





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Abdullah bin Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā-, dia berkata, "Tujuh langit dan tujuh bumi di telapak tangan Allah Yang Maha Pengasih tidak lebih hanya laksana biji sawi di tangan salah seorang di antara kalian."
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir - Diriwayatkan oleh Żahabi dalam kitab al-'Uluw - Diriwayatkan oleh Abdullah bin Imam AhmadIbnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- dalam aṡar ini mengabarkan pada kita bahwa perbandingan tujuh langit dan tujuh bumi disertai kebesarannya ke telapak tangan Allah Yang Maha Pengasih, laksana perbandingan biji sawi yang kecil dengan telapak tangan salah seorang dari kita. Ini merupakan pendekatan satu penisbahan dengan penisbahan lainnya, bukan penyerupaan telapak tangan dengan telapak tangan, karena sifat-sifat Allah tidak menyerupai apa pun, sebagaimana pula zat-Nya tidak menyerupai apa pun.
Dari Abu Żarr Al-Gifāri -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', (Nabi bersabda), "Tidaklah Kursi dibandingkan 'Arasy melainkan seperti cicin dari besi yang dilemparkan di tengah-tengah hamparan padang pasir."
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al-'Arsy - Diriwayatkan oleh Żahabi dalam kitab al-'UluwRasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan dalam hadis Abu Żarr bahwa Kursi (milik Allah) meskipun luas dan besar, bila dibandingkan dengan 'Arasy laksana cincin dari besi yang diletakkan di tengah hamparan padang pasir yang luas di muka bumi. Ini menjadi dalil akan keagungan Sang Pencipta dan kekuasaan-Nya yang sempurna.
Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Tidak ada ‘adwā (penyakit menular), tidak ada ṭiyarah (merasa sial), dan aku menyukai fa`l (optimis)." Para sahabat bertanya, "Apakah fa’l itu?" Beliau bersabda, "Perkataan yang baik."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan bahwa 'adwā (penyakit menular) sebagaimana yang diyakini orang-orang jahiliah, yaitu penyakit yang berpindah sendiri kepada yang lain tanpa ketetapan dari Allah, adalah batil. Demikian juga ṭiyarah adalah batil, yaitu meyakini kesialan lantaran sesuatu yang didengar ataupun dilihat berupa burung, hewan, orang cacat, nomer, hari, dan lain sebagainya. Sengaja disebutkan burung karena itu yang masyhur di kalangan jahiliah, yaitu melepas burung ketika hendak memulai suatu aktivitas seperti safar, dagang, atau lainnya. Jika burung itu terbang ke arah kanan, maka dia optimis dan melanjutkan niatnya, tetapi jika burung itu terbang ke arah kiri maka ia pesimis lalu mengurungkan niatnya. Kemudian beliau ﷺ mengabarkan bahwa beliau lebih suka fa`l, yaitu sesuatu yang melahirkan rasa bahagia dan senang seperti berupa perkataan yang didengar dan menjadikannya berbaik sangka kepada Tuhannya.
Al-Barā` -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda tentang kaum Ansar, "Tidaklah mencintai mereka kecuali orang beriman, dan tidak membenci mereka kecuali orang munafik. Siapa yang mencintai mereka, Allah akan mencintainya. Sebaliknya, siapa yang membenci mereka, Allah akan membencinya."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan bahwa mencintai kaum Ansar dari kalangan penduduk Madinah adalah penanda kesempurnaan iman. Karena mereka lebih awal dalam membela Islam dan Nabi ﷺ, berjuang menampung kaum muslimin, serta mengorbankan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Dan sebaliknya, membenci mereka adalah tanda kemunafikan. Kemudian beliau ﷺ menerangkan, bahwa orang yang mencintai kaum Ansar akan dicintai Allah, dan sebaliknya orang yang membenci mereka akan dibenci Allah.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Berusahalah untuk mendekati kebenaran dan tetaplah dalam kebenaran. Ketahuilah, bahwasanya tidak ada seorang pun dari kalian yang selamat karena amalannya." Para sahabat bertanya, "Tidak pula Engkau, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Tidak pula aku, kecuali Allah meliputi diriku dengan rahmat dan karunia-Nya."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mendorong para sahabat agar melakukan amal saleh serta bertakwa kepada Allah sesuai kemampuan mereka tanpa sikap guluw (berlebihan) maupun sikap meremehkan. Juga agar mengupayakan yang benar terkait amal mereka dengan cara ikhlas kepada Allah dan mengikuti Sunnah supaya amal mereka diterima dan menjadi sebab rahmat Allah turun pada mereka. Kemudian beliau mengabarkan bahwa tidak ada seorang pun di antara mereka yang akan diselamatkan oleh amalnya saja, tetapi harus ada rahmat Allah. Para sahabat bertanya, "Termasuk engkau, wahai Rasulullah, tidak akan diselamatkan oleh amalmu saja, padahal sangat besar kedudukannya?" Beliau menjawab, "Termasuk aku, kecuali Allah meliputiku dengan karunia rahmat-Nya."
Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidaklah ada seorang nabi yang Allah utus pada suatu umat sebelumku kecuali ia memiliki para pengikut setia dan sahabat-sahabat yang mengamalkan sunnahnya dan mengikuti perintahnya. Kemudian datang generasi pengganti setelah mereka yang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan dan melakukan apa yang tidak diperintahkan. Siapa yang berjuang melawan mereka dengan tangannya, maka ia seorang mukmin. Siapa yang berjuang melawan mereka dengan lisannya, maka ia seorang mukmin. Siapa yang berjuang melawan mereka dengan hatinya, maka ia seorang mukmin. Tidak ada keimanan pada selain itu meskipun sekecil biji sawi."
HR. MuslimNabi ﷺ mengabarkan bahwa tidak ada seorang nabi yang diutus oleh Allah pada suatu umat sebelumnya kecuali ia memiliki pengikut-pengikut pilihan serta pejuang-pejuang yang ikhlas di antara umatnya, yang pantas menjadi generasi pengganti setelahnya; mereka mengikuti sunnahnya dan menaati perintahnya. Kemudian sepeninggal para pendahulu yang saleh itu, datanglah generasi yang tidak memiliki kebaikan; mereka mengatakan apa yang tidak mereka lakukan dan melakukan apa yang tidak diperintahkan. Oleh sebab itu, siapa yang berjuang melawan mereka dengan tangannya, maka ia seorang mukmin. Siapa yang berjuang melawan mereka dengan lisannya, maka ia seorang mukmin. Siapa yang berjuang melawan mereka dengan hatinya, ia adalah seorang mukmin. Tidak ada keimanan di balik itu meskipun sekecil biji sawi.
Jābir bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Aku diberi lima keistimewaan yang tidak diberikan kepada satu nabi pun sebelumku. Aku diberi kemenangan dengan rasa gentar musuh sejauh perjalanan satu bulan. Bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud dan alat bersuci; maka siapa saja dari umatku yang mendapati waktu salat, hendaknya ia melaksanakan salat. Dihalalkan untukku harta rampasan perang, sementara hal itu tidak dihalalkan untuk siapa pun sebelumku. Aku juga diberi syafaat. Juga, biasanya nabi itu diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada seluruh umat manusia."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah memberinya lima perkara yang tidak diberikan kepada nabi mana pun sebelumnya: Pertama: Aku dimenangkan dengan rasa gentar yang dirasukkan ke dalam hati musuh-musuhku, walaupun jarakku dengan mereka sejauh perjalanan satu bulan. Kedua: Bumi dijadikan bagi kita sebagai tempat salat sehingga kita dapat salat di mana pun berada dan sebagai alat bersuci dengan menggunakan tanahnya saat tidak mampu menggunakan air. Ketiga: Ganimah perang dihalalkan bagi kita, yaitu harta yang dirampas oleh orang Islam dalam peperangan mereka dengan orang kafir. Keempat: Aku diberikan syafaat paling besar untuk melewatkan manusia dari dahsyatnya suasana hari Kiamat. Kelima: Aku diutus ke semua makhluk, kalangan manusia maupun jin, berbeda dengan para nabi sebelumnya yang hanya diutus kepada kaumnya.
Ḥāriṡah bin Wahb Al-Khuzā'iy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Maukah kalian aku kabari mengenai penghuni surga? Mereka adalah setiap orang lemah yang rendah hati, seandainya ia bersumpah kepada Allah niscaya Allah wujudkan untuknya. Maukah kalian aku kabari mengenai penghuni neraka? Mereka adalah setiap orang yang keras, rakus, gemar mengumpulkan harta, dan sombong."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan sebagian sifat penghuni surga dan penghuni neraka. Mayoritas penghuni surga adalah "setiap orang lemah yang rendah hati"; yaitu orang yang tawaduk, tunduk kepada Allah Ta'ala serta menghinakan dirinya kepada-Nya hingga sebagian orang menghinakannya dan menganggapnya lemah. Orang yang menghinakan diri kepada Allah ini, andainya ia bersumpah kepada Allah karena mengharapkan karunia-Nya, niscaya Allah akan wujudkan dan realisasikan apa yang ia sumpahkan serta mengabulkan permintaan dan permohonannya. Sebaliknya, mayoritas penghuni neraka adalah setiap "orang yang kasar", yaitu yang memiliki watak kasar nan keras ketika bertikai, atau orang keji yang tidak tunduk pada kebaikan, "rakus, gemar mengumpulkan harta", yaitu orang yang angkuh dan banyak makan, memiliki badan gemuk, angkuh dalam cara jalannya, memiliki akhlak buruk, "dan sombong", yaitu ia menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-bersabda, “Sesungguhnya di dalam surga terdapat 100 (seratus) tingkatan yang telah disiapkan Allah untuk para mujahid di jalan Allah. Jarak antara 2 (dua) tingkat seperti jarak antara langit dan bumi.”
Diriwayatkan oleh BukhariNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan dalam hadis ini tentang keutamaan para mujahid di jalan-Nya, dan bahwa Allah -Ta'ālā- telah menyiapkan untuk mereka di dalam surga 100 (seratus) tingkatan, jarak antara 2 (dua) tingkatan seperti jarak antara langit dan bumi.