





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Bajālah bin 'Abadah berkata, Umar bin Al-Khaṭṭāb menulis surat, "Bunuhlah semua penyihir laki-laki dan perempuan." Bajālah bin 'Abadah berkata, "Maka kami membunuh tiga penyihir." Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Ḥafṣah disihir oleh budak perempuan miliknya dan dia mengakui perbuatannya, maka Ḥafṣah memerintahkan kepada Abdurrahman bin Zaid lantas dia pun membunuhnya. Abu 'Uṡmān An-Nahdiy meriwayatkan bahwa Al-Walīd memiliki seorang laki-laki yang bermain sulap; yaitu dia menyembelih orang dan memisahkan kepalanya sehingga kami kagum dengannya lalu dia mengembalikan lagi kepalanya, maka Jundub Al-Azdiy datang lantas membunuhnya.
Diriwayatkan oleh Baihaqi - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad - Diriwayatkan oleh MalikTatkala sihir merupakan salah satu penyakit sosial yang paling berbahaya, karena dapat mengakibatkan kerusakan-kerusakan yang nyata dan hasil-hasil yang buruk seperti pembunuhan, mengambil harta secara batil, dan memisahkan antara seorang suami dan istrinya, bahkan sebagiannya termasuk perbuatan kufur, yaitu jika di dalamnya terdapat tindakan minta bantuan dan berkurban untuk setan, maka Allah menentukan baginya obat ampuh yang dapat menghilangkannya sekaligus, yaitu dengan membunuh penyihir tersebut agar masyarakat kembali merasa aman dengan segala kemuliaan, kesucian, dan keistikamahannya. Inilah yang dilakukan oleh para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum-.
Dari Abu Musa al-Asy‘ari -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, “Kami pernah bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam satu perjalanan. Maka ketika kami mendekati sebuah lembah, kami bertahlil dan bertakbir dengan mengeraskan suara kami. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun bersabda, ‘Wahai sekalian manusia! Tenangkanlah diri kalian, karena kalian tidak berdoa kepada Zat yang tuli dan tidak ada! Sesungguhnya Dia bersama kalian, sesungguhnya Dia Maha mendengar lagi Maha dekat.’”
Muttafaq 'alaih, dan ini redaksi BukhariDi hadis Abu Musa al-Asy‘ari -raḍiyallāhu 'anhu- ini disebutkan bahwa mereka pernah bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam suatu perjalanan, lalu mereka bertahlil dan bertakbir sembari mengeraskan suara mereka. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda: “Wahai sekalian manusia, tenangkanlah diri kalian!” maksudnya: mudahkanlah diri kalian dan jangan memperberatnya dengan mengeraskan suara. “…karena kalian tidak berdoa kepada Zat yang tuli dan tidak ada. Sesungguhnya Dia hadir bersama kalian, sesungguhnya Dia Maha mendengar lagi Maha dekat”, yaitu Allah -'Azza wa Jalla-, tidak perlu kalian memaksa diri untuk mengeraskan suara saat mengucapkan tasbih, tahmid dan takbir, karena Allah -Ta'ālā- Maha mendengarkan dan melihat, dan Dia -Jalla wa ‘Alā- Maha dekat, meskipun ia berada di atas langit, namun ilmu-Nya -Jalla wa ‘Alā- meliputi segala sesuatu. Sabda beliau: “…kalian berdoa kepada Yang Maha mendengar, Maha melihat dan Maha dekat”. Ini merupakan ungkapan superlatif untuk Allah; karena milik Allah -Ta'ālā- kesempurnaan yang utuh dalam semua sifat ini. Sehingga tidak ada gerakan apapun meskipun tersembunyi yang luput dari pendengaran-Nya. Dia mendengarkan rayapan semut di atas batu licin di kegelapan malam, bahkan yang lebih samar dari itu sekalipun. Sebagaimana pandangan-Nya tidak terhalangi oleh satu penghalang pun. Dia mendengarkan lantunan dan suara nafas kalian, bahkan semua kalimat yang kalian ucapkan. Dia melihat semua gerakan kalian, dan Dia bersama kalian, dekat dengan siapa yang berdoa kepadanya. Dia juga bersama semua makhluk-Nya dengan pengawasan dan penguasaan-Nya. Mereka semua dalam genggaman-Nya. Meski demikian, Dia tetap berada di atas Arsy-Nya, Mahatinggi di atas seluruh makhluk-Nya, tanpa ada satu hal pun dari seluruh makhluk-Nya yang tersamar dari-Nya, apapun yang terjadi. Pendengaran, penglihatan dan kedekatan adalah sifat-sifat yang ditetapkan untuk Allah -'Azza wa Jalla- sesuai dengan kemuliaan-Nya, tanpa melakukan takyīf (menanyakan kaifiyatnya), tamṡīl (mempermisalkan), taḥrīf (menyelewengkan) dan takwil (menakwilkan).
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Jika Allah hendak menimpakan azab kepada satu kaum, maka azab itu menimpa semua orang yang ada di tengah-tengah mereka. Setelah itu mereka dibangkitkan sesuai amalannya."
Muttafaq 'alaihNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa Allah -'Azza wa Jalla- jika hendak menimpakan azab kepada satu kaum, yakni, ketika Allah hendak menyiksa satu kaum sebagai azab atas amal buruk mereka. "maka azab itu menimpa semua orang yang ada di tengah-tengah mereka." Yakni orang-orang yang ada di tengah-tengah mereka yang tidak sependapat dengan mereka. Allah membinasakan seluruh manusia ketika muncul kemungkaran dan kemaksiatan yang dilakukan secara terang-terangan. "Setelah itu mereka dibangkitkan sesuai amalannya." Yakni, setiap orang dibangkitkan sesuai dengan amalnya. Jika amalnya saleh, maka dia akan mendapatkan kesalehan, dan jika buruk, maka akhirnya adalah keburukan. Azab ini menjadi penyucian bagi orang-orang saleh dan pembalasan terhadap orang-orang fasik. Allah membangkitkan mereka sesuai dengan amalan mereka adalah keputusan yang adil, karena amal-amal saleh mereka hanya akan dibalas di akhirat. Adapun di dunia, apa pun ujian yang menimpanya, hanyalah untuk menghapus amal buruk yang telah mereka lakukan. Dengan demikian, azab yang dikirimkan Allah di dunia terhadap orang-orang yang berlaku zalim ini akan menimpa semua orang yang ada bersama mereka dan tidak mengingkari perbuatan mereka. Ini sebagai balasan bagi mereka atas sikap mereka. Selanjutnya pada hari kiamat kelak, masing-masing dibangkitkan dan diberi balasan sesuai amalnya.
Dari Mu'āż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Suatu pagi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tertahan melakukan salat Subuh, hingga hampir saja kami melihat matahari. Tiba-tiba beliau keluar dengan tergesa-gesa lalu melaksanakan salat sunah sebelum salat wajib. Beliau melaksanakan salat dan menunaikan sekedar yang wajib saja. Usai mengucapkan salam, beliau memanggil lalu berkata kepada kami, "Tetaplah kalian di saf kalian semula." Selanjutnya beliau berpaling kepada kami lalu bersabda, "Sesungguhnya aku akan menceritakan kepada kalian apa yang telah menahanku dari kalian pagi ini. Tadi malam aku bangun lalu berwudu dan melaksanakan salat semampuku. Tiba-tiba aku merasakan kantuk dalam salatku, hingga terasa berat (dan tertidur). Tiba-tiba aku melihat Rabbku -Tabāraka wa Ta'ālā- dalam wujud-Nya yang paling indah. Dia berfirman, "Wahai Muhammad!" Aku menjawab, "Aku memenuhi seruan-Mu, wahai Rabbku." Dia bertanya, "Apa yang diperselisihkan oleh Al-Mala`ul A'la?" Aku menjawab, "Aku tidak tahu, wahai Rabbku." Dia bertanya seperti itu tiga kali." Beliau bersabda, "Aku lihat Allah meletakkan telapak tangan-Nya di pundakku hingga aku merasakan dingin jari-jari-Nya di antara dadaku hingga segala sesuatu tampak untukku dan aku pun tahu. Allah berfirman, "Wahai Muhammad!" Aku menjawab, "Aku memenuhi seruan-Mu, wahai Rabbku."Apa yang diperselisihkan oleh Al-Mala`ul A'la?" Aku menjawab, "Tentang kaftarāt." Allah bertanya, "Apa kaftarāt itu?" Aku menjawab, "Melangkahkan kaki menuju salat jamaah, duduk di masjid setelah salat dan menyempurnakan wudu di waktu-waktu yang tidak disukai." Allah bertanya lagi, "Lantas apa lagi?" Aku menjawab, "Memberi makan, perkataan yang lembut dan salat di malam hari ketika manusia tidur." Allah berfirman, "Mintalah!" Aku menjawab, "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kemudahan melakukan kebaikan, meninggalkan kemungkaran, mencintai orang-orang miskin dan Engkau mengampuni serta merahmatiku. Jika Engkau menghendaki adanya fitnah pada suatu kaum, maka wafatkanlah aku tanpa tertimpa fitnah. Aku juga memohon agar dapat mencintai-Mu, mencintai orang yang mencintai-Mu, dan mencintai amalan yang dapat mendekatkanku kepada cinta-Mu." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Sesungguhnya itu suatu kebenaran, karena itu pelajari lalu dalami (maknanya)!"
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh AhmadMu'aż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- suatu hari terlambat keluar menuju para sahabat untuk salat Subuh hingga matahari hampir terbit. Tiba-tiba beliau keluar dengan tergesa-gesa lalu memerintahkan untuk mengumandangkan iqamah. Lantas beliau mengimami mereka salat dan meringankannya. Usai salat, beliau memerintahkan para sahabat agar tetap berada di saf mereka masing-masing. Lantas beliau mengabarkan kepada mereka sebab keterlambatannya melakukan salat fajar, bahwasannya beliau bangun untuk mendirikan salat malam, lalu beliau berwudu dan melakukan salat beberapa rakaat sesuai kehendak Allah. Tiba-tiba beliau tertidur saat salat dan bermimpi melihat Rabbnya dalam wujud yang paling indah. Allah bertanya kepada beliau, "Apa yang diperbincangkan oleh para malaikat yang dekat dengan-Nya?" Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, "Aku tidak tahu." Pertanyaan dan jawaban ini terulang tiga kali. Selanjutnya Allah -Subḥanāhu wa Ta'ālā- meletakkan telapak tangannya di antara pundak Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hingga beliau merasakan dinginnya jari-jari Allah -Ta'ālā- di dadanya. Deskripsi Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang Rabbnya -'Azza wa Jalla- sebagaimana disifatinya adalah haq dan benar, harus diimani dan dibenarkan sebagaimana Allah -'Azza wa Jalla- mensifati diri-Nya disertai penafian penyerupaan-Nya (dengan makhluk). Orang yang merasakan kesulitan dalam memahami hal itu dan merasa samar baginya, hendaknya dia mengatakan sebagaimana Allah -Ta'ālā- memuji orang-orang yang dalam ilmunya dan mengabarkan tentang mereka bahwa mereka mengatakan tentang ayat-ayat yang mutasyābih, "Kami beriman kepadanya (Alquran), semuanya dari sisi Rabb kami." Dia tidak diberi beban dengan sesuatu yang tidak diketahuinya karena hal itu ditakutkan akan membinasakannya. Setiap kali orang-orang mukmin mendengar perkataan seperti itu, mereka berkata, "Inilah yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya kepada kami. Maha Benar Allah dan Rasul-Nya." Hal itu menambah iman dan penyerahan diri mereka. Ketika Allah -Subḥanāhu wa Ta'ālā- meletakkan telapak tangan-Nya di antara dua pundak Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, maka terbukalah baginya segala sesuatu dan mengetahui jawaban. Beliau bersabda, "Para malaikat itu berbincang-bincang, mendiskusikan dan berselisih mengenai amalan yang dapat menghapus kesalahan." Perselisihan mereka ini merupakan sikap bersegera yang mereka lakukan dalam menetapkan amalan-amalan itu dan membawanya naik ke langit atau mereka membicarakan keutamaan dan kemuliaannya. Amalan itu adalah berjalan menuju salat jamaah, duduk di masjid setelah selesai salat untuk zikir, membaca (Alquran), mendengarkan ilmu dan mengajarkannya, menyempurnakan wudu, dan menyampaikan (air wudhu) ke tempat-tempat yang disyariatkan dalam berbagai situasi di mana jiwa tidak suka untuk berwudu saat itu, seperti cuaca yang sangat dingin. Kemudian Allah berfirman kepada beliau, "Selanjutnya apa yang diperselisihkan oleh para malaikat yang dekat dengan-Nya?" Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, "Memberi makan kepada manusia, berbicara kepada manusia dengan perkataan yang baik dan lembut, salat malam saat orang tidur." Allah -Subḥanāhu wa Ta'ālā- berfirman kepada beliau, "Mintalah kepada-Ku sesukamu." Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memohon kepada-Nya agar memberinya taufik untuk melaksanakan segala kebaikan dan meninggalkan segala keburukan, menjadikannya cinta kepada orang-orang miskin dan fakir, mengampuni dan merahmatinya. Dan apabila Allah hendak menimpakan fitnah kepada suatu kaum dan menyesatkan mereka dari kebenaran, hendaknya Dia mewafatkan beliau tanpa terkena fitnah dan tidak sesat, serta menganugerahkan kepada beliau agar dapat mencintai-Nya, mencintai orang yang mencintai-Nya, dan mencintai segala amalan yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Kemudian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan kepada para sahabatnya bahwa mimpi ini benar dan memerintahkan mereka agar mempelajarinya dan mendalami makna-makna dan hukum-hukumnya.
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwasanya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Setelah Allah selesai membentuk Adam di surga, Dia membiarkannya beberapa saat sesuai kehendak-Nya. Lantas Iblis mengitarinya dan mengamati makhluk apa itu. Saat ia melihat bahwa makhluk itu berongga (memiliki perut), ia pun tahu bahwa Allah menciptakan makhluk yang tidak tahan godaan (bisikan)."
Diriwayatkan oleh MuslimKetika Allah telah selesai menciptakan Adam di surga dan menyempurnakan bentuknya, Dia membiarkannya sesaat sebelum ruh ditiupkan ke dalamnya. Lantas Iblis mengitarinya dan mengamatinya untuk mengetahui makhluk apa itu. Tatkala ia melihat bagian dalam Adam kosong dan memiliki rongga, Iblis tahu bahwa ini adalah makhluk lemah yang tidak akan mampu menahan godaannya atau ia mengetahui bahwa Adam akan melakukan dosa dari arah rongga perutnya, karena Adam makan dari pohon, atau Iblis sudah mengetahui bahwa makhluk yang berongga (memiliki perut) adalah lemah. Sebagian orang merasa aneh terhadap sabda nabi, "di surga," padahal ada keterangan bahwa Allah -Ta'ālā- menciptakan Adam dari beberapa bagian tanah. Hal ini dijawab dengan adanya kemungkinan Adam dibiarkan dalam kondisi tersebut hingga berlalu beberapa fase dan raganya siap untuk menerima tiupan ruh ke dalamnya. Setelah itu baru dibawa ke surga dan ruhnya ditiupkan di sana.
Dari Nawās bin Sam'ān -raḍiyallāhu 'anhu- menuturkan, “Di suatu pagi, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengisahkan tentang Dajjal. Beliau merendahkan dan meninggikan suaranya ketika menceritakannya, hingga kami mengiranya telah berada di arah kebun kurma (Madinah). Ketika kami kembali pada beliau di sore hari, beliau langsung mengetahui adanya rasa khawatir pada diri kami. Beliau lalu bersabda, “Ada apa dengan kalian?” Kami menjawab, “Wahai Rasulullah, engkau menceritakan Dajjal di pagi ini, engkau merendahkan suara dan meninggikannya hingga kami mengiranya telah berada di arah kebun kurma (Madinah).” Beliau bersabda, “Bukan Dajjal yang lebih aku takutkan menimpa kalian. Jika ia keluar saat aku masih hidup di tengah kalian, akulah yang akan melindungi kalian darinya, jika ia keluar sedang aku tidak lagi hidup di tengah kalian, maka setiap orang hendaknya menjadi pelindung bagi dirinya sendiri. Allah penggantiku dalam melindungi setiap muslim. Dajjal itu sosok pemuda berambut keriting, matanya menonjol. Sepertinya aku bisa menyerupakannya dengan Abdul 'Uzzā bin Qaṭan. Siapa di antara kalian mendapatinya hendaknya ia membaca ayat-ayat pembukaan surat Al-Kahfi. Ia keluar di sebuah jalan antara Syam dan Irak. Ia menebar kerusakan di sepanjang kanan dan kiri (jalan yang ia lewati). Wahai hamba-hamba Allah, teguhlah kalian!” Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, berapa lama keberadaannya di bumi?” Beliau menjawab, “40 hari; ada yang satu harinya seperti satu tahun, satu hari seperti satu bulan, satu hari seperti satu Jum`at (pekan) dan panjang hari-hari lainnya seperti hari-hari (biasa) kalian.” Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, tentang hari yang seperti satu tahun itu, apakah pada saat itu kami cukup menunaikan salat satu hari?” Beliau menjawab, “Tidak. Namun perkirakanlah waktu-waktunya.” Kami bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, seberapa cepat perjalanannya di bumi?” Beliau menjawab, “Seperti awan yang digerakkan angin. Ia datang pada satu kaum, menyeru mereka (agar menuhankan dirinya) lalu mereka beriman padanya dan memenuhi ajakannya. Lalu ia memerintahkan langit agar menurunkan hujan dan bumi agar menumbuhkan tanaman, sehingga ternak-ternak mereka memiliki punuk-punuk onta yang paling tinggi, air susu yang paling melimpah dan perut-perut yang paling besar. Kemudian ia mendatangi satu kaum lain dan menyeru mereka, namun mereka menolak perkataannya. Ia pun pergi meninggalkan mereka, lalu mereka menjadi gersang, mereka tak lagi memiliki sedikit pun harta. Dajjal lalu melewati tanah tak berpenghuni, lalu ia mengatakan pada tanah ini, “Keluarkan simpanan-simpanan hartamu.” Maka secara berturut-turut keluarlah simpanan-simpanan hartanya seperti lebah-lebah jantan (keluar dari sarangnya yang diikuti oleh lebah-lebah lainnya). Kemudian Dajjal memanggil seseorang yang kekar dan masih muda, ia menebas tubuhnya dengan pedang hingga memotongnya menjadi dua bagian, diantara kedua potongan tubuh tersebut terdapat celah seukuran sasaran anak panah. Kemudian ia memanggilnya dan orang itu datang dalam keadaan wajahnya berseri-seri dan tertawa. Ketika ia dalam kondisi seperti itu, Allah -ta'ālā- mengirimkan al-Masih Ibnu Maryam -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, ia turun di menara putih di bagian timur Damaskus dengan memakai dua pakaian berwarna, meletakkan kedua telapak tangannya pada sayap-sayap dua malaikat. Apabila ia menundukkan kepalanya meneteslah (air) dan apabila ia mengangkatnya berguguranlah butiran-butiran (air) seperti mutiara. Tidaklah ia mendatangi orang kafir lalu ia menghirup bau nafasnya kecuali ia mati, padahal bau nafasnya menjangkau jarak sejauh pandangan matanya. Lalu ia mencari Dajjal sampai menemukannya di Bāb Lud, dan ia berhasil membunuhnya. Kemudian Isa -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendatangi satu kaum yang telah Allah lindungi dari fitnah Dajjal. Ia mengusap wajah-wajah mereka dan menyampaikan pada mereka tingkatan-tingkatan mereka di surga. Dalam kondisi seperti ini, Allah -Ta'ālā- mewahyukan pada Isa -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa Aku telah mengeluarkan hamba-hamba-Ku (Ya`juj dan Ma`juj) yang tak seorang pun memiliki kekuatan melawan mereka. Maka ungsikanlah hamba-hamba-Ku ke bukit Ṭur. Allah mengirimkan Ya`juj dan Ma`juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Gelombang pertama mereka melewati danau Ṭabariyah lalu meminum airnya. Lalu gelombang akhir mereka lewat dan mengatakan, “Di tempat ini dahulu pernah ada air.” Nabi Allah, Isa -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan sahabat-sahabatnya lalu terblokade oleh mereka (di bukit Ṭur) hingga kepala sapi milik salah seorang mereka lebih berharga dibanding 100 dinar milik salah seorang kalian pada hari ini. Lalu Nabi Allah, Isa -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan sahabat-sahabatnya -raḍiyallāhu 'anhum- memohon pertolongan pada Allah -Ta'ālā-. Lalu Allah mengirimkan ulat di leher-lehar mereka (Ya`juj dan Ma`juj), hingga mereka terbunuh seperti kematian satu jiwa. Kemudian Nabi Allah, Isa -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan para sahabatnya -raḍiyallāhu 'anhum- turun ke dataran bumi. Namun mereka tidak menemukan tempat sejengkalpun di dataran bumi kecuali diisi bangkai dan mayat Ya`juj dan Ma`juj. Maka Nabi Allah, Isa -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan para sahabatnya -raḍiyallāhu 'anhum- memohon pertolongan pada Allah. Lalu Allah -Ta'ālā- mengirimkan kawanan burung sebesar leher onta, burung-burung ini membawa bangkai mereka dan membuangnya di tempat yang dikehendaki Allah. Kemudian Allah -'Azzā wa Jallā- menurunkan hujan yang mengenai setiap rumah di perkotaan maupun pedesaan. Hujan ini mecuci bumi hingga meninggalkanya seperti cermin. Kemudian dikatakan pada bumi, “Tumbuhkan buahmu dan keluarkan kembali berkahmu.” Pada saat itu, sekelompok orang makan sebutir buah delima dan mereka bisa bernaung dengan kulitnya. Susupun diberkahi hingga satu onta yang memiliki susu dapat mencukupi sekelompok manusia, satu sapi betina yang memiliki susu dapat mencukupi satu kabilah manusia, dan satu kambing betina yang memiliki susu dapat mencukupi sejumlah manusia. Manakala mereka dalam kondisi seperti ini, Allah -Ta'ālā- mengirimkan angin yang sejuk, lalu mewafatkan mereka melalui bawah ketiak mereka dan ruh setiap mukmin dan muslim dicabut. Yang tersisa hanyalah manusia-manusia jahat yang membuat huru hara di bumi seperti perilaku keledai. Pada merekalah hari kiamat terjadi.”
Diriwayatkan oleh MuslimDi antara tanda kiamat besar adalah keluarnya Dajjal. Persoalan inilah yang disebutkan dalam hadis ini. Tanda ini termasuk perkara gaib yang wajib diimani dan dibenarkan sebagaimana diberitakan Nabi Allah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Kriteria-kriterianya telah disebutkan secara lengkap dalam hadis ini hingga perkaranya tak ada yang samar pada seorang mukmin. Allah telah memberi Dajjal kemampuan-kemampuan luar biasa dan keajaiban-keajaiban sebagai ujian dan cobaan bagi manusia. Dajjal akan menjelajahi seluruh bumi selain Kota Mekkah dan Madinah. Adapun kehidupannya berakhir di tangan Nabi Allah, Isa -'alaihi aṣ-ṣalātu wa as-salām-. Kemudian muncul Ya`juj dan Ma`juj yang memenuhi bumi dengan kerusakan. Kemunculan mereka ini juga termasuk tanda besar dekatnya hari kiamat. Nabi Allah, Isa dan kaum mukminin merendahkan diri memohon pertolongan pada Allah -Ta'ālā- hingga Allah menyelamatkan mereka dari kejahatan Ya`juj dan Ma`juj. Setelah berbagai peristiwa dan kejadian besar ini, kiamatpun terjadi. Namun sebelumnya Allah telah mencabut nyawa hamba-hamba-Nya yang beriman, dan kiamat hanya terjadi pada makhluk-makhluk paling buruk.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Nabi ﷺ bersabda, "Sungguh, jika Allah Ta'ala mencintai seorang hamba, maka Allah memanggil Jibril seraya berfirman, 'Sesungguhnya Aku mencintai polan, maka cintailah dia.' Lantas Jibril pun mencintainya. Lalu Jibril menyeru di langit, 'Sesungguhnya Allah mencintai polan, maka cintailah dia.' Lantas penduduk langit pun mencintainya. Kemudian dia diberikan penerimaan (dijadikan dicintai) di muka bumi. Sebaliknya, jika Allah membenci seorang hamba, Dia memanggil Jibril seraya berfirman, 'Sesungguhnya Aku membenci polan, maka bencilah dia.' Lantas Jibril pun membencinya. Setelah itu, Jibril menyeru di penduduk langit, 'Sesungguhnya Allah telah membenci polan, maka bencilah dia. Lantas penduduk langit pun membencinya. Kemudian dia dijadikan dibenci di muka bumi."
Sahih MuslimNabi ﷺ mengabarkan bahwa ketika Allah mencintai hamba-Nya yang beriman, yang menaati perintah-Nya, dan menjauhi larangan-larangan-Nya, maka Allah memanggil Jibril, "Sesungguhnya Allah Ta'ala mencintai si polan, maka cintailah dia." Pimpinan para malaikat, Jibril -'alaihissalām- pun mencintainya. Lantas Jibril menyeru para malaikat langit, "Sesungguhnya Tuhan kalian mencintai si polan, maka cintailah dia." Seketika penduduk langit langsung mencintainya. Kemudian dia diberikan penerimaan di hati-hati orang beriman berupa kecintaan, kecenderungan, dan keridaan kepadanya. Sebaliknya, ketika Allah membenci seorang hamba, Allah akan menyeru Jibril, "Sesungguhnya Aku membenci si polan, maka bencilah dia." Lalu Jibril pun membencinya, kemudian menyeru penduduk langit, "Sesungguhnya Tuhan kalian membenci si polan, maka bencilah dia." Lantas penduduk langit pun membencinya, lalu dia dijadikan dibenci dan tidak disukai di hati orang-orang beriman.
Dari Anas bin Mālik dan Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhumā- dari Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana yang diriwayatkan dari Tuhannya -'Azza wa Jalla-, Dia berfirman, "Jika seorang hamba mendekati-Ku sejengkal, niscaya Aku mendekatinya satu hasta. Jika dia mendekati-Ku satu hasta, niscaya Aku mendekatinya satu depa. Jika dia mendatangi-Ku dengan berjalan kaki, niscaya Aku mendatanginya dengan berlari kecil."
Diriwayatkan oleh Bukhari - Muttafaq 'alaihSiapa yang mendekati Allah dengan suatu ketaatan meskipun sedikit, niscaya Allah membalasnya dengan pahala dan penghormatan yang berlipat ganda. Setiap kali bertambah ketaatannya, bertambah pula pahalanya dan lebih cepat mendapatkan rahmat dan karunia-Nya. Penafsiran ini adalah jika hadis ini bukan termasuk hadis-hadis tentang sifat Allah sebagaimana pendapat sekelompok ulama dari kalangan Ahlusunnah wal Jamaah yang menetapkan berbagai sifat berdasarkan makna literal, seperti Ibnu Taimiyah. Kelompok lain berpendapat untuk menetapkan sifat berlari bagi Allah -Ta'ālā- dari hadis ini tanpa tenggelam dalam membahas tata caranya.
Dari Muhammad bin Zaid bahwa sekelompok orang berkata pada kakeknya, Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, "Sesungguhnya kami masuk menemui penguasa-penguasa kami, lalu kami mengatakan pada mereka hal yang berbeda dengan apa yang kami katakan ketika telah keluar dari hadapannya." Ia berkata, "Kami dulu, di masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menganggap hal ini sebagai kemunafikan."
Diriwayatkan oleh BukhariDari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa sekelompok orang datang padanya dan mengatakan, "Kami menemui penguasa-penguasa kami, lalu kami mengatakan suatu perkataan pada mereka, akan tetapi ketika kami telah keluar dari hadapannya kami mengatakan perkataan yang berbeda." Ia menjawab, "Kami dulu, di masa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, menganggap perbuatan itu sebagai kemunafikan. Karena mereka bicara dan berdusta, berkhianat dan tidak memberi nasihat. Yang wajib dilakukan oleh orang yang menemui penguasa baik panglima, menteri, pemimpin maupun raja adalah ia mengungkapkan suatu perkara sesuai hakekatnya.