





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Ṡaubān -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sebaik-baik dinar (harta) yang dinafkahkan seseorang ialah dinar yang dinafkahkan untuk keluarganya, dinar yang dinafkahkan untuk kendaraannya di jalan Allah, dan dinar yang dinafkahkan untuk sahabat-sahabatnya yang berperang di jalan Allah." Abu Qilābah berkata, "Beliau memulainya dengan keluarga." Kemudian Abu Qilābah berkata, "Siapakah yang lebih besar pahalanya dari seorang laki-laki yang menafkahi anak-anaknya yang masih kecil; dengannya Allah menjaga mereka atau memberikan mereka manfaat dan memberikan kecukupan bagi mereka?!"
HR. MuslimRasulullah ﷺ menerangkan beberapa jenis nafkah dan mengurutkannya berdasarkan nafkah yang paling wajib. Beliau memulai dari yang paling penting. Beliau mengabarkan bahwa harta yang paling banyak pahalanya ialah yang dinafkahkan oleh seorang muslim kepada orang yang wajib ia nafkahi, seperti istri dan anak. Kemudian nafkah pada kendaraan yang disiapkan untuk perang di jalan Allah. Kemudian nafkah pada teman dan rekan-rekan saat mereka berjihad di jalan Allah.
Abu Sa‘īd Al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Jika salah seorang kalian melihat mimpi yang dia sukai, maka itu berasal dari Allah. Sebab itu, hendaklah dia memuji Allah dan menceritakannya. Tetapi, jika dia melihat mimpi selain itu yang dia tidak sukai, maka itu berasal dari setan. Sebab itu hendaklah dia memohon perlindungan (kepada Allah) dari keburukannya dan janganlah dia menceritakannya kepada siapa pun karena tidak akan membahayakannya."
HR. BukhariNabi ﷺ mengabarkan bahwa mimpi baik yang membahagiakan dalam tidur berasal dari Allah. Lantas beliau mengarahkan agar memuji Allah atas mimpi itu dan menceritakannya. Tetapi, jika melihat mimpi yang tidak disukai dan mendatangkan sedih, mimpi tersebut berasal dari setan. Sebab itu, ia harus meminta perlindungan kepada Allah dari keburukannya dan tidak menceritakannya kepada siapa pun karena mimpi tersebut tidak akan mencelakakannya, yaitu Allah menjadikan apa yang disebutkan sebagai sebab keselamatan dari keburukan yang lahir dari mimpi.
Ṣuhaib -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Sungguh, seluruh urusannya adalah kebaikan. Hal ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Ketika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Ketika ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya."
HR. MuslimRasulullah ﷺ merasa takjub akan urusan dan keadaan orang beriman karena seluruh keadaannya mendatangkan kebaikan. Hal seperti itu tidak didapatkan kecuali pada orang beriman. Ketika mendapatkan kesenangan, ia mensyukuri Allah atas hal itu, sehingga ia mendapatkan pahala syukur. Ketika ditimpa keburukan, ia bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah sehingga ia mendapatkan pahala sabar. Karena itulah, ia senantiasa meraih pahala di semua kondisinya.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Apabila Rasulullah ﷺ bersin, beliau meletakkan tangannya -atau pakaiannya- pada mulutnya dan merendahkan -atau menekan- suaranya."
HR. Abu Daud, Tirmizi, dan AhmadKebiasaan Rasulullah ﷺ apabila bersin adalah: - Pertama: meletakkan tangannya atau pakaiannya pada mulut agar tidak keluar dari mulut atau hidung beliau sesuatu yang akan mengganggu teman duduknya. - Kedua: merendahkan suara dan tidak meninggikannya.
Dari Abu Said Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Maukah kalian aku beritahukan tentang sesuatu yang lebih aku takutkan (akan menimpa) kalian daripada Al-Masīh Ad-Dajjāl?" Para sahabat menjawab, "Tentu saja, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Syirik Khafi (yang samar/tersembunyi). Seseorang berdiri lalu salat kemudian memperbagus salatnya karena melihat pandangan orang yang memperhatikannya."
Diriwayatkan oleh Ibnu MājahPara sahabat sedang bertukar pikiran tentang fitnah Al-Masīḥ Ad-Dajjāl dan mencemaskannya. Lantas Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberitahu mereka bahwa ada suatu larangan yang beliau takutkan akan menimpa mereka melebihi ketakutannya terhadap fitnah Dajjal, yaitu syirik dalam niat dan tujuan yang tersembunyi dari manusia. Setelah itu beliau menjelaskannya yaitu memperbagus amal yang sejatinya demi mencari keridhaan Allah lalu berbelok karena dampak pandangan manusia kepadanya.
Usāmah bin Zaid -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Ada yang bertanya padanya, "Tidakkah engkau menemui 'Uṡmān lalu berbicara kepadanya?" Usāmah menjawab, "Apakah menurut kalian aku tidak berbicara kepadanya kecuali aku memperdengarkannya pada kalian? Demi Allah! Aku telah berbicara kepadanya empat mata tanpa memulai perkara yang aku tidak ingin menjadi orang pertama yang memulainya. Aku tidak akan berbicara kepada seseorang yang menjadi pemimpinku bahwa dia orang paling baik setelah aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Seseorang akan didatangkan pada hari Kiamat nanti, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka sehingga usus-usus dalam perutnya terburai. Lalu ia membawanya berputar seperti keledai berputar pada batu penggilingan. Para penghuni neraka lalu mengerumuninya seraya bertanya, 'Wahai si polan! Kenapa kamu? Bukankah engkau dulu mengajak kepada perbuatan baik dan mencegah perbuatan mungkar?' Dia menjawab, 'Benar. Dulu aku mengajak kepada kebaikan tapi tidak melaksanakannya, dan aku mencegah kemungkaran tapi justru melakukannya.''"
Muttafaq 'alaihDikatakan pada Usāmah bin Zaid -raḍiyallāhu 'anhumā-: Tidakkah engkau menemui 'Uṡmān bin 'Affān -raḍiyallāhu 'anhu- lalu berbicara kepadanya tentang fitnah yang terjadi di tengah umat dan berusaha memadamkannya secara keseluruhan? Usāmah lalu menyampaikan ke mereka bahwa dia telah berbicara empat mata kepadanya demi mewujudkan kemaslahatan, bukan justru mengobarkan fitnah. Tujuannya yaitu dia tidak ingin melakukan pengingkaran terhadap penguasa secara terbuka di hadapan masyarakat luas sehingga akan menyebabkan orang-orang tidak menghargai pemimpin karena itu adalah pintu fitnah dan keburukan. Jangan sampai aku orang pertama yang membukanya. Usāmah -raḍiyallāhu 'anhu- kemudian menerangkan bahwa dia menasihati para pemimpin secara empat mata dan tidak menjilat siapa pun sekalipun ia seorang penguasa. Tidak juga menjilat dengan cara memuji mereka di muka mereka secara tidak benar. Hal itu ia lakukan setelah mendengar Nabi ﷺ menyampaikan bahwa nanti di hari Kiamat seseorang akan didatangkan lalu dilemparkan ke dalam neraka hingga usus-ususnya terburai keluar dari perutnya dengan sangat cepat lantaran kedahsyatan panas dan siksa neraka. Ia kemudian berputar membawa usus-ususnya dalam keadaan seperti itu di dalam neraka seperti berputarnya keledai di batu penggilingan. Seketika, penduduk neraka berkumpul di sekelilingnya seperti bentuk lingkaran yang mengitarinya. Mereka bertanya: Wahai polan, bukankah dulu engkau mengajarkan perbuatan baik dan mencegah perbuatan mungkar?! Maka dia menjawab: Dulu aku mengajarkan kebaikan tetapi aku tidak mengerjakannya, dan mencegah kemungkaran tetapi aku melakukannya.
Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang mengurus dua orang anak perempuan sampai balig, ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan aku bersamanya (seperti ini)." Sembari beliau menggandengkan jari-jarinya.
HR. MuslimNabi ﷺ mengabarkan bahwa orang yang dikaruniai dua orang anak perempuan atau dua saudari perempuan lalu mengurus keduanya terkati kebutuhan, pendidikan, pengarahan pada kebaikan, peringatan dari keburukan dan semisalnya hingga keduanya besar dan balig, kelak pada hari Kiamat ia akan datang bersama Nabi ﷺ seperti kedua jari ini. Sembari beliau menggandengkan antara jari telunjuk dan jari tengahnya.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu jika kalian melakukannya maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian!"
HR. MuslimNabi ﷺ menerangkan bahwa tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang beriman, dan tidak akan sempurna keimanan serta tidak akan baik keadaan masyarakat muslim hingga mereka saling mencintai satu sama lain. Kemudian Nabi ﷺ mengarahkan pada perkara paling utama yang akan membumikan rasa cinta, yaitu menebarkan salam di antara kaum muslimin, yang telah dijadikan oleh Allah sebagai ucapan salam kepada hamba-hamba-Nya.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Kami pernah sedang bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba beliau mendengar sebuah gemuruh. Nabi ﷺ lalu bertanya, "Apakah kalian tahu suara apa ini?" Kami menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Ini adalah batu yang dilemparkan ke dalam neraka sejak tujuh puluh tahun, ia jatuh ke dalam neraka sekarang hingga berakhir di dasarnya.”
HR. MuslimNabi ﷺ mendengar sebuah suara yang mengagetkan seperti jatuhnya sebuah benda. Beliau lantas bertanya kepada para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- yang ada di sekitar beliau tentang suara itu. Mereka menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Beliau bersabda kepada mereka: Suara yang kalian dengar ini adalah suara batu yang dilemparkan dari bibir Jahanam sejak tujuh puluh tahun yang lalu. Ia terus terjun dan jatuh ke dalamnya hingga sampai ke dasarnya sekarang saat kalian mendengar suara ini.