Categories

Discover our diverse collection of categories covering multiple topics to meet your various interestsDa\'wa cards that highlight great meanings of the verses of the Holy Quran and the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way

No Ayat found for this category

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alahi wa sallam- bersabda, “Di antara kandungan Al-Qur`ān ada surah berjumlah 30 ayat yang dapat memberi syafaat bagi seseorang hingga dosanya diampuni”. Yaitu surah "Tabārakallażi biyadihil-mulk". Dalam riwayat Abu Daud; "...akan memberikan syafaat..."

Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah
line

Rasulullah -ṣallallāhu 'alahi wa sallam- menjelaskan bahwa ada salah satu surah dalam Al-Qur`ān yang terdiri dari 30 ayat, ia bisa memberi syafaat / pertolongan kepada seseorang hingga Allah memberikan ampunan padanya; di mana orang tersebut selalu rutin membaca dan memperhatikan surah ini. Ketika ia meninggal dunia, surah ini memberikan syafaat padanya lalu ia pun terhindarkan dari azab-Nya. Di awal hadis ini, Rasulullah sengaja tidak menyebutkan nama surah tersebut, lalu beliau menyebut namanya di penghujung hadis; dengan tujuan agar lebih mempertegas kemuliaan dan keagungannya dan agar membuat (setiap Muslim) lebih konsisten dalam membacanya.

Dari An-Nawwās bin Sam'ān -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, "Pada hari kiamat, Al-Qur`ān akan didatangkan dan juga para ahli Al-Qur`ān, yaitu orang-orang yang mengamalkannya di dunia. Di depannya ada surat Al-Baqarah dan Ali 'Imrān, keduanya menjadi hujah bagi orang yang membacanya."

Diriwayatkan oleh Muslim
line

Hadis An-Nawwās bin Sam'ān -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, "Pada hari kiamat, Al-Qur`ān akan didatangkan dan juga para ahli Alquran, yaitu orang-orang yang mengamalkannya di dunia. Di depannya ada surat Al-Baqarah dan Ali 'Imrān, keduanya menjadi hujah bagi orang yang membacanya." Hanya saja dalam hadis ini Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- mengikat bacaan Al-Qur`ān dengan pengamalannya. Sebab, orang-orang yang membaca Al-Qur`ān itu terbagi dua: Satu kelompok, tidak mengamalkannya, tidak beriman kepada berita-beritanya, dan tidak mengamalkan hukum-hukumnya. Mereka adalah orang-orang yang membuat Al-Qur`ān menjadi hujah atas mereka. Kelompok lainnya, beriman kepada berita-beritanya, membenarkannya, dan mengamalkan hukum-hukumnya. Mereka itu adalah orang-orang yang membuat Al-Qur`ān menjadi hujah bagi mereka. Dia akan menjadi pembela bagi mereka pada hari kiamat. Hadis ini merupakan dalil bahwa hal terpenting mengenai Al-Qur`ān adalah mengamalkannya. Hal ini diperkuat oleh firman Allah -Ta'ālā-, "Kitab (Al-Qur`ān) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran." "Agar mereka menghayati ayat-ayatnya," yakni, memahami maknanya. "dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran" Yakni, mengamalkannya. Diakhirkannya kata "amal" dari "penghayatan" karena tidak mungkin mengamalkan (Al-Qur`ān) tanpa penghayatan. Karena sesungguhnya penghayatan itu dapat mendatangkan ilmu. Sedangkan amal adalah buah dari ilmu. Jadi faedah diturunkan Al-Qur`ān adalah untuk dibaca, diamalkan, dipercayai berita-beritanya, hukum-hukumnya diamalkan, perintahnya dilaksanakan, dan larangannya dijauhi. Pada hari kiamat kelak, Al-Qur`ān akan memberikan pembelaan (hujah) kepada para pembacanya.

Dari Abdullah bin Abu Bakar bin Ḥazm, bahwa di dalam surat yang dikirim oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada `Amru bin Ḥazm terdapat (wasiat), “Janganlah menyentuh Al-Qur`ān ‎kecuali orang yang dalam keadaan suci!”‎

Diriwayatkan oleh Malik
line

Makna hadis: "Di dalam surat yang dikirim oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada `Amru bin Ḥazm terdapat (wasiat)," Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah mengirim sebuah surat kepada `Amru bin Ḥazm ketika dia sedang ‎menjabat sebagai seorang kadi (hakim) untuk wilayah Najrān. Beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah mengirim surat yang sangat panjang kepadanya berisi tentang banyak sekali dari ‎hukum-hukum syariat, seperti faraid (pembagian warisan), sedekah, diat, dan hukum syariat ‎lainnya. Itu adalah sebuah surat terkenal yang telah sampai dan diterima oleh umat. “Janganlah menyentuh Al-Qur`ān ‎kecuali orang yang dalam keadaan suci!” Yang dimaksud dengan al massu di sini adalah memegangnya dengan tangan ‎secara langsung tanpa ada suatu penghalang. Maka berdasarkan hal tersebut, jika memegangnya ‎dengan memakai suatu penghalang yang memisahkan seperti membawanya didalam sebuah ‎kantong atau tas, atau membuka halamannya dengan menggunakan sebatang ranting dan ‎semacamnya tidaklah termasuk ke dalam larangan ini karena tidak terjadinya sentuhan secara ‎langsung.‎ Dan yang dimaksud dengan Al-Qur`ān di sini adalah sesuatu yang tertulis didalamnya Al-Qur`ān, ‎seperti lembaran-lembaran kertas, kulit dan lainnya. Yang dimaksud dengannya bukanlah kalam ‎‎(firman Allah); karena firman itu tidak disentuh atau dipegang, melainkan ‎didengarkan.‎ "kecuali orang yang dalam keadaan suci." Lafal ini memiliki makna kolektif antara empat perkara berikut:‎ Pertama, yang dimaksud dengan aṭ-ṭāhiru adalah seorang muslim; sebagaimana firman Allah ‎‎-Ta'ālā-, “Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis.” Kedua, yang dimaksud dengannya adalah orang yang suci dari najis; seperti sabda Nabi-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang kucing, “Sesungguhnya kucing itu bukan hewan ‎yang najis.” Ketiga, yang dimaksud adalah orang yang suci dari janabah.‎ Keempat, yang dimaksud adalah orang yang memiliki wudu.‎ Setiap makna tersebut adalah makna dari taharah (bersuci) menurut syariat yang ‎dimungkinkan sebagai makna yang dimaksud dalam hadis ini, dan kami tidak memiliki suatu ‎‎(dalil) yang dapat menguatkan salah satu makna dibanding yang lainnya. Yang lebih tepat dan utama ‎adalah memaknainya dengan makna yang paling mendekati, yaitu orang yang suci dari hadas ‎kecil; karena ini adalah yang diyakini dan disepakati oleh jumhur, diantara mereka adalah ‎keempat imam mazhab dan para pengikutnya. Ini adalah bentuk kehati-hatian dan yang afdal.

Dari Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Allah mengangkat dengan kitab ini (Al-Qur`ān) beberapa kaum dan merendahkan dengannya kaum yang lain."

Diriwayatkan oleh Muslim
line

Dari Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Allah mengangkat dengan kitab ini (Al-Qur`ān) beberapa kaum dan merendahkan kaum dengannya kaum yang lain." Yakni, artinya bahwa Al-Qur`ān ini dibawa oleh orang-orang yang membacanya. Di antara mereka ada yang diangkat oleh Allah di dunia dan akhirat, ada juga yang direndahkan oleh Allah dengan Al-Qur`ān di dunia dan akhirat. Siapa yang mengamalkan Al-Qur`ān karena membenarkan berita-beritanya, melaksanakan segala perintahnya, menjauhi semua larangannya, mengikuti petunjuknya, dan berakhlak dengan akhlak yang dibawanya - dan semuanya adalah akhlak utama - maka sesungguhnya Allah -Ta'ālā- akan mengangkatnya dengan Al-Qur`ān itu di dunia dan akhirat. Sebab, Al-Qur`ān adalah asal ilmu, sumber ilmu dan segala ilmu. Allah -Ta'ālā- berfirman, "niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Adapun di akhirat, Allah akan mengangkat dengan Al-Qur`ān itu beberapa kaum di surga-surga kenikmatan. Sedangkan orang-orang yang direndahkan oleh Allah dengan Al-Qur`ān adalah kaum yang membaca Al-Qur`ān dan memperbagus bacaannya, tetapi mereka menyombongkan diri darinya - kita berlindung kepada Allah-, tidak membenarkan berita-beritanya, tidak mengamalkan hukum-hukumnya. Mereka menyombongkan dirinya secara praktik, menolak beritanya saat datang kepada mereka sesuatu dari Al-Qur`ān, seperti kisah para nabi terdahulu atau lainnya atau mengenai hari akhir atau lain sebagainya. Mereka -kita berlindung kepada Allah- meragukan hal tersebut dan tidak beriman kepadanya. Bahkan keadaan mereka bisa sampai kepada pengingkaran, padahal mereka itu membaca Al-Qur`ān. Mereka menyombongkan diri tentang hukum-hukum. Mereka tidak melaksanakan perintahnya dan tidak berhenti dari larangannya. Mereka adalah orang-orang yang direndahkan oleh Allah di dunia dan akhirat. Kitab berlindung kepada Allah.

Dari Umar bin Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku mendengar Hisyām bin Hakīm membaca surah Al-Furqān pada masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, maka aku mendengarkan bacaannya dengan berbagai macam bentuk bacaan yang belum pernah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membacakannya kepadaku. Aku pun hampir menyergapnya di dalam salat, namun aku berusaha menunggunya hingga salam. Setelah salam aku menariknya dengan selendang yang dipakainya atau dengan selendangku sambil berkata, 'Siapakah yang telah membacakan surah ini (dengan bacaan seperti itu) kepadamu?' Hisyām menjawab, 'Rasullullah lah yang telah membacakannya kepadaku.' Aku (Umar) berkata, 'Engkau telah berbohong! Demi Allah, sungguh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah membacakan surah yang engaku baca tersebut kepadaku. Maka akupun membawanya bertolak menghadap kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu aku berkata, 'Ya Rasulullah, sungguh aku telah mendengarnya membaca surah Al-Furqān dengan dialek yang belum pernah engkau bacakan kepadaku, dan engkau telah membacakan surah tersebut kepadaku (dengan dialek yang berbeda).' Lalu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Lepaskan dia wahai Umar! Bacalah wahai Hisyām!' Maka Hisyām membacakan bacaan dalam surah Al-Furqān sebagaimana yang telah aku dengar tadi. Kemudian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Seperti itulah Alquran diturunkan.' Lalu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Bacalah wahai Umar!' Maka aku pun membacanya, lalu beliau bersabda, 'Seperti itulah Alquran diturunkan.' Kemudian beliau bersabda, 'Sesungguhnya Alquran ini diturunkan atas tujuh huruf (dialek), maka bacalah apa yang mudah darinya'."

Muttafaq 'alaih
line

Umar bin Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- menceritakan bahwa dirinya pernah mendengar Hisyām bin Hakīm -raḍiyallāhu 'anhumā- membaca surah Al-Furqān pada masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan bacaan yang berbeda dengan bacaannya pada banyak lafal. Umar telah membacakan surah tersebut (dengan bacaannya) kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dan ia mengira bahwa hal itu adalah sebuah kekeliruan dari Hisyām, sehingga hampir saja dia lompat dan manarik kepalanya ketika salat. Akan tetapi dia mencoba untuk tetap bersabar hingga dia salam, lalu menggenggam selendangnya dan melingkarkannya pada lehernya, seraya berkata, "Siapakah yang telah membacakan surah ini (dengan bacaan seperti itu) kepadamu?" Hisyām menjawab, "Rasullullah lah yang telah membacakannya kepadaku." Umar berkata, "Engkau telah berbohong! Demi Allah, sungguh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah membacakan surah tersebut kepadaku tidak seperti yang engkau baca." Kemudian Umar pergi menarik Hisyām menghadap kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dan Umar adalah orang yang paling tegas dalam urusan (agama) Allah -Ta`āla-. Kemudian Umar berkata, "Wahai Rasulullah, sungguh aku telah mendengar Hisyām membaca surah Al-Furqān dengan lafal bacaan yang belum pernah aku dengar engkau membacanya, dan engkau telah membacakan kepadaku (bacaan) surah Al-Furqān tersebut." Lalu Rasulullah menyuruh Umar untuk melepaskannya, dan menyuruh Hisyām untuk membacakan surah Al-Furqān. Ketika Hisyām telah membacakannya, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Seperti itulah Alquran diturunkan." Maksudnya adalah bahwa surah tersebut diturunkan dari sisi Allah sesuai dengan apa yang telah dibacakan oleh Hisyām, dan dia tidak keliru sebagaimana yang disangkakan oleh Umar -raḍiyallāhu 'anhu-. Lalu beliau menyuruh Umar untuk membacakannya, kemudian dia pun membacakannya. Lalu beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Seperti itulah Alquran diturunkan." Maksudnya adalah bahwa Allah telah menurunkan surah tersebut seperti apa yang telah dibacakan oleh Umar sebagaimana halnya juga seperti yang telah dibacakan oleh Hisyām. Lalu beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Alquran ini diturunkan atas tujuh huruf (dialek), maka bacalah apa yang mudah darinya." Umar dan Hisyām keduanya benar dalam hal bacaan surah tersebut. Sebab, Alquran diturunkan lebih dari satu huruf (dialek), namun diturunkan atas tujuh huruf (dialek), dan apa yang ada pada bacaan Hisyām bukanlah sebagai tambahan ayat-ayat pada bacaan Umar, akan tetapi hanya terdapat perbedaan pada huruf-hurufnya saja. Oleh karena itu, beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepada mereka berdua setelah mendengar bacaan keduanya, "Demikianlah Alquran telah diturunkan." Dan hal itu dijelaskan kembali oleh sabdanya, "Sesungguhnya Alquran ini diturunkan atas tujuh huruf, maka bacalah apa yang mudah darinya." Maksudnya adalah janganlah kalian membebani diri atas satu huruf saja, karena sesungguhnya Allah -Ta`āla- telah meringankan dalam hal bacaan Alquran dengan tujuh huruf (dialek) sebagai bentuk kasih sayang dan keutamaan dari-Nya, maka bagi Allah-lah pujian dan sanjungan. Para ulama berbeda pendapat tentang penjelasan ketujuh huruf tersebut. Namun, yang dimaksud dengannya -yang tampak jelas, wallahu a`lam- adalah dialek-dialek dari sekian dialek Bahasa Arab. Alquran turun dengan dialek-dialek tersebut pada awalnya adalah sebagai bentuk keringanan, karena kaum Arab adalah kaum yang terpisah-pisah dan berbeda-beda. Setiap kaum memiliki dialek tersendiri, dialek suatu kabilah tidak sama dengan dialek kabilah lainnya. Akan tetapi setelah Islam menyatukan mereka semua, satu sama lain telah saling terhubung, permusuhan dan kebencian di antara mereka telah sirna karena datangnya Islam, serta setiap dari mereka telah mengenali bahasa atau dialek lainnya, maka Uṡman bin Affān -raḍiyallāhu 'anhu- menyatukan seluruh umat Islam di atas satu huruf (dialek) dari ke tujuh huruf tersebut serta menghilangkan yang lainnya, hingga tidak terjadi perselisihan.

Dari Abdul-'Aziz bin Rufai', ia berkata, "Aku bersama Syaddād bin Ma'qil berkunjung ke Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā-. Lantas Syaddād bin Ma'qil bertanya kepadanya, "Apakah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meninggalkan sesuatu (warisan)?" Ia menjawab, "Beliau tidak meninggalkan apapun selain sesuatu yang berada di antara dua sampul (Al-Qur`ān)." Abdul-'Aziz bin Rufai' berkata, "Kami berkunjung kepada Muhammad bin al-Hanafiyah lalu bertanya kepadanya. Ia menjawab, "Beliau tidak meninggalkan apapun selain sesuatu yang berada di antara dua sampul (Al-Qur`ān)."

Diriwayatkan oleh Bukhari
line

Dua tabiin mulia, Abdul-'Aziz bin Rufai' dan Syaddād bin Ma'qil berkunjung kepada Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā-. Lantas Syaddād bin Ma'qil bertanya kepadanya, "Apakah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meninggalkan sesuatu setelah wafatnya?" Ibnu Abbas menjawab bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak meninggalkan sesuatu pun setelah wafatnya selain Al-Qur`ān yang berada di antara dua sampul mushaf. Lantas keduanya mengunjungi Muhammad bin al-Ḥanafiyyah lalu bertanya kepadanya. Ia pun menjawab seperti itu juga. Dengan hadis ini jelaslah kebatilan mazhab Rafiḍah yang mengklaim bahwa Al-Qur`ān telah menetapkan kepemimpinan Ali tetapi para sahabat menyembunyikannya. Ibnu Abbas adalah putra paman Ali (sepupunya), dan Muhammad bin al-Hanafiyyah adalah putra Ali. Keduanya orang yang selalu bersamanya. Seandainya sesuatu yang mereka klaim itu benar, tentu keduanya adalah orang yang lebih pantas untuk mengetahuinya dan tidak mungkin mampu menyembunyikannya. Bahkan jawaban yang mereka berdua ucapkan di atas juga telah dikemukakan oleh Ali -raḍiyallāhu 'anhu-.

Dari Aisyah Ummul Mukminin -raḍiyallāhu 'anhā-, bahwa Al-Hāriṡ bin Hisyām -raḍiyallāhu 'anhu- bertanya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Wahai Rasulullah, bagaimana caranya wahyu turun kepadamu?" Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, "Terkadang datang kepadaku seperti suara gemerincing lonceng dan cara ini yang paling berat bagiku, lalu terhenti dan aku sudah memahami apa yang disampaikan. Dan terkadang datang Malaikat menyerupai seorang laki-laki lalu berbicara kepadaku maka aku pun mengerti apa yang diucapkannya." Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Sungguh aku pernah melihat turunnya wahyu kepada beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pada suatu hari yang sangat dingin lalu terhenti, dan aku lihat dahi beliau mengucurkan keringat."

Muttafaq 'alaih
line

Al-Hāriṡ bin Hisyām -raḍiyallāhu 'anhu- bertanya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dia berkata, "Wahai Rasulullah, bagaimana wahyu datang kepadamu?" Lalu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberitahukan kepadanya bahwa terkadang Malaikat -yaitu Jibril- datang kepadanya dengan membawa wahyu. Ketika dia menyampaikan wahyu tersebut, suaranya seperti gemerincingnya lonceng karena kerasnya, dan itulah yang paling berat serta paling sulit bagi beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau merasakan kesulitan dan kepayahan yang teramat sangat lalu tersingkaplah wahyu itu dan beliau pun telah mengerti serta hafal apa yang disampaikan oleh Malaikat tersebut. Wahyu yang datang kepada beliau dengan suara yang sangat kuat seperti ini adalah untuk membuat beliau melupakan urusan dunia serta menjadikan seluruh panca indra beliau terfokus kepada suara tersebut. Beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- benar-benar memahami wahyu tersebut karena tidak ada satu ruang pun tersisa untuk selain suara Malaikat pada pendengaran beliau dan tidak juga pada hati beliau. Beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- juga memberitahukan bahwa terkadang Jibril datang kepadanya membawa wahyu dengan menjelma sebagai seorang laki-laki seperti Diḥyah atau yang lainnya, lalu menyampaikan wahyu kepada beliau dan beliaupun mengerti serta hafal wahyu yang disampaikan kepadanya. Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- juga mengabarkan bahwa dia pernah melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika wahyu turun kepada beliau pada suatu hari yang sangat dingin lalu tersingkaplah kekuatan wahyu itu, dan dahi Beliau mengucurkan keringat karena kesulitan dan kepayahan."

Dari ‘Ubādah bin aṣ-Ṣāmit -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, “Dahulu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- jika diturunkan kepadanya wahyu maka beliau gemetar dan rona wajahnya berubah.”

Diriwayatkan oleh Muslim
line

Dahulu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- jika turun kepadanya wahyu maka beliau gemetar dan rona wajahnya berubah karena beratnya wahyu itu turun dan susahnya diterima. Dahulu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sangat perhatian dengan perkara wahyu dan sangat takut dalam menjalankan kewajiban dirinya berupa hak-hak ubudiyah (peribadatan), sikap kesyukuran kepada Allah -Ta’ālā-, serta sangat mengagungkan perintah Allah -Ta’ālā-, dan kabar berita dari-Nya.

Dari Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- mengenai firman Allah -Ta'ālā-, "Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu," (QS. Al-Qiyāmah: 16) Ia berkata, "Dahulu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menanggung kepayahan dalam menerima Al-Qur`ān dan beliau menggerakkan kedua bibirnya (membacanya secara cepat)." Ibnu Abbas berkata kepadaku (Sa'id bin Jubair), "Aku menggerakkan kedua bibir untukmu sebagaimana Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menggerakkan keduanya. Lantas Sa'id berkata, "Aku menggerakkan kedua bibir sebagaimana Ibnu Abbas menggerakkannya." Dia pun menggerakkan kedua bibirnya. Lantas Allah -'Azzā wa Jallā- menurunkan firman-Nya, "Jangan engkau (Muhamad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur`ān) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya. (17) (QS. Al-Qiyāmah: 16-17). Ibnu Abbas berkata, "Dia mengumpulkannya di dadamu lalu engkau membacanya." "Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu." (QS. Al-Qiyāmah: 18). Ibnu Abbas berkata, "Perhatikan dan simak. Selanjutnya Kami yang akan menjadikanmu membacanya." Ibnu Abbas berkata, "Maka apabila Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- didatangi Jibril -'alaihis-salām- maka beliau memperhatikan dan mendengarkan seksama. Apabila Jibril sudah pergi maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membacanya sebagaimana Jibril membacakan padanya."

Muttafaq 'alaih
line

Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- merasakan kesulitan yang besar saat turunnya wahyu. Beliau menggerakkan kedua bibirnya saat mendengar (wahyu) dari Jibril sebelum ia selesai penyampaian wahyu karena khawatir Jibril meninggalkannya sebelum beliau hafal. Ibnu Abbas menggambarkan kepada muridnya, Sa'id bin Jubair mengenai tata cara Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menggerakkan kedua bibirnya. Ini menunjukkan bahwa Ibnu Abbas menyaksikan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam kondisi seperti itu. Sa'id pun menggambarkan hal itu kepada murid-muridnya. Lantas Allah -'Azzā wa Jallā- menurunkan firman-Nya, "Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur`ān) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya." Yakni, janganlah engkau menggerakkan lidahmu untuk membaca Al-Qur`ān agar bisa cepat-cepat menghafalnya. Sebab, Kamilah yang akan mengumpulkannya kepadamu dan memasukkannya ke dalam dadamu. Selanjutnya Allah -Ta'ālā- berfirman, "Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu." Yakni, apabila Jibril sudah selesai membacakannya maka perhatikan dan simak. Selanjutnya Kami yang akan membuatmu bisa membacanya sebagaimana Jibril membacakannya. Ibnu Abbas berkata, "Setelah itu apabila Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- didatangi Jibril -'alaihis-salām-, beliau memperhatikan dan mendengarkan seksama. Jika Jibril sudah pergi, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun membacanya sebagaimana yang dibacakan oleh Jibril kepadanya."

Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Seburuk-buruk bagi seseorang bila ia mengatakan, 'Aku lupa ayat ini dan ini.' Tetapi (katakanlah) 'Sungguh ia telah dibuat lupa.' Ulang-ulangilah Al-Qur`ān, karena sesungguhnya Al-Qur`ān itu lebih mudah lepas dari dada orang-orang dibandingkan unta (dari ikatannya)."

Muttafaq 'alaih
line

Di dalam hadis ini Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mencela orang yang mengatakan, "Aku lupa ayat ini dan ini." Karena perkataan itu mengindikasikan sikap melalaikan dan menelantarkan Al-Qur`ān. Padahal sebenarnya ia dijadikan lupa, yaitu dihukum dengan lupa hafalan Al-Qur`ān lantaran kelalaiannya dalam menjaga dan mengulang-ulangnya. Kemudian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan supaya rutin membaca Al-Qur`ān serta mengulang-ulang dan mempelajarinya; karena Al-Qur`ān itu lebih cepat lepas dari ingatan dibandingkan dari lepasnya unta. Sengaja disebutkan unta karena unta adalah hewan jinak yang paling liar sementara sulit untuk mengembalikan lagi unta setelah ia berhasil lepas.

Siapa yang bersabar serta mengharap pahala ketika musibah, maka Allah -'Azza wa Jalla- akan memberinya ganti yang lebih baik daripada apa yang menimpanya pada diri dan keluarganya.

Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya

Bila seseorang bersabar dan mengharap pahala di sisi Allah -Ta'ālā- maka Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya.

Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya

Kejujuran hati menjadi sebab diraihnya cita-cita; siapa yang meniatkan suatu amal kebajikan akan diberi pahala atas niatnya itu sekalipun tidak ditakdirkan melakukannya atau dia tidak mampu menyempurnakannya.

Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya

Mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepada hamba termasuk sebab kelanggengan dan penambahannya.

Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya

Bila keberkahan hadir pada sesuatu maka yang sedikit menjadi banyak, dan bila hilang maka yang banyak menjadi sedikit.

Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya

Takwa adalah cahaya bagi orang beriman untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan, yang mudarat dan manfaat, dan antara sunnah dan bidah.

Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya

Orang yang diberi taufik di antara hamba-hamba Allah adalah orang yang memilih untuk dirinya amal yang lebih bernilai takwa, yang akan mengangkat derajatnya pada hari Kiamat, lalu dia melakukannya.

Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya

Orang yang bertawakal kepada Allah akan diberi kecukupan oleh Allah, karena Dia tidak akan menyia-nyiakan orang yang berharap kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya:

Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya

Siapa yang berbuat kebaikan akan menemukan balasannya, walaupun sedikit. Maka tidak boleh seseorang menganggap kecil kebaikan sekecil apa pun juga.

Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya

Siapa yang tulus kepada Allah -Ta'ālā- di dalam ketaatan, akan dimudahkan oleh Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- untuk menambah berbagai ibadah.

Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya