





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Ketika Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meninggal dunia, para sahabat bertanya, 'Di mana beliau akan dimakamkan?' Maka Abu Bakar berkata, 'Di tempat beliau meninggal.'"
Diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad - Diriwayatkan oleh TirmiżiKetika Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meninggal dunia, para sahabat berbeda pendapat tentang tempat beliau dimakamkan. Maka Abu Bakar berkata, "Makamkanlah beliau di tempat beliau meninggal." Di sebagian riwayat disebutkan bahwa Abu Bakar pernah mendengar Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidaklah seorang nabi di antara para nabi meninggal dunia kecuali di tempat yang dia ingin dimakamkan padanya."
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan bahwa Abu Bakar masuk melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- setelah wafat, beliau lalu meletakkan mulutnya di antara kedua mata beliau dan kedua tangannya di kedua pelipis beliau seraya berkata, "Aduhai nabiku, aduhai kekasihku, aduhai kecintaanku."
Diriwayatkan oleh AhmadAbu Bakar Aṣ-Ṣiddīq masuk melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- setelah wafat, beliau lalu meletakkan mulutnya di antara kedua mata beliau dan menciumnya, serta meletakkan kedua tangannya di kedua pelipis Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, yaitu bagian samping muka dari mata hingga telinga, seraya berkata, "Aduhai nabiku! Aduhai kekasihku! Aduhai kecintaanku." Artinya, Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- merasakan kesedihan dengan kematian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan dia menggambarkan beliau sebagai teman yang tulus yang dicintainya lebih dari seluruh manusia dan dia mengutamakan beliau di atas semua orang hingga dirinya sendiri. Ucapan seperti ini disebut "nudbah"; bila di dalam hati tidak terdapat ketidakrelaan dan kekesalan terhadap musibah, suara kesedihan juga tidak tinggi, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para wanita berupa teriakan dan rintihan tangisan, maka hukumnya boleh, dan seperti itulah yang dilakukan oleh Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu-.
Anas bin Malik- raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Pada hari kedatangan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di Madinah, segala sesuatu di Madinah menjadi terang. Sebaliknya pada hari beliau wafat, segala sesuatu di Madinah menjadi gelap. Tidaklah kami membersihkan tangan dari menguburkan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, padahal kami masih sedang menguburkan beliau, kecuali kami tidak lagi mengenal hati kami."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh AhmadAnas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- bercerita tentang sosok Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa pada hari beliau pertama kali memasuki Madinah untuk berhijrah dari Mekah, segala sesuatu di Madinah menjadi terang. Tapi sebaliknya pada hari beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meninggal dunia, segala sesuatu di Madinah menjadi gelap. Terang dan gelap yang disebutkan dalam hadis ini bersifat maknawi, bukan indrawi. Kemudian dia menceritakan bahwa tatkala para sahabat selesai menguburkan beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, mereka tidak lagi menemukan hati mereka seperti keadaan sebelumnya di masa hidup Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang dipenuhi dengan cahaya iman, kelembutan, dan kebersahabatan di antara mereka lantaran terputusnya wahyu dan hilangnya keberkahan hidup bersama beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak meninggalkan warisan berupa dinar, dirham, kambing, ataupun unta, dan tidak juga mewasiatkan sesuatu."
Diriwayatkan oleh MuslimAisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bercerita bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak meninggalkan harta warisan setelah kematian beliau, baik sedikit ataupun banyak, tidak juga kambing, unta, dan berbagai jenis harta lainnya. Bahkan beliau tidak juga mewasiatkan sesuatu. Maksud Aisyah di sini ialah wasiat harta secara khusus; karena seseorang akan berwasiat tentang harta bila harta itu diwarisi, sementara beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak meninggalkan harta warisan sedikit pun sehingga beliau tidak dapat berwasiat di dalamnya. Namun beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berwasiat pada perkara-perkara yang lain, di antaranya beliau berwasiat supaya menjaga salat serta mengeluarkan orang-orang Yahudi dan Nasrani dari Jazirah Arab.
Aisyah mengatakan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah bersabda ketika sehat, "Sungguh, tidaklah seorang nabi diwafatkan hingga dia melihat tempatnya di surga lalu dia diberikan pilihan." Ketika kematian turun kepada beliau, sementara kepala beliau berada di atas pahaku, tiba-tiba beliau pingsan lalu sadar kembali, lantas beliau mengangkat pandangannya ke langit-langit rumah lalu berkata, "Ya Allah! Bersama Ar-Rafīq Al-A'lā." Aku berkata, "Dengan demikian, beliau tidak memilih kami. Aku menyadari itulah hadis yang pernah beliau sampaikan kepada kami ketika beliau masih sehat." Aisyah berkata juga, "Kalimat terakhir yang beliau ucapkan ialah: 'Ya Allah! Ar-Rafīq Al-A'lā.'"
Muttafaq 'alaihAisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah bersabda di masa beliau sehat sebelum mengalami sakit yang mengantarkan kematian beliau, bahwa tidaklah seorang nabi meninggal dunia kecuali setelah Allah memperlihatkan kepadanya tempatnya di surga lalu memberinya pilihan antara tetap hidup di dunia atau mendapatkan tempatnya di surga. Aisyah berkata, "Ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengalami sakit yang mengantarkan kematian beliau, sementara kepala beliau di atas pahaku, lalu beliau pingsan kemudian sadar lagi, maka beliau mengangkat pandangannya ke langit-langit rumah lantas bersabda, 'Ya Allah! Bersama Ar-Rafīq Al-A'lā.'" Maksudnya aku memilih bersama Ar-Rafīq Al-A'lā, yaitu kumpulan para nabi yang tinggal di tempat tertinggi. Aisyah melanjutkan, "Bila Allah memberikannya pilihan antara dunia dan akhirat maka beliau akan memilih akhirat dan tidak akan memilih kami. Dan aku menyadari bahwa pemberian pilihan ini adalah hadis yang pernah beliau sampaikan di masa sehatnya." Aisyah juga berkata, "Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ialah: 'Ya Allah! Bersama Ar-Rafīq Al-A'lā.'"
Dari 'Urwah bin az-Zubair, ia berkata, "Aku bertanya kepada Abdullah bin 'Amru tentang perbuatan yang paling keras yang dilakukan kaum Musyrikin kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Dia menjawab, 'Aku pernah melihat 'Uqbah bin Abu Mu'īṭ mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- saat beliau sedang salat lalu dia meletakkan selendangnya di leher beliau lalu dia mencekik beliau sekuat-kuatnya. Kemudian Abu Bakar datang lalu melepaskan selendang tersebut dari leher beliau seraya berkata dengan mengutip firman Allah, "Apakah kalian akan membunuh seseorang karena dia mengatakan Rabbku Allah? Sungguh dia telah datang dengan membawa keterangan-keterangan yang jelas dari Rabb kalian." (Gāfir: 28)
Diriwayatkan oleh BukhariUrwah bin az-Zubair bin al-'Awwām -rahimahullah- bertanya kepada Abdullah bin 'Amru bin al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- tentang perbuatan yang paling keras yang dilakukan kaum Musyrikin kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Dia menjawab bahwa dia pernah melihat 'Uqbah bin Abu Mu'īṭ mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- saat beliau sedang salat di Hijir Kakbah, lalu dia meletakkan pakaiannya atau pakaian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di leher beliau lalu dia menariknya dengan sekuat-kuatnya. Kemudian Abu Bakar datang dan menjauhkan 'Uqbah dengan tangannya dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam keadaan menangis dan membaca firman Allah, 'Apakah kalian akan membunuh seseorang karena dia mengatakan Rabbku Allah? Sungguh dia telah datang dengan membawa keterangan-keterangan yang jelas dari Rabb kalian'." (Gāfir: 28). Inilah tindakan paling kasar yang pernah dilihat oleh Abdullah -raḍiyallāhu 'anhu-. Sementara itu 'Urwah melihat tindakan yang lebih kasar dari itu. 'Urwah mengabarkan bahwa Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, istri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bercerita kepadanya. Ia (Aisyah) berkata kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Apakah engkau pernah menghadapi satu hari yang lebih dahsyat dari perang Uhud?" Beliau bersabda, "Aku telah mendapatkan perlakuan dari kaummu sebagaimana yang aku terima. Tindakan paling kasar mereka yang menimpaku adalah pada hari Aqabah saat aku menawarkan diriku kepada Ibnu Abdi Yālail bin Abdi Kulāl, tetapi dia tidak merespon apa yang aku inginkan. Aku pun pulang dengan wajah sedih. Aku tidak sadar kecuali saat aku berada di Qarn aṡ-Ṡa'ālib. Aku pun menengadahkan wajahku. Tiba-tiba aku sudah berada di bawah awan yang menaungiku. Aku menatap awan itu, ternyata di dalamnya ada Jibril. Jibril menyeruku lalu berkata, "Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan penolakan mereka kepadamu. Allah telah mengutus malaikat (penjaga) gunung untuk engkau perintah sesuai keinginanmu terhadap mereka." Malaikat penjaga gunung menyeruku lalu mengucapkan salam kepadaku kemudian berkata, "Wahai Muhammad." Kemudian dia berkata, "Itu terserah engkau. Jika engkau mau, aku akan menimpakan dua gunung itu kepada mereka?" Nabi - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Justru aku mengharapkan Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah Yang Esa tanpa menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya." Muttafaq 'alaih.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak menikah lagi sampai Khadijah wafat."
Diriwayatkan oleh MuslimNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak menikah lagi sampai Khadijah binti Khuwailid -raḍiyallāhu 'anhā- meninggal dunia. Ini menunjukkan kedudukan Khadijah di sisi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Ia merupakan istri pertama beliau.
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah berkata kepadaku, "Sungguh aku mengetahui bila engkau sedang rida kepadaku dan ketika engkau marah kepadaku." Aisyah lalu bertanya, "Dari mana engkau mengetahui hal itu?" Maka beliau menjawab, "Jika engkau sedang rida kepadaku maka engkau berkata, 'Tidak, demi Rabb Muhammad!' Namun bila engkau sedang marah kepadaku, maka engkau akan berkata, 'Tidak, demi Rabb Ibrahim!'" Aku berkata, "Benar, demi Allah, wahai Rasulullah! Aku tidak bisa meninggalkan kecuali namamu."
Muttafaq 'alaihAisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkata kepadaku, 'Sungguh aku dapat mengetahui kapan engkau rida kepadaku dan kapan engkau marah kepadaku.'" Aisyah lalu bertanya, "Dari mana engkau mengetahui hal itu?" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Bila engkau sedang rida kepadaku maka engkau akan mengatakan, 'Tidak, demi Rabb Muhammad!' Yaitu engkau menyebut namaku dalam sumpahmu. Namun bila engkau sedang marah kepadaku disebabkan salah satu urusan duniawi yang berkaitan dengan interaksi suami istri maka engaku akan berkata di dalam sumpahmu, 'Tidak, demi Rabb Ibrahim!' Yaitu engkau berpaling dari namaku kepada nama Ibrahim." Aisyah berkata, "Benar, demi Allah, wahai Rasulullah! Aku tidak bisa meninggalkan kecuali menyebut namamu dari lisanku selama aku marah. Tetapi cinta tetap kokoh selamanya dalam hatiku."
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: "Nabi Muhammad ﷺ mengirim surat kepada Kisra, Kaisar, Najasyi, dan ke semua penguasa untuk mengajak mereka kepada Allah ﷻ. Najasyi di sini bukan Najasyi yang disalati oleh Nabi ﷺ."
HR. MuslimAnas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa Nabi ﷺ mengirimkan surat sebelum beliau wafat kepada raja-raja berbagai bangsa di sekitarnya untuk mengajak mereka masuk Islam. Beliau mengirim surat kepada Kisra, yaitu gelar bagi setiap raja Persia. Juga kepada Kaisar, yaitu gelar bagi setiap raja Romawi, dan kepada Najasyi, yaitu gelar bagi setiap raja-raja Habasyah. Beliau juga mengirim surat kepada seluruh raja yang kuat, yang mengendalikan orang-orang dan menguasai mereka. Anas -raḍiyallāhu 'anhu- menjelaskan bahwa Najasyi yang dikirimi surat ini bukanlah Najasyi yang masuk Islam lalu mati dan beliau ﷺ menyalatinya dengan salat gaib.