





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari ‘Ali -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, ‘Tidak ada seorang muslim pun yang menjenguk muslim lainnya di waktu pagi, melainkan ia akan didoakan oleh 70.000 malaikat hingga sore hari. Dan jika ia menjenguknya di waktu sore, 70.000 malaikat akan mendoakannya hingga pagi hari, dan itu akan menjadi buah yang akan dipetiknya di surga.’"
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadHadis ini menunjukkan bahwa jika seseorang menjenguk saudaranya yang sakit, maka ia berada di salah satu taman/kebun Surga, dan karunia Allah itu sangat luas. Maka hadis ini menunjukkan keutamaan menjenguk orang sakit, dan bahwa jika itu dilakukan di pagi hari, maka ia mendapatkan pahala ini. Dan jika dikerjakan di waktu sore, ia juga mendapatkan pahala ini.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang mempelajari suatu ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah ﷻ, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan kesenangan dunia, maka ia tidak akan mencium aroma surga pada hari Kiamat." Maksudnya: wanginya.
HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan AhmadNabi ﷺ menjelaskan bahwa orang yang belajar ilmu agama yang seharusnya diniatkan untuk mengejar rida Allah Ta'ala, tetapi ia tidak mempelajarinya kecuali demi mendapatkan bagian dan kenikmatan dunia berupa harta atau kedudukan, maka ia tidak akan mendapatkan aroma surga pada hari Kiamat.
Dari Abu Dardā` -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alahi wa sallam-, beliau bersabda, "Siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga. Dan sungguh para malaikat akan meletakkan sayap-sayapnya untuk penuntut ilmu karena senang dengan perbuatannya. Sesungguhnya orang berilmu itu akan dimintakan ampunan oleh (makhluk) yang berada di langit dan di bumi hingga ikan di air. Keutamaan orang yang berilmu atas ahli ibadah laksana keutamaan rembulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, namun mereka hanya mewariskan ilmu, maka siapa yang mengambilnya berarti ia telah mengambil bagian yang melimpah."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad - Diriwayatkan oleh DārimiHadis ini secara spesifik menjelaskan keutamaan-keutamaan mencari ilmu: Pertama: Seseorang yang menapaki jalan untuk mencari ilmu atau meneliti keilmuan, meskipun itu dilakukan di dalam rumahnya sendiri maka Allah membalasnya dengan memudahkan jalannya menuju Surga. Menapaki jalan ilmu di sini mencakup jalan yang nyata yang dilewati saat berjalan, juga mencakup jalan maknawi yaitu mencari ilmu dengan jalan bersimpuh di majelis ulama, dan mencarinya di kitab-kitab, karena orang yang menggali buku-buku untuk mengetahui hukum suatu permasalahan agama atau duduk di hadapan seorang sykeh untuk belajar, maka sesungguhnya dia telah termasuk mencari ilmu meskipun dengan cara duduk. Di antara keutamaan yang disebutkan dalam hadis ini adalah bahwa ulama senatiasa didoakan oleh penghuni langit dan penghuni bumi, bahkan ikan-ikan di lautan dan binatang-binatang melata di daratan turut mendoakannya. Di antara keutamaannya juga adalah bahwa para malaikat yang dimuliakan oleh Allah akan meletakkan sayap-sayapnya untuk dilewati pencari ilmu karena senang dengan perbuatan mereka sebagai bentuk tawaduk dan pengagungan terhadap ilmu dan ahli ilmu. Di antaran keutamaan yang disebutkan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alahi wa sallam- dalam hadis ini: bahwa para ulama adalah ahli waris para Nabi; di mana mereka mewarisi ilmu sekaligus pengamalannya, juga mewarisi aktifitas dakwah mereka kepada Allah -'Azzā wa Jallā- dan misi penjelasan petunjuk kepada manusia agar mereka mendapatkan petunjuk Allah dan agama-Nya. Termasuk keutamaannya juga bahwa kelebihan seorang alim di atas orang ahli ibadah bagaikan kelebihan bulan purnama yang mengalahkan bintang-bintang langit lainnya, karena cahaya yang terpancar dari ibadah dan kesempurnaannya hanya berhenti pada pribadi pelakunya, tidak sampai ke orang lain, sehingga cahayanya laksana cahaya bintang-bintang langit. Adapun cahaya ilmu dan kesempurnaannya, maka bisa sampai ke orang lain sehingga diapun terpancari cahaya. Nabi -ṣallallāhu 'alahi wa sallam- lalu menjelaskan bahwa para Nabi tidak mewariskan harta dunia untuk generasi sepeninggal mereka, mereka tidak meninggalkan warisan berupa dinar ataupun dirham, namun warisan mereka yang paling agung adalah ilmu; maka barangsiapa yang bisa mengambilnya maka ia telah mengambil suatu bagian yang sempurna sebab ia merupakan warisan yang hakiki lagi bermanfaat. Seseorang tidak boleh mengira bahwa seorang alim yang diutamakan (dalam hadis ini) sama sekali tidak beramal ibadah dan seorang ahli ibadah tersebut sama sekali tidak berilmu, akan tetapi (perbedaan keduanya) adalah ilmu sang alim mengalahkan amalnya dan ibadah sang ahli ibadah mengalahkan ilmunya. Karenanya, ulama disebut pewaris Nabi yang mendapatkan dua kebaikan; ilmu dan amal. Dan juga mendapatkan dua keutamaan; kesempurnaan dan penyempurnaan. Inilah jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang arif dan dekat kepada Allah.
Dari Abu Sa'īd Al-Khudri dan Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhumā-, keduanya bersaksi terhadap Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda, "Siapa mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan Allah Mahabesar.' Tuhannya pun membenarkannya lalu berfirman, 'Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku dan Aku Maha Besar.' Jika orang itu mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah Yang Esa tidak ada sekutu bagi-Nya.' Nabi bersabda, "Allah berfirman, 'Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku Yang Esa, tidak ada sekutu bagi-Ku.' Jika orang itu mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, milik-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian.' Allah berfirman, 'Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, milik-Ku kerajaan dan bagi-Ku segala pujian.' Jika orang itu mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali dari Allah.' Allah pun berfirman, 'Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali dari-Ku.' Nabi bersabda, "Siapa mengucapkan zikir ini ketika sakit lalu ia meninggal dunia, niscaya api neraka tidak akan melahapnya."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh TirmiżiDari Abu Hurairah dan Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhumā- dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- membenarkan seorang hamba ketika mengucapkan, "Allah Maha Besar, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah." Allah berfirman, "Sesungguhnya tidak ada Tuhan yang hak selain Aku dan Aku Mahabesar." Jika hamba itu mengucapkan, "Allah Maha Besar dan tidak ada daya serta kekuatan selain dari Allah," demikian pula Allah membenarkannya. " Barangsiapa mengucapkan ini, "Tidak ada tuhan yang haq selain Allah dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali dari Allah," lalu ia meninggal dunia beserta zikir yang lainnya, maka sesungguhnya ia tidak akan terkena api neraka," yakni, hal itu menjadi sebab terhalangnya manusia dari api neraka. Hendaknya manusia menghafal zikir ini dan sering mengucapkannya saat dalam kondisi sakit sehingga dengan izin Allah -Ta'ālā-, ia wafat dalam kebaikan, in syā`a Allah -Ta'ālā.
Dari Suhail, ia berkata, "Abu Saleh menyuruh kami apabila seseorang di antara kami ingin tidur, hendaknya ia berbaring di sisi kanannya, lalu mengucapkan, "Ya Allah! Tuhan langit dan bumi, Tuhan yang menguasai 'arasy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, Tuhan yang membelah biji-bijian dan menumbuhkan benih, Tuhan yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan Al-Qur`ān. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau pegang ubun-ubunnya. Ya Allah! Engkaulah Al-Awwal, maka tidak ada sesuatu pun yang mendahului-Mu. Ya Allah! Engkaulah Al-Ākhir, maka tidak ada sesuatu setelah-Mu. Ya Allah! Engkaulah Aẓ-Ẓāhir, maka tidak sesuatupun di atas-Mu. Ya Allah! Engkaulah Al-Bāṭin, maka tidak sesuatupun yang tersembunyi bagi-Mu. Ya Allah! Lunaskanlah hutang-hutang kami dan bebaskanlah kami dari kefakiran." Abu saleh meriwayatkan hadis ini dari Abu Hurairah dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.
Diriwayatkan oleh MuslimNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan para sahabatnya, apabila salah seorang dari mereka ingin tidur, hendaknya ia meletakkan sisi kanannya di atas tempat tidur lalu mengucapkan, "Ya Allah, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan Pemilik 'Arsy yang agung, Tuhan kita dan Tuhan segala sesuatu," yakni, ya Allah, Tuhan langit dan bumi, Pencipta keduanya, Pemilik keduanya, dan Pengurus penghuni keduanya, Tuhan Pemilik 'Arasy yang besar, Penciptanya, Penguasanya, Pencipta manusia seluruhnya, Raja mereka dan Pengurus mereka, dan Tuhan segala sesuatu. "Pencipta biji dan benih," yakni, wahai Żat yang membelah biji dan benih lalu mengeluarkan tanaman dan kurma dari keduanya. Pengkhususan ini karena keutamaan keduanya atau karena banyak terdapat di negeri-negeri Arab. "Żat Yang menurunkan Injil, Taurat, dan Al-Furqan (Al-Qur`ān)." Wahai Żat yang menurunkan Taurat kepada Musa, Injil kepada Isa dan Al-Qur`ān kepada Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. "Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu. Engkau yang memegang ubun-ubunnya." yakni, aku berpegang dan berlindung kepada-Mu dari kejahatan semua makhluk, karena semuanya itu ada dalam kekuasaan-Mu, dalam genggaman dan pengaturan-Mu. Ya Allah, Engkaulah Al-Awwal, maka tidak ada sesuatu pun yang mendahului-Mu. Ya Allah, Engkaulah Al-Ākhir, maka tidak ada sesuatu setelah-Mu. Ya Allah, Engkaulah Aẓ-Ẓāhir, maka tidak ada sesuatupun di atas-Mu. Ya Allah, Engkaulah Al-Bāṭin, tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dari-Mu. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sudah menafsirkan keempat nama ini dengan penafsiran yang jelas: Al-Awwal (Yang Pertama): menunjukkan bahwa segala sesuatu selain Allah adalah baru dan diciptakan dari ketidakadaan. Hendaknya seorang hamba memperhatikan karunia Tuhannya dalam segala kenikmatan yang bersifat agama atau dunia, karena sebab dan musabab itu adalah Allah -Ta'ālā-. Al-Ākhir (Yang Terakhir): menunjukkan bahwa Dia abadi dan selain-Nya akan binasa. Sesungguhnya Dia tempat bergantung di mana semua makhluk menghadap kepada-Nya dengan penuhanannya, keinginannya, takutnya dan segala kebutuhannya. Aẓ-Ẓāhir: menunjukkan kebesaran sifat-Nya dan lenyapnya segala sesuatu di sisi keagungan-Nya baik zat maupun sifat. Juga menunjukkan keluhuran-Nya di atas semua makhluk-Nya dengan ketinggian yang sebenarnya. Al-Bāṭin: menunjukkan bahwa Dia mengetahui segala rahasia, perasaan-perasaan hati, hal-hal yang tersembunyi, hal-hal yang tidak terlihat dan segala sesuatu yang kecil. Sebagaimana nama tersebut menunjukkan kesempurnaan kedekatan-Nya. Aẓ-Ẓāhir dan Al-Bāṭin tidak kontradiktif karena Allah tidak ada yang menyerupai-Nya dalam segala sifat. Dia Mahatinggi dalam kedekatan-Nya, Mahadekat dalam ketinggian-Nya. "tunaikanlah hutang kami dan cukupkanlah kami dari kefakiran." Selanjutnya ia memohon kepada Allah -'Azza wa Jalla- agar melunasi hutangnya dan membuatnya terhindar dari kefakiran.
Dari Usāmah bin Zaid -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- disodori cucu laki-laki dari anak perempuannya yang sudah meninggal lalu kedua mata Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- berlinang. Maka Sa'ad berkata kepadanya, "Apakah ini wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Ini adalah kasih sayang yang Allah -Ta'ālā- jadikan di dalam hati hamba-hamba-Nya. Dan Allah hanya mengasihi hamba-hamba-Nya yang penuh kasih."
Muttafaq 'alaihUsāmah bin Zaid yang dijuluki kekasih Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- menyebutkan bahwa putri Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- mengutus seseorang untuk mengabarkan bahwa putranya sedang sekarat seraya meminta beliau untuk hadir. Maka utusan itu menyampaikannya kepada Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam-. Beliau kemudan bersabda, "Perintahkan dia (putrinya) untuk bersabar dan mengharap pahala (dari Allah), karena sesungguhnya milik Allah apa yang diambilnya dan miliknya juga apa yang diberikan-Nya, serta segala sesutu di sisi-Nya memiliki ajal yang telah ditetapkan." Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- mengajarkan kalimat yang agung, "fa inna lillāhi mā akhaża wa lahu mā a'ṭā" Ini merupakan kalimat yang agung maknanya. Jika segala sesuatu milik Allah. Maka bila Allah ambil, itu memang miliknya dan jika Allah berikan, itu juga miliknya. Jadi bagaimana kamu boleh marah jika Dia mengambil darimu sesuatu yang memang merupakan milik-Nya? Oleh karena itu disunahkan bagi seseorang apabila ditimpa musibah untuk menguapkan, "Innā lillāhi wa innā ilaihi rājiuun". Yakni bahwa kami adalah milik Allah dia berbuat terhadap kami apa yang Dia kehendaki. Demikian pula apa yang kami cintai, jika Dia mengambilnya dari kami, maka itu adalah milik-Nya -'Azza wa Jalla-. Miliknya apa yang Dia ambil dan milik-Nya juga apa yang Dia berikan. Bahkan yang Dia berikan kepadamu, bukanlah menjadi milikmu, semua itu milik Allah. Oleh karena itu kamu tidak boleh menggunakan apa yang diberikan Allah keculai sesuai dengan apa yang diizinkan-Nya. Ini merupakan bukti bahwa kepemilikan kita terhadap apa yang diberikan oleh Allah kepada kita ada merupakan milik Allah. Sabda beliau: "bi ajalin musammā" maksudnya adalah ajal tertentu. Jika engkau telah meyakini hal ini, yaitu bahwa milik Allah apa yang diambil-Nya dan milkik-Nya juga apa diberikan-Nya, dan segala sesuatu ada batas waktunya maka kamu akan kanaah. Ungkapan terakhir ini menunjukkan bahwa seseorang tidak mungkin merubah ajal yang sudah ditentukan, baik disegerakan atau diakhirkan. Sebagaimana firman Allah -Ta'ālā-, "Setiap umat memiliki ajal. Jika telah datang ajal mereka, tidak dapat mereka akhirkan atau majukan." (Yunus: 49) Jadi tidak ada manfaatnya marah dan murka, karena walaupun dia murka maka itu tidak akan merubah apapun yang sudah ditakdirkan. Kemudian sang utusan tersebut menyampakan kepada putri Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- apa yang diperintahkan Nabi kepadanya, akan tetapi sang putri kembali mengutusnya untuk memintanya datang. Beliaupun berangkat bersama sejumlah sahabatnya. Setibanya di sana beliau menggendong sang anak sedangkan nafasnya sesenggukan naik turun, maka Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- pun menangis. Sa'ad bin 'Ubādah yang ikut bersamanya bertanya, 'Kenapa menangis?' Dia mengira bahwa Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- menangis karena marah. Maka Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, "Ini adalah kasih sayang." Maksudnya adalah dia menangis karena mengasihi sang anak bukan karena menolak takdir. Kemudian beliau -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Allah hanya mengasihi hamba-Nya yang pengasih." Hadis ini menjadi dalil dibolehkannya menangis karena mengasihi orang yang terkena musibah.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Pernah ketika seorang laki-laki berjalan di sebuah jalan, dia menemukan ranting duri di tengah jalan, lalu menyingkirkannya. Maka Allah pun mensyukuri amalnya dan mengampuninya."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan, bahwa ketika seorang laki-laki berjalan, dia melewati sebuah dahan kayu yang berdiri di jalan yang mengganggu kaum kaum muslimin, lalu dia menariknya dan menjauhkannya dari jalan, maka Allah mensyukurinya dan mengampuninya.
Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah kalian mengumpulkan kebun, sehingga menyebabkan kalian mencintai dunia!"
HR. Tirmizi dan AhmadNabi ﷺ melarang memperbanyak kebun dan sawah karena termasuk sebab mencintai dunia dan cenderung kepadanya serta melupakan akhirat.
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- membuat beberapa garis (di tanah), lalu bersabda, "Garis ini adalah manusia dan garis ini adalah ajalnya. Ketika orang itu sedang dalam keadaan tersebut, tiba-tiba datanglah garis yang lebih pendek (ajal)." Dari Ibnu Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- membuat garis berbentuk persegi empat dan membuat gari lain di tengah-tengahnya yang keluar dari garis persegi empat tadi. Beliau juga membuat lagi beberapa garis kecil-kecil di tengah-tengah sampai ke pinggiran garis yang tengah, lalu beliau bersabda, "Ini adalah manusia dan ini adalah ajalnya meliputi diri manusia tadi, atau memang telah meliputinya. Garis yang keluar dari kotak ini adalah angan-angannya, sedangkan garis-garis kecil ini adalah halangan-halangannya. Jika ia terluput dari yang ini (bencana ini), ia terkena yang satunya lagi. Dan jika ia luput dari yang ini, maka ia tentu akan terkena oleh yang itu."
Diriwayatkan oleh BukhariDalam kedua hadis ini terkandung perumpamaan angan-angan manusia, ajalnya, dan keinginan-keinginan yang mengikutinya. Kematiannya ada di salah satunya. Jika ia selamat darinya, maka kematian mendatanginya saat ajalnya habis. Garis-garis tersebut adalah musibah-musibah yang menimpanya. Jika ia selamat dari ini, maka ia tidak akan selamat dari itu. Jika ia selamat dari semuanya dan tidak terkena musibah berupa penyakit, kehilangan harta atau lainnya, maka ajal mendatanginya secara tiba-tiba. Ringkasnya, orang yang tidak mati dengan sebab, maka ia mati dengan ajal. Ketika orang itu sedang dalam keadaan musibah tersebut, "Tiba-tiba datanglah garis yang lebih pendek," yaitu ajal. Dalam hadis ini terdapat isyarat berupa ajakan untuk sederhana dalam berangan-angan dan persiapan menghadapi ajal yang datang secara tiba-tiba. Kata tersebut diungkapkan dengan "An-Nahsyu" yaitu sengatan binatang beracun. Ini merupakan bentuk hiperbol dalam menggambarkan kecelakaan dan kebinasaan.