang dan segala sesuatu terasa panas. Mereka berkata, 'Wahai Rasulullah, kita akan mati kehausan.' Beliau bersabda, 'Kalian tidak akan mati.' Lalu bersabda, 'Lepaskan ikatan tempat airku. Beliau meminta tempat air wudu dan menuang air ke dalamnya, sedangkan Abu Qatādah memberi mereka minum. Begitu melihat air, ereka saling berdesak-desakan untuk mendapatkannya. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Teraturlah kalian, semua akan segar.' Abu Qatādah berkata, "Mereka mematuhi perintah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, kemudian beliau yang menuang air dan aku yang memberi minum mereka sampai tidak tersisa selain aku dan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Abu Qatādah berkata, "Kemudian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menuangkan air, dan bersabda kepadaku, 'Minumlah!.' Aku jawab, 'Aku tidak akan minum sampai anda minum.' Kemudian beliau bersabda, 'Sesungguhnya pemberi minum adalah orang yang terakhir minum.' Abu Qatādah berkata, "Maka aku minum dan Rasulullah pun minum." Para sahabat mendapatkan mata air dalam kondisi segar. Abu Qatādah berkata, Abdullah bin Rabāh berkata, "Sungguh aku akan menceritakan hadis ini di masjid raya." Tiba-tiba 'Imrān bin Ḥuṣain berkata, 'Perhatikan, hai anak muda, bagaimana engkau akan bercerita. Aku adalah salah seorang penunggang pada malam itu. Abdullah berkata, "saya berkata, Engkau lebih mengerti tentang hadis.' Imran bin Huṣain bertanya, 'Engkau termasuk golongan mana?. 'Aku dari golongan Anṣar,' jawab Abdullah. 'Kalau begitu sampaikanlah hadisnya, kalian lebih mengetahui hadis kalian,' pinta Imran. Dia berkata, "Maka akupun menyampaikan cerita itu kepada orang lain." Lalu 'Imrān berkata, 'Aku ikut hadir pada kejadian malam itu dan menurutku tidak ada seseorang pun yang mengingatnya seperti yang aku ingat'."
Muttafaq 'alaihHadis yang mulia ini menjelaskan bahwa Rasulullah bersama sahabat dalam perjalanan panjang sehingga kehabisan bekal air. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyemangati mereka dengan memberi kabar gembira bahwa mereka akan menemukan mata air di depan mereka, sehingga para sahabat antusias dan bersemangat menempuh perjalanan dan tidak mau menunggu lagi, sampai mereka mendahuli Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan sebagian sahabat lain. Di antara para sahabat itu ada Abu Qatādah, Ketika malam datang, Rasulullah mulai mengantuk dan Abu Qatādah menopang tubuh beliau agar tidak terjatuh dari kendaraannya. Hingga akhirnya beliau bangun dengan sendirinya. Oleh sebab itu, beliau mendoakan perlindungan untuk Abu Qatādah karena menjaganya. Kemudian beliau memberitahu Abu Qatādah bahwa para sahabat akan berselisih pendapat tentang keberadaan beliau, dan bahwa Abu Bakar dan Umar akan memberitahukan kepada mereka bahwa beliau tertinggal di belakang dan jika mereka mau menurut kata mereka maka mereka akan menemukan beliau. Ini semua adalah tanda-tanda kenabian beliau. Kemudian mereka semua tidur malam itu dan tak ada yang membangunkan kecuali sengatan matahari. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjelaskan bahwa seseorang yang meninggalkan salat karena tertidur dan tanpa ada unsur kesengajaan tidak disebut lalai, tetapi ia dimaafkan. Tetapi, orang yang lalai adalah orang yang membiarkan waktu salat berlalu tanpa melaksanakan salat. Ketika Rasulullah meneruskan perjalanan dengan sebagian sahabat yang bersama beliau hingga dapat menyusul para sahabat yang mendahului, sedang mereka dalam kondisi hampir mati karena dehidrasi. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberi kabar gembira bahwa mereka tidak akan mati dan semuanya akan mendapatkan air minum yang segar. Lalu beliau meminta wadah air yang kecil milik Abu Qatādah yang beliau pergunakan untuk berwudu. Kemudian beliau berwudu dengan air itu dan memanggil satu persatu sahabat untuk minum. Maka semuanya kebagian minum hingga tak tersisa kecuali Rasulullah sendiri dan Abu Qatādah -raḍiyallāhu 'anhu-. Lantas Abu Qatādah minum setelah diberitahu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa pemberi minum adalah yang terakhir minum. Ini semua adalah mukjizat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.
Dari Mu'āwiyah bin Ḥakam As-Sulami -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Ketika aku salat bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, tiba-tiba salah seorang dari jamaah bersin, maka aku mengatakan, "Yarḥamukallāh (semoga Allah merahmatimu)." Maka orang-orang memandangiku dengan mata mereka. Aku berkata, "Ibuku kehilangan anaknya, kenapa kalian memandangiku?" Mereka memukul-mukulkan tangan ke paha. Ketika aku mengerti mereka menyuruhku diam, maka aku hanya diam. Ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- selesai salat, ayah dan ibuku menjadi tebusannya, aku tidak pernah melihat seorang guru sebelum dan sesudah beliau yang lebih bagus cara mengajarnya dibanding beliau. Demi Allah, beliau tidak menghardikku, tidak memukulku dan tidak mecaciku. Beliau bersabda, "Sesungguhnya salat ini tidak sepantasnya terdapat ucapan manusia di dalamnya. Sesungguhnya ucapan yang pantas hanyalah tasbih, takbir, dan bacaan Al-Qur'ān." Atau sebagaimana disabdakan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Aku berkata, "Wahai Rasulullah, aku baru saja meninggalkan kejahiliahan dan Allah telah mendatangkan Islam. Sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang mendatangi para dukun." Beliau bersabda, "Jangan mendatangi mereka!" Ia berkata, "Sebagian kami ada orang-orang yang bertaṭayyur." Beliau bersabda, "Itu perasaan yang mereka dapati dalam dada mereka, maka jangan sampai menghalangi mereka -Ibnu Shabbah mengatakan, jangan menghalangi kalian- (melakukan sesuatu yang sudah diinginkan)." Aku berkata, "Sebagian kami ada orang yang menggaris." Beliau bersabda, "Seorang Nabi dari para Nabi juga menggaris. Siapa yang sesuai garisnya maka itulah (yang dibolehkan)." Ia berkata, "Aku memiliki seorang budak wanita yang bertugas menggembalakan dombaku di arah Uhud dan Jawwāniyah. Di suatu hari, aku melihat ternyata srigala telah memangsa seekor dombanya. Aku seorang laki-laki keturunan Adam, aku marah sebagaimana mereka marah, tapi aku menamparnya dengan keras." Aku mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan beliau menganggap itu satu kesalahan besar yang telah aku lakukan. Aku berkata, "Wahai Rasulullah, bolehkah aku memerdekakannya?" Beliau bersabda, "Bawa ia ke hadapanku." Aku pun membawanya menemui beliau. Beliau menanyainya, "Di manakah Allah?" Ia menjawab, "Di langit." "Siapakah aku?" Ia menjawab, "Engkau utusan Allah." Beliau bersabda, "Merdekakan ia, sungguh ia adalah wanita Mukminah!"
Diriwayatkan oleh MuslimMu'āwiyah bin Ḥakam As-Sulami -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan peristiwa yang terjadi ketika ia salat bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di salah satu salat jamaah. Ketika ia mendengar seseorang bersin lalu memuji Allah, maka ia -raḍiyallāhu 'anhu- bersegera mengucapkan "yarḥamukallāh", sesuai perintah asal. Yakni sabda Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Apabila salah seorang dari kalian bersin lalu mengucapkan "alḥamdulillāh" hendaklah saudara atau kawannya mengucapkan kepadanya "yarḥamukallāh". Mu'āwiyah -raḍiyallāhu 'anhu- tidak tahu bahwa anjuran mendoakan orang yang bersih hanya berlaku di luar salat. “Maka orang-orang memandangiku dengan mata mereka.” Maksudnya, mereka berisyarat kepadanya dengan mata tanpa berbicara. Mereka menatapnya dengan tatapan peringatan. Namun Mu'āwiyah -raḍiyallāhu 'anhu- tidak mengetahui sebab pengingkaran mereka ini. Sehingga ia justru mengucapkan, “Ibuku kehilangan anaknya”. Artinya, ibuku kehilangan diriku karena aku binasa. “Kenapa kalian”, yakni apa keadaan dan urusan kalian? “Kalian memandangiku”, yakni kenapa kalian menatapku dengan tatapan marah. “Mereka memukul-mukulkan tangan ke paha”, yakni mereka menambah pengingkaran kepadanya dengan memukulkan tangan ke paha. Maka ia paham bahwa mereka ingin ia diam dan tidak bicara. Maka ia diam. “Ketika aku mengerti mereka menyuruhku diam, maka aku diam”. Maksudnya, ketika aku mengerti mereka memerintahku diam, aku heran akan kebodohanku terhadap keburukan yang telah aku lakukan dan sikap berlebihan mereka dalam mengingkariku, dan aku ingin membantah mereka. Namun aku diam demi melaksakan perintah mereka. Sebab mereka lebih tahu dariku. Aku tidak berbuat menuruti kemarahanku dan aku tidak menanyakan sebab perintah diam. “Ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah salat” yakni, beliau selesai dari salat. “Beliau (ditebus) dengan ayah dan ibuku”, artinya beliau ditebus dengan ayah dan ibuku. Ini bukan sumpah, tapi ungkapan penebusan dengan ayah dan ibu. “Aku tidak pernah melihat seorang guru sebelum dan sesudah beliau yang lebih bagus cara mengajarnya dibanding beliau.” Karena Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak mencela dan tidak membentaknya. Tapi beliau menjelaskan hukum syar`i dengan cara yang gampang diterima dan dimengerti. “Demi Allah, beliau tidak menghardikku”, yakni beliau tidak membentakku dan tidak bicara kasar padaku. “Tidak memukulku”, yakni tidak menyakitiku dengan pukulan karena kesalahan yang telah aku lakukan. “Dan tidak mencaciku”, yakni tidak bicara kasar padaku, tetapi beliau menjelaskan padaku hukum syar`i dengan lemah lembut. Di mana beliau bersabda, “Sesungguhnya salat ini tidak sepantasnya terdapat ucapan manusia di dalamnya. Sesungguhnya ucapan yang pantas hanyalah tasbih, takbir, dan bacaan Alquran.” Maksudnya, dalam salat tidak diperbolehkan ucapan manusia yang merupakan pembicaraan di antara mereka. Pembicaraan seperti ini dibolehkan di awal Islam, kemudian dihapus. Yang boleh dikatakan dalam salat hanyalah tasbih, takbir, dan bacaan Al-Qur'ān. Aku berkata, "Wahai Rasulullah, aku masih baru saja meninggalkan kejahiliahan”. Yakni, masih dekat dengan masa jahiliah. Kata jahiliah diungkapkan untuk masa sebelum datangnya syariat. Mereka disebut jahiliah karena banyaknya kebodohan dan perbuatan keji mereka. “Dan Allah telah mendatangkan Islam” artinya, aku telah beralih dari kekufuran pada Islam, namun aku belum mengetahui hukum-hukum agama. “Sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang mendatangi dukun-dukun” maksudnya, di antara sahabatnya ada orang yang senang mendatangi dukun dan menanyakan permasalahan gaib yang akan terjadi di masa akan datang. “Beliau bersabda, “Jangan mendatangi mereka!” Larangan mendatangi dukun-dukun karena mereka ini bicara tentang masalah-masalah gaib yang terkadang sebagiannya kebetulan benar, sehingga dikawatirkan orang-orang terperdaya dengan sebab ini. Karena, para dukun itu sering kali mengacaukan perkara syariat kepada manusia. Banyak hadis sahih yang melarang mendatangi dukun, membenarkan perkataan mereka, dan mengharamkan upah yang mereka terima. “Ia berkata, "Sebagian kami ada orang-orang yang bertaṭayyur.” Taṭayyur adalah merasa sial karena sesuatu yang dillihat, didengar, waktu, maupun tempat. Bangsa Arab dahulu dikenal suka taṭayyur. Hingga seandainya seorang dari mereka ingin melakukan kebaikan kemudian ia melihat burung terbang ke kanan atau ke kiri, sesuai keyakinan yang dikenal di kalangan mereka, dia akan menangguhkan perkara yang ingin dikerjakannya ini. Di antara mereka ada orang yang apabila mendengar suara atau melihat seseorang ia merasa sial. Ada orang yang meyakini kesialan bulan Syawal untuk urusan pernikahan, ada yang meyakini kesialan hari Rabu atau bulan Safar. Semua ini telah dibatalkan syariat karena bahayanya terhadap manusia baik akal, pemikiran, maupun perilaku. Dan sikap seseorang yang tidak mempedulikan perkara-perkara ini disebut tawakal (berserah diri) kepada Allah. Beliau bersabda, "Itu perasaan yang mereka dapati dalam dada mereka, maka jangan sampai menghalangi mereka”. Yakni, taṭayyur adalah sesuatu yang dengan sendirinya muncul dalam jiwa mereka, sehingga mereka tidak layak dicela karena itu tidak mereka upayakan dan tidak dibebankan. Akan tetapi, janganlah mereka membatalkan pelaksanaan urusan mereka gara-gara taṭayyur ini. Inilah yang bisa mereka lakukan dan dapat mereka usahakan sehingga menjadi sesuatu yang dibebankan. Jadi, Nabi -'alaihi aṣ-salātu wa as-salām- melarang mereka menuruti perasaan sial (taṭayyur) dan mengurungkan aktifitas gara-gara itu. Banyak hadis sahih terkait larangan taṭayyur. Taṭayyur yang dilarang di sini dalam artian mengamalkannya, bukan apa yang dirasakan sesorang dalam dirinya tanpa melakukan tuntutannya sesuai keyakinan mereka. “Aku berkata, "Sebagian kami ada orang yang menggaris." Menggaris dalam pengertian bangsa Arab adalah seseorang mendatangi peramal, dan di hadapannya ada seorang anak kecil. Peramal itu memerintahkan anak tadi membuat garis yang banyak di atas pasir. Kemudian memerintahnya menghapus dua, dua. Kemudian peramal itu melihat garis yang tersisa. Jika yang tersisa adalah genap maka itu pertanda keberuntungan dan kejayaan, dan jika yang tersisa ganjil itu pertanda kegagalan dan keputus asaan. “Beliau bersabda, "Seorang Nabi dari para Nabi juga menggaris”, artinya ia membuat garis-garis seperti garis-garis di atas pasir, lalu ia mengetahui perkara dengan firasat melalui media garis-garis tersebut. Dikatakan, Nabi ini adalah Idris atau Daniel -'alaihima aṣ-salātu wa as-salām-. “Siapa yang sesuai garisnya”, yakni garis Nabi tersebut -'alaihi aṣ-salātu wa as-salām-, “maka itulah”. Artinya, siapa sesuai garis Nabi itu maka itu dibolehkan. Akan tetapi kita tidak bisa mengetahui dengan yakin akan kesesuaian ini sehingga tidak dibolehkan. Intinya, perbuatan tersebut haram, karena tidak dibolehkan kecuali yakin sesuai dengan garis Nabi itu, sementara kita tidak bisa meyakininya. Bisa jadi perbuatan ini telah mansukh (dihapus) dalam syariat kita. Mungkin juga pembolehan ramalan melalui garis tersebut menjadi tanda kenabian Nabi itu dan hal itu telah selesai, sehingga kita dilarang melakukannya. Jadi hadis ini menunjukkan haramnya beraktifitas berdasarkan ramalan dengan media garis, bukan menunjukkan kebolehannya. Selain juga menunjukkan batil dan rusaknya cara manusia dalam meramal. Karena, kesesuaian itu mengharuskan mengetahuinya, dan pengetahuan ini terjadi dengan salah satu dari dua jalan: Pertama: nas yang tegas dan sahih tentang penjelasan metode ilmu ramal garis ini. Kedua: periwayatan secara mutawatir dari zaman Nabi tersebut hingga zaman Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Dan kedua jalan tersebut tidak ada. Penting dimengerti dalam masalah ini, bahwa para Nabi tidak mengklaim mengetahui perkara gaib, dan mereka tidak memberitahukan pada manusia bahwa mereka mengetahui perkara gaib. Perkara gaib yang mereka sampaikan pada manusia semata-mata berasal dari wahyu Allah, sehingga mereka tidak mengalamatkanya pada diri mereka. Sebagaimana bunyi firman Allah, “(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (Al-Jin: 26-27). Sebab perkara gaib itu termasuk perkara yang hanya diketahui Allah. Maka tak seorang pun yang mengklaim mengetahuinya melainkan dia berarti telah mengklaim menyandang sifat-sifat rubūbiyyah. Inilah yang dilakukan para pelaku “profesi ini”. Lantaran ini, kebohongan mereka nampak jelas melalui pengakuan bahwa Nabi yang mulia ini mengajari mereka. Ia menuturkan, "Aku memiliki seorang budak wanita yang bertugas menggembalakan dombaku di arah Uhud dan Jawwāniyah.” Maksudnya, ia memiliki budak wanita yang menggembalakan dombanya di tempat yang dekat dengan gunung Uhud. “Di suatu hari, aku melihat ternyata srigala telah memangsa seekor dombanya.” Yakni, ia mengetahui serigala telah menerkam seekor dombanya. Domba ini milik Mu'āwiyah, tapi ia mengatakan “dombanya” karena budak wanita itu yang memeliharanya. “Dan Aku seorang laki-laki keturunan Adam, aku marah sebagaimana mereka marah.” Al-Asaf artinya marah. Maksudnya, aku marah kepadanya karena serigala berhasil memangsa seekor domba. Aku ingin memukulnya dengan pukulan keras sesuai tingkat kemarahan. “Tapi aku hanya menamparnya.” Yakni, aku tidak memukulnya dengan keras, tapi aku sekedar menamparnya. "Lalu aku mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan beliau menganggap itu satu kesalahan besar yang telah aku lakukan.” Yakni, setelah Mu'āwiyah bin Ḥakam menampar budak wanita tersebut, ia datang pada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan menceritakan peristiwa itu pada beliau. Ternyata beliau menganggap besar perkara tamparan tersebut. Manakala Mu'āwiyah bin Ḥakam As-Sulami -raḍiyallāhu 'anhu- melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak suka perbuatannya itu dan meyayangkannya, ia berkata, “Aku berkata, "Wahai Rasulullah, bolehkah aku memerdekakannya?" Yakni, aku membebaskannya dari perbudakan sebagai balasan pukulanku padanya. “Beliau bersabda, “Bawa ia ke hadapanku.” Aku pun membawanya menemui beliau. Beliau menanyainya, “Di mana Allah?” yakni, di manakah sesembahan yang berhak disembah yang menyandang sifat-sifat sempurna. Dalam riwayat lain, “Di mana Rabbmu?” Melalui pertanyaan ini, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ingin memastikan bahwa wanita ini bertauhid, sehingga beliau berbicara kepadanya dengan kalimat yang dapat dimengerti maksudnya. Sebab tanda orang yang bertauhid adalah meyakini Allah berada di langit. “Ia menjawab, “Di langit.” Maksud di langit adalah di tempat tinggi dan bahwa Allah di atas segala sesuatu dan di atas 'Arsy-Nya yang merupakan atap semua makhluk. “Beliau bertanya, “Siapa aku?” Ia menjawab, “anda Rasul Allah.” Beliau bersabda, “Merdekakanlah ia, ia seorang wanita Mukminah.” Ketika wanita ini mempersaksikan ketinggian Allah -Ta'ālā- dan kerasulan beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- beliau memerintahkan supaya ia dimerdekakan. Karena hal itu bukti keimanannya dan kebersihan keyakinannya.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik kepada istri-istriku sepeninggalku." Abu Hurairah berkata, "Lantas 'Abdurrahman bin 'Auf menjual kebun seharga empat ratus ribu (dirham) lalu membagi-bagikan uangnya kepada istri-istri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-."
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi 'Āṣim - Diriwayatkan oleh HakimWahai para sahabat, sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik kepada keluargaku; istri-istriku, keluargaku, dan kerabatku setelah kematianku. Para sahabat menerima wasiat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Mereka menerima keluarga beliau dengan pengagungan dan penghormatan. Di antaranya adalah tindakan 'Abdurrahman bin 'Auf yang menjual kebun seharga empat ratus ribu (dirham), lalu ia membagi-bagikan uangnya kepada para istri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.