





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, Ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sakit keras, ada seseorang yang menanyakan tentang imam salat. Beliau bersabda, "Suruhlah Abu Bakar untuk mengimami salat!" Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Sesungguhnya Abu Bakar itu orang yang sangat lembut hatinya (sensitif). Apabila ia membaca Al-Qur`ān, ia tidak dapat menahan tangisnya." Namun beliau bersabda, "Suruhlah ia (Abu Bakar) untuk menjadi imam!" Dalam satu riwayat dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Sesungguhnya Abu Bakar apabila menempati tempatmu (menjadi imam), orang-orang tidak dapat mendengar bacaan salatnya karena tangisnya."
Muttafaq 'alaihKetika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sakit keras dan tidak mampu untuk menjadi imam, maka beliau memerintahkan orang yang ada di dekatnya agar menyuruh Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- mengimami salat. Abu Bakar adalah sosok yang banyak menangis (sensitif) ketika membaca Al-Qur`ān. Karena itu, Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- beralasan dengan hal tersebut. Hanya saja dalam sebuah hadis pada bab ini dijelaskan bahwa tangisannya karena membaca Al-Qur`ān bukan tujuan pertama Aisyah, tetapi tujuan utamanya karena dikhawatirkan orang-orang merasa pesimis dengan ayahnya. Lantas Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- menjelaskan sesuatu yang berbeda dengan apa yang tersimpan dalam batinnya. Dalam sebuah riwayat dari Muslim disebutkan, Aisyah berkata, "Demi Allah, aku tidak ada maksud apa-apa selain karena tidak suka kalau orang-orang merasa pesimis dengan orang yang pertama kali mengganti kedudukan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Aisyah berkata, "Aku menemui beliau dua atau tiga kali." Namun beliau bersabda, "Hendaknya Abu Bakar mengimami salat manusia. Sesungguhnya kalian itu seperti teman-teman Yusuf." Maksud "teman-teman Yusuf" yaitu mereka itu laksana teman-teman Yusuf dalam menampakkan kebalikan apa yang ada dalam batinnya. Seruan ini meskipun dengan lafal jamak, tetapi maksudnya satu, yaitu Aisyah saja. Sama halnya dengan maksud teman-teman Yusuf adalah Zulaikha saja. Demikian dikatakan oleh Al-Ḥāfiẓ (Ibnu Hajar) bahwa wanita itu adalah istri penguasa Mesir saat itu. Aspek persamaan antara keduanya bahwa Zulaikha mengundang para wanita dan menampakkan penghormatan dengan jamuan, padahal tujuannya lebih dari itu, yaitu agar para wanita tersebut memandang sendiri ketampanan Yusuf dan memaklumi dirinya yang mencintai Yusuf. Sedangkan itu Aisyah menampakkan bahwa sebab keinginannya ialah memalingkan keimaman dari ayahnya, karena para makmum tidak akan mendengar bacaannya yang berbaur dengan tangisannya, sementara maksudnya lebih dari itu agar orang-orang tidak merasa pesimis dengannya, sebagaimana hal ini dijelaskan dari berbagai jalur hadis. Aisyah berkata, "Tidak ada hal yang mendorongku untuk memohon peninjauan ulang, melainkan karena di dalam hatiku terbersit bahwa orang-orang tidak akan mencintai sosok yang menggantikan kedudukan beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- setelah wafat.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepadaku, 'Ini Jibril menyampaikan salam kepadamu.' Aku berkata, "Wa'alaihissalām Waraḥmatullāhi Wabarakātuh (Semoga atasnya keselamatan, Rahmat Allah dan berkah-Nya)," Demikianlah terdapat di beberapa riwayat Aṣ-Ṣaḥiḥain (Bukhari dan Muslim), "Wabarakātuh", dan di sebagian riwayat yang lain dengan membuang kata itu, dan tambahan periwayat terpercaya bisa diterima.
Muttafaq 'alaihAisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mengabarkan kepada kita bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepadanya, "Wahai Aisyah, ini Jibril menyampaikan salam kepadamu." Di dalam satu riwayat, "Memberikan salam kepadamu," yakni, mempersembahkan salam kepadamu dan menghormatimu dengan salam penghormatan Islam. Aisyah berkata, "Wa'alaihissalām Waraḥmatullāhi Wabarakātuh (Semoga atasnya keselamatan, Rahmat Allah, dan berkah-Nya)," Selanjutnya termasuk sunnah, apabila menyampaikan salam dari seseorang, maka hendaknya dibalas dengan ucapan, "Wa'alaihissalām Waraḥmatullāhi Wabarakātuh," berdasarkan makna literal hadis Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-. Jika orang tersebut mengucapkan, "Alaika wa 'alaihissalām atau 'Alaihi wa Alaikassalām Waraḥmatullāhi Wabarakātuh," maka ini baik, karena orang yang menyampaikan salam tersebut adalah orang baik. Karena orang yang menyampaikan salam itu telah berbuat baik, maka engkau membalasnya dengan mendoakannya. Tetapi yang menjadi pertanyaan, apakah engkau wajib atau tidak menyampaikan pesan, jika seseorang berkata, "Sampaikan salamku kepada si A?" Para ulama merincinya dan mengatakan, "Jika engkau memandang harus menyampaikan salam itu kepadanya, maka engkau berkewajiban melakukannya. Sebab, Allah berfirman, "Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada orang yang berhak menerimanya," (QS. An-Nisa" 58) Sekarang engkau menanggung amanat tersebut. Adapun jika orang itu mengatakan, "Sampaikan salamku kepada si fulan," dan engkau diam atau engkau mengatakan kepadanya sebagai contoh, "Jika aku ingat," dan sebagainya, maka hal ini tidak menjadi keharusan kecuali apabila engkau ingat. Saat itulah engkau diharuskan untuk menyampaikan salam kepadanya, jika engkau ingat. Hanya saja sebaiknya seseorang tidak membebani orang lain dengan hal ini. Sebab, mungkin saja ia merasa kesusahan, tetapi hendaknya ia mengucapkan, "Sampaikan salamku kepada orang yang menanyakanku." Ini baik. Adapun jika ia harus menanggungnya, maka ini tidak ada gunanya karena ia terkadang sungkan kepadamu lalu berkata, "Ya, aku akan sampaikan salammu," kemudian ia lupa atau rentang waktunya lama dan sebagainya.
Dari Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, "Seorang hamba yang telah Allah berikan harta dibawa menghadap kepada Allah. Allah berfirman kepadanya, "Apa yang telah engkau lakukan di dunia?" Hużaifah berkata, "dan mereka tidak dapat menyembunyikan satu perkataan pun dari Allah." Hamba tersebut berkata, "Wahai Tuhanku, Engkau telah memberikan harta-Mu, lalu aku berbisnis dengan orang lain, dan di antara akhlakku adalah pemaaf, maka aku memberi kemudahan kepada orang yang berkelapangan dan memberi tempo kepada orang yang kesulitan." Allah berfirman, "Aku lebih berhak berbuat begitu daripada engkau, ampunilah hamba-Ku ini." 'Uqbah bin 'Āmir dan Abu Mas'ūd Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, "Demikianlah kami mendengarnya dari bibir Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-."
Diriwayatkan oleh MuslimḤużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa seorang hamba yang telah Allah berikan harta dibawa kepada Allah -Ta'ālā- pada hari kiamat, lantas Tuhannya bertanya kepadanya tentang harta tersebut, "Apa yang dilakukannya dengan harta itu?" Ḥużaifah berkata, "Dan mereka tidak dapat menyembunyikan satu perkataan pun dari Allah." Yakni, mereka tidak bisa menyembunyikan sesuatu pun dari Allah -Ta'ālā- pada hari kiamat. Hal ini sebagaimana firman Allah -Ta'ālā-, "pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan." Hamba tersebut berkata, "Wahai Tuhanku, Engkau telah memberikan harta-Mu, lalu aku berbisnis dengan orang lain," yakni, aku bertransaksi dengan mereka dalam jual-beli dan utang-piutang. Dan di antara akhlak yang aku miliki adalah memberi maaf." Selanjutnya ia menjelaskannya dengan ucapannya, "aku memberi kemudahan kepada orang yang berkelapangan," yakni, aku memberikan kemudahan kepadanya dan menerima darinya meskipun disertai sedikit kekurangan. " dan memberi tempo kepada orang yang kesulitan." Yakni, bersabar terhadap orang yang kesulitan. Aku tidak menuntutnya dan aku memberinya tempo. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Aku lebih berhak berbuat begitu daripada engkau," yakni, selama engkau memaafkan hamba-Ku dan berakhlak dengan akhlak-Ku, maka Kami lebih berhak memberi ampunan dan maaf daripada kamu." "maafkanlah hamba-Ku ini." Yakni, Allah memaafkannya dan mengampuni kesalahan-kesalahannya disebabkan maafnya, kelapangan dadanya, dan interaksinya yang baik kepada hamba-hamba Allah -Ta'ālā-. Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula). 'Uqbah bin 'Āmir dan Abu Mas'ūd Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, "Demikianlah kami mendengarnya dari bibir Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Artinya bahwa keduanya mendengar apa yang diceritakan oleh Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- itu langsung dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sebagaimana yang dituturkan oleh Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- tanpa ada tambahan atau pengurangan.
Dari Abu Mas'ūd 'Uqbah bin 'Amru Al-Anṣāri Al-Badri -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Ketika turun ayat perintah bersedekah, kami (bekerja) mengangkut (hasil sedekah) dengan punggung kami. Maka seseorang datang menyedekahkan sesuatu dalam jumlah banyak. Mereka (orang-orang munafik) berkata, "Ini orang yang ria (pamer)." Seorang lain datang lalu menyedekahkan satu ṣā'. Mereka berkata, "Allah tidak membutuhkan ṣā' orang ini." Maka turunlan ayat, "(Orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang Mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak punya (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya."
Muttafaq 'alaihAbu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- menuturkan, ketika turun ayat sedekah, yakni ayat yang menganjurkan bersedekah. Al-Hāfiẓ mengatakan, "Sepertinya ia menunjuk pada firman Allah -Ta'ālā-, "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka." Maka para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- bersegera dan berlomba-lomba memberikan sedekah kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Setiap orang membawa sedekah semampunya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Lantas ada orang yang datang dengan sedekah yang banyak dan ada orang yang datang dengan sedekah yang sedikit. Ketika seseorang datang membawa sedekah banyak, orang-orang munafik mengatakan, "Orang ini ria, tidak meniatkan sedekahnya untuk mencari rida Allah." Dan apabila seseorang membawa sedekah sedikit mereka mengatakan, "Sesungguhnya Allah tidak membutuhkannya." Ada orang yang datang membawa sedekah satu ṣā', mereka berkata, "Allah tidak membutuhkan satu ṣā'-mu ini." Maka Allah menurunkan firman-Nya, "(orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang Mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak punya (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya." Yaitu, mereka mencibir orang-orang yang sukarela bersedekah dan orang-orang yang tidak mendapatkan sedekah selain sekedar kemampuannya. Orang-orang munafik ini mencela mereka semua. "Maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih." Kita berlindung kepada Allah dari perbuatan tersebut.
Dari Ummu Ṡābit, Kabsyah binti Ṡābit saudari Hassân ibnu Ṡābit -raḍiyallāhu 'anhumā-, dia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengunjungiku. Beliau minum dari bibir geriba (kantong minum dari kulit) yang tergantung sambil berdiri. Aku pun memotong bibir geriba bekas minum beliau.
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh AhmadKabsyah binti Ṡābit -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- datang mengunjungiku. Beliau minum dari bibir geriba (kantong minum dari kulit) yang tergantung sambil berdiri." Beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melakukan demikian karena tidak memungkinkan minum kecuali dengan cara itu. Kabsyah berkata, Aku pun memotong bibir geriba bekas bibir Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk menyimpannya dan bertabarruk dengannya juga menjaganya dari penistaan.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- secara marfū', Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Ada satu pasukan hendak menyerang Ka’bah, tatkala mereka berada di Baidaa' (tanah yang lapang) mereka dibenamkan (seluruhnya ke dalam perut bumi) dari awal pasukan hingga yang paling akhir dari mereka.” Dia (Aisyah) berkata, Saya bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana dibenamkan dari awal hingga paling akhir dari mereka, padahal di dalamnya ada orang-orang pasar (orang awam yang tak ada sangkut pautnya) dan ada yang bukan dari mereka?” Beliau menjawab, “Dibenamkan dari awal hingga akhir mereka kemudian mereka dibangkitkan berdasarkan niat-niat mereka.”
Muttafaq 'alaihNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan tentang pasukan besar yang bakal menyerang Baitul Haram. Hingga saat mereka berada di gurun lapang yang luas, bumi pun terbelah menenggelamkan mereka. Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bertanya mengenai orang-orang yang bersama mereka hanya ingin berjual-beli/berdagang, tidak berniat buruk turut menyerang Ka'bah. Bersama mereka juga ada orang-orang yang ikut tanpa tahu rencana pasukan. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa mereka semua akan turut dibenamkan karena berada bersama pasukan itu. Dan mereka akan dibangkitkan di akhirat, saat hari perhitungan sesuai niatnya. Masing-masing akan diperlakukan sesuai dengan tujuannya; baik dan buruknya.
Dari Rifā'ah bin Rāfi' Az-Zarqi -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Jibril datang kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, ia berkata, "Apa kedudukan Ahli Badar di antara kalian?" Beliau menjawab, "Mereka adalah kaum muslimin yang paling utama" atau kalimat yang seperti itu. Lantas Jibril berkata, "Demikian juga para malaikat yang mengikuti perang Badar."
Diriwayatkan oleh BukhariSahabat agung, Rifā'ah -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan kepada kita bahwa Jibril -'alaihissalām- datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu bertanya kepadanya, "Bagaimana kedudukan orang-orang yang mengikuti perang Badar, -dalam perang itu Allah telah menolong Nabi-Nya dan kaum mukminin yang ikut bersamanya dengan kemenangan telak-. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, "Mereka adalah kaum muslimin yang paling utama di antara kami." Lantas Jibril berkata, "Demikian juga kalangan para malaikat yang hadir dan mengikuti perang Badar."
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Jarak antara dua tiupan sangkakala itu empat puluh.” Ada yang bertanya, "Wahai Abu Hurairah, empat puluh hari?" Abu Hurairah menjawab, "Aku enggan menjawab." Lalu mereka bertanya, "Empat puluh tahun?" Dia menjawab, "Aku tidak peduli." Lalu mereka bertanya, "Empat puluh bulan?" Dia menjawab, "Aku enggan menjawab." Dan semua bagian manusia akan hancur kecuali tulang ekor. Darinya (tulang ekor) manusia dibangkitkan. Kemudian Allah menurunkan hujan dari langit, lalu mereka tumbuh seperti tumbuhnya sayuran.”
Muttafaq 'alaihSahabat yang mulia Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan kepada kita bahwa dia telah mendengar Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyebutkan bahwa jarak waktu antara tiupan (sangkakala) yang mematikan dan tiupan yang membangkitkan adalah empat puluh. Lantas Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- ditanya tentang jumlah ini, apakah yang dimaksud dengannya hari, bulan, atau tahun? Namun dia menolak untuk menjawab sebagai isyarat darinya bahwa dia tidak mendengar sesuatu tentang itu dari Rasul -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Kemudian beliau menyebutkan bahwa Allah -Ta’ālā- mengirimkan hujan lebat yang kental seperti sperma laki-laki, maka tumbuhlah darinya manusia di dalam kuburan-kuburan mereka sebagaimana tumbuhnya biji-bijian, kemudian mereka keluar, kemudian manusia berdiri menuju hari hisab (yang akan dilakukan) oleh Rabb semesta alam.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid, dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar."
HR. MuslimNabi Muhammad ﷺ mengabarkan bahwa tempat yang paling dicintai oleh Allah ﷻ adalah masjid karena merupakan tempat ketaatan dan dibangun atas dasar ketakwaan. Sebaliknya, tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar karena umumnya menjadi tempat kecurangan, penipuan, riba, sumpah dusta, ingkar janji, dan melalaikan zikir.