Categories
Discover our diverse collection of categories covering multiple topics to meet your various interestsDa\'wa cards that highlight great meanings of the verses of the Holy Quran and the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
No Ayat found for this category
Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhuma- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ berpidato di hadapan manusia ketika penaklukan Makkah, "Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya Allah telah menghilangkan kebanggaan jahiliah dan kesombongan mereka dengan nenek moyang. Manusia terbagi dua; orang yang baik, bertakwa dan mulia di hadapan Allah, dan orang fajir, sengsara dan hina di hadapan Allah. Manusia adalah anak cucu Adam, dan Allah menciptakan Adam dari tanah. Allah berfirman, 'Hai manusia! Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." [QS. Al-Ḥujurāt: 13]
Diriwayatkan oleh Tirmiżi
Nabi ﷺ berpidato di hadapan manusia ketika penaklukan Makkah: Wahai sekalian manusia! Sungguh, Allah telah menghilangkan dari kalian kesombongan dan keangkuhan jahiliah serta kebanggaan dengan nenek moyang; karena manusia hanya ada dua macam: 1- Orang mukmin, baik, bertakwa, taat nan beribadah kepada Allah ﷻ. Orang seperti ini mulia di hadapan Allah, walaupun tidak memiliki kedudukan sosial atau nasab di sisi manusia. 2- Orang kafir, fajir nan sengsara. Orang seperti ini hina di hadapan Allah, tidak bernilai sama sekali, walaupun memiliki kedudukan dan kekuasaan. Semua manusia adalah anak cucu Adam, sedangkan Adam diciptakan oleh Allah dari tanah. Manusia yang berasal dari tanah tidak pantas untuk sombong dan membanggakan dirinya. Hal itu sesuai firman Allah ﷻ: "Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." [QS. Al-Ḥujurāt: 13]
Zubair bin 'Awwām meriwayatkan: Ketika turun ayat, "Kemudian kalian benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (di dunia itu)" [QS. At-Takāṡur: 8], Zubair berkata, "Wahai Rasulullah! Nikmat mana yang akan ditanyakan pada kita, padahal yang ada hanya kurma dan air?" Beliau bersabda, "Ketahuilah, itu akan terjadi."
Diriwayatkan oleh Tirmiżi
Ketika turun ayat ini: "Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (di dunia itu)", yakni kalian akan ditanya tentang mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepada kalian. Zubair bin 'Awwām -raḍiyallāhu 'anhu- bertanya, "Wahai Rasulullah! Nikmat mana yang akan ditanyakan pada kita? Yang ada hanyalah dua macam nikmat yang tidak perlu mengundang pertanyaan, yaitu kurma dan air!" Nabi ﷺ bersabda: Ketahuilah! Sungguh kalian akan ditanya tentang nikmat apa pun, sekalipun dengan keadaan kalian ini, karena keduanya adalah nikmat besar di antara nikmat Allah Ta'ala.
Dari Ibnu Mas’ūd -raḍiyallāhu- 'anhu- ia berkata, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkata kepadaku, "Bacakanlah Al-Qur`ān kepadaku.” Maka kukatakan kepada beliau, "Wahai Rasulullah! Apakah saya bacakan Al-Qur`ān kepada Anda sementara Al-Qur`ān itu diturunkan kepada Anda?!" Beliau menjawab, “Sesungguhnya aku senang mendengarnya dibaca oleh selain diriku.” Maka akupun membacakan kepada beliau surah An-Nisā`, hingga ketika aku telah sampai pada ayat ini, “Lalu bagaimanakah ketika Kami datangkan saksi bagi setiap umat dan Kami jadikan engkau sebagai saksi atas mereka,” maka beliau bersabda, “Cukup, sampai di sini saja.” Lalu aku pun menoleh kepada beliau dan ternyata kedua mata beliau bercucuran air mata.
Muttafaq 'alaih
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meminta kepada Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu- 'anhu- agar membacakan kepada beliau Al-Qur`ān, lalu ia berkata, "Wahai Rasulullah, bagaimana aku membacakannya untukmu padahal kepadamu Al-Qur`ān itu diturunkan? Engkau lebih mengetahui tentang Al-Qur`ān daripada aku." Lantas beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya aku senang mendengarnya dari selainku." Maka ia membacakan kepada beliau surah An-Nisā`." Tatkala sampai ayat agung ini: “Lalu bagaimanakah ketika Kami datangkan saksi bagi setiap umat dan Kami jadikan engkau sebagai saksi atas mereka.” Yakni, apa jadinya keadaanmu?! Dan apa pula jadinya keadaan mereka?! Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Cukup bagimu sekarang." Yakni berhentilah membacanya. Ibnu Mas’ūd berkata, "Lalu aku menoleh kepada beliau dan ternyata kedua mata beliau sedang bercucuran air mata karena kasih sayang beliau kepada umatnya."
Dari Ibnu Mas’ud- raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Tidak boleh hasad (iri hati) kecuali pada dua orang: Orang yang Allah anugerahkan baginya harta, lalu ia infakkan di jalan kebenaran, dan orang yang Allah karuniakan hikmah (ilmu yang berdasarkan Al-Qur`ān dan Sunnah), lalu ia memutuskan perkara/mengadili dengannya dan mengajarkannya.” Dan dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- beliau bersabda, “Tidak boleh hasad (iri hati) kecuali kepada dua orang; Orang yang Allah anugerahi hafalan Al-Qur`ān, lalu ia salat dengan membacanya malam dan siang, dan orang yang Allah karuniakan baginya harta, lalu ia menginfakkannya siang dan malam.”
Muttafaq 'alaih dengan dua riwayatnya
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di sini mengisyaratkan bahwa hasad (iri hati) itu bermacam-macam, di antaranya hasad yang tercela dan diharamkan secara syar’i, yaitu seseorang menginginkan hilangnya kenikmatan dari saudaranya. Ada pula hasad yang mubah/dibolehkan yaitu seseorang melihat nikmat duniawi pada diri orang lain lalu ia menginginkan kenikmatan serupa untuk dirinya. Dan ada pula hasad yang terpuji dan dianjurkan oleh syariat yaitu seseorang melihat nikmat agama pada orang lain lalu ia menginginkannya juga untuk dirinya. Itulah yang dimaksudkan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan sabda beliau, “Tidak boleh hasad (iri hati) kecuali pada dua orang” yakni hasad itu berbeda jenis dan hukumnya sesuai dengan perbedaan jenisnya. Hasad ini tidak terpuji serta dianjurkan secara syar’i kecuali pada dua perkara: Perkara pertama: Apabila ada orang yang kaya lagi bertakwa, Allah menganugerahkan kepadanya harta yang halal, lantas ia menginfakkannya di jalan Allah -Ta'ālā-, lalu ia berangan-angan agar dirinya seperti orang itu dan ia iri kepadanya dengan nikmat ini. Perkara kedua: Apabila ada orang yang berilmu, Allah menganugerahinya ilmu yang bermanfaat, ia mengamalkannya, mengajarkannya kepada orang lain dan ia berhukum dengannya di antara manusia, lalu ia berangan-angan agar dirinya menjadi seperti orang itu.
Dari Abdurrahman bin Yazīd An-Nakha'i, bahwa dirinya pernah berhaji bersama Ibnu Mas'ūd. Dia melihatnya melempar Jumrah kubra dengan tujuh butir kerikil. Lalu ia menjadikan Baitullah berada disebelah kirinya, dan Mina berada disebelah kanannya, lalu berkata, “Ini adalah tempat diturunkannya surah Al-Baqarah kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-”
Muttafaq 'alaih
Melempar jumrah pada hari nahr (kurban) dan hari-hari tasyrik adalah ibadah yang agung. Didalamnya terkandung makna ketundukan kepada Allah Ta`ala dan juga sebagai bentuk pelaksanaan atas perintah-perintah-Nya serta mencontoh Nabi Ibrahim al-Khalil `Alaihish Shalaatu was Salaam. Yang pertama kali dimulai oleh seseorang yang sedang menunaikan ibadah haji pada hari nahr adalah melempar jumrah kubra sebagai pembuka amalan pada hari yang agung tersebut. Ia berdiri pada posisi sebagaimana Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yaitu menjadikan Ka`bah musyarrafah berada disebelah kirinya dan Mina berada disebelah kanannya. Dia menghadap kepada jumrah dan melemparnya dengan tujuh butir kerikil seraya bertakbir bersama setiap satu lemparan kerikil, sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- dan dia bersumpah bahwa ini adalah tempat di mana surah Al-Baqarah diturunkan kepada beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, "Bahwasanya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah mengutus seorang sahabat untuk memimpin pasukan sariyah (perang yang tidak diikuti Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-). Sahabat ini senantiasa mengimami salat pasukannya dan mengakhiri bacaannya dengan (surah) Qul Huwallāhu Aḥad. Ketika kembali ke Madinah mereka melaporkannya kepada Rasulullah. Lantas beliau bersabda, "Tanyakan kepadanya apa alasan dia melakukan itu?" Maka mereka menanyakan kepadanya, lalu ia menjawab, "Karena di dalamnya terdapat sifat Allah dan aku senang membacanya." Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Beritahukan kepadanya bahwa Allah menyintainya."
Muttafaq 'alaih
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengangkat salah seorang sahabat menjadi pemimpin ekspedisi untuk mengatur siasat perang dan memutuskan perkara di antara mereka agar tidak terjadi kekacauan dan kisruh. Beliau senantiasa memilih orang yang paling cakap agamanya, keilmuannya dan strategi perangnya. Oleh sebab itu, semua pemimpin pasukan perang pasti menjadi imam salat sekaligus menjadi mufti karena keutamaan agama dan kapasitas keilmuannya. Pemimpin yang ditunjuk itu selalu membaca surah "Qul Huwallāhu Aḥad" di rakaat kedua dalam salat berjemaah karena rasa cintanya kepada Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Dan siapapun yang menyintai sesuatu pasti selalu ingat dan menyebutnya. Ketika kaum Muslimin kembali dari perang, mereka menemui Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan melaporkan kebiasaan sang pemimpin. Lantas Rasulullah bersabda, "Tanyakan kepadanya apa alasannya melakukan itu, apakah kebetulan saja ataukah ada alasan khusus?" Sang pemimpin menjawab, "Aku membacanya karena surah tersebut mengandung sifat-sifat Allah, sehingga aku senang mengulang-ulanginya." Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Beritahukan kepadanya, sebagaimana ia mengulang-ulang membaca surah tersebut karena kecintaannya -sebab surah ini mencakup sifat-sifat Allah yang otomatis menunjukkan nama-nama Allah di dalamnya- maka Allah menyintainya." Alangkah besarnya keutamaan surah itu .
Dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya perumpamaan orang yang menghafal Al-Qur`ān seperti unta yang diikat. Jika ia menjaganya, ia dapat menahannya. Jika ia melepaskannya, unta itu akan pergi."
Muttafaq 'alaih
"Sesungguhnya perumpamaan orang yang menghafal Al-Qur`ān" yakni, orang yang menghafalnya di luar kepala, "seperti pemilik unta yang diikat," yakni, yang diikat dengan tali (pengikat). Beliau menjelaskan segi penyerupaannya dengan sabdanya, "Jika ia menjaganya," dengan mengikatnya selamanya, mengawasi, dan memperhatikannya, "ia dapat menahannya. Jika ia melepaskannya," dengan melepaskan ikatannya, "unta itu akan pergi." Demikian juga orang yang menghafal Al-Qur`ān. Jika ia selalu menjaganya dengan membaca dan mengulang, niscaya Al-Qur`ān kokoh dalam dadanya. Jika ia tidak melakukannya, pasti Al-Qur`ān akan pergi dan terlupakan serta tidak bisa kembali kepadanya kecuali setelah kepayahan dan keletihan. Selama ada penjagaannya, niscaya hafalannya tetap ada. Sebagaimana halnya unta jika tetap diikat dengan tali pengikat, ia pasti terjaga. Dikhususkannya penyebutan unta karena ia merupakan binatang jinak yang larinya kencang, dan menangkap unta yang sudah kabur merupakan pekerjaan sulit.
Dari Abdullah bin Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Ketika Jibril -'alaihi as-salām- duduk di sisi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, ia mendengar bunyi dari atasnya. Lantas Jibril mengangkat kepalanya lalu berkata, 'Ini adalah satu pintu langit yang telah dibuka hari ini, dan pintu itu belum pernah dibuka sebelumnya kecuali hari ini.' Lalu turunlah satu malaikat dari pintu itu. Jibril berkata, 'Ini adalah malaikat yang turun ke bumi, dia belum pernah turun kecuali hari ini.' Malaikat itu mengucapkan salam lalu berkata, 'Bergembiralah (wahai Muhammad) dengan dua cahaya yang telah dikaruniakan kepadamu, yang belum pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebelummu, (yaitu): Al-Fātiḥah dan penutup surat Al-Baqarah. Tidaklah engkau membaca satu huruf pun dari ayat-ayat itu (yang berisi permohonan) melainkan engkau akan dikarunai apa yang engkau mohon'."
Diriwayatkan oleh Muslim
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, "Ketika Jibril -'alaihi as-salām- duduk di sisi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, ia mendengar bunyi," yakni, suara keras seperti suara kayu bangunan ketika patah. "dari atasnya", yakni dari arah langit atau dari arah kepalanya. Ada yang mengatakan suara seperti bunyi pintu. "Lantas Jibril mengangkat kepalanya lalu berkata, 'Ini adalah satu pintu langit,' yakni, dunia. "Yang telah dibuka hari ini, dan pintu itu belum pernah dibuka sebelumnya kecuali hari ini." Lalu turunlah darinya," yakni, dari pintu itu, "satu malaikat. "Jibril berkata, 'Ini adalah malaikat yang turun ke bumi, dia belum pernah turun kecuali hari ini.' Pengkhususan dua cahaya ini dengan dua hal yang belum pernah terjadi selain pada keduanya menunjukkan keutamaan keduanya dan keistimewaannya dengan sesuatu yang tidak ada pada selain keduanya. "Malaikat itu mengucapkan salam," yakni, malaikat tersebut, "lalu berkata, 'Bergembiralah (wahai Muhammad) dengan dua cahaya,' dia menamakan keduanya dua cahaya karena masing-masing dari keduanya itu merupakan cahaya yang berjalan di hadapan pemiliknya, atau karena keduanya menunjukkan ke jalan yang lurus dengan merenungkannya dan menghayati maknanya. Cahaya pertama adalah surah Al-Fātiḥah, dan cahaya kedua adalah dua ayat terakhir surah Al-Baqarah. Sesungguhnya siapa saja dari umat ini yang membacanya dalam keadaan beriman, pasti Allah - Ta'āla- memberikan apa yang diminta di dalamnya, "dikaruniakan kepadamu," yakni, diberikan kepadamu keduanya, "yang belum pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebelummu."
Dari Al-Barā` bin 'Āzib -raḍiyallāhu 'anhumā- mengatakan, "Seseorang tengah membaca surah Al-Kahfi sedang di dekatnya terdapat kuda yang diikat dengan dua tali. Lalu awan kecil menutupinya dan mendekat sehingga kudanya lari menjauhi awan ini. Pada pagi harinya, ia mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu menceritakan peristiwa tersebut pada beliau. Maka beliau bersabda, "Itu adalah ketenangan yang turun karena Al-Qur'ān."
Muttafaq 'alaih
Al-Barā` bin 'Āzib -raḍiyallāhu 'anhumā- menuturkan kisah aneh yang terjadi di zaman Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di mana ada seseorang yang tengah membaca surat al-Kahfi dan di sampingnya terdapat seekor kuda yang terikat dengan tali. Lalu sesuatu seperti awan datang menaunginya, ia terus mendekat padanya sedikit demi sedikit hingga membuat kuda tersebut terperanjat dan lari lantaran takut dari apa yang dilihatnya. Di pagi harinya, orang tersebut mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu menceritakannya pada beliau. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjelaskan bahwa itu adalah ketenangan yang turun pada saat Alquran dibaca, sebagai karamah sahabat yang tengah membaca Al-Qur'ān ini dan kesaksian dari Allah bahwa firman-Nya adalah benar. Nama sahabat yang membaca Al-Qur'ān ini adalah Usaid bin Ḥuḍair -raḍiyallāhu 'anhu-.
Dari Abu Musa al-Asy'arī -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda padanya, "Sungguh engkau telah diberi satu seruling (suara indah) dari seruling-serulilng (suara indah) keluarga Dawud." Dalam salah satu riwayat Muslim, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda padanya, "Sekiranya engkau melihatku saat aku mendengarkan bacaanmu tadi malam."
Muttafaq 'alaih
Dari Abu Musa al-Asy'arī -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda padanya ketika beliau mendengarkan bacaannya yang indah dan bertartil, "Sungguh engkau telah diberi satu seruling (suara indah) dari seruling-seruling (suara-suara indah) keluarga Dawud." Sabda beliau, "laqad ūtīta" artinya sungguh engkau telah diberi, "satu seruling (suara indah) dari seruling-seruling (suara-suara indah) keluarga Dawud", maksudnya Nabi Dawud sendiri. Beliau memang memiliki suara yang sangat merdu, indah dan tinggi, sehingga Allah -Ta'ālā- berfirman, "Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud, dan Kami telah melunakkan besi untuknya." (QS. Saba` :10). Kata "ālu fulān" (keluarga seseorang) terkadang diungkapkan dengan maksud orang itu sendiri (bukan seluruh keluarganya), sebab tak seorangpun dari mereka (keluarga Dawud) yang diberi suara merdu seperti yang dianugerahkan pada Nabi Dawud.
Orang yang menyesal atas perbuatan dosa akan diberikan taufik dan kemudahan oleh Allah untuk bertobat.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Siapa yang dicintai oleh Allah -Ta'ālā- maka Allah akan mengujinya, untuk menghilangkan dari dirinya satu keburukan, atau menghapus satu dosa, atau mengangkat satu derajat baginya di dunia dan akhirat."
Riyadh Al-Salheen with explanation and benefits
Di antara nikmat yang paling afdal untuk seorang hamba adalah bila dia sabar dalam semua urusannya.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Bila hamba mencukupkan diri dengan pemberian Allah dari apa yang ada di tangan orang lain maka Allah akan menjadikannya tidak butuh kepada manusia serta Allah menjadikannya berjiwa mulia dan jauh dari perbuatan minta-minta.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Bila hamba menjaga diri dari perbuatan haram maka Allah -'Azza wa Jalla- akan menjaga serta melindunginya dan keluarganya dari perkara-perkara yang haram serta fitnah-fitnahnya.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Salat akan memberi cahaya bagi pelakunya kepada jalan kebenaran di dunia dan di atas sirat di akhirat.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Sabar termasuk akhlak mulia dan perbuatan terpuji yang tidak akan kuasa melakukannya kecuali orang-orang yang jantan.
Riyadh Al-Salheen with explanation and benefits
Tobat kepada Allah -Ta'ālā- adalah sebab untuk berhenti melakukan perbuatan haram serta adanya rida dengan rezeki yang Allah bagikan kepada hamba.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya
Menghadapi ujian dengan sabar dan mengharap pahala menjadi sebab Allah mengangkat derajat dan menghapus dosa.
Kitab RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN beserta Faidah dan Petunjuknya